Skenario yang Terjadi Jika Pemerintahan Trump Dikudeta
Skenario Kudeta

Skenario yang Terjadi Jika Pemerintahan Trump Dikudeta

Pemerintah AS belum pernah diambil alih paksa oleh militer. Kami menyiapkan skenario jika hal itu sampai terjadi.
2.2.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Sepanjang sejarahnya, pemerintah Amerika Serikat belum pernah digulingkan. Eh, benar begitu kan ya? Rakyat Negeri Paman Sam sepertinya belum pernah terpikir melengserkan paksa presidennya seperti yang biasa terjadi di negara-negara lain. Pernah sih, bankir-bankir berdiskusi membahas kemungkinan menjungkalkan Franklin Delano Roosevelt yang baru saja terpilih, karena dia ingin mereformasi pasar keuangan selepas Depresi Ekonomi melanda AS era 1920-an. Rencana kudeta itu cuma jadi kasak-kusuk.

Iklan

Tapi, sekarang AS punya presiden tempramental, suka bohong, terikat dengan kepentingan oligarki, dan tidak disukai banyak orang, bahkan tidak disukai anggota partai pengusungnya. Si presiden yang banyak dibenci ini juga berkonflik dengan nyaris semua media massa, mengajak ribut lembaga intelijen yang dia pimpin, serta menghadapi gelombang unjuk rasa besar-besaran di dalam maupun luar negeri sejak dilantik.

Di sisi lain, Presiden Baru AS itu memilih seorang jenderal yang belum lama pensiun menjadi menteri. Sang jenderal didukung semua orang, termasuk media-media yang aktif menentang presiden. Hmm, di negara lain situasi politik semacam ini bisa mengarah pada kudeta.

Sayangnya, kudeta memang bukan tradisi AS. Natasha Ezrow, guru besar pemerintahan di University of Essex menyatakan, "kudeta mustahil terjadi di AS."

Tom Ginsburg, pakar kudeta di University of Chicago, punya pendapat serupa. Hanya saja, dia telah merilis paper membahas hal-hal yang terjadi jika kudeta sampai terjadi di Washington D.C. "Kita berada dalam situasi yang memungkinkan untuk membahas semua skenario penggulingan pemerintahan," ujarnya.

Intinya, kemungkinan itu, walau nyaris nol persen, tetap patut dipikirkan. Jadi begini yang akan dialami AS, negeri adi daya sedunia, jika sampai terjadi penggulingan presiden. Ya, supaya lebih jelas, kita sedang membahas skenario jika Donald Trump sampai dilengserkan paksa, menurut hipotesis Ezrow dan Ginsburg.

Tahap 1: Semua pihak menentang Presiden

Ada terlalu banyak pihak dan lingkar kekuasaan di AS, yang membuat skenario kudeta mustahil terjadi. Setidaknya ada satu kondisi yang harus muncul, yang bisa memicu terjadinya kudeta.

"Prasyarat utama adalah persetujuan antara elit partai Republik dan petinggi militer bahwa Presiden Trump harus mundur segera. Minimal mereka akan memaksa Trump mundur sebelum dilengserkan."

Iklan

Jika hal itu sampai terjadi, Wakil Presiden Mike Pence akan segera dilantik. Atau minimal, jika Pence loyal pada Trump, maka Ketua DPR Paul Ryan akan ditunjuk menjadi pengganti.

Nah, jika situasi politik sudah memburuk tapi Trump ngotot tidak mau mundur, apa yang akan terjadi?

Tahap 2: Semua Opsi Melengserkan Presiden Gagal

Katakanlah, Kongres sudah berkongsi dengan militer. Mereka tak lagi menyukai sosok Trump. Sejak tahap satu terjadi, pastilah anggota DPR dan Senat melancarkan upaya pemakzulan resmi. Sesuai Amandemen Konstitusi ke-25, ada beberapa syarat yang bisa membuat presiden dianggap tidak bisa menjalankan tugas.

Kudeta baru mungkin terjadi bila Trump benar-benar ngotot melawan upaya pemakzulan oleh Kongres. Secret Service (Paspampres) kemungkinan dalam kondisi semacam itu akan membelot. Tapi mungkin Trump masih punya pasukan yang loyal padanya.

"Intinya, resep terjadinya kudeta adalah koalisi antara Kongres dan militer melawan presiden," kata Ginsburg. Masalahnya adalah perlu persiapan panjang, termasuk merencanakan diplomasi internasional untuk memastikan demokrasi masih berlangsung di AS setelah presiden dilengserkan. Berikutnya, kita masuk ke skenario lanjutan.

Tahap 3: Militer AS menyatakan Trump bukan lagi presiden

Tahap ini bisa terjadi tanpa harus melewati tahap 1 dan 2, asalkan Trump membuat kebijakan yang mengancam keamanan umat manusia. Misalnya, dia tiba-tiba mengumumkan perang nuklir melawan Cina. Atau dia merencanakan perang dunia yang tidak didukung siapapun, termasuk pejabat tinggi Washington D.C.

Militer punya kesempatan untuk menunjukkan bila mereka lebih rasional dari Trump, serta bisa menjaga ketertiban dan stabilitas nasional. Di tengah kekacauan itulah, sebaiknya militer menyatakan kudeta.

Tahap 4: Pelaku Kudeta Meyakinkan Rakyat AS Ini Pilihan Terbaik

Jika kudeta militer terjadi di AS, polanya akan sama dengan negara lain. Pemimpin kudeta akan segera berupaya melakukan konferensi pers, menjamin pemerintahan demokratis akan segera dibentuk setelah situasi terkendali.

"Biasanya jenderal-jenderal itu akan biang bahwa rezim kudeta ini hanya sementara," kata Ginsburg.

Iklan

Hal lain yang terjadi adalah upaya pelaku kudeta merebut kanal-kanal informasi, terutama radio dan televisi. "Karena setiap kudeta perlu diumumkan pada publik," kata Ezrow.

Tentu saja, pada tahap itu, akan muncul upaya represi komunikasi dari militer. Bagaimanapun, kata Ezrow, militer ingin mengontrol pembicaraan publik agar tindakan mereka memiliki legitimasi.

Tahap 5: Akan Ada Perlawanan dari Pendukung Trump

Semua skenario sebelumnya bisa terjadi jika rakyat AS juga muak pada tindak-tanduk Trump. Namun, tentu saja, sosok seperti Trump masih punya pendukung setia. Bisa juga dia memperoleh dukungan justru dari kalangan liberal yang tidak mendukung kudeta atas alasan apapun.

Karenanya di momen-momen kritis tersebut militer perlu meraih simpati dari publik, seluas-luasnya. "Dalam kondisi kacau, bisa saja hakim agung memerintahkan Trump dibebaskan," kata Ginsburg.

Perlawanan ini yang paling mengkhawatirkan. Beberapa loyalis Trump akan menjalankan hak mereka sesuai Amandemen Kedua Konstitusi, yakni mempersenjatai diri melawan tirani negara. Mereka akan membentuk milisi-milisi sipil. Konflik antara milisi dan militer pendukung kudeta inilah yang berbahaya.

Tahap 6: Trump Melawan Sekuat Tenaga

Ini akan jadi momen paling menentukan. Trump berusaha mendukung milisi sipil untuk menyerang balik junta militer. Bisa saja ada personel tentara membelot mendukung Trump. Perang Saudara terjadi di AS. Asalkan semua elit politik bersatu menentang Trump, maka perlawanan ini hanya akan berlangsung sebentar.

"Ada kemungkinan pemimpin tiran yang menolak kudeta didukung rakyat akan tewas," kata Ezrow. "Jika tidak ada pembunuhan, maka pelaku kudeta akan mengancam mereka untuk mengasingkan diri."

Iklan

Pilihan lainnya, Trump akan didakwa dengan pelanggaran lain kemudian dipenjara.

Tahap 7: Rezim Baru Berusaha Meraih Simpati Rakyat

Berdasarkan penelitian Ezrow, terjadi 145 kudeta di seluruh Benua Amerika selama dua abad terakhir. Tingkat kesuksesannya mencapai 48,3 persen. Hanya di Eropa kudeta cuma memiliki tingkat keberhasilan 33 persen. Dalam kasus AS, ketika terjadi kudeta belum tentu rezim baru memperoleh dukungan kuat.

"Negara yang tidak pernah mengalami kudeta lebih rentan mengalami instabilitas dan protes," kata Ezrow.

Sekalipun berhasil, pemerintahan baru hasil kudeta akan butuh berminggu-minggu sampai bisa menjalankan tugas-tugas normal.

Intinya skenario kudeta sebetulnya juga tidak diinginkan para pembenci Trump. Yang akan terjadi adalah berminggu-minggu penuh kekacauan, risiko presiden yang digulingkan dibunuh atau dipenjara, perang saudara, pembungkaman pers dan aktivis. Semua dampak buruk itu akan mempengaruhi perekonomian, menghancurkan AS.

Untunglah kemungkinan terjadinya kudeta sangat kecil. Untung….