Ode Buat Bisnis Digital Download MP3 yang Kini Nyaris Masuk Kubur
Seluruh ilustrasi dibuat oleh Dan Evans
Musik

Ode Buat Bisnis Digital Download MP3 yang Kini Nyaris Masuk Kubur

Apa alasan teknologi yang kita bayangkan sebagai masa depan industri musik justru terancam amblas akibat streaming?
13.1.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey UK.

Ajal rasanya masih jauh. Saya sering membayangkan terjebak di tengah laut biru yang jernih dan melihat bayangan ikan hiu yang tengah mendekat. Namun saya mengerti ini sebenarnya hanya produk imajinasi dari buku-buku yang saya baca. Saya paham konsep kematian, tapi belum pernah menghadapinya. Namun sekarang, banyak teman-teman saya yang mulai meninggalkan dunia. Seketika, saya merasa tua.

Iklan

Tidak lama lagi, digital download juga mungkin akan mati.

Kalau anda pikir 2016 kemarin adalah tahun yang buruk karena banyak selebriti yang meninggal, maka anda harus menyiapkan mental. Dunia bergerak maju dengan sangat cepat, dan di tahun 2017 nanti kita akan harus rela ditinggalkan tokoh terpenting dalam hidup kita: MP3 digital download. Jasa bayar digital download kemungkinan akan hilang (download ilegal akan tetap ada, biarpun tidak semarak beberapa tahun silam). Satu dekade setelah lagu "Crazy" milik Gnarls Barkley berhasil menduduki puncak chart musik Inggris karena jumlah download yang fantastis, kini umur format digital download hanya tinggal menghitung hari sebelum benar-benar digilas sepenuhnya oleh jasa situs streaming.

Di tahun 2015, Warner Music membeberkan bahwa mereka memperoleh lebih banyak pendapatan dari jasa streaming dibanding download—label musik mayor pertama yang berhasil melakukan hal ini. Tren ini terus berlanjut. Tahun lalu, Billboard melaporkan bahwa "Closer" milik The Chainsmokers berhasil menduduki puncak chart musik mereka dengan jumlah download tersedikit semenjak 2006. Mark Mulligan, seorang analis musik mengatakan di sebuah interview bersama Guardian, "Tahun lalu angka download menurun sebanyak 16 persen secara nominal. Tahun ini sepertinya angka ini akan terus merosot sebanyak 25 hingga 30 persen."

Memperburuk situasi digital download, Apple sempat mengisyaratkan bahwa versi baru iTunes akan memprioritaskan Apple Music dibanding download store. Soalnya siapa juga yang masih berkunjung ke download store? Hanya sekedar masalah waktu sebelum download store benar-benar dihapus sepenuhnya dan konsumer akan move on dari kebiasaan mengunduh musik (entah legal atau tidak).

Iklan

Kebanyakan dari kita masih ingat seni mengunduh file musik digital. Bagi anda yang lahir di tahun 1988-2000, digital download pastinya menjadi bagian besar dari kehidupan. Bayar temen SMP yang punya akses internet cepet untuk nge-burn-in mix CD penuh lagu-lagu Prambors favorit, atau download album Metallica dari Limewire taunya isinya cuman virus (kampret), atau begadang semaleman di warnet cuman buat nyedot lagu-lagu favorit buat doi. Saya yakin anda semua familiar dengan pengalaman-pengalaman seperti ini. Digital download menjadi soundtrack kita tumbuh dewasa.

Sayangnya, digital download akan mati dengan cara yang mengenaskan. Digital download bahkan tidak sanggup mengungguli vinyl—format yang dianggap sudah tua dan ketinggalan zaman. November lalu, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, penjualan vinyl (£2.4 juta) melebihi penjualan digital di Inggris (£2.1 juta). Sepertinya bahkan CD akan mengalahkan digital download. Banyak orang masih pergi ke Musik Plus untuk membeli CD Chrisye atau kompilasi lagu rohani. CD player juga masih banyak ditemukan di mobil dan rumah-rumah di seluruh dunia. Ironis memang, format-format yang mestinya digantikan oleh digital download malah akhirnya bertahan lebih lama.

Sebelum benar-benar mati, mari kita kenang jasa-jasa MP3 selama ini. MP3 berhasil membawa model produksi dan distribusi musik usang ke dunia modern, dan membuat musik menjadi sebuah komoditas yang bisa dibuat dan dijual oleh siapapun ke manapun. Jika streaming memasuki hidup kita perlahan-lahan, revolusi musik digital dulu berhasil membuat panik seluruh industri musik. Label kebingungan berusaha menyumbat kerugian dan melindungi bisnis mereka di tengah maraknya file sharing. Para musisi memohon para penggemarnya untuk tidak membeli CD bajakan, kecuali anda ingin anggota Dewa 19 jatuh miskin dan kelaparan (ya kali). Institusi-institusi musik yang tadinya tidak tersentuh pun tumbang—toko retail musik besar seperti Virgin Megastore dan HMV di Inggris dan Aquarius di Indonesia menjadi korban revolusi digital.

Iklan

Musik yang sebelumnya didominasi industri sebagai produk komersil mendapatkan nafas baru berkat digital download. Zaman album studio mahal pun berakhir dan membuka jalan untuk musik-musik DIY yang dibuat di kamar. Sound berfidelitas tinggi yang tadinya dibuat di studio luas dengan atap tinggi kini tidak lebih dari sekedar file di smartphone anda. Industri musik yang tadinya besar dan berkuasa dihancurkan dalam satu malam. Pembuatan musik pun menjadi semakin murah (atau didemokratisasi, tergantung sudut pandang anda). Seperti kata CNN dalam acara ulang tahun ke 10 iTunes: "Single-single iTunes dalam satu dekade telah menghancurkan industri musik."

Namun bagi banyak generasi milenial yang terlalu muda untuk terikat dengan format rilisan fisik, digital download bukanlah hal yang buruk. Digital download justru mewarnai masa remaja mereka dan membuat berbagi musik menjadi jauh lebih mudah dibanding generasi-generasi sebelumnya. Kita tidak perlu lagi bergantung kepada kompilasi NOW atau MAX. Kita bisa bebas memilih musik yang kita mau asal modem menyala,  menghabiskan semalaman begadang di kamar dengan mata terekat ke layar komputer selagi orang tua kita tertidur, menunggu single terbaru Coldplay selesai terunduh.

Bagi kita atau remaja-remaja yang tumbuh mendengarkan musik dari jasa streaming, sudah pasti kebiasaan dan selera musiknya lebih nomaden. Apabila generasi MP3 dulu kerap tidak memiliki rilisan fisik, kini generasi streaming bahkan tidak perlu memiliki MP3 di komputer atau ponsel mereka. Tinggal klik jasa streaming, dengerin lagu sekali, terus udah. Tidak lebih dari itu. Paling tidak library iTunes masih memberikan saya memori—saya bisa tahu berapa kali mendengarkan lagu "Two Weeks" milik Grizzly Bear (134 kali).

Kematian digital download membuat koleksi MP3 kita yang gila-gilaan (beli 1 TB external HD buat musik doang) menjadi tidak berarti. Sama seperti ayah saya yang menghabiskan seisi loteng rumah untuk koleksi vinyl John Denver, dan 20 puluh tahun kemudian CD John Denver, sekarang saya stuck dengan koleksi 14.575 file MP3. File MP3 yang dulu kita kira akan menjadi masa depan musik sekarang tidak lebih dari sekedar external hard drive yang kita tidak lagi perlukan. Nasibnya sama seperti koleksi VCD Dawson's Creek dan iPod classic. Apa gue jadi puritan aja ya? iPod klasik gue benerin, terus kalo rusak gue beli lagi di eBay. Gue bakal bela-belain MP3 dan menghujat bitrate Spotify yang rendah. Anjir, gue jadi kaya bapak-bapak yang mengkritik teknologi baru.

Mungkin yang paling mengganggu adalah betapa cepatnya semua ini terjadi. Kematian digital download terasa seperti mimpi buruk yang aneh, namun tiba-tiba terjadi tanpa diinginkan. Seperti kereta yang berhenti sebelum mencapai stasiun terakhir. Untuk pertama kalinya di hidup saya, saya harus menerima bahwa produk kultur generasi saya tidak lagi muda dan cutting edge. Digital download sudah tidak lagi baru, melainkan tua, usang, mati, tak berguna, dan busuk.

RIP digital download.