Piala Dunia 2018

Kecerdasan Buatan Mensimulasi Piala Dunia 100 Ribu Kali, Hasilnya Spanyol Juara

Tenang, Jerman—juara bertahan yang main butut di laga pertama—juga punya peluang yang nyaris sama besarnya buat mempertahankan gelar di Rusia tahun ini.
27.6.18
Foto dari Shutterstock

Dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, seekor ubur-ubur peramal bernama Paul mampu menebak dengan benar pemenang 12 dari 14 pertandingan, salah satunya adalah laga final dimenangkan oleh Spanyol. Delapan tahun berselang, kini kita punya metode yang lebih ilmiah untuk menentukan kampiun Piala Dunia: sebuah kecerdasaan buatan (AI) yang mampu mensimulasikan Piala Dunia 2018 sebanyak 100.000 kali.

Iklan

Menurut simulasi-simulasi yang dijalankan oleh AI canggih tersebut, Spanyol paling berpeluang keluar sebagai pemenang, diikuti oleh Jerman dan Brasil.

Sekelompok peneliti dari German Technische Universitat of Dortmund dan Technical University di Munich, serta Ghent University di Belgium, sampai ke kesimpulan di atas menggunakan pembelajaran mesin dengan memperhitungkan sejumlah faktor, semisal rangking FIFA, populasi dan nilai Produk Domestik Bruto sebuah negara, pasangan bandar judi bola, berapa banyak pemain sebuah timnas yang bermain di satu klub yang sama, rerata umur pemain dan berapa kali mereka memenangkan Liga Champions.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, AI yang dibuat oleh para peneliti melakukan simulasi Piala Dunia 2018 sebanyak 100.000 kali, menghitung peluang tiap timnas lolos dari fase grup, babak 16 besar dan seterusnya hingga sampai partai final.

Tabel di bawah ini memuat peluang tiap tim untuk selamat dari fase grup.

Sedangkan tabel berikut menunjukkan peluang tiap tim memboyong pulang trofi Piala Dunia. Dari sini, kamu bisa melihat Spanyol punya peluang paling tinggi untuk jadi kampiun, sedikit di atas juara bertahan Jerman, setidaknya begitu menurut perhitungan para peneliti.

Yang menarik, ramalan alur Jerman menuju final menunjukkan bahwa Der Panzer berpeluang mempertahankan gelar juaranya.

Hal ini, menurut penjelasan para peneliti, terjadi karena Jerman kemungkinan besar berjumpa tim matador di Semifinal. Namun, jalan Jerman menuju babak semi-final penuh onak dan duri. Artinya, Jerman bisa tersingkir kapan saja.

Tentunya, siapapun kamu—entah itu penonton sepakbola biasa atau pejudi kawakan—hendaknya tak mempercayai mentah-mentah hasil simulasi AI ini. Para peneliti sendiri menegaskan “karena konstelasi yang bisa muncul jumlahnya sangat banyak, alur pertandingan sampai ke final bisa sangat tak terduga.”

Lagipula, sepintar apapun AI yang digunakan para peneliti, kecerdasan buatan ini toh tetap gagal memprediksikan bahwa pelatih tim Matador akan dipecat hanya dua hari sebelum pertandingan pertama Spanyol. Jadi, semua masih bisa terjadi, termasuk kalau Belgia jadi kampiun tahun ini.