Menjadi Hooligan Membuatku Kehilangan Istri dan Pekerjaan

Selama satu dekade, Nick Hay* hidup sebagai hooligan. Dia menghabiskan sebagian hidupnya berkelililing Belanda menonton tim kesayangan juga ikut baku hantam dengan suporter lawan.
13.1.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sport Netherland

* * *

Seorang pekerja kantoran yang berpengalaman biasanya bisa mengetik dengan kecepatan 150 ketukan dalam satu menit. Sekarang, coba bayangkan masuk kantor dan harus mengetik dengan dua jari tangan yang patah. Dapat 30 ketukan saja sudah sukur.

Begitulah yang aku alami beberapa waktu lalu. Aku masuk kerja dengan setelan Hugo Boss sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhku. Tentu saja, aku enggak bisa seenak jidat bilang ke bosku "kemarin saya terpaksa ke rumah sakit Pak. Dua jari saya patah gara-gara ikutan tawuran antara supporte. Di koran juga ada beritanya, mungkin bapak sudah baca."

Hari itu kamis. Aku masih ingat kali aku memencet tuts keyboard, aku seolah diingatkan bahwa kehidupan gandaku sebagai seorang hooligan bukan tanpa resiko.

Pernah suatu hari, tepatnya ketika ayah mertua berulang tahun ke-50. Aku mendadak harus cabut. Teman-temanku sudah kadung menunggu di depan pintu. Mobil sudah distarter, tinggal gas saja menunggu aku keluar. Hooligan seteru kami terlihat bergerombol di pusat kota. Nafsu saya meruak. Ini jelas tantangan bagi kami.

Sebelum cabut, saya sempat-sempatnya menyabet payung kesayangan paman istri tercintaku. Barangkali saja ada gunanya, pikirku waktu itu. Malam itu, aku tak kembali ke rumah. Aku menginap di kantor polisi setempat, tidur di atas sebuah kasur keras dan bantal plastik. Aku masih ingat bunyi yang keluar dari bantal yang bocor tiap kali aku berganti posisi tidur.

Saat sampai di rumah, aku menemukan potongan kertas bertuliskan nomor telepon berserakan. Jumlah bikin aku ternganga. Kertas-kertas itu dirobek dari buku telepon dan nomor-nomor yang tertera ternyata nomor kantor polisi dan rumah sakit terdekat. Aku baru sadar, setelah aku dicokok polisi, tak terpikir dalam benakku untuk memberitahu istri atau keluargaku. Sementara aku tersiksa dengan bunyi bantal tiup yang bocor, keluargaku di rumah panik dan menelepon ke sana-kemari mencari keberadaanku.

Dua minggu kemudian, aku dan istriku memutuskan bubaran.

Selama satu dekade penuh, aku berusaha menyeimbangkan dua kehidupanku yang sangat berlawanan sebisaku. Kawan-kawan hooliganku tahu tentang kehidupan normal yang aku jalani. Namun, kolega dan orang terdekatku tak tahu menahu tentang "sisi gelap" diriku. Kalau dipikir-pikir lagi, semuanya terasa lebih keren karena aku merahasiakannya.

Foto via akun Twitter CasualMind_/media

Kira-kira tahun 2009, di ujung karirku sebagai seorang hooligan, tak ada yang lebih menarik dari undian pertandingan piala domestik. Fans bola bloon yang nongkrong akan segara memesan tiket pertarungan melawan klub-klub besar segera setelah jadwal diumumkan. Khusus untuk mereka, tak ada yang perlu dirahasiakan.

Pertandingan piala liga adalah pertandingan paling menantang. Jadwalnya bisa diumumkan sekonyong-konyong. Tak ada yang bisa kamu lakukan selain menonton sebisanya. Masalahnya, kamu tak lagi punya jatah "cuti" dan kamu sudah punya rencana lain dengan keluargamu. Nah, di sinilah kedua kehidupanku—sebagai orang normal dan hooligan—bertabrakan.

Rabu malam adalah malam nonton pertandingan piala liga. Pertandingannya mulai pukul tujuh, sebuah neraka bagi Hooligan yang sudah berkeluarga dan bekerja. Sedikitnya, kamu harus izin pulang lebih awal dan punya keberanian ekstra untuk menghadapi istri dan bosmu keesokan harinya. Ini memang resiko yang harus ditanggung.

Jadi, pagi itu, aku buru-buru mengerjakan pekerjaanku, membuka-buka email, melakoni obral singkat di dekat tempat mengambil air minum lalu izin pulang cepat dengan alasan yang super basi. Bagiku, ini waktunya mengeluarkan sisi gelapku.

Tapi, nasib jelek siapa yang biasa melawan. Rabu itu nasibku tak ada bagus-bagusnya. Organisasi hooligan tempatku bernaung lumayan miskin dan kami kebagian tempat nonton di kanan bawah tribun dengan dengan terowongan tempat masuk pemain. Di depan mata kami, serombongan lelaki tegap tiba-tiba menyerang kami. Kami tak punya pilihab selain melawan, mempertahankan kehormatan kami.

Setelah selamat dari baku hantam itu, aku pulang dengan robekan besar di kaki dan sepasang jari yang patah.

Esoknya, aku harus kembali meringis menahan sakit. Kakiku terantuk gulungan karpet kantorku. Salah seorang kawan dari bagian akunting menyebut tentang kerusuhan semalam di dapur karyawan. Baginya, itu cuma aib. Titik. Di saat yang sama, celana panjangku terasa basah. Penyababnya apalagi kalau bukan luka yang menganga di balik pahan kananku. Tapi, aku toh tak ambil pusing. Ada luka yang lebih besar: harga diriku sudah koyak dan butuh waktu untuk menyembuhkannya.

Tapi harus aku akui, harga diri adalah motivasiku unuk mempertaruhkan semuanya. Orang lain bisa bahagia ketika punya pekerjaan yang lumayan, mobil yang bagus dan gaji yang mencukupi. Bagiku, bukan itu yang aku cari. Yang berharga bagiku—terutama dalam kehidupan gandaku—adalah hooliganisme dan ego. Tak ayal, sah-sah saja bagiku untuk mempertahuhkan segalanya.

Akhirnya, hooliganisme membuatku kehilangan pekerjaan yang keren, karena General Intelligence and Security Service menganggapku sebagai  "ancaman bagi keamanan nasional." Tentu saja, ini lebay bagiku. Tapi, aku memang menghabiskan gajiku, semua jatah cuti dan liburanku untuk hobiku itu. Jika saja aku tak pernah jadi hooligan, aku lulus kuliah lima tahun lebih awal, punya anjing lucu, sebuah rumah dan istri yang menyayangiku. Sayangnya, bukan ini yang kupikirkan hari rabu bangsat itu, ketika aku minta pulang lebih awal dari kantor dengan alasan yang dibuat-buat dan melakoni kehidupanku yang lain.

*Nick Hay bukan nama sebenarnya. Identitas aslinya hanya diketahui tim VICE Sports.