Makin Banyak Pemilik Galeri Bikin Manifesto Melawan Komersialisasi Seni Rupa
A salutation posted on recently-closed gallery Freymond-Guth's website. 
Seni Rupa

Makin Banyak Pemilik Galeri Bikin Manifesto Melawan Komersialisasi Seni Rupa

Bukan cuma seniman lho, pemilik maupun kurator galeri pun menghadapi ketidakpastian dan ancaman penutupan di dunia seni rupa kontemporer. Semua gara-gara komersialisasi.
17.5.18

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE—Situs bagian dari VICE Media mengulas soal seni rupa, fashion, dan budaya

Seni rupa modern belakangan dianggap makin menjauh dari upaya politisasi, atau berpretensi menjadi politis, sebagaimana dulu pernah dinubuatkan dalam esai-esai Wassily Kandinsky atau André Breton. Karya seni rupa masa kini cenderung bermain-main, ironis, atau sadar menjadi parodi atas semua yang dulu dianggap adilihung. Tren tersebut semakin berkembang sejak 1980'an, terutama di kancah seni rupa kontemporer. Namun, tanpa banyak orang sadar, ketika seniman berusaha melepas pretensi politik atau moral tertentu, justru pemilik galeri dan kurator malah semakin politis tahun-tahun belakangan.

Iklan

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita ingat-ingat dulu, pesan para begawan seni awal Abad 20 soal cita-cita seni rupa modern. Kandinsky membuka esainya Concerning the Spiritual in Art yang terkenal, terbit pada 1911, dengan kalimat semacam ini: "setiap karya seni adalah anak kandung zamannya dan dalam banyak kesempatan berkembang menjadi ibu bagi setiap perasaan serta emosi manusia."

Sementara, pada 1924, Breton menulis esai Manifesto of Surrealism sembari menyinggung betapa seni perlu "mengekspresikan cara kerja pikiran… agar kita dapat memahami seni lebih murni tanpa harus dikontrol oleh akal, terbebas dari dominasi estetika atau moral tertentu."

Gagasan ataupun wacana besar tentang seni macam itu sempat dianggap angin lalu memasuki Abad 21, semakin sayup-sayup terdengar. Tapi, sekira 10 tahun belakangan makin banyak pegiat seni rupa yang ingin mengembalikan pentingnya konsep ketika seniman berkarya. Jangan kaget, kalau justru yang mengeluarkan manifesto kesenian macam itu justru adalah sosok di balik galeri seni komersial. Galeri yang orientasinya jualan ingin mengembalikan hakikat seni supaya lebih murni dan tak lagi fokus sama laku tidaknya karya? Lelucon apalagi ini? Faktanya demikian. Suara-suara yang menginginkan adanya manifesto kesenian di zaman kiwari datang dari pemilik ataupun kurator galeri komersial yang baru-baru ini terpaksa tutup atau mengakhiri bisnisnya.

Contohnya Jean-Claude Freymond-Guth, penjual karya seni rupa asal Basel, Swiss, yang dilaporkan terpaksa menutup galerinya Agustus 2017. Dua hari sebelum mengakhiri bisnisnya di bidang seni rupa, Freymond-Guth menulis sebuah esai polemik menyoal masa depan karya seni. Awalnya esai itu hanya beredar di mailing list internal, tapi kemudian sampai juga ke tangan jurnalis-jurnalis seni seluruh dunia. Satu kritiknya terhadap kondisi dunia seni saat ini paling menonjol di paragraf berikut:

Iklan

"Jika para pegiat seni rupa—baik itu seniman, kurator, maupun pemilik galeri—menganggap dirinya bagian dari dunia yang mewakili simbol kebebasan, kenapa kita semua malah mengamini dan menerima begitu saja struktur yang jelas-jelas berlawanan dengan ide kebebasan individu dalam industri seni itu sendiri?" demikian tulis Freymond-Guth. Alih-alih menjelaskan apa alasan galerinya tutup, Freymond-Guth menyinggung betapa kancah seni rupa global sekarang didominasi oleh "pengaruh, uang, dan upaya menyingikirkan semua yang tak masuk dalam dua faktor tersebut."

Freymond-Guth turut menuliskan beberapa pertanyaan retoris dalam esainya. Jika para pemerhati seni membaca esai tersebut, terasa sekali betapa nadanya seakan kembali ke masa-masa seabad lalu, ketika banyak orang masih tertarik membicarakan wacana ideal tentang fungsi seni dalam kehidupan dan apa peran seniman dalam masyarakat. Pendek kata, esai Freymond-Guth adalah serangan terhadap tren komersialisasi seni yang semakin menjadi-jadi di era kiwari.

"Apa saja sebetulnya tanggung jawab dan pilihan yang sekarang dimiliki setiap pegiat seni rupa… apa perbedaan antara karya dan hiburan?"

Foto diri André Breton pada 1924, penulis manifesto seni yang sangat berpengaruh pada perkembangan karya seni rupa kontemporer. Sumber foto: Wikimedia Commons.

Kalau dipikir-pikir lagi, polemik yang disulut Freymond-Guth memang dipengaruhi kondisi mutakhir bisnis seni rupa. Tiga tahun belakangan, semakin banyak galeri yang terpaksa tutup buku. Jangan salah, seni rupa sudah langsung bergejolak sejak krisis ekonomi global 2008 menjalar ke berbagai sektor. Pedagang seni rupa, kolekdol, dan kurator nasibnya sama belaka seperti orang biasa: terombang-ambing oleh ketidakpastian pasar dan meningkatnya ketimpangan ekonomi.

Beberapa nama yang dulunya besar di jagat seni rupa Barat, contohnya Marc Foxx, terpaksa menutup galerinya di Los Angeles tanpa banyak pemberitahuan. Padahal galerinya yang dibuka pertama kali pada 1994 itu sempat dipandang sebagai salah satu garda depan representasi seni rupa kontemporer. Bisa dibilang, kasus Freymond-Guth sedikit berbeda karena dia memicu perbincangan sembari menutup bisnisnya karena merilis esai polemik.

Freymond-Guth tidak sendirian. Andrea Rosen, nama besar dalam seni rupa AS, juga menuliskan esai menohok ketika terpaksa menutup galerinya pada Februari 2017 lalu. "Saya sekarang menyadari, bahwa untuk dapat tetap berani memperjuangkan otentisitas karya, serta mendorong munculnya karya seni yang responsif dengan semangat zaman, maka saya harus mau berubah," tulisnya. Keputusan menutup galerinya yang komersil, menurut Rosen, adalah tindakan penting sebagai seorang warga negara bertanggung jawab, "agar tidak lagi mengompromikan etika."

Bulan lalu, pemilik galeri seni di Kopenhagen Denmark, David Risley, turut menuliskan esai yang menyoroti betapa sekarang industri seni rupa justru semakin meminggirkan ekspresi pribadi seniman. Tendensi untuk mengukur karya hanya dari bisa tidaknya lukisan, instalasi, atau patung tersebut laku bertambah parah. "Kita harus ingat, bahwa seniman adalah unsur paling penting dalam dunia seni. Tanpa seniman, tidak akan ada ajang pasar seni, tidak akan ada sponsor, tidak akan ada donor, tidak ada kolektor, tidak ada kurator, tidak ada kritikus, tidak ada media, apalagi museum, gala dinner, dan lebih penting lagi, mustahil bisa muncul dunia seni rupa."


Tonton dokumenter VICE soal seorang tech artist dalam negeri yang menggabungkan seni dan teknologi demi menghadirkan perubahan di Indonesia:


Ironis memang, seruan untuk mengubah jalannya industri seni rupa justru muncul dari para pemilik galeri yang dulu kerap dituding mendorong komersialisasi gila-gilaan. Tapi tren beberapa tahun belakangan memang makin mewujud lebih konkret. Tuntutan yang muncul, dari pemerhati seni di manapun, adalah gagasan agar dunia seni tak lagi terlalu glamor, tak lagi didominasi kepentingan korporat, tidak sekadar melayani kolektor superkaya, dan lebih mementingkan keberlanjutan dan kolaborasi antara ide dan estetika.

Tentu kita tidak tahu, apakah suara-suara kontra terhadap perkembangan seni rupa modern ini akan mengubah industri atau tidak dalam waktu dekat. Satu hal yang pasti, tuntutan macam itu sebetulnya mengulang kritik yang sudah muncul bertahun-tahun lalu. Misalnya, jika kita menengok esai yang ditulis perupa Claes Oldenburg pada 1961.

“Aku akan selalu mendukung seni yang walaupun dipenuhi oleh sampah-sampah keseharian, namun akhirnya karya tersebut bisa mencuat ke permukaan dan menjadi sebuah titik yang diakui sebagai pencapaian tertinggi umat manusia."

Jadi, pilihan ada di tangan kalian. Apakah kalian masih optimis bisa menemukan karya yang mencuat sambil mengusung idealisme di tengah kondisi banal dan keinginan mencari uang dunia seni rupa masa kini?