Views On My Own

Damon Albarn: Pabrik Kreativitas Berjalan

Dalam esai ini, aku meyakini proyek Gorillaz telah menyumbang lebih banyak bagi dunia seni dan musik dibanding semua album Blur.
Ryan Bassil
London, GB
21.7.17
Credit: Wikimedi

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Damon Albarn itu mirip kucing. Lebih tepatnya, Si Kucing Cheshire dari cerita Alice in Wonderland. Yang disebut belakangan adalah tokoh kartun berbulu pink dan ungu yang hobinya meloncat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Sementara Albarn memiliki rekening gendut berkat kesuksesan di dunia musik, jenggot tipis, dan menjadi frontman salah satu band terpopuler di dunia. Lantas kemiripannya dimana? Dua-duanya memiliki senyuman lebar yang agak menakutkan.

Iklan

Coba tonton foto ini dan ini, kelihatan kan gigi Albarn nongol? Akademisi yang pernah menulis buku (psikolog, penulis, Charles Darwin) semuanya mengakui adanya hubungan antara bahasa tubuh dengan kepribadian atau jalan pikiran seseorang. Melipat tangan di depan dada misalnya, berarti orang itu dalam mode pertahanan. Menggigit kuku dianggap sebagai tanda kecemasan, sementara kepalan tangan terbuka menunjukkan sikap ramah. Dalam kasus Albarn, ketika dia tersenyum, gigi dan pupil matanya seolah bergabung menunjukkan rasa kegirangan.

Untungnya tubuh (atau lebih tepatnya, otak yang mengendalikan mereka) milik Albarn telah menuntunnya memiliki karir yang terbilang panjang. Dalam waktu pendek, dia telah merilis 8 album dengan Blur, dua rilisan bersama grup super (salah satunya bareng anggota The Clash dan the Verve, satu lagi bareng Flea dan legenda genre afrobeat Tony Allen), sebuah album solo dan opera dan soundtrack yang sudah tidak terhitung jumlahnya. Gorillaz, tentunya adalah pencapaian tertingginya. Dibintangi oleh Albarn namun dipimpin oleh segerombolan musisi lain, Gorillaz merupakan produk eksplorasi, merepresentasikan sesuatu yang melebihi musik, dan lucunya bagi sebuah band yang bernama Gorillaz, mendekati sosok manusia.

Untuk bisa memahami makna Gorillaz dan apa yang mereka tawarkan, kita perlu meninjau kembali awal karir band virtual tersebut. Di awal 2000-an, hidup terasa normal di Inggris dan musik Britpop mengalami fase "hidup segan mati tak mau," menampilkan band membosankan macam Starsailor (dan satu album Radiohead). "Kalau kamu menonton MTV terlalu lama, rasanya mematikan—gak ada isinya", kata sang ilustrator Gorillaz, Jamie Hewlett dalam sebuah wawancara yang terbit 2005. "Jadi kami muncul dengan ide sebuah band kartun sebagai bentuk kritik terhadap musik saat itu."

Ide Hewlett untuk menampilkan sebuah band animasi fiksi bisa saja berakhir tidak lebih sebagai gimmick keren—dan mungkin memang begitu bagi beberapa orang. Namun secara obyektif, tidak adil untuk menyebut musik mereka sebagai novelti belaka. Single debut "Clint Eastwood" bukanlah sound sebuah band, producer trip-hop atau penulis lagu pop; tapi suara musik dansa waltz pelan yang membuka pintu ke sebuah realita baru yang terpisah. Menampilkan rapper yang tidak terlalu dikenal (hingga sekarang) Del the Funky Homosapien menjembatani bagian chorus malas Albarn yang bernyanyi tentang marijuana. Ini menjadi template bagi Gorillaz: musisi berkolaborasi, tidak peduli betapa jauh dunia musik mereka, bersatu demi kebutuhan untuk berkarya.

Iklan

Biarpun kolaborasi antar seniman bukanlah hal baru, kemampuan Albarn menyampurkan genre sangat luar biasa. Seperti Kanye West, dia menggabungkan berbagai sound dan era untuk menciptakan musik yang unik dan mengeluarkan talenta musisi tertentu, memberi mereka kesempatan bersinar—misalnya bait Pusha T di "Runaway" atau kontribusi Shaun Ryder di lagu "D.A.R.E" (Satu-satunya single Gorillaz yang berhasil memuncaki tangga lagu Billboard). Kalau Kanye memanfaatkan kontributor sebagai pion dalam visinya, Albarn justru mengambil langkah ke belakang dan memberikan mereka panggung utama. Maka dari itulah Gorillaz bisa disebut sebagai bentuk perayaan holistik musik—fakta nyata yang semakin terlihat dari rilisan terbaru mereka dan festival Demon Dayz.

Festival itu digelar di Deamland, semacam taman huburan di kota pinggir laut Inggris, Margae, festival tersebut menampilkan Albarn dan sederetan musisi lain di atas panggung: De La Soul, Little Simz, Kano, Jehnny Beth, Popcaan, Bootie Brown, Vince Staples, Kali Uchis, Kilo Kish, Kelela dan Danny Brown. Setiap musisi baru muncul di atas panggung, energi penonton berubah—kembali naik untuk meyambut musisi berikutnya yang mempunyai cita rasa sendiri. Kehadiran semua orang ini terasa seperti lebih dari sekedar musik. Album terbaru Gorillaz dijuluki salah satu majalah musik "sebuah pesta di akhir zaman" walaupun sesungguhnya lebih terasa seperti representasi kekuatan kolektif yang hadir ketika banyak orang berkumpul.

Ide ini bisa diwakili oleh sebuah baris lirik dari lagu baru mereka "We Got The Power", ketika vokalis Savages, Jenny Beth bernyanyi: "We got the power, to be loving each other no matter what happens". Dalam iklim politik dan sosial dunia yang sedang tidak karuan, ini adalah pesan yang sederhana namun tepat. Tentu saya ada banyak seniman lain di luar sana yang menggunakan konsep kolaborasi dunia yang serupa—mulai dari album baru Tyler, the Creator, Mura Masa (album barunya menampilkan A$AP Rocky dan Jamue Lidell) hingga Frank Ocean. Tapi bisa dibilang Albarn-lah yang memupuk pendekatan lintas-genre macam ini lewat Gorillaz.

Yang menarik tentang perkembangan Gorillaz adalah bagaimana mereka lahir di ujung akhir era Britpop. Coba liat tokoh-tokoh besar Britpop lainnya sekarang: Liam Gallagher sibuk hendak merilis lagu-lagu berbasis gitar, Noel Gallagher sibuk menyantap cupcake mahal dengan teman-teman borjuisnya, Brett Anderson sedang nongkrong sendiri di acara listening party record label entah dimana. Albarn memang tidak banyak berubah, tapi seiring waktu bergulir, dia semakin menguasai perannya sebagai seorang kurator. Dia berdiri di atas sesuatu yang jauh lebih penting dibanding warisan Britpop manapun.

Menggunakan musik sebagai alat untuk mengeksplor kemanusiaan bersama-sama, karyanya dengan Gorillaz menjadi bukti bahwa kita sesungguhnya bisa bersatu—daripada berjalan sendiri-sendiri. Mungkin senyuman Albarn memang hasil genetik, tapi petualangan dan rasa puas dibelakangnya merupakan pengalaman yang kita semua bisa rasakan. Emangnya kalian gak mau? Seperti yang Gorillaz contohkan lewat "Clint Eastwook", ada sebuah dunia lain di balik pintu, di luar sana menunggu untuk dimasuki dan kita nikmati.

Ajak ngobrol Ryan, penulis artikel ini, lewat Twitter.