ISIS Dalangi Bom Bunuh Diri di Konser Ariana Grande, Menewaskan 22 Orang
Foto oleh Associated Press.
Bom Konser Ariana Grande

ISIS Dalangi Bom Bunuh Diri di Konser Ariana Grande, Menewaskan 22 Orang

Insiden di Kota Manchester, Inggris, tersebut sekaligus melukai 59 penonton konser yang kebanyakan remaja dan anak-anak.
24.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Berikut data-data terverifikasi yang telah diperoleh dari ledakan bom bunuh diri di Stadion Kota Manchester, Inggris, setelah berakhirnya konser bintang pop Ariana Grande.

  • 22 orang dinyatakan tewas (di artikel sebelumnya ditulis 19 orang), sementara 59 penonton lainnya cedera
  • Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan itu
  • Pria berusia 23 tahun ditangkap karena diduga membantu aksi teror ini
  • Pelaku bom bunuh diri menurut polisi setempat bernama Salman Abedi

Iklan

ISIS mengumumkan bertanggung jawab atas bom bunuh diri tersebut, selang beberapa jam setelah insiden yang terjadi Senin malam waktu setempat. Pernyataan tertulis ini Daulah Islamiyah dirilis dalam Bahasa Arab melalui Amaq, kanal propaganda Internet mereka. ISIS memuji pelaku yang berhasil melaksanakan tugasnya dengan dalih membalas kematian anak-anak para pejuang Khilafah yang tewas akibat serangan udara Koalisi Militer Barat di Suriah, yang melibatkan Angkatan Udara Inggris.

Berdasarkan pernyataan yang diterjemahkan Pengamat Terorisme Michael S. Smith, ISIS menyatakan target serangan di Inggris ini adalah para musyrikin yang berkumpul untuk kegiatan hedonistik. Smith menduga akan banyak acara anak muda serta ancaman jatuhnya korban di bawah umur dari aksi Daulah Islamiyah di masa mendatang.

Sumber kepolisian kepada Stasiun Televisi Sky News menyatakan pelaku bernama Salman Abedi. Pelaku tewas seketika di lokasi akibat bahan peledak yang dikenakan di tubuhnya. Dalam waktu bersamaan, Kepolisian Manchester menangkap pria berusia 23 tahun, yang diduga mengetahui atau membantu aksi teror ini.

Dari 22 korban tewas, sebagian di antaranya masih anak-anak. Remaja memadati Stadion Manchester Arena yang saat kejadian dipenuhi nyaris 20 ribu orang. Sejauh ini baru tiga nama identifikasi sebagai korban tewas akibat peledakan bom di konser Ariana Grande. Mereka adalah Georgina Callander (18 tahun), John Atkinson (26) dan Saffie Rose Roussos (8). Delapan anak-anak di bawah 16 tahun masuk dalam daftar korban luka-luka berdasarkan informasi rumah sakit rujukan di Manchester.

Iklan

Berdasarkan investigasi polisi, bom bunuh diri itu meledak pukul 10.30 waktu setempat, hanya beberapa menit setelah Ariana Grande mengakhiri konsernya. Insiden ini menjadi teror terburuk yang pernah dialami Inggris sejak terjadi peledakan bom beruntun di stasiun kereta bawah tanah London 7 Juli 2005 yang menewaskan 52 orang.

Perdana Menteri Inggris Theresa May menyebut serangan ini sebagai "aksi teror yang mengerikan." Tak berapa lama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sedang melawat ke Israel, menghubungi May untuk mengucapkan bela sungkawa. Trump menyebut pelaku serangan sebagai "pecundang jahat."

Wali Kota London, Sadiq Khan, turut mengucapkan bela sungkawa pada korban. Dia berharap Kepolisian Metropolitan London bisa membantu rekan-rekan mereka di Manchester, wilayah utara Inggris, untuk saling meningkatkan sistem keamanan di kota masing-masing.

"Kami sejak awal menganggap kejadian ini sebagai serangan teroris," kata Kepala Kepolisian Manchester Ian Hopkins saat jumpa pers Selasa pagi waktu setempat. "Prioritas kami sekarang adalah menyelidiki apakah pelaku beraksi sendirian atau bagian dari jaringan yang lebih besar. Hopkins menyatakan aksi teror ini adalah insiden terburuk yang pernah dia alami sepanjang karirnya menjadi polisi di Manchester.

Setelah laporan yang simpang siur, polisi memastikan bom bunuh diri meledak di luar stadion, bukan di lorong pintu keluar. Korban adalah rombongan remaja yang pulang dari konser dan sedang menuju stasiun terdekat. Kekacauan ketika bom meledak, yang memicu kepanikan ribuan penonton lainnya, terabadikan di media sosial. NBC melaporan beberapa korban cedera bukan karena ledakan, melainkan terinjak-injak penonton lain yang panik.

Iklan

Media massa Inggris melaporkan ledakan kedua pukul 1.30, Rabu dini hari waktu setempat di lokasi tak jauh dari Stadion Manchester Arena. Ternyata itu adalah aksi peledakan Gegana Manchester terhadap obyek yang dianggap mencurigakan. Setelah diperiksa, isi kantong hitam itu hanya pakaian bekas.

Lebih dari 400 personel kepolisian masih memantau keamanan dan berjaga-jaga di lokasi strategis Kota Manchester. Korban tewas maupun luka dirujuk ke delapan rumah sakit berbeda. Dalam situasi kacau selama dini hari sampai menjelang siang, banyak orang di Manchester berusaha mencari kerabat atau kawan yang tak kunjung pulang setelah konser di media sosial dengan tagar #MissingInManchester.

Salah satu penonton yang masih hilang hingga berita ini dilansir adalah Olivia Campbell. Sang Ibu, Charlotte, menyatakan anaknya yang berusia 15 itu menonton konser Ariana dan setelah insiden tak ada kabar apapun darinya. "Saya terakhir berkomunikasi dengannya pukl 20.30 tadi malam. Dia mengaku sedang bersenang-senang dan berterima kasih karena saya mengizinkannya nonton konser sang idola," kata Charlotte sambil menangis saat diwawancarai BBC.

Perdana Menteri May menggelar pertemuan dengan Komite Cobra, tim berisi intelijen dan pejabat keamanan, untuk menyikapi serangan teror tersebut. Dalam jumpa pers di Downing Street tak lama sesudah rapat, May mengatakan masih banyak detail tentang insiden yang sedang dikembangkan kepolisian. Dia memastikan bahwa ledakan sesudah Konser Ariana Grande memang benar terorisme. "Serangan ini tidak akan melunturkan semangat rakyat Inggris," ujarnya. Aksi teror tersebut terjadi hanya beberapa pekan sebelum pemilihan umum sela digelar pada 8 Juni mendatang. Semua partai politik di Inggris menghentikan masa kampanye untuk menghormati korban insiden ledakan bom bunuh diri di Manchester.

Iklan

Trump mengaku sangat marah mendengar adanya bom bunuh diri menyasar remaja dan anak-anak. Setelah menggelar pertemua dengan Pemimpin Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, Presiden AS itu menyatakan siap bersolidaritas dengan rakyat Britania Raya. Grande, yang dikabarkan masih sangat terpukul akibat aksi teror yang menewaskan penggemarnya, adalah warga negara AS. "Saya tidak akan menyebut para pelaku sebagai monster, karena mereka tampaknya suka dipanggil seperti itu," kata Trump. "Teroris dan ekstremis harus kita enyahkan dari masyarakat selama-lamanya. Ideologi jahat ini wajib kita hancurkan sehingga masyarakat yang tidak berdosa bisa dilindungi."

Andy Burnham, Wali Kota Manchester, menyatakan aksi teror ini mengingatkannya pada tragedi ledakan bom beruntun di stasiun kereta bawah tanah pada 7 Juli 2005. Saat itu, Burnham menjadi Menteri Dalam Negeri.

"Saya ingat, bagaimana perasaan para penduduk London pada saat itu. Saya masih ingat persis kejadiannya. Saya yakin warga Manchester akan bangkit dari kejadian ini, para teroris tidak akan menang. Kota ini pernah mengalami pernah mengalami masa-masa sulit dan kita akan kembali bangkit seperti sebelumnya."

Harun Khan, Sekretaris Jenderal Dewan Muslim Britania Raya mengaku terpukul atas terjadinya aksi teror tersebut. "Tindakan pelaku sepenuhnya kriminal. Semua pihak yang terlibat dalam insiden ini harus diadili baik di kehidupan saat ini maupun di akherat nanti. Saya berdoa pada para korban serta mengajak semua pihak untuk membantu warga Manchester yang tengah berduka," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Para pemimpin dunia mengutuk bom bunuh diri Manchester. Vladimir Putin, Presiden Rusia, mengatakan aksi pelaku sebagai "kejahatan tak berperikemanusiaan." Adapun kantor berita Cina, Xinhua, melansir pernyataan dari Presiden Xi Jinping yang mengucapkan bela sungkawa kepada Ratu Inggris. Sementara Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menyebut insiden ini sebagai "serangan mengerikan."

Ariana Grande segera membatalkan rangkaian tur konsernya di seluruh Eropa akibat insiden itu. Manajemen menyatakan sang penyanyi 23 tahun ini tidak terluka sedikitpun, namun sangat terpukul akibat bom bunuh diri tersebut.

Para penggemar Grande berusaha membesarkan hati idola mereka. Di media sosial, beredar tagar #ThisIsNotYourFaultAriana. yang berisi dukungan agar Grande tidak bersedih. "Kami mengecam aksi pengecut yang merenggut nyawa anak-anak dan semua orang tak berdosa yang jadi korban malam ini," kata Scooter Braun, manajer Grande, dalam keterangan tertulis.