Taiwan

Saya Menjajal Sensasi Dipijat Menggunakan Pisau Baja

Enggak nyangka, praktik pijat kuno asal Tiongkok ini ternyata memiliki efek yang sangat menenangkan.
08 Februari 2019, 10:28am
Pelanggan merasakan sensasi pijat pisau
Pelanggan merasakan sensasi pijat pisau. Foto ilustrasi via Shutterstock 

Setelah mendangarnya pertama kali, saya segera tertarik pengin mencoba terapi pijat pisau. Sekira 48 jam sebelum hari-H, staf Ancient Art of Knife Therapy Education Center di Ibu Kota Taipei, Taiwan, menyuruhku mandi di pagi hari. Mulai dari dada sampai jari kaki semuanya harus dibasuh. Mandinya pun harus pakai air hangat dan garam mentah selama 15 menit. Konon, fungsinya untuk mengendurkan otot kaku, sehingga memudahkan pijatan pisau mengenai bagian tubuh yang lebih dalam.

Perempuan itu juga menanyakan umur dan meminta foto agar mereka bisa mencarikan lao shi atau ahli pijat yang cocok buatku.

Baru kali ini saya mencoba layanan pijat yang syaratnya ribet. Tapi sulit untuk mundur. Pijat menggunakan pisau aja udah kerasa enggak lazim. Enggak heran sih kalau prosesnya ribet.

Teknik pijat ini dikenal sebagai dao liao. Tubuh kita diurut menggunakan dua pisau baja yang bisa menghasilkan ion positif dan negatif. Konsepnya mirip seperti konsep yin dan yang. Yin adalah energi negatif dan feminin, sedangkan Yang adalah energi positif dan maskulin.

1549342678934-1

Di kios kawasan pusat perbelanjaan Taipei ini saya menjajal pijat pisau. Foto oleh penulis.

Ujung pisaunya sengaja dibuat tumpul agar tidak melukai pasien. Elektron yang dihasilkan oleh pisau akan memasuki saraf dengan cara merangsang meridian atau titik vital tubuh. Elektronnya lalu akan disebar ke pembuluh darah kapiler, yang bisa memperbarui sistem pemulihan diri. Kira-kira begitu penjelasannya.

Terapi pijat pisau ini amat populer pada era dinasti Zhou di kawasan Timur Cina, selama kurun Tahun 770 sampai 221 Sebelum Masehi. Pada masa itu, orang tidak pernah berobat ke dokter kalau sedang sakit. Mereka lebih suka pergi ke tukang pijat pisau. Ketika dao liao mulai berkembang di Taiwan, banyak orang Tiongkok yang mendaftar di Ancient Art of Knife Therapy Education Center, di mana Hsiao Mei-Fang menjabat sebagai presiden. Berhubung tradisi ini tidak populer lagi di negara asalnya, mereka yang tertarik rela merantau ke Taiwan demi mempelajari seni pijat pisau.

Di awal sesi pijat Netty Hsiao, selaku asisten Mei-Fang, menjelaskan lima batu meteorit yang ada di atas meja di hadapanku. Batu-batu ini ditutupi penutup kaca. Setiap malam, pisau pijat akan ditaruh di sebelah batu untuk diisi ulang.


Tonton dokumenter VICE mengenai tren anak muda di Eropa menggantung tubuh pakai kawat demi menikmati sensasi spiritual:


Saya meminum air panas sesuai perintah. Setelah itu, Netty memintaku untuk menyentuh salah satu batunya. Saya merasakan kehangatan saat menyentuhnya. Saya disuruh minum lagi, dan entah kenapa airnya terasa pahit.

"Kamu pasti suka tidur larut malam," ujarnya, menjelaskan kenapa airnya terasa pahit. Tebakan Netty benar banget.

1549342769993-3

Penulis (kanan) melakukan pemanasan bersama Netty Hsiao (kiri) sebelum sesi pijat.

Selanjutnya, Netty minta saya melakukan dua jenis gerak pemanasan. Pertama-tama, saya harus memegang dua tongkat yang sudah diisi ulang di dekat batu meteorit. Kedua lengan digerakkan ke depan secara horizontal. Saya menggerakkan yang kiri, lalu kanan. Gerakannya masing-masing 25 kali.

Pemanasan kedua yaitu jongkok 30 kali sambil memegang tongkat. Latihan-latihan ini tujuannya untuk membuka pintu qi yang bisa mengeluarkan dan memasukkan energi saat pijat pisau nanti. Menurut Netty, gerakannya juga bisa menyeimbangkan tulang dan organ dalam.

Setelah itu, saya berkonsultasi dengan Mei-Fang soal kondisi kesehatanku. Dia menentukan pengobatan yang tepat buatku. Saya menjulurkan kedua telapak tangan di depannya. Dia menyentuh koordinat pada papan xian tian yi jing miliknya. Papan Cina yang berusia 5.000 tahun ini didasarkan pada teks klasik I Ching.

Dia meletakkan tongkatnya di atas papan dalam posisi berdiri dan memintaku menaruh tangan di atas papan untuk merasakan qi. Saya merasakan sesuatu yang hangat lagi. Mei-Fang menyentuh beberapa titik di papan dengan cepat. Dia menyimpulkan kalau tubuh saya kekurangan oksigen dan ototnya lemah. Itulah sebabnya badan saya mudah lelah. Dia bilang saya butuh lebih banyak kalsium agar mudah tidur. Mata lelah saya juga diakibatkan oleh penggunaan ponsel dan laptop.

Dia menyarankanku untuk jogging dan makan biji lotus untuk memperbaiki sistem tubuh.

Sesi konsultasi sudah selesai. Sekarang saatnya saya melakukan pijat pisau.

1549342856152-9

Seperti inilah proses pijat pisau. Foto oleh Netty Hsiao

Terapis menyuruh saya berbaring tengkurap. Dia lalu menyelimuti badan. Cara pijatnya sih sama saja dengan terapi pijat lainnya. Musik lembut terdengar sayup-sayup ketika terapis memukuli pisau ke seluruh tubuhku. Tak disangka-sangka terapi ini sangat menenangkan. Tubuhku terasa semakin hangat ketika dipijat, terutama leher dan punggung. Saya sampai ketiduran saking nyamannya.

Mata, pergelangan tangan dan punggung terasa lebih ringan saat saya bangun. Leherku juga tidak tegang lagi. Tubuh rasanya benar-benar enteng. Kalau menurut Mei-Fang, saya bagaikan bayi yang baru lahir. Tidak sia-sia saya mengeluarkan uang 600 ribu buat nyobain pijat pisau ini.

Sebelum pulang, saya sempat menanyakan pendapat Mei-Fang soal pandangan orang yang mengira terapi pijat pisau itu "aneh."

"Orang-orang biasanya komentar, 'pijat macam apa kok pakai pisau? Gila kali ya?' saat dengar tentang pijat pisau," katanya. "Saya sih maklum saja. Mereka mungkin enggak paham terapinya, tapi saya tahu apa yang saya kerjakan."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.