Serangan Peretas

Korut Dituduh Gedung Putih Sebagai Dalang Serangan WannaCry

WannaCry beberapa bulan lalu menjadi wabah malware global, menyandera sistem komputer sambil menuntut bayaran Bitcoin. Tapi, apakah tuduhan pejabat AS ini ada dasarnya?
20.12.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Anak buah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, awal pekan ini, menuding Korea Utara sebagai dalang di balik serangan malware global 'WannaCry' yang terjadi Mei lalu. Malware tersebut akan menghapus data-data komputer yang berhasil terjangkiti, kecuali bila tebusan berupa Bitcoin dibayarkan.

Tudingan itu muncul dalam op-ed yang tayang di surat kabar the Wall Street Journal. Pejabat Senior Gedung Putih, Tom Bossert, menulis bila Korea Utara hampir pasti "bertanggung jawab langsung" atas serangan internet tempo hari. Dia menyatakan tuduhannya sudah berdasarkan "bukti-bukti kuat", walaupun dalam opini tersebut Bossert tidak menjelaskan lebih detail apa saja bukti yang telah didapatkan pemerintah AS.

Iklan

Tak berapa lama, surat kabar The Washington Post ikut menurunkan laporan serupa, juga bersumber dari Gedung Putih, mengenai tuduhan keterlibatan Korut dalam penyebaran malware global.

Rezim Trump beberapa bulan ini bersikap lebih keras terhadap Pyongyang. Sikap keras Trump meningkatkan tensi keamanan di Asia Timur, khususnya Semenanjung Korea. Penasehat Keamanan Gedung Putih, H.R. McMaster, awal bulan ini sudah menegaskan ancaman terbesar AS sekarang datang dari Rezim Kim Jong-un dan amunisi nuklirnya. Berdasarkan pengamatan McMaster, peluang terjadi perang nuklir semakin "meningkat hari demi hari."

Tuduhan terhadap Korut sebagai dalang serangan WannaCry sebetulnya bukan kali ini saja terlontar. Peneliti keamanan Google, Neel Mehta, serta dua perusahaan keamanan siber ternama yakni Kaspersky Lab dan Symantec, turut menemukan indikasi bila serangan ransomware itu terafiliasi dengan jaringan kriminal Internet yang didanai Pyongyang.

Inilah Dampak Serangan Global WannaCry Mei Lalu:

  • Serangan WannaCry menjangkiti lebih dari 200.000 komputer di 150 negara yang memakai software Microsoft. Ransomware ini menyerang jaringan komputer layanan publik, mencakup rumah sakit dan perbankan.
  • Taksiran kerugian akibat serangan WannaCry mencapai US$4 miliar, seperti dilaporkan oleh CBS, mengutip data dari perusahaan keamanan digital Cyence.
  • Korban paling parah dari serangan WannCry adalah Badan Jaminan Kesehatan UK (NHS). Ribuan data pasien sempat lenyap, memicu pembatalan operasi dan gangguan layanan kesehatan lainnya berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan Inggris.
  • Sekali WannaCry berhasil masuk ke sebuah komputer, maka seluruh komputer lain terhubung dalam jaringan Internet yang sama akan ikut tertular. Berdasarkan laporan Wired, mekanisme penularan malware ini membuat WannaCry sulit dihentikan.
  • Microsoft menyalahkan pemerintah AS setelah terjadi serangan ransomware tersebut. Sebab, Lembaga Pertahanan Dalam Negeri (NSA) pernah membongkar kelemahan jaringan keamanan dalam software Microsoft untuk kepentingan penyadapan. Ternyata, temuan NSA itu dicuri lalu dibocorkan sekelompok hacker ke Internet. Berkat data itulah pengembang WannaCry berhasil mengksploitasi sistem yang sama di seluruh dunia.