Berita

Pahatan Yang Melukiskan Pengungsi Terseret Badai ke Laut Sydney

Pahatan ini merupakan salah satu dari tiga karya yang hancur di Pantai Tamarama.
25.10.16

Karya Kozka sebelum diseret badai. Gambar diambil dari Twitter

Artikel ini pertama kali muncul di VICE Australia.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pameran ikonik Australia, Sculpture by the Sea—di mana seniman-seniman kontemporer menempatkan pahatan-pahatan raksasa di pantai-pantai Australia—disapu oleh badai gelombang pasang. Di Pantai Tamarama di Sydney, setidaknya tiga karya seni pahatan telah hancur. Salah satu yang hancur adalah Fair Dinkum Offshore Processing karya seniman Melbourne, Bronek Kozka. Karya ini menggambarkan sebuah keluarga pengungsi yang dikurung di kamp detensi seperti yang terdapat di Pulau Nauru dan Manus.

Iklan

Fair Dinkum Offshore Processing dibangun dari sebuah sangkar kawat alumunium yang mengurung lima orang pengungsi—tubuh pengungsi yang terbuat dari metal secara simbolis berkarat dalam air laut. Simbolisme ini menjadi semakin meyakinkan karena karya seni tersebut terseret ombak ke arah laut dan hancur menabrak tumpukan batu pantai.

Pada awal bulan ini, Kozka menjelaskan ke The Australian bahwa karyanya sengaja dibuat untuk mempertanyakan kebijakan kontroversial pemerintah Australia yang mengurung pencari suaka di kamp-kamp detensi. Kebijakan ini telah dikutuk karena melanggar HAM. Ratusan ribu orang mengunjungi pameran Sculpture by the Sea setiap tahunnya.

Kozka, seorang dosen di RMIT School of Art, mengatakan bahwa masalah offshore processing (kebijakan pemerintah Australia yang mengirim para pencari suaka ke pulau Nauru atau Manu dan menahan mereka di sana selagi status pengungsian mereka diproses) terasa sangat personal baginya. Ayah Kozka adalah seorang warga Polandia yang dideportasi dari negaranya di masa Perang Dunia II. Judul karya seninya yang tongue-in-cheek merupakan kutipan langsung dari pernyataan Mitch Fairfield, Menteri Komunikasi Australia.

Pemerintah Australia tidak berencana menghentikan offshore processing, biarpun kebijakan ini telah dikritik berbagai pihak—kritik terbaru datang dari New York Times yang mengatakan bahwa kebijakan ini memalukan.

Pada bulan Agustus, lebih dari 2.000 laporan insiden yang bocor berhasil sampai ke tangan The Guardian. Laporan-laporan ini merinci kasus-kasus penyiksaan yang terjadi di kamp lepas pantai di pulau Nauru. Sebuah laporan penting yang diterbitkan oleh Amnesti Internasional dan Human Rights Watch awal bulan itu mendokumentasikan "penyiksaan, pengabaian dan perlakuan tidak manusiawi" yang kerap terjadi di dalam tempat-tempat penahanan tersebut.

Di tengah tekanan dari pemberitaan-pemberitaan media yang tanpa henti atas tuduhan penganiayaan yang terjadi di pulau Nauru dan Manus, Wilson Security—perusahaan keamanan yang bertanggung jawab atas dua kamp tersebut—mengumumkan bahwa mereka akan memutus hubungan kerja mereka dengan kedua tempat tahanan tersebut pada bulan ini.

Sayangnya, karya pahat Kozka tidak bisa diselamatkan—namun pesan karya tersebut tetap menggema secara lantang.

Follow Kat di Twitter.