Seni Rupa

Seniman asal Indonesia Mencipta Rangkaian Fantasi Menggugat Persepsi Soal Perempuan

Siapkan diri kalian untuk tergugah saat memasuki alam pikir Nani Puspasari, ilustrator asal Indonesia yang kini bermukim di Melbourne. Dia sangat gigih menantang topik tabu di bangsa kita.
13.9.18
Semua ilustrasi oleh Nani Puspasari, dimuat seizin sang seniman.

Akibat pahitnya kenyataan hidup, Nani Puspasari mencoba merangkai dunianya sendiri. Nani, seorang ilustrator dan desainer grafis yang kini tinggal di Melbourne, mengatakan perkembangan aktivitas seninya dipengaruhi perubahan yang terjadi di Indonesia sepuluh tahun lalu.

Seri ilustrasi barunya, "The Feminine World" adalah renungan sekaligus gugatan terhadap kehidupan di tanah airnya. Di Indonesia, perempuan dan kelompok minoritas harus senantiasa harus berjuang mendapat pengakuan, atau bahkan terpaksa melucuti berbagai kemajuan yang mereka telah raih.

"Dulu saya susah mengerti kenapa bangsa kita konservatif sekali," kata Nani kepada VICE. "Ada banyak hal yang saya pikir wajar untuk dibahas tapi ternyata dianggap topik tabu di Indonesia."

Iklan

"Ilustrasi adalah tempat bermain imajinasiku," kata Nani. "Saya bisa melepaskan diri dan lenyap di dunia yang aneh dan di luar batas-batas kenyataan. Ini adalah caraku bebas berbicara melalui media visual."

The Feminine World” penuh simbolisme yang disampaikan menggunakan objek totem khusus, seperti kupu-kupu, senapan, dan sarung tinju. Sama dengan sikapnya yang halus, karya Nani jarang sekali blak-blakan.

Dengan simbolisme yang digunakan di ilustrasinya, Nani ingin mengisyaratkan pemikiran dan pendapat batinnya. Sedikit banyak, bahasa visual Nani dipengaruhi oleh masa pendidikannya, dimana persoalan identitas dan politik jarang dibahas secara terbuka.

"Politik adalah topik yang sensitif sekali di Indonesia. Orang tua saya juga enggak pernah ngomongin politik di depan keluarga ketika saya masih kecil."

Sebagai perempuan Indonesia berdarah Tionghoa, kerusuhan Mei 1998 dan peninggalannya memotong luka yang dalam di hati Nani. Dia melihat ketegangan antar suku yang menjadi biang kerok kerusuhan tersebut dan diskriminasi yang dialami oleh warga Tionghoa di zaman sekarang sebagai dualitas.

"Konflik antar etnis Tionghoa dan etnis lain di Indonesia memberikan saya pengertian yang lebih dalam tentang keragaman dan inklusi," kata Nani. "Hal tersebut bisa membawa kerusuhan ataupun kebersamaan. Keragaman adalah salah satu topik yang saya ingin terus dibicarakan melalui seniku. Hal ini juga penting karena identitas saya sebagai orang Asia yang tinggal di Australia bertemu banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda."

"The Feminine World" adalah rangkaian ilustrasi dengan semangat feminisme, tapi Nani mengaku lebih tertarik bila karyanya berhasil menyalurkan kesaksian dan pengalaman wanita dalam pergolakan zaman. Dia tidak tertarik menafsirkan ulang konsep feminisme.

"Saya berharap orang bisa menikmati dunia wanita yang menarik dan kadang-kadang aneh daripada menganggap kita sebagai makhluk yang kompleks dan menyulitkan."

Iklan

Simak ilustrasi lain dari Nani di bawah, atau kunjungi situs pribadi dan Instagram Nani untuk menyaksikan portofolio karyanya.