Alasan Kita Ngerasa Sedih Banget Pas Seleb Idola Meninggal
Sumber kolase foto: Shutterstock, Wikipedia Commons | Desain Grafis oleh Noel Ransome.
Selebritas

Alasan Kita Ngerasa Sedih Banget Pas Seleb Idola Meninggal

Kami menghubungi pakar psikologi dan kejiwaan untuk memahami kenapa kebanyakan orang merasa ada keterikatan kuat sama kabar kematian musisi atau aktor tertentu, padahal bukan keluarga.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.

Terowongan Pont De L'Alma di Paris, Prancis, sebenarnya jalan raya biasa saja. Tak ada kesan berlebih jika kalian melewatinya. Berbekal pencarian singkat menggunakan Google, kita tahu terowongan ini ada di bawah jalan dengan nama serupa membentang sepanjang tepi Sungai Reine. Tapi De L'Alma pembeda yang membuat banyak orang mengenang terowongan satu ini. Di bawah informasi laman Google mengenai terowongan tersebut, terpampang rute pre-planned Google Map diberi judul, "Diana's Last Drive." Jika tautan itu di-klik, kalian akan dibawa menuju jalur yang dilalui Putri Diana sebelum akhirnya tewas tragis dalam kecelakaan mobil. Cerita kecelakaan mantan keluarga Kerajaan Inggris itu tak pergi dari ingatan publik, sampai sekarang. Masih banyak cerita mengenai mendiang Diana menghiasi halaman depan koran dan tabloid. Tahun ini, genap 20 tahun sudah Putri Diana tewas. Majalah, tabloid dan bermacam media saling bersaing menyuguhkan kisah-kisah kilas balik akhir hidup Diana yang tragis, teori konspirasi cabul berumur dua dekade lebih dan artikel-artikel what-if yang konyol. Harus diakui, setelah dua dekade berlalu, kematian Diana masih jadi kisah paling subur sekaligus paling berpengaruh dalam sejarah kultur seleb. Obsesi terhadap kematian seleb hampir tak bisa dihindarkan. Tahun lalu, kita ditinggal selama-lamanya oleh banyak pesohor. Di antaranya David Bowie, Prince, Leonard Cohen, George Michael, dan Carrie Fisher. Tahun ini tak jauh berbeda. Sampai September 2017, setidaknya Chris Cornell, Chester Bennington, Prodigy, Dick Gregory, Sam Shepard, Gregg Allman, dan beberapa musisi atau aktor lain tutup usia. Berita kematian tiap seleb ini biasanya dilengkapi ode-ode yang sentimental, kegalauan berlebihan, esai-esai reflektif tentang karir mereka, hingga tulisan-tulisan yang sifatnya personal. Sebenarnya, rasa kehilangan kita yang terasa sangat besar pada sosok pesohor bukan fenomena baru. Rasa ingin tahu kita terhadap cerita seleb yang meninggal adalah obsesi manusia sejak zaman baheula, bahkan mungkin setua konsep selebritas itu sendiri. Walau, harus diakui ya, rasanya agak eneg juga ketika feed media sosial kita tetap saja dibanjiri ratapan, tangisan serta ekspresi kesedihan lainnya setiap kali ada pesohor meninggal. Kematian para seleb ini dan tanggapan yang kita berikan memunculkan beberapa pertanyaan yang sejak lama ingin aku tanyakan pada pakar: mengapa kita bisa merasa begitu dekat atau malah intim dengan orang yang tak pernah sekalipun kita temui? Kenapa kematian seorang yang asing namun punya dikenal banyak orang bisa menohok dan traumatis? Dan yang paling penting: bagaimana kita memahami hubungan kita dengan para seleb dan akhir hidup mereka? Padahal kita tidak terikat hubungan keluarga sama nama-nama tenar itu. Dr. Samita Nandy, Direktur Centre for Media and Celebrity Studies (CMCS) di Toronto, menjelaskan, bahwa walau interaksi kita dengan seleb masih dimediasi, belakangan mereka sangat mudah dijangkau. Semua ini adalah imbas dari kedekatan antara fan dan seleb yang dihadirkan media sosial (ada banyak artikel yang membahas dampak kedekatan fan dan seleb di sosial media), koneksi kita dengan mereka menguat. Nandy secara khusus menyebut interaksi seperti ini sebagai "hubungan para-sosial." Dr. Jacque Lynn Foltyn, seorang profesor di bidang Sosiologi yang mengajar di National University di La Jolla, California, telah memelajari hubungan kematian para seleb dan respon publik selama bertahun-tahun. Kepada VICE, dia menjelaskan bahwa seleb pujaan kita "punya sumbangsih besar dalam perkembangan diri kita." Foltyn menemukan bahwa ketika figur-figur seleb ini curhat tentang permasalahan personal yang mereka hadapi, seperti Chester Bennington ketika blak-blakan ngomong tentang gangguan mental yang dia derita, hubungan kita dengan para seleb ini akin dalam. "Curhat mereka ini bikin para seleb terlihat rentan, seperti manusia pada umumnya" kata Foltyn. "Orang jadi bisa mengidentifikasikan dirinya sama seleb-seleb tersebut. Para pesohor ini seakan jadi juru bicara mereka." Curhatan para pesohor bagi beberapa orang menjadi semacam melegitimasi "pembentukan jati diri, siklus kehidupan dan ritus pendewasaan diri di dalamnya," imbuhnya. Foltyn menjuluki para seleb ini sebagai "intimate strangers,' dan menyebut kegundahan yang muncul ketika mereka pergi sebagai "disenfranchised grief," sebentuk duka yang dirasa tidak pada tempatnya oleh masyarakat. Menurut Foltyn, penolakan masyarakat terhadap duka seperti ini mewujud dalam bentuk omelan atau gerutuan. "[kalau kamu berduka karena ditinggal seleb idolamu], orang pasti bilang 'Ya elah. Lebay deh. Ngapain pake galau. Orangnya aja gak kenal elo.'" Respons macam ini menciptakan sedikit kericuhan di sekitar pemberitaan kematian pesohor yang biasanya ditingkahi dengan pengakuan atas mereka. Foltyn juga menemukan bahwa bagi para remaja, ini adalah kali pertama mereka menghadapi kematian. Untungnya, kematian para pesohor ini "masih terpisah jarak dan layar kaca. Jadi bisa dibilang imbasnya tak terlalu menghancurkan." Nandy juga membedakan duka ditinggal mati idola dari duka di tinggal mati orang terdekat—seperti kekasih dan keluarga. Dalam duka yang pertama, kita tak memiliki "tanggung jawab material" seperti yang kita rasakan dalam jenis duka kedua. "Dalam kasus ditinggal mati orang yang kita sayangi, seperti anggota keluarga, ada tanggung jawab finansial dan legal yang harus kita tunaikan," ujar Nandy. Sebaliknya, saat seorang seleb tutup usia, kedua beban itu kita lemparkan pada anggota keluarga, agen atau publisis sang pesohor. Kita mengkhidmati kedukaan ini dari jauh. "Rasa duka ini jadi semacam artefak budaya baru yang dikonsumsi untuk memeroleh kepuasan. Dalam beberapa hal, rasa sedih ini diekspresikan sebagai bentuk kepuasaan untuk mengatasi rasa kehilangan." Nandy dan Foltyn sepakat bahwa kematian para seleb mengingatkan betapa fananya kita di dunia ini. "Dalam kehidupan nyata, tiap kematian selalu jadi pengingat bahwa kita tak abadi, sesuatu yang kita coba bantah dalam konstruksi budaya yang menempatkan para pesohor sebagai makhluk yang abadi," ujar Nandy. Foltyn menduga kurangnya latihan formal untuk menghadapi kematian dan proses di sekitarnya membuat kita kelabakan. "[pelatihan] seperti ini malah makin penting di era sekular ketika ketidakjelasan tentang apa yang terjadi setelah kita mati makin besar," ujarnya. Kegelisahan yang muncul ketidakjelasan ini berujung pada kebiasaan "menyalahkan" para seleb atas kematian mereka sendiri, seperti pada kasus bunuh diri Chris Cornell dan Chester Beninton. "Menurut saya ada cara untuk "menanggapi" kematian para pesohor ini," tutur Foltyn. "Kita tinggal tanya 'apa penyebab kematiannya? Bisa dihindari tidak?' Intinya, kita membuat para seleb bertanggung jawab atas kematin mereka sendiri." Yang perlu kita lakukan kemudian hanyalah memastikan bahwa kita bisa menghindari kematian dengan tidak mengulangi kesalahan mereka. "Semua ini adalah cara yang baik untuk mengelola perasaan kita menyangkut kematian." Mekanisme rumit yang menyebabkan kita begitu terpapar dan terimbas oleh kematian publik para seleb bakal makin kuat seiring dekatnya kita dengan mereka, meski cuma di ranah digital. Menanggapi hal ini, baik Nandy maupun Foltyn menganjurkan kita untuk memdekonstuksi dan memeriksa kembali dengan seksama perasaan kita para seleb dan rasa sedih yang kita rasakan saat mereka meninggal. Tujuannya bukan memandang enteng duka yang kita rasakan ketika melihat sosok idola meninggal, namun untuk membuat kita terbiasa menanggapi berita kematian para pesohor secara lebih sehat dan konstruktif.

Luke Ottenhof senang diajak ngobrol di Twitter.