Seorang perempuan muda di Teheran, Iran, berpose di atas sepedanya
Semua foto diunggah seizin Sarah Pannell 
Fotografi

Habis Lihat Foto-Foto Ini, Asumsi Banyak Orang Soal Kondisi di Iran Salah Besar

Karya fotografer Australia Sarah Pannell, yang diterbikan dengan judul 'Tabriz to Shiraz', menjungkirbalikan anggapan kita tentang Negeri Para Mullah itu.
3.2.19

Sarah Pannell adalah fotografer asal Melbourne. Portofolionya panjang, mencakup aneka rupa kultur, komunitas dan lanskap di dalam dan di luar Australia. Setelah kuliah di fakultas hubungan internasional jurusan sejarah dan politik Timur Tengah, Sarah mulai mengeksplorasi ketertarikan terhadap kawasan itu lewat fotografi.

Seri foto Sarah sebelumnya, I Feel Like I Know You, mendokumentasikan senja industri pariwisata di Mesir dan menunjukkan komitmen Sarah mengabadikan kehidupan sehari-hari masyarakat Timur Tengah dengan penuh integritas dan kehangatan.

Iklan

Kumpulan foto Sarah berikutnya akan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Tabriz to Shiraz, yang meneropong kekayaan visual dan kultural masyarakat Iran kontemporer. Bermodal riset sepanjang 12 bulan lamanya, seri foto terbaru Sarah yang banyak menampilkan gaya snapshot memamerkan kejelian Sarah menangkap kasih sayang dan sensitivitas warga Iran selama dirinya berada di Negeri Para Mullah itu.

Beberapa waktu lalu, VICE bertemu Sarah. Kami sempat ngobrol tentang pengalamannya memotret di Iran dan bagaimana itu semua dirangkum dalam buku terbarunya.

1548806380684-sarahpannell-iran-2

VICE: Kenapa kamu tertarik mendokumentasikan Iran?

Sarah Panell: Setelah belajar di fakultas hubungan internasional jurusan sejarah dan politik Timur Tengah, saya jadi begitu tertarik dengan Iran. lalu, beberapa tahun lalu saya sempat berkenalan dengan sejumlah warga Iran yang luar biasa saat belajar jurnalisme foto di Amerika Serikat. Kisah mereka tentang keputusan meninggalkan sanak keluarga di Iran makin memotivasi saya untuk datang sendiri ke sana. Seperti kebanyakan warga Iran yang belajar dan bermukim di AS, orang-orang ini mustahil kembali ke kampung halamannya. Mereka bercerita tentang tanah kelahirannya dengan penuh gairah, nostalgia dan kesedihan.

1548806406016-sarahpannell-iran-4

Bisa ceritakan cara menjalin hubungan sama komunitas yang kamu potret di Iran?
Sebulan pertama saya di Iran, saya tinggal di rumah lima orang atau keluarga yang berbeda. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Saya juga bertemu dengan banyak orang lainnya. Masing-masing punya cerita dan begitu semangat menceritakan kisahnya pada saya, meski kadang kami cuma bertemu barang satu atau dua hari. Barangkali, pengalaman saya di Iran akan jauh berbeda jika saya tak menumpang di rumah orang-orang ini.

Iklan

Apa saja tantangan yang kamu temui selama berada di negara mayoritas Syiah itu?
Saya lumayan terkejut, begitu tahu syarat melancong ke Iran itu ternyata mudah. Tentu saja, ini berkat bantuan orang-orang yang saya sebut barusan. Menurut saya, travelling ke mana pun pasti punya tantangannya sendiri. Alasannya sederhana: kita tak sedang jalan-jalan di rumah sendiri. Awalnya, memakai hijab atau kerudung longgar agak terasa asing, tapi anehnya saya kok cepat terbiasa dengan dua pakaian ini. Mungkin karena saya pernah bepergian ke negara Islam yang menerapkan hukum syariat dengan ketat.

Makanya, kebutuhan berpakaian secara konservatif ini sudah jadi kebiasaan. Salah satu yang paling merepotkan justru menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang Iran tidur. Mereka terbiasa tidur larut malam! Kadang saya makan malam setelah tengah malam, pergi ke taman dan kafe setelahnya. Saya butuh waktu membiasakan diri dengan jam tidur seperti ini.

1548806423013-sarahpannell-iran-4-2

Seniman atau fotografer mana saja yang mempengaruhi pendekatan dan bahasa visualmu selama ini?
Beberapa tahun terakhir ini sih, saya banyak terinspirasi oleh Bieke Depoorter, seorang jurnalis foto yang sangat berani dan berbakat dari Belgia. Sebenarnya, saya baru pulang dari Iran dan sedang melakukan riset tentang Mesir saat saya pertama menemukan foto-fotonya yang diambil di Rusia dan Mesir. Dia tinggal bersama orang berbeda yang dia temui tiap harinya demi mengambil foto-foto itu. Saya langsung merasa metode numpang tidur saya di Iran terasa biasa saja dan kurang orisinal. Tapi saya rasa hal seperti ini lumrah dijumpai dalam industri kreatif. Pada akhirnya, pendekatan personal, narasi dan gaya kitalah yang akan membedakan karya kita dengan karya orang lain. Fotografer lain yang karyanya saya kagumi adalah Laia Abril dan Vasantha Yogananthan. Saya beruntung bisa berkenalan dengan banyak fotografer bertalenta di Australia. Saat ini, fotografer Australia yang sedang naik daun di antaranya Raphaella Rosella dan Katrin Koenning, Hoda Ashfar dan banyak lagi.

Iklan
1548806447968-sarahpannell-iran-3

Setelah berkunjung ke Iran, menurutmu apa ada yang salah dengan penggambaran Iran di media?
Menurut saya sih iya, penggambaran Iran biasanya ngaco—apalagi di media barat. Celakanya lagi, ini sudah berlangsung bertahun tahun. Revolusi Iran sudah lewat empat dasawarsa lalu, saat itu segala aspek kehidupan di Iran mengalami perubahan hebat, terutama bagi mereka yang tak relijius dan menolak percaya pada kekuatan Ayatollah dan ulama Syiah.

Sekarang, tindakan pemerintah tidak serta merta mewakili keragaman warganya. Salah satu tujuan karya saya adalah barangkali untuk menggeser persepsi orang tentang Iran dan memerangi stereotipe negeri ini, terutama yang digembar-gemborkan segelintir pejabat di Amerika Serikat.

1548806512385-sarahpannell-iran-5

Apa rencanamu setelah merilis buku kumpulan foto?
Saya tengah mengerjakan satu kumpulan karya baru. Idenya muncul saat saya memotret di Mesir. Bisa dibilang ini kancah baru bagi saya. Oh ya, saya juga akan melancong kembali mulai April mendatang, dimulai dengan residensi sebulan penuh di Latvia. Saya juga akan kembali ke Iran tahun ini.

Artikel ini tayang pertama kali di VICE Australia