Aku Berlagak Jadi Penyair di Instagram, Ternyata Gampang Mempopulerkan Akun Begituan

Walau puisiku jelek banget, aku menemukan pola kalau kutipan puitis di feed IG kalian enggak harus bagus-bagus amat biar rame dibaca orang.
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
JP
Diterjemahkan oleh Jade Poa
20.9.19
puisi insta Aku Berlagak Jadi Penyair di Instagram, Ternyata Gampang Mempopulerkan Akun Begituan
Ilustrasi oleh penulis.

Selama ini, puisi dicitrakan sebagai bentuk seni paling tak berguna sekaligus elitis. Saking elitnya puisi, tokoh pelajar remaja di film Dead Poets Society terpaksa berkumpul di sebuah gua untuk membahas karya-karya penyair kondang karena takut diskors. Baru-baru ini, persepsi tersebut telah berubah secara drastis. Berkat media sosial, gelombang penyair baru telah menembus kesadaran arus utama.

Meski begitu, format puisi berubah. Puisi epik berwujud 15.000 bait kini digantikan kutipan-kutipan singkat dan rangkaian kata-kata ringkas. Puisi zaman sekarang mudah dibaca, dipahami, dan cenderung disukai saat muncul di laman Instagram.

Berkat format ini, penyair seperti Rupi Kaur berjaya. Puisinya— ang sebagian besar mengandung ilustrasi mungil dan tidak mengikuti norma gramatika—membuat jumlah pengikutnya di Instagram melonjak menjadi 3,7 juta. Mungkin kamu pernah membaca koleksi puisinya berjudul milk and honey di daftar buku paling laris versi banyak pihak. Rupanya gaya Rupi enggak digemari semua orang.

Tahun lalu, penyair sekaligus kritikus sastra Rebecca Watts menuduh Rupi bersama sesama penyair Instagram lainnya "mengabaikan keterampilan teknis yang selama ini menjadi ciri puisi." Dakwaan itu dituliskan Rebecca dalam esai polemik berjudul "The Cult of the Noble Amateur". Rebecca menyebut tren Insta-puisi sebagai “penolakan atas kompleksitas, kepelikan, dan ekspresi berbahasa manusia."

Saya jadi mikir juga. Benarkah Rupi dan penyair Instagram lainnya benar-benar menciptakan karya bermutu seni tinggi, tapi lebih singkat dan sederhana, sehingga layak mendapatkan jumlah pengikut sebanyak itu? Atau mungkinkah puisi mereka hanya sekadar karya asal-asalan yang laku dan mudah dibaca dalam alam medsos?

Untuk mencari tahu jawabannya, aku mendalami dunia puisi Instagram—bukan sebagai pembaca, melainkan sebagai penyair yang bertujuan menciptakan karya sejelek mungkin. Aku memang bukan penyair, dan karenanya justru cocok untuk eksperimen ini. Aku bakal mengisi feed Instagramku dengan konten puisi paling klise. Apa nanti aku akan dianggap tidak berbakat? Atau mungkinkah aku menjadi penyair top berikutnya ,yang membuktikan kualitas itu enggak berarti dalam hal puisi medsos?

Berikut pengalamanku:

MINGGU PERTAMA

Setiap penyair butuh nama akun menarik. Kalau kamu seorang penyair Instagram anonim seperti aku, nama akunmu harus misterius. Kalau bisa juga memicu kesan sosok yang ganas juga rentan, terbuka sekaligus tertutup, bijak sekaligus naif, tanpa harapan sekaligus penuh harapan. Pokoknya, semua unsur yang terdengar rumit, tapi sebenarnya sama sekali enggak ada artinya.

Aku memandang ke luar jendela dan melihat seekor burung di pohon. Itu bukan inspirasi yang kucari, jadi aku mulai berpikir seperti seorang penyair Instagram — aku menolak kenyataan dan mengubahnya menjadi sesuatu lebih keren: “Raven,” yang artinya burung gagak. Sayangnya, nama tersebut sudah diklaim 40an orang. Akhirnya, aku mengambil nama @RavenStaresPoetry. Aku mengubah foto profilku jadi burung gagak dan mengutip diriku di kolom biodata profil.

Ternyata, menulis puisi enggak terlalu susah seperti yang kusangka. Aku merasa lega karena sama sekali enggak mengikuti standar. Asalkan puisiku sampah, dia layak diunggah ke akunku.

"A cigarette glimpse, I claim the air, this nicotine mist, will draw you near, my dear" – Raven S.

Aku menggunakan aplikasi typewriter supaya puisiku terasa pakai mesin ketik. Untuk gambarnya sendiri, aku bikin lewat fitur Instagram Story. Cukup ditangkap layar, di-crop sesuai ukuran standar Instagram dan tinggal posting deh. Aku cuma pakai beberapa tagar aja, seperti #PoemsPorn, #PoemsAboutLove, #Poet dan trademark namaku #Raven.

Aku menulis 40 puisi sampah selama seminggu pertama. Jumlah "like" setiap postinganku rata-rata 50-an. Gilanya lagi, akun Raven langsung diikuti 281 orang, padahal baru seminggu aktif.

MINGGU KEDUA

Bikin puisi macam ini ternyata gampang banget, karena kita enggak punya standar tertentu selain tulis se-gaje mungkin. Biar lebih seru, aku menantang diri sendiri seperti, "Puisi kayak bagaimana yang bisa kutulis sebelum air ini mendidih?" atau "Kira-kira aku mesti gambar apa yang cocok?"

Sebenarnya gambar dan puisi buatanku sangat alakadarnya. Tapi yang kuterima justru reaksi positif dari anak-anak IG. Setiap kali aku buka hape di pagi hari, pasti ada notifikasi dari orang-orang yang menyukai, mengomentari dan mengikuti akun Raven.

Dalam dua minggu, jumlah pengikutnya mencapai 350 orang. Siapa sangka, Raven kayaknya bisa menjadi bagian dari gelombang penyair Insta juga.

MINGGU KETIGA

Instagram sepertinya penuh dengan penikmat puisi. Mungkin ini alasannya kenapa akun Raven bisa sukses dalam waktu singkat. Dari ratusan orang yang aku follow di Instagram, mereka kayaknya follow balik sebagai bentuk promosi akun. Tapi, ada satu hal yang bikin aku bingung bukan kepalang.

Follower Raven mulai mengirim DM, yang intinya mereka suka sama puisiku. Seorang perempuan bahkan curhat kalau puisi abal-abal ini membantu dia melewati hari terburuk karena diputusin pacar, sedangkan yang lain bilang aku dan dia satu jiwa dalam dua tubuh berbeda. Lalu, ada juga yang menyemangatiku untuk menerbitkan buku kumpulan puisi. Semakin banyak orang yang menyebarkan puisiku di Instagram Story mereka, dan memberikan emoji hati pada postinganku.

Aku jelas bingung banget. Aku berusaha menulis puisi sejelek mungkin. Aku bahkan enggak jago berpuisi. Kalian bisa lihat sendiri contohnya:

"They may be sly as a fox, but you can take it – You're as strong as an ox" – Raven S.

Kalau kamu bikin puisi kayak begini di sekolah, kamu dijamin akan dikasih nilai jelek karena enggak puitis sama sekali. Bukankah aneh kalau orang di Instagram malah memuji puisiku?

MINGGU KEEMPAT

Aku tak lagi seaktif minggu-minggu sebelumnya, karena kaget sama respons bagus terhadap puisi sampahku. Tapi aku tetap berusaha ngebut mencapai target supaya eksperimennya cepat selesai.

Aku berlagak kepingin menerbitkan buku, makanya aku sok meminta dukungan dari sesama penyair Instagram. Aku meninggalkan komentar di postingan @AtticusPoetry, yang punya 1,2 juta follower. Dia juga pernah menerbitkan buku, makanya aku minta pendapatnya tentang puisiku.

insta poetry

Dia menjawab "luar biasa" dong.

Sudah lah, aku banting setir jadi Penyair Insta aja.

Dalam postingan ke-100, aku berhasil menarik 646 pengikut hanya dalam waktu empat minggu. Jumlah follower di akun pribadiku aja enggak sebanyak itu. Kalau dipikir-pikir lagi, aku bisa mengumpulkan 8.000 pengikut dalam setahun kalau mau lanjut. Aku terbukti bisa tenar di Instagram tanpa punya bakat apapun. Modalnya cuma kata-kata dan emosi kosong.

Rebecca Watts ada benarnya ketika dia menuduh penyair Instagram mengabaikan kompleksitas, tetapi mungkin inilah penyebab mereka bisa sangat disukai netizen.

Orang enggak punya banyak waktu untuk mencerna maksud puisi Wordsworth atau Byron, tetapi puisi yang biasa dilihat di linimasa membuat mereka merasa terhubung. Walaupun penyair Insta bisa dibilang enggak berbakat, bukan berarti reaksi publik juga palsu. Sebagaimana yang pernah dikatakan penyair bijak:

"That's the thing about feelings, you have to FEEL them." – Raven S.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.