LGBTQ

Diburu Geng, Kaum Transgender di El Salvador Hidup Dalam Ketakutan

Pentolan geng di Ibu Kota San Salvador pernah mengumumkan niat "membunuh semua transgender di sini."
28.4.17
Foto oleh Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Saat tiga perempuan Transgender tewas terbunuh dalam kurun 72 jam tua bulan lalu. Aktivis pembela hak-hak komunitas LGBT terhenyak, walau tak sepenuh kaget. Serangkaian pembunuhan, bagi mereka, adalah ancaman terbaru terhadap komunitas LGBTI El Salvador yang kian hari kian terancam. "Mereka berusaha mengenyahkan kami semua," kata Sebastian Cerritos. Kawan-kawannya duduk diam tak bersuara selagi Cerritos bicara. "Salah satu geng di sebuah kawasan pernah bilang: Kami akan bunuh semua transgender di sini." Cerritos adalah koordinator Astrans LGBTI, lembaga sosial advokasi LGBTQ yang bermarkas di El Salvador. Dia punya alasan kuat untuk khawatir terhadap keselamatan para waria. El Salvador masuk kategori salah satu negara paling berbahaya di dunia selain kawasan perang.  Banyak penduduk EL Salvador hidup di bawah kekuasaan geng lokal. Di wilayah di luar kota El Salvador sendiri berlaku hukum tak tertulis yang dijalankan oleh para pemimpin geng. Sementara itu di pusat kota yang ramai, polisi bersenjata shotgun mengawal tiap sudut kota dari toko serba ada hingga toko roti. Beberapa tahun terakhir, komunitas LGBTI kian rentan terhadap kekerasan dan anggota geng. Kaum transgender menjadi korban pelecehan verbal dan seksual di jalanan. Beberapa di antaranya dipukuli dan diperkosa oleh anggota geng atau malah diserang personel kepolisian. Angka harapan hidup bagi transgender di El Salvador saat ini kurang dari 35 tahun, menurut data yang dilansir oleh International Lesbian and Gay Association. Setidaknya 16 orang transgender dilaporkan tewas terbunuh di El Salvador tiap tahunnya. "Kami terbiasa dengan kekerasan," kata Cerritos. "Kami tahu risikonya tiap kami melangkah keluar rumah."

Iklan

Cerritos dan kawan-kawannya masih terguncang akibat serangkain pembunuhan di San Luis Talpa, kawasan yang terletak 30 menit perjalanan dari kota San Salvador. Di sana, tiga perempuan transgender dibunuh hanya dalam kurun 72 jam,Februari lalu. Korban ketiga, Elizabeth Castillo, dilaporkan diculik, disiksa, dan dibunuh selepas menghadiri pemakaman dua korban lainnya. Tak ada simpati dari pihak kepolisian. Saat jumpa pers, juru bicara polisi menggambarkan para korban sebagai "lelaki yang memakai pakaian perempuan." Astrans LGBTI mengatakan pada VICE News bahwa rangkaian pembunuhan ini menyulut rasa takut di kalangan waria. Rangkaian insiden itu menegaskan kekebalan hukum yang dinikmati pelaku kejahatan anti-LGBTI. Meski undang-undang tentang kejahatan kebencian berdasarkan gender dan orientasi seksual telah disahkan pada tahun 2015, tak ada seorang pun yang pernah didakwa karena membunuh kaum transgender di El Salvador. "Kamu belum tahu siapa pembunuh tiga perempuan ini," Cerritos menambahkan.
Astrans LGBTI, yang didirikan pada tahun 2007,mengatakan bahwa tahun lalu permintaan layanan mereka meningkat baik itu di daerah perkotaan dan daerah rural. Layanan Astrans LGBTI yang mencakup penanganan hormonal dan konsultasi kesehatan seksual saat ini sudah dimanfaatkan oleh 83 perempuan transgender dan 26 lelaki transgender. Sejatinya, Astrans LGBTI bisa menerima melayani 200 orang.

Tim Astrans LGBTI di kantor mereka di San Salvador. Foto oleh Rossalyn Warren.

Para staf organisasi sosial itu mengatakan bahwa orang — biasanya mereka teroisolasi oleh komunitasnya, diusir keluarga, dan menghadapi berbagai ancaman. "Banyak teman-teman transgender datang pada kami sambil menangis dan ketakutan" ujar Cerritos. "Mereka menaruh banyak harapan pada kami karena pertolongan di luar sangat sedikit mereka dapatkan."

Cerritos pernah ada di posisi serupa. Setelah melela kepada orang tuanya pada usia 18 tahun, Cerritos kabur dari rumahnya. Dalam kondisi kesepian dan merasa terjebak, dia pergi ke daerah pantai. Di tempat itu, Cerritos sempat ingin mengakhiri hidup saja. "Aku mau lihat laut. Aku ingin itu jadi pemandangan terakhir yang aku lihat," ujarnya.

Pada akhirnya Cerritos memutuskan pulang. Dia masuk kuliah  di San Salvador pada 2014. Kini, dia memperjuangkan hak-hak transgender lainnya. Di El Salvador, transgender tidak secara legal diperbolehkan mengubah nama atau gender mereka pada dokumen resmi. Ini berarti ketika Cerritos lulus akhir tahun ini, mereka tidak akan memanggil namanya di wisuda. "Saya memperjuangkan agar nama saya diumumkan saat wisuda," ujarnya. Banyak kelompok LGBTI di El Salvador, termasuk Cerritos, sempat mengharapkan suaka dari Amerika Serikat. Di negara di mana warga El Salvador adalah populasi keempat terbesar asal Hispanik—mereka percaya bisa aman dari dakwaan. Dua anggota Astrans LGBTI—termasuk ketua lembaga ini—terpaksa minggat dari El Salvador pada 2015 setelah menerima ancaman mati dari beberapa geng, dan kemudian diberikan suaka oleh AS. Namun beberapa orang dalam kelompok LGBTI El Salvador kini berkata keinginan pindah ke AS telah sirna sejak Donald Trump menjadi presiden. Meski Obama mendeportasi lebih banyak orang daripada presiden lainnya, sikap dan perlakuan Trump terhadap transgender, dan juga sentimen dan kebijakannya mengenai imigrasi, telah memantik kekhawatiran lebih mendalam—bahkan banyak yang kini khawatir permintaan suaka di masa depan akan ditolak.
"Saat ini, orang-orang belum menyadari betapa besar masalah ini," ujar Cerrito, "namun jika [keputusan Trump soal deportasi] terus berlanjut, hal tersebut akan menyebabkan banyak masalah bagi kami." Negara-negara di Amerika Latin menunjukkan ancaman paling kejam terhadap anggota LGBTI, menurut grup riset "Transrespect versus transphobia worldwide" atau "Penerimaan trans versus transfobia di seluruh dunia." Penelitian mereka merekam 2,115 laporan pembunuhan transgender di seluruh dunia sejak Januari 2008 hingga April 2016, dan 78 persen di antaranya terjadi di Amerika Latin dan Pusat. Selama pembunuh transpuan di San Luis Talpa terus mendapatkan kekebalan hukum, Cerritos dan timnya berkata, hampir tidak ada harapan kelompok transgender di El Salvador akan aman. "Menurut kami, pembunuhan-pembunuhan tersebut hanyalah permulaan," ujar Cerritos. "Para pembunuhnya percaya bahwa tindakan mereka diperbolehkan."

Rossalyn Warren adalah jurnalis lepas. Liputan ini didukung oleh The European Journalism Centre. Follow Warren di Twitter @RossalynWarren .