The VICE Guide to Right Now

Pasokan Daging B2 di Dunia Bakal Terganggu Akibat Maraknya Wabah Flu Babi Afrika

Pasalnya, setengah dari 433 juta ekor babi di peternakan Cina berisiko tertular wabah mematikan tersebut.
22.4.19
Pasokan Daging B2 di Dunia Bakal Terganggu Akibat Maraknya Wabah Flu Babi Afrika
Kondisi peternakan babi di Desa Changtu, Provinsi Liaoning, Cina yang mengalami wabah flu afrika. Foto oleh Ryan Woo/Reuters 

2019 adalah Tahun Babi dalam kalender Tiongkok klasik. Sayangnya, tahun babi ini malah tidak memberi hoki bagi industri daging babi dunia. Pakar memperkirakan Cina, pengekspor babi terbesar di dunia, sedang mengalami maslaah serius. Peternakan Negeri Tirai Bambu berpotensi kehilangan 200 juta babi tahun ini akibat wabah flu Babi Afrika.

Apabila perkiraan tadi akurat, populasi babi ternak dunia akan terjun ke angka yang “terendah sepanjang sejarah.” Imbas lainnya, harga daging babi di pasaran global bakal melonjak sebesar 70 persen, menurut jubir Kementerian Pertanian Cina pekan lalu. Pasokan daging B2 dari Cina sangat dibutuhkan banyak negara—khususnya di Eropa dan Amerika.

"Infeksi flu babi Afrika ini mempengaruhi banyak peternakan di Tiongkok," ujar Chenjun Pan, analis senior industri peternakan dari Rabobank saat diwawancarai South China Morning Post. "Akan terjadi kekurangan pasokan secara global. Setiap negara di dunia tidak mungkin bisa menjembatani kesenjangan pasokan daging ini. Bahkan andai bisa mengimpor lebih banyak daging dari negara selain Cina, tetap akan ada kekurangan di pasaran."

Wabah mematikan ini pertama kali dilaporkan terjadi Agustus 2018, di kawasan timur laut Cina, khususnya di peternakan Provinsi Liaoning. Selanjutnya, wabah ini menyebar ke 25 provinsi lainnya, bahkan ke Vietnam dan Mongolia. Pemerintah Pusat di Beijing meluncurkan rencana darurat untuk membunuh babi yang terinfeksi agar tidak menular. Kini, lebih dari 950.000 babi di Cina terpaksa dipisahkan dari kawanannya, dalam upaya membendung persebaran wabah yang mematikan bagi babi, tetapi tidak berbahaya untuk manusia itu.

Iklan

Karena panik, banyak peternak di Tiongkok membawa babi mereka ke pasar sebelum usia layak sembelih. Akibatnya, terjadi penurunan harga jual babi sejak awal tahun ini, khususnya menjelang masa Tahun Baru Imlek.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), setengah populasi babi dunia diternakkan di Cina. Penduduk Tiongkok juga konsumen daging babi terbesar per kapita. Meskipun Cina masih mempunyai 200.000 ton daging babi cadangan, jumlah tersebut tidak mungkin memenuhi permintaan dunia bila wabah terus memburuk.

Demi memenuhi permintaan domestik untuk daging B2, pemerintah Cina mempertimbangkan membuka keran impor dari negara lain. Cina mulai memesan produk-produk babi dari AS sejak Maret 2019, dalam rangka mengantisipasi kekurangan stok daging babi.

Pemerintah Tiongkok mengklaim wabah flu babi Afrika ini terkendali. Namun, peternak dan orang dalam industri babi menjelaskan keterangan berbeda saat diwawancarai Reuters. Kondisi wabah lebih buruk laporan resmi, karena kasus-kasus di daerah terpencil cenderung tidak dilaporkan.

Bahkan ada kemungkinan wabah ini dapat terus menyebar ke luar perbatasan Tiongkok.

Sebelum situasi makin memburuk, pejabat di Beijing tampaknya perlu meminta solusi dari Rusia. Setelah mengalami wabah flu Babi Afrika parah pada 2007, pemerintah Rusia berhasil menyelamatkan jumlah ternak di negaranya, bahkan melipatgandakan produksi daging babi nasional.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.