Aspirasi Emak Emak Soal Pilpres 2019 Pada VICE Supaya Politikus Berhenti Jualan Jargon
Ilustrasi oleh Dian Permatasari.
Pemilu Presiden 2019

'Emak-Emak' Berbagi Aspirasi Soal Pilpres 2019, Supaya Politikus Berhenti Jualan Jargon

Para perempuan, berapapun umurnya, tak puas hanya jadi sasaran kampanye semata. Capres-cawapres yang ingin mendulang suara perempuan harus berpikir lebih jauh dari sekadar wajah ganteng atau stabilitas harga sembako di pasar.
29 Agustus 2018, 10:35am

Selain Jokowi-Ma'aruf dan Prabowo-Sandiaga, ada sosok lain yang jadi primadona pada saat momen pendaftaran calon presiden-wakil presiden di Komisi Pemilihan Umum awal Agustus lalu. Sosok ini bukan tokoh tertentu, tapi abstraksi ide berjuluk 'emak-emak', tokoh yang hadir dan jadi isu nasional yang hangat dibicarakan satu Indonesia sejak Sandiaga Uno mengungkitnya dalam pidato singkat selepas pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum. Sandiaga Uno tak hanya menebar senyum, ia juga menebar jargon. Di depan para pendukungnya, Sandiaga Uno terdengar seperti berkelakar, "Kami akan berjuang untuk partai emak-emak. Kami ingin harga-harga pangan terjangkau," ucap Sandi diiringi sorak dan tepuk tangan.

Setelah hari pendaftaran itu, menjamurlah aksi yang dilakukan kelompok-kelompok perempuan mendukung kedua pasangan calon. Misalnya saja deklarasi dukungan yang dilakukan oleh ratusan ustazah dan ibu rumah tangga yang menyatakan diri akan mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ada juga aksi dari Relawan Emak Militan Jokowi Indonesia (EMJI) yang sesuai namanya menentang gerakan #2019GantiPresiden.

Sandi dengan tangkas mencuri start menyampaikan pesan lugas yang ditujukan khusus pada satu segmen pemilih tertentu. Segmen pemilih yang kelewat diberi posisi khusus oleh pasangan Jokowi-Ma'aruf setidaknya pada saat hari pendaftaran. Bisa jadi kelewat takabur menganggap apa yang diucapkan Sandi adalah seloroh spontan bernada kelakar. Bisa jadi itu memang strategi kubu Prabowo, untuk sejak awal mendulung simpati pemilih perempuan, lebih spesifik lagi 'emak-emak' Perempuan dianggap "menguntungkan" dari segi suara bagi kedua calon presiden dan wakil presiden ini. Yelah, gimana enggak coba angka pemilih laki-laki dan perempuan hampir seimbang angkanya. Dari data Kementerian Dalam Negeri ada total 196,5 juta pemilih potensial pada 2019 nanti, di mana jumlah pemilih perempuan berkisar di angka 92, 7juta jiwa.

Kekhawatiran terbesar tentu saja ketika calon-calon ini sibuk menargetkan pemilih perempuan tapi mereduksi makna partisipasi perempuan itu sendiri dengan menganggap: “perempuan (pasti) suka calon yang gagah dan ganteng” atau mensimplifikasi masalah perempuan dengan sebatas "menjaga harga pangan karena emak-emak pasti kerjaannya belanja dan masak." Ya, ternyata kekhawatiran dan anggapan seksis macam itu tidak keliru.

Setelah Lingkar Survei Indonesia yang mengungkap bahwa perempuan lebih banyak yang mendukung pasangan Jokowi-Maruf, Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade pernah menyatakan bahwa Gerindra bukan hanya jualan muda, ganteng, dan keren tapi juga adu gagasan. Gitu sih katanya.

"Kita kan bukan hanya jualan muda, ganteng, dan keren ya. Tapi juga ada jualan konten, bang Sandi tuh hadir bukan hanya casing yang keren, muda dan menarik, tapi juga konten, program yang kita tawarkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," kata Andre seperti dikutip laman Merdeka.com.

Mungkin yang bapak-bapak calon presiden dan wakil presiden ini harus tahu, urusan “emak-emak” bukan cuma soal harga pangan di pasar yang naik. Urusan emak-emak juga mencakup bagaimana kesehatan emak-emak dilindungi negara terutama saat menghadapi penyakit menyerang kaum emak-emak seperti yang dialami Yuniarti Tanjung yang melawan kanker payudaranya; Bagaimana emak-emak punya hak yang sama dalam pekerjaan apapun yang dilakoninya; dan bagaimana emak-emak minoritas macam Ibu Meiliana bisa menyuarakan pendapatnya tanpa persekusi massa dan tanpa peradilan bodong.

Lagian, urusan harga pangan bukan eksklusif milik emak-emak, dan urusan politik lain yang dianggap “kurang emak-emak” juga bukan eksklusif punya kaum lelaki. Kalau begini aku jadi bertanya, mereka mau jadi capres-cawapres atau lomba xxx

Myranti, 36, Yogyakarta, Ibu Rumah Tangga- Peneliti Lepas

Apa pendapat Anda soal kedua pasangan capres-cawapres di Pemilu 2019 yang sepertinya terlihat gencar sekali menarget suara perempuan?
Myranti: Aku melihat ini sebagai kesempatan perempuan mendapatkan hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas hidup karena kedua capres dan cawapres itu seharusnya membuat rencana perubahan yang mendukung perempuan. Nah, sampai sekarang kedua capres dan cawapres belum menunjukkan _political will_-nya. Malah ada yang jualan pesona 'kelaki-lakiannya', dengan anggapan “kriteria fisiknya oke dan taat beragama dan maha sempurna tentu menarik hati perempuan lalu jadi idola lalu pasti perempuan memilih sang capres dan cawapres'. Iiih, so menjijikkan. Bukan sebatas fisiknya aja. Kita enggak sesempit itu.

Apa sih menurut kamu pentingnya suara perempuan buat mereka?
Sejauh ini gue enggak melihat apapun dari mereka yang menaikkan kualitas perempuan selain menarik sebanyak mungkin perhatian perempuan supaya memilih mereka di Pemilu.


Tonton dokumenter VICE saat mendatangi markas sekte feminis muslim pimpinan Harun Yahya di Turki:


Ibu rumah tangga menjadi 'sasaran' kampanye 2019. Apa kamu merasa pasangan capres benar-benar akan menyuarakan aspirasimu? Apakah hal paling esensial sebetulnya buatmu sebatas harga bahan pangan murah?
So far, sangat tidak mewakili. Kenapa? Karena calon yang satu belum keliatan arahnya soal perempuan. Calon yang satunya lagi cuma jualan pesona laki laki. Jujur.. gw merasa sangat direndahkan sebagai perempuan. Suara perempuan masih dianggap sebagai objek, bukan subjek .Si calon capres cawapres ini kan juga jualan menurunkan harga pangan ya.. nah, ini patriarki bangeet. Sangat sangat ketara permasalahan perempuan hanya seputaran urusan domestik. Ini seremnya pemaksaan domestifikasi perempuan akan semakin merajalela. Sebenernya enggak ada masalah kalau perempuan memilih sebagai ibu rumah tangga selama itu adalah keputusannya sendiri dan rutinitasnya tidak menghilangkan kesempatannya untuk bertumbuh.

Jadi mestinya kampanye buat 'emak-emak' itu gimana?
Esensi dari politik emak emak aka perempuan itu adalah gerakan perempuan dalam dunia politik yang dapat mewakili perempuan dalam political will, kebijakan, program kerja sehingga kebutuhannya dan hak perempuan terpenuhi. Pada akhirnya kualitas hidup perempuan meningkat.

Retno Prasetyani, 30, Social Media Strategist

Gimana nih kedua pasangan capres-cawapres sepertinya terlihat menarget suara perempuan?
Retno Prasetyani: Namanya Pemilu, pasti pihak tim sukses mencari celah untuk mendapatkan suara. Dan celah itu didapatkan dari suara perempuan yang kini semakin mulai terdengar.

Menurutmu, dalam fase kampanye ini perempuan dipandang sebagai apa sih oleh para politikus?
Perempuan dipandang sebagai alat untuk mendapatkan suara. Dengan menggaungkan kalau tanpa mereka perempuan akan dirugikan karena harga bahan pangan tidak stabil dll.

Apa yang kamu harapkan dari calon-calon ini sebagai perempuan?
Harus ada penghapusan diskriminasi berbasis gender, mengesahkan kebijakan yang melindungi perempuan, anak, masyarakat adat dan kelompok minoritas, Menghentikan intervensi negara dan masyarakat terhadap tubuh dan seksualitas warga negara, Kesetaraan hak di lingkungan kerja.

Annisa Kusumawardhani, 30, Penulis Konten Agensi

Kok kedua pasangan capres-cawapres kelihatannya menargetkan suara perempuan?
Annisa: Memang menarget suara perempuan tidak ada salahnya, tapi mengingat selama ini hak perempuan dalam negara sering tidak terpenuhi, jadi rasanya peremuan hanya dimanfaatkan suaranya untuk jalan kemenangan.

Emang penting banget ya suara perempuan?
Jika perempuan yang dimaksud di sini adalah kaum ibu, tentunya sangat penting. Karena kaum ibu dapat sangat mudah mempengaruhi sesamanya untuk percaya dan memilih salah satu paslon.

Apa kedua pasangan ini betul-betul akan menyuarakan perempuan?
Tentu tidak akan 100 persen aspirasi dari suara perempuan akan tersampaikan dengan baik. Let’s say, paling cuma 40 persen aja. Itu pun kalau beruntung. Tentunya persoalan perempuan tidak hanya sekadar harga bahan pangan murah, tapi juga soal kesetaraan dengan laki-laki dan rasa aman yang diberikan negara, ini yang paling esensial menyangkut perempuan.

Menurutmu, dalam fase kampanye ini perempuan dipandang sebagai apa sih oleh para politikus? Terutama yang saat ini sedang gencar berkampanye?
Mesin penyumbang suara.

Lelly Andriasanti, 33, Ibu Rumah Tangga

Pendapat soal kedua pasangan capres-cawapres yang menyasar suara perempuan?
Lelly: Saya anggap wajar kalau para capres dan cawcapres menargetkan suara perempuan karena pemilih perempuan jumlahnya kurang lebih setengah dari total pemilih

Apa sih menurut Anda pentingnya suara perempuan buat mereka?
Saya pribadi tidak merasa yakin para capres-cawapres bisa memihak pada perempuan. Karena buat saya, masalah yang dihadapi perempuan bukan sebatas harga bahan pangan murah. Lebih utama dari itu, keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Hal ini harus dimulai dari pendidikan. Sampai hari ini saya masih melihat catatan dan buku pelajaran Sekolah Dasar (SD) yang menanamkam pemahaman bahwa perempuan adalah makhluk sekunder. Ajaran-ajaran seperti ini menurut saya berbahaya karena ditanamkan dalam benak terselubung (captive mind) anak-anak perempuan sehingga berdampak pada matinya daya kritis anak perempuan. Ajaran-ajaran itulah yang justru mengahambat perempuan untuk mengembangkan dirinya.

Menurut Anda, dalam fase kampanye ini perempuan dipandang sebagai apa sih oleh para politikus?
Menurut saya, perempuan khususnya ibu rumah tangga banyak yang dimanfaatkan sebagai suara selama fase kampanye ini, baik oleh pasangan Jokowi-Ma'aruf maupun Prabowo-Sandiaga. Apa yang dikampanyekan juga tidak berpihak pada isu-isu perempuan. Hal yang saya khawatirkan kondisi ini seperti politik adu domba antar perempuan (khususnya ibu rumah tangga) sehingga akan semakin sulit bagi pergerakan perempan untuk membentuk sisterhood. Karena biasanya, para IRT akan menanamkan apa-apa yang dia sukai dan tidak disukai kepada anak perempuannya. Hal ini banyak saya lihat dari unggahan status teman-teman peer group saya dalam bentuk dialog-dialog ibu-anak.

Sebagai perempuan, apa sih kebijakan yang Anda harapkan?
Buat saya yang fokus di pendidikan, kebijakan yang dibutuhkan saat ini melakukan revisi pada UU Otonomi daerah yang berdampak pada otonomi sekolah. Melakukan evalasi kurikulum 2013 antara aturan dan praktiknya yang sering membebani orangtua, khusunyaa IRT. Kementerian agama yang membawahi madrasah dan pesantren juga harus memberikan pemahaman yang pro keadilan gender.