Kultur Meme

Bertemu Sosok yang Sukses Membuat Millenials Tergila-Gila Pada Meme Qasidah

Kontributor VICE mewawancarai admin akun 'qasidah memes for all ocassions' yang menganggap band macam Nasida Ria sebagai pelarian terbaik dari debat Internet, sekaligus dunia nyata yang tak kalah absurdnya.
30.1.18
Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Pernah denger kalimat-kalimat absurd yang dinyanyikan dengan cara tak kalah absurd oleh sekelompok perempuan penyanyi qasidah? “Ayo beribadah, jangan lupa karena Facebook semata” “Tripping terus sampai pagi” "Neil Armstrong manusia bumi, mendengar adzan di bulan” “Sistem Dajjal tatanan dunia baru”

Kalimat-kalimat brilian tersebut bukan contoh tulisan-tulisan curhat di belakang truk-truk pengantar ayam antarkota, melainkan potongan-potongan lirik lagu-lagu Qasidah tanah air. Absurd dan tampaknya-tidak-sengaja kocak, lirik-lirik tersebut telah tumbuh menjadi sumber kebahagiaan terkini netizen Indonesia.

Iklan

“Qasimin” adalah panggilan yang dipilih oleh pemilik fanpage Facebook Qasidah Memes for All Occasions . Secara langsung atau tidak, Qasimin telah menjadi ratu dari revolusi meme Qasidah nasional. Memilih untuk tetap anonim (“takut dipersekusi” katanya setengah bercanda), Qasimin mengaku sebagai seorang wanita berumur 30 tahun yang bekerja di bidang Public Relations. Saya berbicara dengannya mengenai ide awal Qasidah Memes for All Occasions dan bagaimana ia memilah lirik yang pantas tayang dengan yang tidak.

VICE: Bagaimana awalnya ide untuk Qasidah Memes for All Occasions muncul?
Qasimin: Awalnya gak sengaja, gara-gara lihat screengrab (potongan video Qasidah dengan lirik lucu dari) Youtube itu di Twitter. Terus penasaran dan cari videonya. Pas didengerin, eh, lucu juga -dan ternyata ada lagu-lagu lain yang enggak kalah absurd, dan jumlahnya gak sedikit. Pertama-tama yang di-screengrab cuma yang aneha-aneh, but I love taking things out of context, jadi dari yang awalnya cuma belasan cuplikan gambar nambah jadi ratusan dalam hitungan hari. Akhirnya disaranin bikin Facebook fanpage oleh teman.

Semua bahan meme dicuplik dari video di YouTube?
Iya, semua dari YouTube.

Menurut elo, apa yang paling lucu dari meme Qasidah ?
Menurut gue, lucunya meme Qasidah itu ada di paduan antara konteks di caption dan teks di cuplikannya. Saat digunakan pada konteksnya - misalnya kata assalamu'alaikum - ya biasa-biasa saja, tapi kalau digabung dengan caption seperti "Saat mantanmu kembali single", akan jadi nyambung sama kehidupan dan lucu. Jadi pendekatan gue adalah mencari problema sehari-hari lalu disambung-sambungin sama cuplikan yang gue punya.

Iklan

Jadi soal nyambung enggak nyambung ini faktor yang penting banget supaya humor yang elo tawarkan 'berhasil'?
Gue rasa Qasidah memang sudah seharusnya nyambung sama kehidupan dan gampang dipahami oleh sebanyak-banyaknya orang, karena niatnya kan syi'ar ya. Gue juga kaget pas denger lagu-lagu Qasidah tentang YouTube, Facebook, dan prewedding. Kayanya mereka ingin tetap update dengan But I, myself was surprised to find Qasidah songs about Youtube, Facebook, prewedding, etc. I guess they're just trying to stay relevant, and i'm happy about that.

Menurut elo sendiri gimana sih kualitas lagu-lagu Qasidah yang ada di pasaran?
I think they're good, most of them at least. Bahasannya luas banget; ada tentang PRT (Pembantu Rumah Tangga), senam pagi, krismon, dan musiknya juga bervariasi. To be honest, ada beberapa yang gak klik dengan pandangan pribadi gue, seperti misalnya ada yang liriknya something like “Jangan heran terjadi perkosaan, itu karena aurat wanita dipertontonkan”. Yang kayak gitu-gitu ya enggak gue pake di fanpage.

Elo melihat suksesnya fanpage ini apakah terkait semakin populernya humor berbasis meme di Indonesia?
Sejujurnya, gue bukan yang pakar banget di kultur meme ini. Gue utamanya ngeliat meme ini sebagai alternatif cara untuk mengkomunikasikan apa yang ada di pikiran dan perasaan kita, apalagi waktu kita untuk berkonsentrasi hari-hari ini makin pendek aja, dan gaya komunikasi juga semakin visual. Tapi gue enggak nyangkal orang Indonesia tu emang kreatif banget dalam hal bikin-membikin meme. Di dunia maya yang kerap mengakomodasi kebencian sekarang ini, plus dunia nyata yang gak kalah absurd-nya, meme tu kayak semacam pelarian.

Elo juga menggunakan meme sebagai pelarian dari realitas?
Ya tentunya. Makin kita dewasa makin kita paham memang ada banyak hal-hal yang di luar kontrol kita, dan cara yang paling baik untuk menghadapi itu semua adalah dengan menertawakannya.

Kamu sepakat enggak, kalau ada sesuatu yang khas—humor dan kesan santai—dari lagu Qasidah di Indonesia?
Lagu bertema religi memang gak cuma ada di indonesia, tapi yang bahasannya ringan tentang pengalaman sehari-hari gitu seperti Qasidah di sini mungkin gak banyak ya? I dont know. Mungkinkah ini pengaruh dari syiar Islam yg dilakukan wali songo? Mungkin?


Baca juga wawancara VICE bersama anggota Nasida Ria, yang memicu maraknya meme Qasidah di Internet:

Apa ada hubungan pertemanan terjalin karena popularitas fanpage ini?
Teman sih belum ya, karena kan gue mau anonim (tertawa). Tapi emang ada beberapa pengunjung yang rutin mampir untuk komen dan ketawa-ketawa. Apa itu bisa dibilang teman?

Apa fanpage ini memakan banyak waktumu? Maksudnya, seberapa sering elo ngecek laman ini dalam sehari?
Sering banget sih, haha. Untuk postingan biasanya gue jadwalin untuk beberapa hari ke depan. Tapi suka aja gitu baca-bacain komen orang.

Teman-teman dan keluarga elo sendiri punya pendapat apa sama page ini?
Teman-teman umumnya tahu sih. Akhir-akhir ini sering pada ngejapri kalo liat ada yang bahas-bahas meme Qasidah. Mereka sangan suportif. Kebanyakan sih komennya kalo enggak ketawa ya ngetag teman atau ngerespon pake meme Qasidah lain. Hampir semua menghibur.

Tapi sejauh ini masih menyenangkan toh interaksi di fanpage-nya?
Mungkin suasanya bakal jadi lebih panas kalau nyinggung politik. Gue sempet bikin beberapa sih, tapi sengaja gak banyak-banyak.

Ada rencana untuk menggunakan fanpage ini mempromosikan ide-ide progresif?
Sejauh ini belum sih, meski ada beberapa post yang nyinggung politik. Ada juga nyinggung kapitalisme, notallmen, millenials. Ya gue terbuka untuk semua kemungkinan, tapi itu enggak bakal sering-sering amat, karena kalaupun iya, itu sangat bergantung sama cocok-gaknya cuplikan gambar qasidah yang gue punya.