FYI.

This story is over 5 years old.

Sniper Kanada Pecahkan Rekor Dunia, Bunuh Prajurit ISIS Dari Jarak 3,5 Km

Ini bukan capaian mengejutkan. Penembak jitu Kanada menempati posisi satu, tiga, dan empat dalam rekor 10 besar dunia untuk tembakan mematikan perang sungguhan.
Justin Ling
Montreal, CA

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Seorang sniper dari pasukan elit militer Kanada, dari divisi Joint Task Force 2, berhasil memecahkan rekor dunia untuk tembakan mematikan mencapai sasaran dalam pertempuran. Korbannya adalah prajurit Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) yang sedang berpatroli di perbatasan dekat wilayah Kurdi, Irak.

Nama prajurit ini tidak diumumkan, namun rekor tembakannya telah diverifikasi oleh berbagai sumber, termasuk oleh VICE News. Si penembak jitu Kanada itu menghabisi musuh dari jarak 3.540 meter. Target dibidik dari atas gedung apartemen.

Iklan

Tembakan luar biasa itu pertama kali dilaporkan oleh surat kabar the Globe & Mail. Peristiwanya terjadi bulan lalu. Sumber pejabat tinggi militer yang dihubungi media mengakui capaian anak buahnya terhitung luar biasa dalam dunia ketentaraan. "Rekor dunia semacam itu sulit bisa ditandingi dalam waktu dekat," ujarnya.

Sebelum dipecahkan sniper Kanada itu, rekor dunia tembakan mematikan terjauh dipegang oleh Craig Harrison, penembak jitu militer Inggris. Harrison menembak mati musuh dari jarak 2.475 meter. Hal ini bukan capaian mengejutkan. Penembak jitu Kanada menempati posisi satu, tiga, dan empat pada rekor 10 besar dunia untuk tembakan mematikan dalam perang sungguhan.

Perlu diketahui, penembak jitu militer Kanada tidak pernah beroperasi sendirian sebagaimana citra sniper film-film Hollywood. Si penembak selalu ditemani tandem. Mereka berbagi tugas. Sang penembak jitu mengeksekusi, sementara satu kawannya akan memetakan lokasi musuh. Berdasarkan informasi diperoleh The Globe, sniper luar biasa itu memakai senapan McMillan TAC-50.

Militer Kanada sedang berada di Irak untuk membantu Pasukan Peshmerga dari wilayah otonomi Kurdi. Mayoritas prajurit Kanada ditempatkan di Pangkalan Kota Erbil, utara Irak. Beberapa bulan terakhir, para tentara itu ikut terjun langsung merebut Kota Mosul dari kendali ISIS. Awalnya, tentara Kanada dari Joint Task Force 2—disebut-sebut pasukan elit terbaik dunia di bawah Navy SEAL Team Six—hanya memberi pelatihan perang dalam unit kecil kepada Peshmerga, tanpa ikut serta dalam kontak senjata darat.

Strategi bantuan militer Kanada di utara Irak mulai berubah, terbukti dengan adanya aktivitas sniper membantu Peshmerga menyerang para personel ISIS.

"Perubahan taktik dilakukan, karena jika kami mengambil kebijakan pemboman udara, ada risiko warga sipil jadi korban. Lebih baik Kanada membantu sekutu kami di wilayah otonomi Kurdi melalui sniper. Penempatannya dari jarak jauh, musuh pun tidak sadar sedang diserang," kata salah satu petinggi militer Kanada saat diwawancarai The Globe & Mail.

VICE News mencari konfirmasi pembanding dari Angkatan Bersenjata Kanada. Mereka menjawab, orientasi militer Kanada di Timur Tengah tetap tak berubah, yakni lebih bersikap pasif. Jawaban tertulis yang diberikan itu tidak membantah maupun membenarkan sniper Kanada terlibat langsung menembak mati militan khilafah. "Kami lebih mengedepankan penguatan angkatan bersenjata Irak agar bisa bertahan melawan musuh-musuh."

Perubahan kebijakan taktik militer Kanada menghadapi ISIS, mulai terjadi saat Justin Trudeau terpilih menjadi perdana menteri. Kanada tidak lagi mengandalkan pemboman udara untuk melemahkan target-target ISIS di Irak maupun Suriah.