Kesehatan Mental

Perjuangan Mencari Dokter yang Bersedia Membantu Agar Aku Tak Lagi Nekat Mengakhiri Hidup

Seorang karyawan swasta kontributor VICE Indonesia menulis catatan kejiwaan mendetail. Dari awalnya merasa hampa, mencoba bunuh diri, sampai akhirnya didiagnosis menderita gangguan bipolar oleh dokter.
19.9.18
Ilustrasi menghadapi depresi oleh Farraz Tandjoeng.

Pada satu hari, di bulan Oktober, saya mencoba bunuh diri. Percobaan itu gagal. Seminggu kemudian, saya mencoba lagi. Gagal lagi. Sejak hari itu semua berubah. Saya mendadak merasa dunia menjauh, sedih, tidak bersemangat melakukan apa-apa, dan semakin menutup diri. Sejak hari itu, pekerjaan saya di sebuah perusahaan fintech terbengkalai. Yang bikin kesal hanyalah karena saya tidak tahu pasti apa penyebab semuanya. Saya juga enggan berbagi dengan teman dan malah menggumuli alkohol sebagai penenang.

Kegagalan tersebut tak menuntun saya menjadi ke arah yang lebih baik. Saya makin berkubang dalam genangan pekat yang saya ciptakan sendiri. Saya mulai menyalahgunakan obat penenang jenis benzodiazepin dengan dosis yang makin lama semakin tinggi. Mungkin ambang batas toleransi saya menjadi tinggi lantaran minum obat tanpa aturan. Sekali waktu saya pernah meminum 15 butir dalam waktu satu jam. Kalau sudah begitu otot rasanya seperti selembar daun yang tak bakal bisa berdiri tegak walau dipaksa dengan cara apa pun.

Sedikit demi sedikit saya mulai merasakan perubahan seperti dalam film Limitless. Dosis obat penenang yang tinggi tersebut membuka cakrawala pikiran saya. Saya semakin kreatif. Otak seperti tak pernah berhenti bekerja. Selalu saja ada yang saya pikirkan dan selalu ada hal yang bisa saya kerjakan.

Iklan

Saya selalu mendominasi pembicaraan dengan lawan bicara dan saya tak butuh tidur. Selama sebulan mengonsumsi benzodiazepin waktu tidur saya bisa dihitung dengan jari. I was literally unstoppable and I feel great. Untuk beberapa lama saya bisa menikmati kesemuan hidup dengan bantuan obat-obatan dan alkohol. Pekerjaan pun kembali di bawah kendali saya.

Depresi telah menjadi hal umum namun tak jarang disepelekan. Di Indonesia, sekira 2.5 juta atau 10 persen dari total populasi mengalami depresi karena beragam sebab. Padahal, gangguan mental tersebut juga disebut sebagai salah satu penyebab utama bunuh diri, yang menurut World Health Organization (WHO), terjadi setiap 40 detik.

Saya adalah satu dari sekian juta orang yang mengalami depresi sejak 2014. Awalnya saya tidak tahu apapun soal depresi.

Tapi ternyata pengalaman tersebut membuka pengalaman lain.

Mari percepat cerita ke momen sesudah pernikahan. Saya dan istri dikaruniai satu anak. Seharusnya saya bahagia. Rupanya depresi itu datang lagi. Namun sekarang saya tak lagi bisa mengonsumi benzodiazepin gara-gara kasus Tora Sudiro ketangkap narkoba. Semua apotek langganan tak berani lagi jualan obat tanpa resep. Semua bandar obat langganan saya tiba-tiba menaikkan harga berlipat-lipat karena risiko yang menanti mereka. Saya kembali berkubang dalam kehampaan.

Setelah sempat mengalami mental breakdown di kantor pada pagi hari, saya memutuskan mencari bantuan psikiater. Saya sudah lama mendengar dari teman-teman, soal repotnya mengurusi kesehatan mental. Mencari psikiater yang cocok dan obat yang manjur tanpa harus ketergantungan itu repot, kata teman. Tapi kali ini saya mencoba. Toh, tidak ada salahnya. Setelah beberapa kali keluar masuk rumah sakit berbekal BPJS, saya merasa tak ada perkembangan berarti. Maka saya mulai mengontak sebuah sanatorium di Jakarta Selatan.

Iklan

Sanatorium itu tergolong kecil, namun dari buah bibir yang beredar cukup berpengalaman dalam menangani gangguan jiwa ringan sampai berat. Setelah mendaftarkan diri, saya disuruh masuk ke ruang assessment. Seorang perawat berperawakan kurus dengan hijab membalut kepala menyuruh saya duduk santai.

"Apa yang kamu rasakan sekarang? Sedih ya," tanya si perawat sambil menulis di atas secarik kertas.

"Dari mana suster tahu saya sedih?" tanya saya dengan nada datar.

"Dari muka mas." si perawat membalas lempeng.

"Saya enggak tahu apakah ada yang salah dengan muka saya, tapi saya sama sekali tidak merasa sedih. Malahan saya merasa numb aja," tandas saya.

Saya merasa aneh karena si perawat telah melempar prasangka. Sesi tersebut lebih mirip wawancara kerja. "Apakah mendengar bisikan-bisikan?", "apakah nafsu makan menurun?",
"bagaimana pola tidur anda?", dan seterusnya.

Selesai sesi assessment selesai, saya berada di sebuah ruangan sempit berisi satu meja dan dua kursi. Tak ada tempat tidur atau kursi nyaman seperti di film-film tentang depresi. Seorang dokter berusia pertengahan 40-an, perawakannya sedang, duduk di seberang saya. Setelah meminta maaf karena terlambat dan membuat saya menunggu, dokter bernama Ashwin Kandouw tersebut mulai membaca hasil assessment saya sebelumnya dan menanyakan apa yang menimpa saya.

Saya mengaku tidak tahu apa penyebabnya. Bisa jadi genetik dari garis ibu. Dokter tersebut mulai menanyakan kehidupan rumah tangga dan pekerjaan saya. Yang bisa saya bilang gitu-gitu aja. Dalam perasaan paling dalam, ada suatu penyebab yang tak bisa saya sampaikan dengan kata-kata. Seperti hasil gabungan dari membaca buku-buku karya Emil Cioran, Jean Amery, Thomas Ligotti, Osamu Dazai, Ernest Becker, Arthur Schopenhauer, dan David Hume.

Iklan

Yang pada akhirnya membuat saya bertanya apakah manusia memang diciptakan untuk bahagia? Tentu ini bukan krisis eksistensial macam karya Sartre dan Camus, melainkan sebuah perasaan paling primordial dan pesimistik yang tak kunjung enyah: bagaimana jika tidak ada cahaya di ujung terowongan?

Demi si dokter yang menuntut jawaban konkret, akhirnya saya harus mengiyakan kalau keluarga menjadi masalah paling berat. Kemudian ia mulai menulis beberapa kalimat di atas secarik kertas berkolom.


Tonton dokumenter VICE soal metode ekstrem terbaru untuk mengobati depresi:


"Kamu pernah merasakan mood swing?" tanya Ashwin. "Perasaan di mana di satu sisi kamu bisa sangat senang, enerjik, meletup-letup, namun di sisi lain tiba-tiba kamu merasa hopeless, tidak berharga, dan sedih berlebihan. Itu namanya depresi manik atau gangguan bipolar."

"Saya merasakan itu, namun di bawah pengaruh benzodiazepin," jawab saya.

"Kamu ada kecenderungan bipolar disorder," kata Ashwin dengan tatapan menusuk.
"Benzodiazepin itu obat antikecemasan, dia tidak ada hubungannya dengan gangguan bipolar."

Saya bingung dan berkunang-kunang. Tak pernah menyangka bahwa saya mengidap gangguan tersebut. Saya pikir ini cuma depresi biasa. Namun saya tak buru-buru percaya juga. Toh, saya baru bertemu dengan dokter tersebut hanya beberapa menit. Bagaimana jika saya berbohong selama sesi wawancara? Apa jaminan diagnosis tersebut benar? Lagipula saya sudah lama tidak merasakan manik atau gembira berlebihan.

Iklan

Tapi dalam dunia psikiatri, sesi wawancara tersebut memang lazim. Pasien juga bisa mengisi sebuah kuesioner yang digagas oleh Aaron T. Beck yang biasa disebut 'Beck Depression Inventory'. Bentuk kuesionernya berisi 21 pertanyaan pilihan ganda dengan skor di tiap-tiap jawaban. Semakin tinggi skor, semakin parah depresinya. Namun sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa kuesioner tersebut betul-betul menggambarkan kondisi psikis pasien.

Jadi kuncinya cuma pada masalah kenyamanan dengan sosok psikiater saja dan juga dengan obat yang mangkus. Kalau kamu menemukan sosok psikiater yang enggak menghakimi dan mengerti kamu, just stick with her/him until you get better.

Kalau akhirnya tak nyaman, ngapain dipaksain.

Pada akhirnya Ashwin meresepkan racikan obat seperti Lithium dan racikan zipren, depram, hexymer, dan merlopam. Saya tak terlalu merasakan efeknya, kecuali jadi mengantuk hebat ketika mencampurnya dengan alkohol (bagian terakhir ini jangan ditiru ya).

Pesan moral yang akhirnya saya tangkap dari segala pasang surut gejala kejiwaan ini adalah setidaknya saya sekarang paham kenapa menderita dan merasa hampa. Sayang, mencari seorang dokter yang tepat untuk merawat kita, di Indonesia, lebih sulit daripada mencari pacar.


*Ajo Kawir adalah nama samaran. Penulis artikel ini ingin identitasnya dirahasiakan. Dia meminjam nama Ajo Kawir dari tokoh sentral novel 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas' karya sastrawan Eka Kurniawan.