Papua

Turis Polandia Dituduh Bantu Makar di Papua, Padahal Terindikasi Dia Cuma 'Wisata Ekstrem'

Penahanan Fabian Skrzypski oleh polisi usai dituduh memasok senjata ke aktivis pembebasan Papua Barat, menjadi sorotan dunia. Namun tiga penduduk setempat harus menanggung konsekuensi yang lebih berat darinya.
20.9.18
Tentara dan relawan medis lokal Papua Barat mengevakuasi seorang mama yang desanya diduduki anggota separatis. Foto oleh Muhammad Yamin/Reuters 

Siapa sebenarnya Jakub Fabian Skrzypski? Warga negara Polandia ini mengaku sebagai "wisatawan ekstrem" yang "suka mempelajari budaya, bahasa, dan masalah kemanusiaan." Anggota Kepolisian Daerah Papua Barat tidak percaya. Juru bicara polda mengatakan dia bukan sekedar turis asing, melainkan penjual senjata api yang berhubungan dengan kelompok separatis di Papua Barat.

Jadi, mana yang benar? Apakah dia hanya seorang turis yang suka mengunjungi daerah konflik, terpencil, dan berbahaya?

Iklan

Mungkinkah Skrzypski salah satu anggota yang aktif terlibat dalam pemberontakan antara negara dan kelompok-kelompok bersenjata seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sudah berlangsung beberapa dekade lamanya?

Polisi yakin dugaan mereka lah benar. Skrzypski terpaksa mendekam di tahanan terkait dugaan makar atau "percobaan untuk melakukan kejahatan dipidana." Istilah makar biasa digunakan untuk memenjarakan aktivis Papua merdeka yang mengibarkan bendera Bintang Kejora yang sudah dilarang selama lima tahun terakhir.

Ini pertama kalinya pihak berwenang memutuskan untuk mengusut kasus penangkapan turis asing di Papua—wilayah yang sangat termiliterisasi di Indonesia yang biasanya menjadi zona berbahaya bagi turis gara-gara sering terjadi penangkapan dan larangan datang bagi jurnalis asing.

"Jurnalis asing sudah berapa kali [ditahan], cuma kalau soal [tuduhan menjual] peluru baru sekali ini," kata Viktor Mambor, Pemimpin Redaksi Tabloid Jubi, media lokal paling independen di Jayapura, saat dihubungi VICE Indonesia. "Kasus-kasus yang sebelumnya termasuk penyalahgunaan visa turis buat meliput."

Sebelumnya, pihak berwenang di Papua pernah mengamankan turis berkebangsaan Spanyol dengan kecurigaan bahwa dia seorang jurnalis setelah mengikuti demo di Jayapura, Papua Barat. Aparat berulangkali menahan jurnalis yang dituding memalsukan visa, mendeportasi turis asing yang dicurigai punya misi rahasia untuk meliput Papua, bahkan tanpa ragu mengusir jurnalis yang sudah diberi izin untuk meliput.

Iklan

Selama ini, pemerintah Indonesia hanya turun tangan untuk urusan mendeportasi ‘turis’ asing yang tertangkap basah meliput di Papua. Baru kali ini polisi ikut campur dalam kasusnya dengan mengurung tersangka, meskipun mereka sudah mengakui tidak ada bukti perdagangan senjata api.

Tidak ada yang mengetahui kejadian sebenarnya. Bukti-buktinya belum pasti, karena sulitnya memastikan akurasi informasi dari Papua.

"Saya juga tidak tahu bagaimana dia bisa dituduh sebagai pengedar senjata," kata Viktor kepada VICE. "Katanya ada foto-fotonya (dengan senjata di Eropa) tetapi menurut teman-teman saya di TAPOL Eropa, dia betulan hanya turis saja."


Tonton dokumenter VICE menyorot diskriminasi terhadap etnis Timur Indonesia yang membuat John Basan termotivasi jadi juara tinju:


Satu hal yang kita ketahui yaitu warga Papua yang juga ditahan oleh polisi akan mendapat konsekuensi yang lebih berat dari Skrzypski. Wisata ekstrem adalah jenis turisme baru memacu adrenalin dengan mendatangi wilayah berbahaya. Masalahnya "wisata ekstrem" yang biasa dilakukan si turis asing asal Polandia ini dapat membahayakan penduduk setempat yang keamanannya sehari-hari rutin terancam represi aparat.

Terbukti, aparat lokal segera menahan Simon Carlos Magal, seorang mahasiswa S2 dari Papua Barat yang sempat berkomunikasi dengan Skrzypski sebelum penangkapannya. Magal ditahan atas tuduhan "makar." Dua orang asli Papua lainnya juga ditangkap bersama Skrzypski.

"Menurut hasil temuan kami, Skrzypski adalah wisatawan biasa yang bisa jadi memang telah berlaku serampangan dan tidak bertanggung jawab di wilayah konflik," demikian kesimpulan Tapol, organisasi yang mengadvokasi tahanan politik, dalam pernyataan tertulisnya. "Sebagai akibatnya, warga setempat seperti Tuan Magal harus menanggung konsekuensi yang berlebihan."

Situasi di Papua masih cukup tegang. Provinsi ini dianeksasi oleh Indonesia setelah pasukan Belanda mundur pada 1969 dengan melakukan Penentuan Pendapat Rakyat. Pemilihan suara ini dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan ditentukan berdasarkan 1.026 orang tua terpilih yang harus mengacungkan tangannya kalau mereka ingin Papua tetap menjadi bagian dari Indonesia.

Iklan

Sejak saat itu, perjuangan untuk melakukan pemilihan suara baru yang menentukan kemerdekaannya sendiri telah menandai banyak hubungan Jakarta dengan Papua. Kelompok bersenjata seperti OPM sering terlibat dalam baku tembak dengan TNI di area hutan dekat tambang Freeport Grasberg—perusahaan tambang terkemuka di dunia. Sementara itu, kelompok sayap militer Papua merdeka seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berusaha mendapatkan kemerdekaannya tanpa melakukan kekerasan.

Papua bukan tempat yang aman bagi jurnalis, termasuk untuk wartawan orang asli Papua yang lahir dan besar di pulau ini. Dua kontributor lokal Jakarta Globe diserang ketika mereka sedang liputan. Banjir Ambarita alami luka tusuk akibat serangan di Jayapura. Selain itu, ada juga jurnalis yang dianiaya dan dihancurkan peralatannya oleh polisi setempat karena meliput unjuk rasa.

"Kami wartawan lokal [di Tabloid Jubi-red] kerjanya penuh bahaya," kata Viktor kepada VICE. "Paling sering disiksa, mengalami kekerasan, kalau kawan-kawan yang lain tidak juga karena mereka tidak berani membuat berita yang 'berisiko.'"

Menurut riset Amnesty International Indonesia yang dirilis awal 2018, Papua memiliki beragam kasus pembunuhan di luar hukum, dilakukan oleh aparat. Dengan kata lain, provinsi ini bukanlah daerah yang aman bagi turis asing yang ingin datang berkunjung dan bertemu aktivis Papua merdeka. Andai kata Skrzypski betul hanya ingin mencari adrenalin dengan menghubungi anggota jaringan pembebasan, dia berarti terlalu sembrono.

Iklan

"Sebagai seorang wisatawan 'ekstrem', Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat bukanlah kelompok pro-kemerdekaan bersenjata pertama yang ia kunjungi dalam perjalanan petualangannya,” tulis Tapol. "Ia sebelumnya juga pernah mengunjungi Tentara Pembebasan Kurdi di wilayah pegunungan Qandil di Irak yang bermasalah. Ia ke sana pada musim semi 2017, sebelum pembebasan Mosul dari tangan ISIS."

"Tujuan perjalanannya untuk belajar tentang perjuangan rakyat Tanah Papua mudah disalahartikan oleh pihak pemerintah Indonesia. Meskipun pilihan Skrzypski tampak tidak bertanggung jawab dan patut disesali, kami menganggap bahwa dirinya lebih sebagai sosok yang idealis dan naif ketimbang seorang kriminal. Kami merasa pengenaan pasal makar berlapis terhadapnya tidaklah adil."

Penangkapan Skrzypski hanya akan menyulitkan penduduk setempat, serta jurnalis lokal dan asing, yang ingin meliput wilayah tersebut. Penasihat hukum dari pemerintah Polandia sedang memberi bantuan kepadanya. Mereka juga berusaha melakukan mediasi demi Skrzypski. Bagaimana dengan tiga pria lainnya yang juga ditangkap? Mereka tidak akan mendapat pertolongan apapun.

Pada akhirnya, tiga pria tersebut—yang salah satunya akan melanjutkan studi S2 di Australia—yang akan mendapat ganjarannya. Lebih buruk lagi, represi sekaligus propaganda aparat pemerintah Indonesia terhadap aspirasi politik orang asli Papua akan terus berlanjut.