Google Searchlight

Gudeg Barangkali 'Klise' Tapi Selalu Mengingatkan Saya Pada Rumah

Sebab, bagi orang yang lahir dan besar di Yogyakarta, menikmati gudeg adalah sebuah ritual harian. Gudeg mampu menyatukan orang-orang terlepas status sosial dan latar belakang mereka.
14 Desember 2016, 9:27am
Foto oleh Arman Dzizovic

Makan gudeg seringkali menjadi pembuktian bahwa perjalanan seorang wisatawan ke Yogyakarta sudah sah.

Sedangkan bagi orang asli Yogyakarta—seperti saya yang lahir dan besar di kota ini—makanan yang diolah dari nangka muda lengkap dengan sambal krecek (kulit sapi) dan lauk pauk itu merupakan nadi kehidupan.

Makan gudeg menjadi semacam ritual harian. Momen sarapan sebelum berangkat sekolah tak bakal pernah saya lupakan. Ibunda sering membeli gudeg di pengkolan dekat rumah untuk keluarga kami sebelum beraktivitas, paling tidak sampai saya menginjak bangku kuliah. Malam hari pun tak jarang meja makan diwarnai dengan gudeg.

Di sudut-sudut kampung hampir bisa ditemukan penjual gudeg. Tinggal pilih mau yang kering atau basah. Gudeg kering cenderung manis, sedangkan basah cenderung gurih. Tinggal sesuaikan saja dengan selera Anda.

Saya pribadi kurang suka sayur nangka berwarna coklat pada gudeg kering. Mungkin karena saya tak terlalu menggemari semua olahan sayuran. Saya lebih terbiasa menyantap gudeg ditemani lauk ayam, telur dan sambal krecek saja.

Tentu saja, seperti banyak santapan lain, tak sedikit orang kesulitan menikmati gudeg.

"Rasa gudeg terlalu manis. Banyak pilihan makanan lain, kenapa sih makanan ini begitu disukai," ungkap seorang teman selepas berkunjung ke Yogyakarta.

"Lantas apa yang kamu makan selama di sana?" tanya saya.

"Apapun kecuali gudeg."

Kita memang tak bisa menghakimi masalah lidah. Semua citarasa kembali ke perut masing-masing. Apapun pendapat orang, pemandangan Jumat malam di sebuah warung kaki lima di Jl. Gejayan, membuktikan gudeg masih mampu menyatukan orang-orang terlepas status sosial dan latar belakang mereka.

Warung itu milik Ibu Sukijo, akrab disapa Bu Tekluk. Nama warungnya Gudeg Bromo. Sudah beroperasi sejak 1984. Pembeda gudeg Bu Tekluk dari warung lainnya adalah persoalan bumbu. Jika biasanya gudeg terbuat dari santan kental yang diendapkan (blondo), Bu Tekluk memilih kacang-kacangan.

Antrean mengular begitu warung tersebut buka pukul 23:00. Kebanyakan pembelinya mahasiswa yang indekos di sekitaran Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Karena jam bukanya sejak larut malam sampai subuh, Gudeg Bromo menjadi favorit kaum nokturnal yang kesulitan tidur sebelum matahari terbit. Soal harga masih relatif murah. Tinggal menyesuaikan lauk yang diinginkan. Ada ayam, telur, tahu dan tempe.

"Semalaman biasa menjual sekitar 200 piring," kata Bu Sukijo, "Ini semua masih bikinan tangan saya sendiri."

"Mahasiswa-mahasiswa ini kalau mau lari ke Malioboro kan jauh. Kalau [gudeg] di sana engga terjangkau [dengan] uang sakunya," imbuh Bu Sukijo.

Salah seorang pengunjung, Friman, mengaku tertarik bersantap di Gudeg Bromo karena penasaran melihat antrean yang sedemikian panjang. "Berarti, ada sesuatu yang lain kan. Terus kita pengen tahu, apakah sekedar rumor atau gimana gitu. Orang-orang kayanya ngomongin banget nih Gudeg Bromo ini. Itu gue tertarik," tutur Friman.

Bagi Friman, antrean gudeg Bromo yang panjang sekedar mengundang rasa penasaran. Jika ternyata dia menyukai rasanya, berarti kebetulan gudeg bisa nyantol di lidah. Sedangkan buat saya, gudeg adalah rumah yang selalu memanggil pulang. Sesentimentil itu.