Tato dan kesehatan

Siapa Bilang Tato Tak Berisiko?

Kita juga perlu dicekoki pengetahuan tentang tato-menato, karena gambar yang ada di tubuh kita itu akan melekat seumur hidup.
29 Januari 2018, 12:58pm

Hampir separuh orang berumur antara 18 dan 35 tahun memiliki tato, dan hampir satu dari empat orang menyesalinya, menurut Harris Poll 2016. Berdasarkan estimasi adanya 60 juta orang dalam kelompok umur tersebut, berarti sekitar 7.5 juta orang menyesali tato mereka.

Sebagai seorang dokter, saya sering bertemu pasien muda yang menyesali tato mereka. Ketika ditanya perihal tatonya, banyak mengatakan bahwa mereka ditato saat masih sangat muda, dan saat itu tidak memikirkan keputusan mereka panjang-panjang.

Tanpa sumber terpercaya perihal tato untuk dijadikan sebagai referensi untuk pasien, saya mulai meneliti sendiri topik ini. Gol saya adalah untuk menulis referensi singkat bagi remaja perihal isu kesehatan dan sosial yang mungkin timbul setelah mereka ditato.

Yang saya temukan adalah berbagai hal-hal mengejutkan dan mengkhawatirkan yang harus diketahui semua orang. Ternyata banyak sekali laporan perihal komplikasi tinta, infeksi, efek toksin, bekas luka, luka bakar, iritasi kronik, dan masih banyak lagi.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah efek jangka panjang tinta tato terhadap sistem kekebalan tubuh, interpretasi spesimen patologi, dan komplikasi kesehatan yang tidak terduga lainnya.

Beberapa jenis tinta tato dapat mengandung racun dari senyawa karsinogenik, sesuai penemuan Environmental Protection Agency Denmark 2012. Faktanya, satu dari lima tinta tato mengandung bahan kimia karsinogenik, dan mayoritas tinta tato tidak mengikuti standar kesehatan internasional, jelas penemuan sebuah studi yang disponsori oleh pemerintah Australia. Yang lebih mengerikan lagi, karsinogen ditemukan dalam 83 persen tinta hitam—warna terpopuler sebagai pilihan tato.

European Society of Tattoo and Pigment Research didirikan pada 2013 dengan misi mengedukasi publik tentang “fakta fundamental tentang tato” yang kerap diabaikan oleh banyak generasi muda. Grup tersebut menemukan elemen barium, tembaga, air raksa dan komponen tidak aman lainnya dalam tinta tato. Penemuan mereka juga menemukan ketidakcocokan antara daftar konten kontainer tinta dengan komposisi kimia sesungguhnya yang terkandung.

Baru-baru ini, Food and Drug Administration semakin menyelami dunia tinta tato, dan mengemukakan, “Banyak pigmen yang digunakan dalam tinta tato adalah pewarna industrial yang biasa digunakan untuk tinta printer atau cat mobil.” Sama seperti studi lainnya, badan tersebut kini sedang meneliti komposisi kimia dari tinta dan pigmen dan bagaimana mereka terurai dalam tubuh manusia, termasuk dampaknya terhadap kesehatan jangka pendek dan panjang.

Tinta tato berbasis metal dapat bereaksi terhadap studi pencitraan resonansi magnetik (MRI). Misalnya, dua kasus studi mengungkapkan bahwa pasien yang menderita luka bakar akibat MRI dari tatonya disebabkan oleh senyawa besi dalam pigmen tato. Radiolog mengatakan reaksi berbasis magnet semacam ini sangat langka, tapi banyak yang menghimbau agar kita menghindari tinta tato berbasis besi.

Sementara para ahli patologi melaporkan ditemukannya tinta tato dalam biopsi bedah tumor kelenjar getah bening. Misalnya, dalam sebuah laporan 2015 dari jurnal Obstetrics and Gynecology dijelaskan kasus seorang perempuan muda dengan kanker serviks yang diyakini dokter telah menyebar ke kelenjar getah beningnya. Setelah operasi dilakukan untuk mengangkat tumor, mereka menemukan bahwa apa yang muncul sebagai sel ganas dalam mesin scan sesungguhnya adalah tinta tato. Diagnosis yang keliru juga terjadi terhadap pasien pengidap melanoma.

Belum lagi masalah infeksi. Infeksi paling umum yang dikaitkan dengan tato adalah staphylococcus aureus atau bakteria pseudomonas yang timbul akibat peralatan sterelisasi dan persiapan kulit yang buruk. Infeksi kulit “Staph” dapat berkembang serius dan bahkan mengancam nyawa, seiring galur anti-antibiotik semakin banyak menyebar.

Tiga persen dari semua tato mengalami infeksi, dan hampir empat persen orang yang ditato mengatakan rasa sakitnya bertahan lebih dari sebulan, jelas sebuah studi 2015 dari Tulane University School of Medicine. Sekitar 22 persen peserta dengan tato baru melaporkan rasa gatal permanen yang bertahan lebih dari sebulan.

Membanjirnya kasus infeksi kulit mycobakterial yang menimpa 22 orang di empat negara bagian AS pada 2011 dan 2012 ternyata berhubungan dengan beberapa merk spesifik tinta. Center for Disease Control dan Prevention, bersama dengan departemen kesehatan publik setempat AS, berhasil mengekang infeksi ini lewat investigasi dan pelacakan yang intens.

Gangguan kulit akibat tato yang lebih serius macam sarkoidosis, lichen planis, dan reaksi macam lupus dikabarkan semakin sering terjadi. Gangguan kulit macam ini bisa bertahan lama dan meninggalkan bekas luka permanen.

Sebuah studi dilaporkan dalam Hepatology menemukan bahwa “Eksposur terhadap tato diasosiasikan dengan infeksi HCV (hepatitis C virus). Semua pasien yang memiliki tato beresiko lebih tinggi terkena infeksi HCV dan harus ditawarkan konseling dan uji coba HCV.”

Hepatitis, yang 10 kali lebih berbahaya dibanding HIV, bisa ditularkan lewat jarum yang digunakan oleh seniman tato. Ini adalah alasan American Red Cross membatasi donasi darah dari individu dengan tato segar yang dilakukan di luar fasilitas tato terdaftar.

Sebuah studi dari Tulane University menunjukkan bahwa 17 persen dari semua peserta memiliki paling tidak satu tato yang dibuat di luar kedai tato, dan 21 persen mengaku mabuk ketika sedang ditato.

Alasan utama responden Harris Poll menyesali tato mereka adalah “mereka terlalu muda ketika memutuskan untuk ditato.” Alasan kedua yang paling umum adalah bahwa tato mereka “tidak sesuai dengan gaya hidup mereka sekarang.”

Entah sebuah tato melambangkan sebuah nama, seseorang, sebuah tempat atau obyek, arti dan persepsi terhadapnya selalu berubah-ubah. Eric Madfis dan Tammi Arford, menulis tentang dilema penyesalan tato dan simbol, menjelaskan bahwa “Simbol bersifat dinamis karena mereka spesifik melambangkan waktu, terus berubah, dan berada dalam transisi.”

Tato memiliki makna berbeda tergantung yang melihat, sejarah pelihat dan pengetahuan mereka. Tato juga dinamis karena mereka bisa mengadopsi makna yang berbeda tergantung waktu dan pengalaman pribadi. Orang pertama yang ditato dengan gambar kawat duri di lengan atas mungkin dipandang sebagai sosok pintar, inventif, unik dan berani. Tapi orang keseratus yang mendapat tato yang sama tidak akan mendapat pandangan yang sama, dan seiring waktu, apabila keduanya terlihat di depan publik, keduanya akan mendapat reaksi yang sama.

Respon emosional sebuah tato bergantung kepada siapa yang melihatnya dan “stratifikasi sosialnya” tidak bisa ditebak, menurut Andrew Timmings dari University of St. Andrews di Inggris. Sesi wawancara mereka calon prospek manajer menunjukkan bahwa bertato bisa mengurangi peluangmu mendapatkan pekerjaan.

Sebuah studi lain, di University of Tampa, mengkonfirmasi bahwa 86 persen pelajar meyakini bahwa memiliki sebuah tato yang terlihat akan merugikan prospek bisnis mereka.

Peneliti di Harris Poll menemukan bahwa responden yang lebih tua lebih tidak toleran terhadap tato yang terlihat, apalagi ketika jabatan pekerjaan semakin tinggi. Biarpun mayoritas orang berumur 51 tahun ke atas tidak keberatan melihat atlit profesional bertato, tingkat toleransi mereka menurun ketika profesi seperti doktor, guru SD, dan kandidat presiden dilibatkan.

Perlu diingat bahwa orang-orang yang memiliki banyak teman dan anggota keluarga dengan tato jelas lebih nyantai dan memiliki tingkat penyesalan tato yang lebih rendah, jelas sebuah studi di The Social Science Journal pada 2014. Tapi studi tersebut juga menemukan bahwa ketika seorang yang bertato terekspos terhadap banyak orang tanpa tato, seperti di lingkungan kerja, atau institusi edukasi tinggi, maka stigma negatif terhadap tato timbul lebih besar. Mereka menjadi cenderung lebih menyesal dan ingin menghapus tato mereka.

Ditato, sebuah keputusan yang mengubah hidup (dan tubuh), ketika diambil di masa muda, tidak jauh berbeda dengan keputusan menikah mudah (tingkat penyesalan 32 persen) atau memilih jurusan kuliah (tingkat penyesalan 37 persen). Bagi banyak orang, mengambil keputusan besar hidup ketika masih muda memang penuh dengan penyesalan. Bedanya, tato adalah bentuk penyesalan yang harus dihadapi setiap hari.

Seiring angka individu dengan tato terus meningkat, pasar bagi jasa penghapusan tato juga terus membesar. Jasa penghapusan tato dengan laser terus bertumbuh dan menjadi industri bernilai jutaan dollar, dan tidak akan kehabisan potensi seiring generasi baru bertato terus muncul.

Tapi banyak masalah tato yang tidak bisa dihapus. Teknologi laser saat ini masih memiliki batasan dan kesulitan menghapus tato yang penuh dengan warna. Orang dengan pigmen kulit yang lebih gelap juga lebih kesulitan menghapus tato dengan jenis laser tertentu dan membutuhkan lebih banyak sesi untuk menghindari kerusakan kulit.

Karena lasernya menghancurkan partikel pigmen di bawah kulit, isu infeksi, bekas luka, dan tinta menyebar kembali timbul. Tato yang menutupi daerah luas tubuh juga tidak bisa dihapus dalam satu sesi, dan bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar dihilangkan.

Komplikasi laser mencakup rasa sakit, kulit melepuh, kulit luka, dan dalam beberapa kasus, justru menimbulkan warna yang lebih gelap dari tinta tato, menurut ahli dematologi.

Seiring teknologi dan permintaan untuk penghapusan tato meningkat, beberapa batasan yang dimiliki laser saat ini akan berkurang. Tinta tato yang baru, dan lebih mudah dihapus sedang diperjuangkan hak patennya. Ini akan mencerminkan pendekatan yang lebih sehat perihal material yang biodegradable, dan memudahkan penggunaan laser. Teknologi laser picosecond juga secara dramatis membantu mengurangi jumlah sesi yang dibutuhkan dalam populasi tertentu.

Edukasi adalah kuncinya. Seiring banyaknya generasi muda yang tertarik ditato, mengedukasi mereka tentang resiko kesehatan dan sosial dapat membantu mereka menghindari menyesal di kemudian hari. Menambahkan kelas edukasi seni tubuh permanen sebagai bagian dari kelas kesehatan mungkin bisa membantu banyak anak menghindari kesalahan ini.