Mendekati Kiamat

Selamat Tinggal Bumi: Jumlah Karbon di Atmosfer Melebihi Batas Aman Sejak 2 Tahun Lalu

Celakanya, ilmuwan meyakini tingkat polusi karbon ini tak mungkin diturunkan lagi. Siplah, selamat tinggal planetku, maaf ya manusia hobinya ngerusak mulu...
22.5.18
Image: Flickr/Rubén Moreno Montolíu

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Kalau kamu pikir dunia baik-baik saja, pikir lagi deh. Dunia atau tepatnya planet Bumi yang kita tinggali sudah makin buruk keadaannya, terutama sejak dua tahun lalu. Pasalnya, sejak 2016 tingkat karbon di atmosfer bumi sudah melampaui 400 bagian ppm (part per miliion). Celakanya, tingkat karbon ini tak bisa diturunkan lagi alias sudah permanen.

Menurut sebuah unggahan blog Scripps Institution of Oceanography Jum’at pekan lalu, "sepertinya sudah bisa disimpulkan bahwa kita tak lagi bisa lagi menyaksikan tingkat kandungan karbon di atmosfer di bawah 400 ppm tahun ini—atau kapan pun di masa depan.” Temuan ini didasarkan pada observasi mingguan kandungan karbon dioksida di Hawaii's Mauna Loa Observatory, tempat yang digunakan oleh para ilmuwan iklim untuk mengukur tingkat CO2 sejak 1958.

Lalu apa yang menakutkan dari perkembangan yang kurang mengenakkan ini? Selama beberapa tahun, para ilmuwan telah memeringatkan kita bahwa jika kadar karbon dioksida dibiarkan melewati angka 400 ppm, itu akan menandai sebuah “milestone.” Pada 2012, kawasan arktika menjadi wilayah pertama di Bumi yang melampaui batas merah ini. Tiga tahun kemudian, untuk pertama kali sejak para ilmuwan mulai mengukurnya, level karbon tetap di atas 400 ppm selama sebulan penuh.

Grafis ini menunjukkan data National Oceanic and Atmospheric Administration. Intinya, tingkat polusi karbon di atmosfer tidak baik-baik saja.

Kali ini, para ilmuwan percaya bahwa kita selamanya harus puas dengan level karbon yang berada di atas 400 ppm. Semua terjadi karena efek siklikal kurva CO2 Mauna Loa. level karbon biasanya mencapai titik terendahnya tiap akhir bulan September, seperti yang diungkapkan oleh Scripps Institution of Oceanography.

Akan tetapi tahun ini, pada bulan September tahun 2016, angkanya tetap berada di kisaran 401 pppm. Malah, sepanjang tahun 2016, terdapat kemungkinan kita belum menyaksikan titik terendah level karbon. Parahnya lagi, menurut lembaga tersebut, munculnya titik terendah tingkat karbon di atmosfer adalah suatu yang “mustahil” terjadi.

Kalau ada nilai positif dari berita murung ini, maka kita bisa berharap bahwa tingkat karbon di atmosfer yang tinggi ini akan memicu manusia untuk bergerak guna membenahi iklim Bumi. Contohnya, Kesepakatan Paris—konvensi internasional yang didedikasikan untuk memerangi perubahan iklim dan efeknya—telah menjabarkan beberapa tujuan yang harus dicapai umat manusia terkait tingkat karbon di atmosfer.

Semua negara yang meratifikasi kesepakatan tersebut wajib ikut mencegah rata-rata suhu Bumi naik melebihi 15 derajat celsius dari suhu global pada masa pra-industri. Salah satu upaya yang bisa kita tempuh untuk mewujudkannya adalah membatasi emisi dan mendesak pemanfaatan energi bersih seperti yang dimandatkan oleh Kesepakatan Paris. Masalahnya, 60 negara yang ikut meratifikasi Kesepakatan Paris hanya bertanggung jawab atas 47,76 persen emisi karbon dunia.

Iklan

Nah, biar kita sadar betapa gentingnya kondisi Bumi kita tercinta, berikut adalah beberapa efek permanen perubahan iklim—yang dipacu, salah satunya, oleh meningkatnya level karbon di atmosfer. Silakan dibaca. Barangkali bisa menjadikanmu insan yang lebih peduli keselamatan bumi.

Kepunahan

Tak perlu penjelasan lagi. Walaupun sudah diperkirakan, tingkat kepunahan telah mengalami akselerasi sebanyak 1.000 kali tingkat kepunahan sebelum kemunculan Homo Sapiens . The World Wildlife Fun menduga ada 10.000 spesies yang punah tiap tahunnya. Gara-gara perubahan iklim The Nature Conservancy meramalkan seperempat spesies di Bumi bakal nyaris punah pada 2050.

Rusaknya rantai makanan

Masih erat dengan kepunahan, rantai makanan akan limbung seiring musnahnya para pemangsa dan predator puncak. Di kawasan Arktika misalnya, meningkatnya temperatur air laut menganggu pertumbuhan ganggang laut, yang pada akhirnya berimbas pada menurunnya pasokan nutrisi penting bagi populasi zooplankton, ikan cod, anjing laut dan beruang kutub. Dalam rentang 50 tahun terakhir, rata-rata temperatur selama musim dingin di seantero Alaska dan Kanada Barat naik sebanyak 7 derajat Fahrenheit.


Tonton dokumenter panjang VICE soal bukti nyata perubahan iklim, permukaan laut sudah melonjak gila-gilaan:

Naiknya permukaan laut

Di masa depan yang tak terlalu jauh, manusia, di samping beberapa spesies lainnya, akan sangat terpengaruh naiknya permukaan laut. Seiring melelehnya gletser kuno dan terjadinya ekspansi thermal, kawasan di wilayah pesisir akan terendam dan penghuninya harus menyingkir. Pada 2010, sekitar 13 juta penduduk Amerika Serikat diproyeksikan akan kehilangan rumahnya karena naiknya permukaan laut. Di beberapa bagian Bumi lainnya. Seperti Samudra Pasifik, kenaikan permukaan laut sudah mulai terjadi. Para ilmuwan meramalkan bahkan jika kita mampu menjaga suhu global agar tak naik melebihi 2 derajat celsius, kenaikan permukaan laut yang sudah terjadi tak mungkin dibenahi.

Pengasaman laut dan pemutihan terumbu karang

Kerap dianggap sebagai tolak ukur kesehatan lingkungan, kadar keasaman lautan telah naik di seluruh wilayah perairan di bumi. Laut Bumi terus menyerap CO2. Alhasil, pH airnya menurun dan mengubah airnya menjadi asam. Dan seiring naiknya temperatur air, terumbung karang besar seperti Australia's Great Barrier Reef juga mengalami pemutihan dan siap menyambut ajalnya. Walaupun polip karang bisa kembali tumbuh di terumbu, para ilmuwan sudah lebih bersiap menghadapi fakta bahwa proses pemutihan karang akan menimbulkan bekas yang susah dihapus.