Google Searchlight

Mengunjungi Museum Pengawetan Binatang Paling Gila di Medan

Museum berisi 5.000 hewan diawetkan ini milik Rahmat Shah yang serba paradoks. Pemburu sekaligus Ketua Asosiasi Bonbin Indonesia.
25 Januari 2017, 6:01am

Rahmat Shah adalah paradoks. Dia mimpi buruk penyayang binatang, walau uniknya, juga sangat menyukai binatang. Dia memburu dan menembak mati banyak satwa, sekaligus menjadi ketua asosiasi pengelola kebun binatang di Indonesia. Rahmat tercatat sebagai bekas petinggi Pemuda Pancasila, organisasi paramiliter yang terlibat aktif pembantaian orang terduga komunis pasca-1965.

Sejak 1999, Rahmat, pengusaha sekaligus pemburu profesional dari Kota Medan, Sumatera Utara, menginvestasikan miliaran rupiah mendirikan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery. Museum ini disebut-sebut sebagai satu-satunya tempat di Asia memiliki koleksi lebih dari 5 ribu spesimen taksidermi, alias satwa liar yang diawetkan.

Rahmat menghabiskan sebagian besar usianya berburu binatang-binatang eksotik di seluruh penjuru dunia. Dia menghabiskan ribuan hingga puluhan ribu dolar sekali berburu, dan tahunan untuk 'merumahkan' dan memajang binatang hasil buruannya buruannya.

Kami berangkat ke Medan, menemui Rahmat Shah yang sangat bersemangat  memamerkan koleksi museum pribadinya. Kami berbincang sekaligus diperkenalkan konsep berburu konservasi yang legal untuk menambah populasi satwa, bukan malah memusnahkan mereka.

VICE Indonesia:  Berapa banyak spesies yang disimpan di sini?
Rahmat Shah: Ada 2.500 spesies lebih kurang, tapi kalau spesimen 5000 lebih. Dan ini semua berasal dari yang mati-mati di taman nasional. Ada pemberian teman-teman, dan juga sumbangan-sumbangan. Tempat ini sebagai lembaga konservasi. Lembaga konservasi untuk edukasi dan pendidikan konservasi. Di sini ada mulai dari semut atau nyamuk yang kecil, gajah, singa, sampai buaya.

Tercetusnya ide memamerkan hewan diawetkan ini apakah karena tidak ada konservasi sejenis di Indonesia?
Kebetulan saya ketua Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia. Nah, karena ini bukan hanya tempat konservasi, tapi edukasi. Ini untuk membangkitkan semangat anak muda, mengajak para generasi penerus, remaja dan berbagai pihak lainnya untuk peduli flora fauna, untuk mencintai alam, kekayaan Tuhan yang tak ternilai, terutama kekayaan alam Indonesia yang luar biasa yang tidak ternilai.

Di depan museum, ada gambar anda masuk cover 'Sportsman of The Year'. Jadi anda memang hobi berburu sebagai olahraga?
Ya, saya berburu. Awalnya saya tidak percaya ada konsep berburu justru untuk menambah populasi satwa dan menjaga habitatnya. Saya kemudian pelajari. Saya ikut anggota seumur hidup Safari Club International. Alhamdulillah, saya putra pertama Indonesia yang dapat Big Five Grand Slam Award for Hunting Award, International Conservation Award, dan lain-lain.

**Kenapa sebagai penyayang binatang anda tertarik berburu?  ** Karena ternyata konsepnya kita hanya dibenarkan siang hari berburu. Itupun menembak jantan yang tua, yang tidak produktif, dan kita wajib mengincar titik bunuhnya, misalnya di kepala. Perburuan bertanggung jawab ini konsepnya konservasi. Kami ada justru untuk menambah populasi satwa, dan tidak memusnahkan satwa. Itu konsep dipakai Amerika, Rusia, Kanada, Jerman, Italia, Prancis, Turki, Iran, Rumania dan berbagai negara lain.

Jadi anda tidak seperti pemburu hewan kebanyakan?
Beda dengan perburuan Indonesia yang memakai senter, lihat mata, tembak. Lihat betina, tembak. Kadang-kadang yang hamil, kadang-kadang yang anak. Ini beda. Kalau standar dunia, kita diawasi. Kita bagian dari konservasi yang peduli satwa. Jadi bukan hunter ya. Kita trophy hunter dan conservation hunter.

Pengunjung museum ini dari mana saja?
Pengunjung ini dari seluruh Indonesia. Ya, berbagai negara datang kemari mengunjungi. Petinggi-petinggi pemerintahan,semuanya senang dan justru terpanggil. Terpanggil untuk peduli pada flora fauna. Terpanggil mengelola lingkungan hidup, dan kita sama-sama kampanyekan untuk itu.  Kalau kita tidak peduli satwa, anak cucu hanya tinggal dengar suara dan lihat dari rekaman saja.

Anda berburu ke banyak negara ya untuk melengkapi koleksi?
Karena saya lebih banyak mempelajari sifat, bagaimana berburu konservasi dengan pemampatan populasi. Bukan menembak sebanyak mungkin satwa. Saya pernah ke Kanada, berjalan demikian jauh, hanya untuk menembak satu kambing gunung. Dan itu pun harus yang jantan, yang tua. Itu jalan puluhan jam, naik kuda juga puluhan jam.

Anda meminta bantuan dana dari pemerintah mengelola museum ini?
Enggak ada. Kalau pemerintah sama sekali enggak ada bantuan,  ya karena kita mampu [sendiri]. Paling pemerintah memberi kemudahan untuk memasukan taksidermi dari luar negeri. Kita tidak dikenakan bea masuk karena status kita sebagai lembaga pendidikan dan lembaga konservasi. Lebih banyak bantuan tuh dari temen-temen perhimpunan kebun binatang. Karena kalau mati, bangkainya dikasih saya.

Dulu untuk mengumpulkan semua satwa di museum ini apakah sepenuhnya hasil berburu sendiri, atau membeli?
Kalau yang mati dari kebun binatang, beli, dari teman-teman itu ada proses yang tidak begitu sulit. Memang mahal. Ada nilai binatang, ya, belasan ribu, puluhan ribu dolar, ya. Tapi legal, dia. Jadi prosesnya tidak mudah. Peraturan, ketentuan yang baku. Dari berburu pun sulit. Sesudah hewan mati, masih dikirim ke taxidermy atau tukang air keras, itu kira-kira kadang 3 tahun siapnya, kadang 5 tahun, baru di container, baru ijin kembali, baru datang ke mari.

Dan ini sekali lagi yang boleh kita tembak harus yang tua. Jadi bukan asal jumpa gajah boleh nembak, badak boleh nembak. Itu bisa ke penjara.