Mengikuti Perjalanan Sampah Plastik dari Rumah Kembali ke Pabrik
Semua foto oleh Rizzardi Badudu
The Pledge

Mengikuti Perjalanan Sampah Plastik dari Rumah Kembali ke Pabrik

Indonesia adalah negara kedua terbesar penyumbang sampah plastik ke laut. Butuh usaha keras mengelola sampah plastik agar bisa kembali berguna dan tak menjadi limbah.
05 Juni 2018, 10:57am

Di Indonesia, nasib sampah plastik ujung-ujungnya hanya dua, terolah kembali di pabrik daur ulang atau teronggok sebagai sampah entah di mana. Bisa di sungai, bisa di kali, bisa terkubur di tanah, bisa juga terbawa sampai ke laut.

Sayangnya, hingga hari ini, nasib sampah plastik lebih sering jadi limbah perusak lingkungan. Jika tak ada perubahan, bisa-bisa Indonesia terus saja terjerembap dalam daftar negara dengan mismanajemen plastik terparah sedunia. Menurut majalah Science edisi 13 Februari 2015, Indonesia adalah negara kedua dengan pengolahan sampah terburuk sedunia, selevel di bawah Cina.

Sebuah penelitian yang dirilis pada 2010 menyatakan setiap tahun ada 3,22 juta metrik ton sampah plastik yang terbuang ke laut. Katakanlah satu truk sampah muatan maksimalnya 8 ton, maka dibutuhkan setidaknya 402 ribu truk sampah untuk mengangkut semua limbah plastik yang setiap tahun terbuang ke laut Indonesia.

Lantas bagaimana cara kita bisa turut serta mengubah nasib plastik agar tak selamanya jadi limbah berbahaya? Aku tergerak untuk melakukan satu uji coba kecil-kecilan, mengikuti ke mana perginya plastik yang aku buang di rumah, dan melacak jalan-jalan yang tersedia bagi si plastik agar kelak ia berujung di pabrik daur ulang. Apakah jalan itu benar-benar ada?

Di rumahku, semua sampah apapun bentuknya dikumpulin di satu tempat. Kalau ditanya kenapa enggak dipisah berdasarkan jenis-jenisnya, seperti sampah organik, anorganik, dan limbah kimia, jawabanku simpel saja. Toh sama tukang sampah kompleks, semua yang sudah dipilah itu digabung juga di gerobak besar yang dia bawa ke mana-mana. Jadi, buat apa dipilah? Setidaknya begitulah yang kutahu soal pengelolaan sampah domestik di Jakarta sejauh ini. Memilah sampah di rumah itu percuma.

Kalau soal pengetahuan pilah-memilah, ya aku sebenernya tahu sih. Pernah waktu itu nonton di teve, kebetulan channelnya sedang membahas bagaimana Jepang mengelola sampah domestik. Di situ diceritakan bagaimana warga Jepang sudah begitu disiplin sejak di rumah. Mereka, warga Jepang, memperlakukan sampah rumah tak ubahnya kado buat juru sampah. Dibungkus rapi dan dipastikan tak jorok apalagi belepotan.

Plastik-plastik bekas, kotak-kotak karton sisa minuman kemasan misalnya, dilipat dan dikemas demikian rapi baru dimasukkan ke dalam kantong plastik. Sebelum dilipat-lipat hingga kecil, mereka kuras dulu setiap botol dan kotak bekas minuman, memastikan kemasan sudah benar-benar kering. Begitu juga dengan sampah makanan, dikumpulkan di satu wadah yang terpisah dengan sampah kering yang bisa didaur ulang. Seterusnya semua limbah itu nanti akan diambil oleh juru sampah yang beda-beda, dibedakan menurut jenis sampah yang mereka olah: organik, anorganik, dan limbah kimia. Dan juru sampah di sana tak ada bedanya dengan pekerja kantoran. Bajunya klimis dan licin seperti baru digosok di meja setrikaan.

Kalau di Jakarta? Aku enggak tahu persis sih sebenarnya bagaimana sampah dikelola di tingkat kompleks, kecamatan, apalagi kota. Apakah asumsiku selama ini benar? Bahwa semua sampah apapun jenisnya digabung di Tempat Pembuangan Akhir di Bantar Gebang? Atau ternyata ada sistem pemilahan yang sudah berjalan? Untuk mencari tahu soal itu, aku memutuskan berangkat, dan mencari tahu ke mana sampah-sampah di rumahku bermuara.

Membuang botol plastik di tempat sampah depan rumahku

Siang itu aku bertemu dengan Yadi, juru sampah baik hati yang bertugas mengangkut sampah di daerah rumahku. Ke mana-mana Yadi berjalan kaki menggotong gerobak besar dan mengangkut setiap sampah baik yang sudah dikumpulkan maupun yang tercecer di jalanan. Tak terbayang akan seperti apa jadinya rumah dan kompleks ku jika tak ada Yadi, pasti sudah kotor tak keruan.

Daerah kekuasaan Yadi cukup luas juga, ia menangani seluruh limbah domestik di 8-10 kompleks. Asumsikan satu komplek terdiri atas 20 rumah, maka ia menangani sampah setidaknya dari 200 rumah saban hari. Tentu saja ini adalah pekerjaan full time buat Yadi. “Nanti sampah-sampah ini saya setor ke beberapa lapak dan BSU (Bank Sampah Unit),” kata Yadi.

Hmm… Bank Sampah Unit? Itu istilah baru buatku. Aku belum pernah dengar istilah BSU sebelumnya. Untuk urusan persampahan, aku hanya tahu istilah tempat pembuangan sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA). Kalau TPS itu ada di dekat rumah, aku tahu karena setiap hari aku lewati jika; sementara TPA yang kutahu hanyalah Bantar Gebang. Bukankah semua sampah di Jakarta ini akan berakhir di Bantar Gebang. Ternyata pengetahuanku itu cetek belaka begitu aku mendengar ada yang namanya BSU.

Pak Yadi, juru sampah di kompleks Slipi-Hankam, Jakarta Barat

Pergilah aku ke bank sampah unit di kompleks Slipi-Hankam untuk mencari tahu lebih jauh bagaimana sampah dikelola di tingkat kecamatan. Di sana aku bertemu dengan Pak Zamit, penanggung jawab pengelolaan bank sampah. Peran Zamit di sana ini mirip-mirip pengepul yang sekaligus bertindak sebagai juragan bagi juru sampah seperti Yadi. Zamit siap menampung sampah yang telah dipungut dari rumah ke rumah, lalu membayar para juru sampah tingkat kompleks dengan insentif yang telah disepakati sebelumnya. “Dalam sehari sudah pasti dapat sekuintal dua kuintal plastik,” kata Zamit.

Soal urusan bayar-membayar, bank sampah unit Slipi-Hankam sudah tergolong maju. Sejak dua tahun terakhir, mereka membayar juru sampah dengan sistem transfer. Berkat kerja sama dengan Bank BNI, semua juru sampah yang menjadi rekan BSU Slipi-Hankam punya rekening bank. Ke sanalah nanti bank sampah akan mengirim bayaran pada setiap juru sampah sesuai dengan jumlah limbah yang mereka setor setiap hari. Sistem ini memudahkan pengumpulan sampah karena pembayaran jadi tak macet sebagaimana dulu ketika pembayaran masih dilakukan dengan cara tunai.

Kesibukan di bank sampah unit Slipi-Hankam

Tugas Zamit seterusnya adalah memilah secara besar-besaran sampah kompleks ke dalam tiga penampungan: limbah organik berupa sampah basah seperti sisa makanan; sampah anorganik berupa sampah kering seperti plastik, kertas, karton, dll; serta limbah B3 yaitu limbah beracun yang tak punya nilai ekonomis jika dibanding limbah lainnya.

Seterusnya, ketiga jenis limbah yang ditampung Zamit cs akan dijemput oleh truk yang berbeda-beda: truk warna jingga untuk sampah organik; truk hijau untuk sampah anorganik; dan truk dari dinas lingkungan hidup khusus untuk mengelola limbah b3 yang berbahaya bagi lingkungan.

“Ntar truknya datang sendiri, jemput sampah. Ini semua yang anorganik dikumpulin ke bank sampah induk yang rekanan sama Danone,” kata Zamit.

Memilah sampah yang dikumpulkan juru sampah kompleks

Sampah organik dan anorganik yang telah dipilah siap ditumpahkan ke truk

Ibarat sungai, bank sampah induk di Cengkareng yang aku datangi adalah sungai yang airnya payau. Bank sampah ini adalah muara yang mempertemukan hulu sampah di kompleks perumahan dengan hilir limbah, tempat ke mana sampah-sampah kembali diolah untuk kembali jadi barang yang punya nilai guna.

Jangan tanya soal jarak. Dengan mengendarai mobil, butuh waktu tempuh dua jam untuk menelusuri jalan dari kompleks Sllipi-Hankam menuju bank sampah induk di Cengkareng. “Semua sampah dari Jakarta Barat diolah di sini,” kata Edi, penanggung jawab bank sampah induk Cengkareng.

Edi bercerita dalam sehari, sampah anorganik yang disetor ke tempatnya bisa mencapai 6-7 ton. Truk yang datang itu diatur oleh Dinas Kebersihan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bank sampah tahu beres saja pokoknya, mereka tak mengatur hilir-mudik truk-truk itu. “Truk anorganik yang warnanya ijo udah pasti datang bulak-balik nganter sampah,” kata Edi.

Di bank sampah induk, sampah-sampah anorganik dipilah lebih detail lagi. Edi cs sudah siap dengan berbagai kategori pemilahan. Botol plastik digabung dengan segala jenis botol; gelas dengan gelas; tutup galon dengan tutup galon; toples plastik ada kategorinya sendiri; begitu juga dengan botol bekas sampo, sabun; juga sampah plastik sampai remote teve sekalipun dikumpulkan terpisah dengan sampah lainnya.

Pemilahan yang detail ini diperlukan untuk kepentingan bisnis bank sampah induk, sebab sampah yang telah mereka pilah itu kemudian akan dibeli oleh pabrik-pabrik besar untuk didaur ulang, salah satunya Danone. “Danone akan beli semua sampah plastik bentuk botol dan gelas, berapapun banyaknya pasti mereka angkut,” kata Edi.

Suasana di bank sampah induk Cengkareng, Jakarta Barat

Menurut Edi, sistem pengumpulan dan pemilahan di tempatnya bekerja sudah sejauh ini berjalan dengan baik. Tapi ada satu masalah yang butuh perhatian khusus, yakni pengangkutan. Rupanya tak semua sampah yang telah dipilah itu cepat diangkut oleh pemroses di tahap selanjutnya. Masalahnya, kata Edi, terletak pada kapasitas mesin pengolah yang tak sesuai dengan jumlah sampah yang telah dipilah.

“Ngumpulinnya sih udah bener,” Edi berujar. “Tapi masalahnya di pengolahannya, mampet terus. Ini makin jadi masalah apalagi 2018 sampah lagi banyak-banyaknya.”

Mendengar keluhan Edi, aku jadi penasaran membuka data pemerintah tentang pengolahan sampah. Beruntung ada lembaga seperti Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat segala perintilan kebiasaan masyarakat termasuk urusan buang-membuang sampah. Menurut BPS, pada 2016 Jakarta adalah kota penghasil sampah terbanyak kedua setelah Surabaya. Merujuk laporan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2017, setiap hari Jakarta menghasilkan 7.099 meter kubik sampah, sedikit lebih rendah dibanding Surabaya yang menghasilkan 9.710 meter kubik sampah. Masih menurut laporan yang sama, setiap hari hanya 84% sampah di Jakarta yang benar-benar terangkut. Sementara Surabaya lebih gawat, hanya 53% sampah di sana yang terangkut. Merujuk data itu, PR buat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tampaknya lebih berat daripada PR Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Lantas mengapa ada kesenjangan begitu jauh antara Jakarta dan Surabaya dalam hal pengangkutan sampah?

Salah satu jawabannya ada pada faktor jumlah pegawai dan ketersediaan sarana serta prasarana. Pada 2016, Provinsi DKI Jakarta punya 14.289 pegawai yang bekerja di bidang kebersihan, bandingkan Surabaya yang hanya punya 1.904 pegawai. Jakarta punya 1.749 truk sampah, sementara Surabaya hanya 173. Jakarta punya 1.416 tempat penampungan sementara, sementara Surabaya hanya 187. Untuk urusan alat berat, Jakarta juga jauh lebih digdaya, ia punya 1.990 alat berat dibandingkan Surabaya yang hanya 186.

Melihat angka-angka itu, kekuatan pasukan kebersihan Surabaya besarnya hanya 1/10 kekuatan Jakarta. Kenapa bisa begitu? Barangkali karena Jakarta itu setingkat Provinsi sementara Surabaya adalah kota. Soal anggaran pun mesti turut andil menentukan angka-angka tadi.

Salah seorang pekerja memilah sampah plastik ke dalam berbagai kategori

Sampah plastik dikelompokkan berdasarkan jenis

Perhentian terakhirku menguntit perjalanan plastik adalah tempat Recycling Business Unit (RBU) yang dikelola kelompok Koperasi Pemulung Berdaya Tangerang Selatan, Jalan Cipeucang Raya, Kademangan, Tangerang Selatan. Awalnya kelompok ini diinisasi oleh Danone, kemudian berkembang sampai jadi mandiri. Aku ke sana pada Sabtu 2 Juni lalu. Jika pegawai biasanya libur pada hari Sabtu, tidak demikian dengan para pekerja yang memilah sampah di tempat ini. Pada siang hari saat aku ke sana, ada sekitar belasan pekerja sedang menyortir plastik, mengolahnya agar siap dicacah dan didaur ulang.

Aku bertemu Bu Lily, pengawas RBU yang saban pekan mengawasi jalannya pengolahan serta 39 pegawai di sana yang hampir semuanya perempuan. Setiap hari, kata Lily, RBU di Kademangan mengolah setidaknya 4-5 ton sampah plastik untuk seterusnya dijual lagi pada pabrik pendaur ulang. Tugas mereka adalah mencacah dan mengepak plastik agar siap dimasukkan ke mesin pengolah. “Banyak juga truk dari Bank Sampah Induk di Jakarta mengantar plastik ke sini,” kata Lily.

Pengolahan di Kademangan sudah berjalan sejak 2013. Mereka punya satu mesin untuk mengolah plastik yang sebagian besar berbentuk botol. Kepada satu-satunya mesin pengolah itulah mereka bertumpu. “Untuk 4-5 ton masih cukup sih kapasitas mesin dan SDM (Sumber Daya Manusia),” kata Lily. Tapi kalau plastik yang datang di atas itu, bisa-bisa banyak yang menumpuk tak terolah.

Pekerja di Recycle Business Unir Kademangan, Tangerang Selatan, memilah botol plastik agar siap dicacah dan didaur ulang

Recycle Business Unit di Kademangan siap menampung dan membeli sampah plastik yang dikumpulkan oleh bank sampah induk

Tumpukan sampah plastik yang belum diolah

Menyambung keterangan Edi penanggung jawab di Bank Sampah Induk, kapasitas mesin itulah yang ia duga memampatkan rantai daur ulang plastik. Unit pengolahan di tingkat hilir tak bisa menambah jumlah plastik yang diolah jika tak ada peningkatan kualitas mesin dan sumber daya.

Masalah yang terjadi di bank sampah Cengkareng dan unit daur ulang Kademangan tentu saja sifatnya mikroskopis, hanyalah jentik kecil di tengah lautan masalah pengolahan sampah di Indonesia. Tapi dari rintangan-rintangan kecil di lapangan seperti ini kita bisa mengira-ngira apa sesungguhnya yang perlu dibenahi dan ditingkatkan. Orang bijak zaman dulu mengatakan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan-perubahan kecil dulu, dan mengatasi kemampatan pengolahan di tingkat kota adalah salah satu langkah kecil itu.

Ada banyak pelajaran yang kupetik dari perjalananku mengikuti sampah di rumah hingga unit daur ulang. Bijak berplastik bukan hanya tugas orang-orang seperti Pak Yadi, Pak Zamit, Pak Edi, dan Bu Lily yang punya pekerjaan sepenuh waktu sebagai pengelola sampah. Bijak berplastik juga adalah tugas ku, dan tugas kita semua sebagai bagian dari penghuni bumi yang menginginkan tanah, air, dan udara yang kita nikmati setiap hari tetap lestari.


Seri The Pledge adalah kolaborasi VICE X Danone AQUA dalam mengkampanyekan kesadaran tentang gerakan #BijakBerplastik