masalah finansial

Mendadak Kerja dengan Gaji Lebih Rendah Bisa Memicu Risiko Penyakit Jantung dan Kematian

Kehilangan pekerjaan terkadang seperti hukuman mati. Penelitian menunjukkan korelasi menyeramkan ketika kamu terpaksa dapat gaji lebih rendah dari profesi sebelumnya.
9.1.19
uang bikin deg-degan
Foto oleh Getty Images

Dipecat tidak hanya memberatkan situasi finansial. Penurunan drastis pada penghasilanmu, terutama bagi orang yang baru-baru saja beranjak dewasa, telah diasosiasikan dengan masalah jantung. Penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal medis Circulation menemukan bahwa penurunan mendadak dalam penghasilan pada umur 20-an dan 30-an terasosiasi dengan risiko penyakit kardiovaskular lebih tinggi (hampir dua kali lipat!) dan semua penyebab kematian lainnya.

Iklan

“Volatilitas penghasilan ada konsekuensi kesehatannya, meski mungkin hanya sekali dalam kehidupan, serta berpotensi menimbulkan banyak isu-isu lain,” kata Tali Elfassy, penulis utama penelitian ini serta profesor epidemiologi di Universitas Kedokteran Miami Miller, dalam sebuah wawancara telepon.

Penelitian tersebut mencatat data kesehatan dan pendapatan dari 1990 hingga 2005 dari 2.937 orang dari umur 23 sampai 35 di empat kota AS. Penelitian ini lalu melacak kesehatan para peserta selama sepuluh tahun setelah penelitian demi menentukan hasil menggunakan riwayat medis dan sertifikat kematian.

Fokus penelitian ini adalah dampak perubahan penghasilan terhadap orang muda, bukan dampaknya hidup secara konsisten pada golongan penghasilan tertentu. Penelitian ini tidak menentukan bahwa volatilitas menimbulkan masalah kesehatan, melainkan bahwa kedua hal tersebut terkait dengan satu sama lain. Lagipula, karena angka kematian pada golongan umur ini lebih rendah dibandingkan golongan umur lebih tua, maka jika angka kematian didobelkan, hanya akan terjadi kenaikan persentase yang sangat kecil.

Hubungan Antara keuangan dan penyakit jantung yang kurang sehat

Penelitian sebelumnya telah mendokumentasi berbagai efek kesehatan yang terkait dengan ketidakstabilan finansial. Sebuah penelitian dari 2016 yang terbit di Psychological Science menemukan bahwa ketidakstabilan finansial yang terkait dengan ada atau tidaknya pekerjaan dapat menimbulkan rasa sakit fisik, misalnya. Dan utang finansial rumah tangga dikaitkan dengan kesehatan mental dan fisik lebih rendah dalam sebuah penelitian 2013 yang terbit di Social Science & Medicine. “Temuan kami menunjukkan bahwa utang finansial tinggi yang bergantung pada aset yang tersedia terkait dengan tingkat stres dan depresi lebih tinggi, kesehatan umum (yang dilaporkan peserta penelitian) lebih buruk, serta tekanan darah diastolik lebih tinggi,” tulis para penulis dalam abstrak penelitian. Namun, asosiasi dengan kesehatan mental termasuk depresi dan gangguan keadaan jiwa.

Penelitian ini, yang baru terbit hari ini, berfokus pada volatilitas dan perubahan pendapatan, dan bukan berutang atau berada dalam golongan pendapatan rendah secara konsisten. Untuk mencapai tujuan ini, para peneliti menghitung persentase perubahan yang disesuaikan dengan inflasi pada 1990, 1992, 1995, 2000, dan 2005—ketika para peserta menjalankan pemeriksaan fisik. Penelitian ini mendefinisikan ‘volatilitas’ sebagai perubahan yang melebihi 52 persen dan ‘penurunan pendapatan’ sebagai penurunan yang melebihi 25 persen di antara tahun pemeriksaan fisik.

“Dulu ada banyak penelitian yang berfokus pada pendapatan rendah dan dampak kesehatan negatifnya. Tapi dalam penelitian-penelitian tersebut, pendapatan cenderung hanya dicatat sekali, yang menimbulkan masalah. Pendapatan itu sering berubah, terutama dengan individu-individu muda,” kata Elfassy.

Penelitian tersebut menemukan bahwa peserta dengan tingkat volatilitas pendapatan tertinggi lebih cenderung mengalami penurunan pendapatan. Perempuan dan orang kulit hitam lebih cenderung mengalami hal-hal ini, meskipun dapat terjadi pada semua orang dengan semua latar belakang sosioekonomis. Sekitar 34 persen orang Amerika pernah mengalami volatilitas pendapatan dari tahun 2014 sampai 2015, menurut sebuah survei yang dilakukan Pew Charitable Trusts.

Mengurangi efek perubahan pendapatan

“Ketika kita memikirkan bagaimana kita bisa mempertahankan gaya hidup sehat, kita biasanya memikirkan makan sehat, tidak merokok, dan berolahraga. Kita jarang memikirkan penimbul stres sosial yang bisa menjadi pengaruh besar terhadap perilaku yang terkait dengan kesehatan,” kata Elfassy. “Saya berharap penelitian ini akan membantu membuat orang lebih sadar akan besarnya dampak status sosioekonomis, terutama fluktuasi pendapatan, terhadap kesehatan secara umum. Ini harus dianggap dengan serius.”

Menganggap volatilitas pendapatan sebagai isu kesehatan merupakan langkah penting untuk mencegah penyakit kardiovaskular dan kematian dini. “Saya bukannya mau bilang jangan sampai pendapatanmu turun, itu memang tidak bisa dikontrol karena tidak dapat diprediksi,” kata Elfassy, yang mengingatkan bahwa fluktuasi pendapatan adalah hal biasa dan orang yang mengalaminya harus tahu, mereka tidak sendirian.

Namun, ada yang bisa dilakukan untuk mengurangi efek penurunan pendapatan mendadak. “Jika kamu bekerja dalam sebuah industri di mana memperoleh penghasilan stabil itu susah, coba menyesuaikan gaya hidupmu pada ujung bawah spektrum agar kamu bisa mempunyai pendapatan tambahan sebagai bonus, daripada melihat pendapatan rendah sebagai kekalahan,” ujar Elizabeth Dunn, penulis Happy Money: The Science of Happier Spending, dalam sebuah email.

“Mempunyai pendapatan stabil, meskipun rendah, bisa menimbulkan lebih banyak kebahagiaan, dan mempunyai gaya hidup secara sederhana, jika mungkin, setidaknya bisa membantumu meniru stabilitas,” lanjutnya.

Ikuti Melissa Kravitz di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Free—situs seputar keuangan bagian dari VICE.com