FYI.

This story is over 5 years old.

YouTube

Bosan Lo-Fi Hip-Hop? Saatnya Beralih ke 'Synthwave' yang Kini Ngetren di YouTube

Synthwave memadukan nostalgia dekade ‘80an dan distopia modern menjadi genre musik rekomendasi YouTube paling populer saat ini.
RoboCop mengacungkan pistol ke arah musuhnya.
Screengrab dari film RoboCop

De Lorra adalah nama alias untuk Matthias Hency, musisi berbasis Soundcloud berusia 23 tahun dari kota kecil Joplin, Missouri, Amerika Serikat. Track terbaik yang pernah diproduksi oleh De Lorra adalah "Slow Drip"—komposisi menyenangkan berbasis suara synthesizer berwarna magenta yang membuatmu merasa dibawa ke pantai neon, kota-kota yang ditinggalkan dan matahari tenggelam berbentuk oktahedral. De Lorra menyebut genre musik yang dia mainkan “synthwave’ yang kini telah menjadi istilah bagi segala macam euforia yang ditinggalkan oleh film-film cyberpunk klasik macam

Iklan

Blade Runner, Total Recall, dan Robocop. Ketiga film tersebut berkisah tentang distopia, transhumanisme, dan kebobrokan kapitalisme. Uniknya, De Lorra mengaku musiknya tak ada hubungannya dengan ketiga tema besar itu. Track-track garapannya dibuat untuk satu perasaan belaka: nostalgia.

Hency lahir di tengah dekade ‘90an. Masa-masa pemerintahan Reagan di dekade sebelumnya tak benar-benar dia alami. Namun. Itu bukan masalah bagi De Lorra. Terlebih lagi, “Slow Drip” sudah diputar nyaris 300.000 kali di YouTube. Di platform ini pula, budaya pop tahun ‘80an masih hidup serta tak henti-hentinya dikurasi oleh segolongan anak muda yang merasa dekade ‘80an adalah masa yang lebih indah dan menyimpan banyak harta karun.

"Aku merasa generasiku sekarang berada di posisi yang aneh. Semuanya bikin kami gelagapan saat ini," kata Hency saat kami ngobrol lewat telepon. "Dekade ‘80an kelihatan lebih sederhana. Makanya, sering diromantisir. Aku suka sentimen melankolis positif macam ini. Aku tumbuh besar sambil menonton film-film itu. Semua soundtracknya habis aku dengarkan. Kendati aku belum lahir waktu itu, otakku kadung bikin semacam realitas alternatif tentang masa itu."

Dilihat dari berbagai sisi, revolusi synthwave punya banyak kesamaan dengan kanal-kanal lo-fi hip-hop yang subur bermunculan di YouTube beberapa tahun terakhir. Seperti lo-fi hip-hop, musik synthwave disebarkan dalam bentuk mix, yang disusun oleh penggemarnya yang doyan blusukan di soundcloud untuk mencari hit-hit paling baru dan terkini.

Iklan

Saya pertama kali menemukan De Lorra dalam sebuah mix berjudul "L O N G N I G H T S." video YouTube mix ini menampilkan loop gambar suasana metropolis ala space-age yang kotor. Dua bajingan cyberpunk tampak nongkrong di sebuah balkoni titanium. Keduanya terlihat bosan sekaligus keren selagi mereka minum-minum sambil bertatapan di bawah sorotan kamera pengawas. Di kata lain, ambiens video ini cocok banget dengan lagu macam "Slow Drip."

Judul mix-mix tersebut mencerminkan teori Hency mengenai kebudayaan generasi muda yang canggung dan seakan tidak sesuai dengan abad ke-21. Contoh terbaik adalah kompilasi synthwave dua jam yang diunggah YouTuber bernama Arherumor. Inskripsinya? “ Dari masa depan yang takkan pernah kita kenal.” (Salah satu komentar top ditulis oleh seorang anak dengan username LordFhalkyn. “Masa lalu yang belum pernah kulihat, dan masa depan yang takkan pernah kukenal,” ujarnya.) Salah satu DJ synthwave yang paling terkenal di YouTube adalah anak 18 tahun bernama Michael Legros asal London, yang mengunggah videonya sebagai “Michael Odysseus.”

Legros merupakan seniman digital amatir yang memadukan setiap playlistnya dengan seni pemandangan kota-kota teknokratis. Beberapa hari sekali, dia mengunggah sebuah mix ke channelnya. Yang diunggah kemarin merupakan apresiasi psikedelik berjudul “ Miami Nights” yang dilatarbelakangi pantai selatan alien. Pekan lalu, dia mengunggah gambar sebuah mobil yang melayang di sinar bulan merah muda yang dipadukan dengan lagu yang berjudul “ Night Drive.

Iklan

Legros mengingat pertama kali dia mendengar musik synthwave dan mengalami berbagai macam emosi: euforia, kegirangan, kebingungan, bahkan putus asa. Dia menghubungkan bangkitnya musik ini dengan populernya Stranger Things dan sekuel Blade Runner. Legros baru memiliki akun YouTube-nya selama tiga bulan, tapi sudah berhasil memperoleh 20.000 subscribers. "Pada dasarnya, kayaknya ini semua merupakan hasil dari yang namanya “retrospeksi buta."

Istilah ini menjelaskan kenapa banyak orang percaya masa lalu itu lebih baik dari masa kini. Kita merasa hubungan kita dengan masa lalu lebih kuat daripada hubungan kita dengan dunia kontemporer. Mungkin ini alasan kenapa generasi muda bisa mengapresiasi musik synthwave,” jawab Legros, yang lahir pada 2000, saat aku menanyakan alasan kenapa synthwave beresonansi dengannya.

Sentimen ini disetujui perencana di balik sebuah channel synthwave bernama Astral Throb, yang ingin tetap anonim. Synthwave itu seperti heavy metal, katanya. Seseorang yang jatuh cinta dengan inkarnasi musik tahun 80-an pasti mengerti bahwa itu sebenarnya fantasi, sama seperti orang yang suka Mayhem, tapi mereka tidak cenderung "membakar gereja dan melakukan ritual satanik."

Synthwave membawa si pendengar ke masa lalu yang mereka tidak pernah alami, but populernya jenis musik ini juga didukung oleh masa kini yang terasa sangat terhubung dengan film-film dystopia tahun 80-an. "Aku rasa orang pada mencari kesamaan antara [synthwave] dan apa yang sedang terjadi di masa kini," kata Hency. Menurut dia, ketika masyarakat berusaha untuk bertahan melawan pemerintah yang korupsi, mereka cenderung, "tetap bersatu dan melupakan semua prasangka mereka."

Iklan

Di dunia kita yang terkadang rasanya tidak bisa diselamatkan—dengan serangan kabar buruk setiap hari, laporan negatif perihal kerusakan alam, yang terasa menandai ajal kita kelak—soundtrack synthwave pas banget. Di era seperti ini, mudah untuk merasa marah dan sedih, tetapi juga lebih menghargai orang di sekitar kita. "Musik synthwave membawa rasa keakraban, dan banyak orang bisa terkoneksi dengan keakraban karena ada unsur prediktabilitas dan kenyamanan," ucap Legros.

Kalau hidup telah berbaik hati dan menghadiahi kita semua film Blade Runner, ya sekalian saja didalami, iya enggak?


Follow Luke Winkie di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.