Kami Enggak Sabar Nonton Skuad Baru Tim Unggulan NBA Musim 2018-2019

Berikut lima line-up inti yang akan menentukan jalannya NBA sepanjang musim ini.
16 Oktober 2018, 10:47am
LeBron James memulai debutnya sebagai pemain LA Lakers pekan ini
Foto oleh Mike Nelson - European Pressphoto Agency 

Salah satu keseruan utama NBA adalah segala sesuatunya yang bersifat baru setiap musim. Mulai dari pemain free agents, draft picks, dan pemain-pemain yang ditukar, mereka semua masuk ke dalam lingkungan baru dan kita semua menanti apakah mereka bisa lengket dengan skuad barunya. Ada antisipasi yang terbangun karena perubahan selalu terjadi dan sampai para pemain baru ini menginjakkan kaki di lapangan, tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Line-up inti yang berisikan lima pemain tentunya tidak bisa menggambarkan semuanya secara keseluruhan, tapi mereka memberikan gambaran bagaimana setiap tim berusaha beradaptasi, entah target mereka bertahan di puncak atau memanjat klasemen.

Berikut beberapa deretan skuad inti yang paling relevan seiring kita memasuki musim NBA 2018-2019. Mereka semua layak kita perhatikan.

Boston Celtics: Kyrie Irving, Jaylen Brown, Jayson Tatum, Gordon Hayward, Al Horford

Skuad ini tidak terlihat terlalu bagus di pertandingan pra-musim (preseason)—Hanya Indiana Pacers dan Chicago Bulls-lah dua tim dengan rating ofensif lebih buruk dari Celtics—namun dari semua kemungkinan line-up di Boston, lima orang inilah yang seharusnya bisa mendominasi NBA masa kini. Ya, ini semacam versi karaoke dari Death Lineupnya Warriors. Horford berperan sebagai versi lebih tua dan kalem Draymond Green dengan shooting dan temperamen yang lebih baik. Kemampuan ofensif Kyrie Irving yang ajaib juga akan mengangkat franchise ini ke level yang lebih tinggi, dan tentunya kehadiran tiga bintang lainnya yang bisa ditukar-tukar sebagai wing.

Mereka sanggup switch di posisi manapun ketika bertahan (kualitas yang penting ketika pertandingan berubah menjadi permainan terbuka yang kisruh). Dan kelima individu tersebut sanggup menciptakan peluang mereka sendiri melawan musuh dan bertahan sama baiknya. Semua orang bisa menembak. Semua orang bisa mengoper. Semuanya entah sudah pernah masuk All-Star atau berpotensi masuk All-Star dalam beberapa tahun ke depan. Kita hanya melihat unit ini bermain bersama selama lima menit musim lalu. Tahun ini, kesuksesan Celtics ditentukan seberapa sukses line-up ini.


Tonton video VICE soal tren makin banyaknya atlet basket dengan postur pendek:


Houston Rockets: Chris Paul, James Harden, Eric Gordon, P.J. Tucker, Clint Capela

Banyak yang sudah melaporkan bagaimana Houston tersandung-sandung di musim offseason. Kehilangan Trevor Ariza dan Luc Richard Mbah a Moute (dua komponen yang sangat penting), kedatangan Carmelo Anthony, dan pensiun tiba-tiba dari kepala pelatih Jeff Bzdelik membuat orang mempertanyakan kemampuan Houston. Tapi sebetulnya ini kekhawatiran yang berlebihan sih.

Ujung-ujungnya, Houston akan memulai musim 2018-19 dengan lima pemainnya yang paling penting dari musim lalu—yang mencetak 65 kemenangan. Lucunya, susunan lima pemain ini baru digunakan 24 menit sejauh ini. (Dalam 45 possession ketika mereka dimainkan dalam playoffs musim lalu, Houston mencetak sekitar 15,6 poin lebih banyak per 100 possession dibanding lawannya.) Rockets bisa saja memecah line-up ini di pertengahan musim dengan menukar salah satu pemain penting (kemungkinan besar Gordon dan/atau Tucket), tapi kalaupun mereka mempertahankan unit ini, tidak ada tim yang lebih efektif dalam perihal talenta selain Golden State (dan mungkin Boston).

Tim ini memiliki empat penembak tiga-angka yang yahud—dua di antaranya calon Hall of Fame dan playmaker kelas dunia—dan pelindung rim yang semakin tahun semakin canggih permainannya. Di lima menit terakhir pertandingan yang sengit, bagaimana siapapun bisa meredam serangan tim ini? Bagaimana kamu bisa menyerang pertahanan yang disiplin dan bisa switch setiap posisi dengan pemain-pemain berkemampuan di atas rata-rata? Iya, memang mereka agak kecil—kepergian Ariza paling terasa di sini—tapi mereka semua bermain melebihi tinggi badan mereka, di dalam sistem yang sangat mendukung.

Rocket musim lalu adalah salah satu tim terbaik yang gagal mendapatkan gelar. Di tahun kedua duo Paul-Harden, mereka pastinya akan bermain lebih baik lagi.

Golden State Warriors: Steph Curry, Klay Thompson, Kevin Durant, Draymond Green, DeMarcus Cousins

Enggak perlu analisa macem-macem deh. Kalau kamu enggak tertarik melihat bagaimana Boogie Cousins (entah seberapa sehat dia kelak) bisa menyesuaikan diri dalam line-up empat orang paling menakjubkan dalam sejarah NBA, mendingan enggak usah nonton basket sekalian.

Indiana Pacers: Victor Oladipo, Tyreke Evans, Bojan Bogdanovic, Domas Sabonis, Myles Turner

Awalnya saya berpikir Thaddeus Young menggantikan Sabonis, karena Nate McMillan mungkin tidak bisa menemukan pemain big untuk menjaga lini pertahanan dalam lima menit terakhir pertandingan yang sengit. Tapi Young sayangnya bukan shooter yang baik, jadi Sabonis terpilih karena kemampuan operannya yang lebih baik dan bisa menekan pertahanan lawan lewat post. Semoga beruntung deh mencoba beradu rebounding dengan Pacers ketika line-up diturunkan. Belum jelas berapa banyak tim yang bisa bertarung melawan ukuran pemain-pemain Indiana ini baik dalam hal menyerang maupun bertahan.

Selain memiliki dua pemain center berbagi frontcourt, yang paling menarik di sini adalah ketidakadaannya satu point guard “sejati”. Justru, Oladipo dan Evans akan saling melengkapi, bergantian mengambil peran playmaker yang bisa menyerang rim, menembak three-point, dan menjalankan pick-and-roll yang efektif dengan Sabonis atau Turner.

Oladipo adalah bintang baru dan permata franchise ini. Musim lalu dia memenangkan Most Improved Player, masuk All-Star, All-NBA, dan All-Defensive team. Tapi mari kita coba analisa Evans. Lihat statistiknya dibandingkan dengan Oladipo musim lalu. Menurut Synergy Sports, Evans berada di posisi ke 86 sebagai playmaker pick-and-roll dan posisi 83 dalam permainan isolasi. Dia melakukan yang terbaik dalam tim Grizzlies yang sudah pasti tidak akan memenangkan apapun musim lalu. Nasibnya akan lebih baik di Indiana, terutama dalam line-up ini, di mana dia mungkin akan menjadi pemain andalan ketiga atau keempat. Ini mungkin momen terbaik bagi Evans dalam karirnya.

Musim lalu, Bogdanovic berhasil memasukkan lebih dari 40 persen tembakan tiga-angkanya dan mencetak persentase 60.5 True Shooting (keduanya rekor tertinggi dalam karir beliau), sementara Turner sudah menjadi salah satu pemain big muda paling menarik di NBA, tukang ngeblok lawan yang juga ciamik dalam pick-and-roll. Bogdanovic kemungkinan besar akan menurun, tapi kalau dia bisa paling tidak menjaga performanya sementara tiga pemain lainnya (terutama Oladipo) semakin berkembang, unit ini akan menjadi mimpi buruk lawan.

Dallas Maverick: Dennis Smith Jr., Wesley Matthews, Luka Doncic, Harrison Barnes, DeAndre Jordan

Line-up ini belum bisa kita lihat hingga Barnes pulih dari cedera hamstring, tapi sangat layak ditunggu. Mavericks memang punya Dirk Nowitzki, tapi mereka juga punya banyak bibit-bibit unggul. Smith Jr. dan Doncic adalah tumpuan masa depan. Barnes, Jordan, dan Matthews berada dalam musim-musim prima mereka. Bersama-sama, mereka memiliki dinamika yang tidak dimiliki line-up Dallas manapun selama lebih dari satu dekade.

Apabila Jordan menguasai rim, bisa terus sehat, dan membantu menyedot pemain lawan dari lini three-point, ini akan sangat membantu Smith Jr. dan Doncic. Apabila Barnes tidak mengambil alih offense dan kembali melakoni perannya seperti di Golden State (ini mungkin harapan semu, tapi dalam konteks unit ini bisa saja terjadi), sistem Carlisle bisa lebih cair. Dan apabila Matthews bisa tampil konsisten sebagai veteran tim, tidak ada alasan kenapa line-up ini tidak bisa menutup pertandingan dan memiliki differential point yang positif.

Memang ini banyak ngarepnya, tapi sulit untuk tidak berharap setelah melihat cuplikan highlight preseason Doncic yang menawan. Bagaimanapun hasilnya nanti, kamu tidak mau melewatkan mereka.

Detroit Pistons: Reggie Jackson, Luke Kennard, Stanley Johnson, Blake Griffin, Andre Drummond

Ada semacam daya tarik nostalgia dari line-up seperti ini. Unit ini menampilkan point guard bergaya yang didukung oleh penembak ulung di posisi two, seorang pemain wing yang atletis, power-forward yang kokoh di samping center yang besar dan bertugas menjadi jangkar pertahanan. Di atas kertas, ini terlihat sangat old school, dan karena itulah banyak yang akan membenci line-up ini. Lima pemain ini menghabiskan waktu di Detroit musim lalu, tapi belum menghabiskan semenitpun bersama-sama di atas lapangan. Selain faktor kesehatan yang kurang prima, alasannya jelas: Tidak ada cukup spacing, atau hirarki pemain bintang yang jelas di sisi penyerangan. Mengeksploitasi mereka di sisi pertahanan juga seharusnya tidak sulit mengingat tidak fleksibelnya mereka.

Namun Drummond menambahkan dimensi baru dalam permainannya musim lalu. Stan Van Gundy menaruh dia di posisi yang berbeda dan membiarkannya memamerkan kemampuannya mengoper dan meningkatkan persentase assistnya sebanyak 14 persen—lebih dari tiga tahun sebelumnya digabung. Sementara itu Griffin masih bisa dominan ketika sehat. Tidak ada pemain seukuran dia yang bisa menandingi visi dan kemampuannya mengolah bola. Mereka memiliki tandem frontcourt yang sanggup berbicara banyak apabila ditemani pemain-pemain yang tepat.

Belum jelas apabila Detroit memiliki pemain-pemain yang tepat tersebut. Tapi Johnson baru berumur 22 tahun, dan memiliki ukuran dan kecepatan untuk menjaga lawan dalam empat posisi yang berbeda. Jackson mungkin hanya membutuhkan dua tahun lagi untuk menjadi point-guard di atas rata-rata, dan Kennard sanggup memperlonggar permainan tanpa bola sekalipun. Belum tentu line-up ini akan melampaui ekspektasi orang-orang, tapi potensi mereka sangat tinggi, terutama dengan Dwane Casey sebagai head coach.

LA Lakers: Rajon Rondo, Lonzo Ball, Josh Hart, Brandon Ingram, LeBron James

Line-up ini justru kebalikan dari skuad sebelumnya. Line-up kelewat tidak konvensional ini terbilang mengejutkan namun juga tidak mengejutkan bagi mereka-mereka yang sudah menonton bagaimana NBA berevolusi dalam enam tahun terakhir. Saya tidak tahu apakah tim ini akan bermain baik, atau bila Luke Walton bahkan akan menggunakan Rondo dan Ball secara bersamaan—tanpa center sejati dan hanya satu penembak ulung—tapi jujur deh, kamu penasaran kan jadinya kayak apa tim ini?

Mari bereksperimen dan lihat seberapa jauh IQ basket yang tinggi dan talenta yang absurd bisa membawa sebuah tim. LeBron memainkan posisi five bukanlah konsep baru, tapi seiring NBA terus mengecil—tren yang juga dimulai oleh LeBron—dia bisa mengambil keuntungan dalam line-up yang penuh dengan pemain yang sanggup melihat arah permainan sebelum terjadi. Mereka akan sanggup mengubah kelemahan pertahanan lewat tingkat antisipasi yang tinggi. Dengan LeBron, Rondo, dan Ball, sulit untuk mengingat sebuah tim yang punya banyak sekali tukang oper yang inovatif sekaligus.

Hart dan Ingram akan dimanjakan, entah dari garis three-point atau di situasi yang sulit. Tembakan jarak jauh memang menjadi isu bagi roster L.A., tapi line-up ini akan menemukan cara baru agar hal tersebut tidak menjadi masalah.

Toronto Raptors: Kyle Lowry, Fred VanVleet, OG Anunoby, Kawhi Leonard, Pascal Siakam

Sama seperti banyak tim lainnya, kita tidak tahu line-up lima pemain terbaik Toronto saat ini. Tapi seiring tim-tim NBA mulai memilih slasher off-the-bounce alih-alih penembak three-point yang jago bertahan, VanVleet harus diutamakan di atas Danny Green. Kamu bisa saja berargumen posisi itu bisa diambil oleh Dorell Wright yang bertubuh panjang, tapi Siakam, Lowry, Leonard, dan Anunoby sudah cukup untuk membuat pertahanan tim ini salah satu yang terbaik.

Banyak sekali komponen Raptors yang bagus. Leonard di posisi four, dengan seorang center yang atletik dengan jangkauan sayap yang panjang. Anunoby tidak bisa ditinggalkan sendirian di pojokan sembari Lowry dan VanVleet merusak pertahanan lawan.

Bayangkan inverted pick-and-roll, dengan Leonard membawa bola seiring Lowry masuk ke pertahanan dan menipu defender dengan melakukan sebuah screen. Gimana coba jaganya? Siakam ada di posisi dunker dan ada penembak ulung di perimeter? Tidak banyak tim yang bisa melakukan ini. Raptors akan sangat menyenangkan ditonton.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports