Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.
Albert Calmette, anak didik bapak vaksinasi dunia, Louis Pasteur, menemukan penawar bisa ular pertama di dunia pada 1896. Saat itu dia tengah bekerja di Vietnam. Dia sedang mempelajari efek ruam ular kobra di sebuah desa dekat Saigon, lalu berusaha mencari cara untuk melawan efek racun gigitan ular.
Calmette berhasil menemukan penawar dengan cara memerah racun dari taring ular kobra, menyuntikannya ke tubuh seekor kuda, dan menunggu beberapa bulan agar sistem kekebalan tubuh kuda menghasilkan antibodi pelawan bisa ular tersebut. Setelah itu, dia mengambil darah kuda tersebut, mengubahnya menjadi serum dan menyuntikkannya ke para korban gigitan ular. Banyak dari mereka kemudian sembuh.
Lucunya, metode yang kedengarannya masih sangat kuno ini masih digunakan manusia untuk membuat penawar bisa ular hingga kini. Memang, prosesnya sudah berevolusi sedikit banyak. Proses pemurnian serum kini lebih baik, dan akibatnya tidak banyak lagi korban yang meninggal akibat reaksi buruk terhadap serum protein kuda yang asing bagi tubuh manusia. Namun secara garis besar, kita masih memerah ular dan menggunakan sistem kekebalan tubuh kuda untuk menghasilkan protein penetralisir bisa ular.
Metode Calmette digunakan hingga kini karena keampuhannya. Apabila korban gigitan ular menerima penawar racun dalam periode yang tepat, peluang sembuhnya hampir 100 persen. Maka dari itulah kedengarannya janggal bahwa setiap tahunnya dari sekitar 5 juta orang yang mengalami gigitan ular, 100 hingga 200 ribu diantaranya meninggal dunia, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia.
Masalahnya ada di sektor produksi dan distribusi. Untuk membuat penawar bisa gigitan ular tertentu, dibutuhkan bisa dari ular jenis tersebut. Untuk banyak rumah sakit kecil yang terletak di pedesaan, menyimpan persediaan berbagai penawar bisa ular terlalu besar biayanya. Dan kalaupun ada dananya, belum tentu penawar-penawar ini bisa didapat. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan produksi penawar bisa ular telah mengurangi atau memberhentikan kegiatan pabrik mereka. Dan sampai sekarang belum ada penggantinya.
"Membuat penawar bisa ular secara tradisional memang pasti biayanya mahal," kata Brian Lohse, seorang profesor dari Department of Drug Design and Pharmacology di University of Copenhagen. Maka dari itulah, dia dan banyak peneliti di seluruh dunia berusaha mencari cara baru untuk mengobati korban gigitan ular. Obyektif utamanya adalah membuat penawar bisa ular yang mudah diproduksi, didistribusi dan lebih fleksibel mengobati gigitan berbagai macam ular.
Bersama Andreas Laustsen, seorang peneliti bisa ular lainnya dari University of Copenhagen, Lohse menggunakan sel yang dibudidayakan di laboratorium untuk memproduksi antibodi manusia. (Beberapa penelitian Lohse menggunakan darah Steve Ludwin, mantan musisi punk asal Amerika yang sengaja menyuntikkan bisa ular ke dirinya sendiri selama hampir tiga dekade karena dia percaya bisa ular menyehatkan seseorang.)
"Apabila kami berhasil mengisolasi antibodi manusia yang dapat menetralisir racun-racun tertentu, berarti kami dapat mensistesiskan mereka," jelas Lohse. "Kemudian kami bisa memproduksi mereka dalah jumlah besar dalam tanki fermentasi menggunakan ragi atau sel indung telur hamster Cina." Metode ini akan menghasilkan penawar bisa ular dalam biaya yang jauh lebih rendah.
Solusi lainnya diutarakan oleh peneliti di Kosta Rika, Spanyol, dan Thailand. Mereka tengah menguji penawar bisa yang ada saat ini untuk melihat keampuhan mereka mengobati gigitan berbagai jenis ular. Mereka berharap bisa mencampur penawar bisa ini dengan serum yang lebih spesifik guna menciptakan produk yang bisa mengobati berbagai jenis racun.
Beberapa peneliti berusaha membuat penawar menggunakan DNA, sementara segerombolan lainnya berusaha menemukan molekul yang bisa difabrikasi dalam laboratorium untuk memblok racun dalam bisa ular. Salah seorang peneliti, Claire Komives dari San José State University, antusias mengenai potensi mereka memanufaktur protein possum yang melindungi mereka dari berbagai jenis ular. Namun tetap saja rasanya mustahil sebuah solusi yang efektif akan muncul dari sebuah molekul semata.
"Campuran berbagai jenis racun akan membutuhkan campuran zat juga untuk menetralisir setiap elemen racun yang berbahaya," jelas Sakthivel Vaiyapuri yang mempelajari protein racun ular di University of Reading di Inggris. "Kami berharap dengan mengidentifikasi zat-zat yang bisa melawan setiap enzim racun-racun ini, kami bisa menggabungkan mereka untuk mengalahkan bisa gigitan ular."
Kenyataannya, racun ular memang sangat rumit. Puluhan hingga ratusan zat terkandung dalam setiap bisa ular. Strategi penanganan bisa ular yang lebih mutakhir jelas dibutuhkan dan penelitian-penelitian ini diharapkan akan memunculkan terobosan baru. Racun yang terkandung dalam bisa ular telah diisolasi dengan tujuan mengembangkan obat penghilang rasa sakit jenis baru. Obat ini sama efektifnya dengan morfin, tapi dengan resiko ketagihan lebih kecil dari opioid. Beberapa zat kandungan racun ular bahkan diduga bisa digunakan untuk merawat penderita kanker, Alzheimer, dan berbagai jenis sclerosis. Racun ular juga digunakan untuk mengembangkan obat-obatan penyakit jantung seperti captopril (pencegah pertumbuhan enzim ACE), eptifibatide (penipis darah) dan disintegrins (pencegah pertumbuhan tumor).
Terjun ke dalam ilmu pembelajaran racun akan sangat menguntungkan umat manusia, kata Leslie Boyer, seorang ilmuwan penawar racun dari University of Arizona. "Racun adalah sumber molekul terbaik yang kita punya."
Sayangnya, kita tidak boleh menaruh harapan terlalu tinggi untuk sekarang. Menurut Boyer, akan dibutuhkan bertahun-tahun, bahkan mungkin beberapa dekade sebelum umat manusia menemukan produk bioteknologi penawar racun. Jadi untuk sekarang mau tidak mau kita harus mengandalkan metode ular-dan-kuda milik Calmette.