Perjuangan Penganut Wetu Telu Membalik Tudingan Menyimpang Dari Islam
Semua foto oleh Tsering Gurung.
Travel

Perjuangan Penganut Wetu Telu Membalik Tudingan Menyimpang Dari Islam

Kenapa masyarakat Sasak yang salat lima waktu di kaki Gunung Rinjani sering dianggap menganut aliran sinkretis, bahkan oleh MK? Berikut hasil catatan perjalanan VICE ke Karang Bajo.
3.8.17

Junan, sopir yang mengantarkan berkeliling Provinsi Nusa Tenggara Barat, bergegas membangunkanku setelah lereng gunung terlihat di depan mata. Mobil kami lebih dari satu jam meninggalkan Kota Mataram.

"Tuh Rinjani sudah dekat, kelihatan!" kata Junan.

Dalam kondisi setengah sadar, aku merasa pernah berada di tempat ini. Ternyata benar, enam tahun lalu aku berkesempatan mendaki Rinjani, dan turun gunung lewat jalur Senaru, jalan yang persis sama kulewati ketika hari itu aku menuju komplek Desa Adat Bayan.

Iklan

Rinjani, gunung tertinggi kedua di Indonesia yang masih aktif sampai sekarang, nampak berkali-kali lipat lebih indah dari kejauhan. Desa adat Bayan terletak di kaki Rinjani. Di sanalah, berdiam Suku Sasak yang masih menjalankan ritual adat selama berabad-abad. Ritual ini kerap disalahpahami, sehingga dianggap sebagai agama sempalan Islam: Wetu Telu. Desa yang kabarnya masih melestarikan pratik peribadatan wetu telu adalah Karang Bajo.

"Mbak, katanya orang Bayan itu salatnya tiga kali," kata Junan tiba-tiba, kepadaku soal orang Bayan. "Ada yang bilang juga kalau puasa Ramadan itu enggak 30 hari, katanya sih cuma sehari. Itu sih yang saya dengar soal orang Bayan, enggak tahu juga tapi ya."

Berbagai stigma berkembang soal masyarakat adat ini. Beberapa yang paling populer misalnya Wetu Telu merupakan percampuran agama Hindu, Islam, dan Buddha. Penganutnya. seperti kata Junan, hanya salat tiga waktu sehari. Itu pun diwakilkan oleh penghulu adat, serta mengukur keislaman hanya dari syahadat, pantang makan babi dan alkohol, serta berkhitan bagi kaum lelaki.

Jika kita merujuk sumber sekunder, Wetu Telu dimaknai sebagai sinkretisme Hindu dan Islam. Praktik peribadatan warga Sasak di desa Bayan karenanya, dicap sebagai sempalan mazhab Sunni maupun Syiah penduduk Indonesia. Mendengar penjelasan Junan, di pikiran saya Wetu Telu sama belaka seperti Kejawen di Jawa Tengah-Jawa Timur, maupun praktik Sunda Wiwitan di Jawa Barat—praktik beragama sinkretis yang oleh rezim Orde Baru kemudian dikategorikan sebagai "aliran kepercayaan", bukan agama.

Iklan

Istilah 'Wetu Telu' pertama dikenal luas dari sebuah buku peneliti Hindia Belanda Jan Van Baal yang ditulis pada 1940. Pada 1979, buku ini kemudian diterjemahkan oleh Koentjaraningrat dengan judul Pesta Alip di Bayan. Dalam Buku Dari Bayan untuk Indonesia Inklusif , yang dibuat masyarakat Bayan untuk mendobrak stigma wetu telu, dijelaskan Van Baal cuma menggambarkan kondisi masyarakat Bayan yang memahami Islam sesuai dengan apa yang pertama kali dipahami dan diajarkan, yakni Islam tradisonal. Dalam perkembangannya, wetu telu identik sebagai budaya lokal dan filosofi masyarakat Bayan yang lekat dekat anasir ajaran Islam.

Bantahan paling tegas disampaikan Erni Budiwanti, salah satu antropolog yang meneliti masyarakat Bayan, terhadap tudingan-tudingan miring kepada penganut wetu telu. Erni menerbitkan sebuah buku berjudul lslam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima yang judulnya dianggap kontroversial. Buku Itu dianggap memberi kesan bahwa wetu telu adalah agama lain yang bertentangan dengan Islam samawi yang disebut Waktu Lima. Saat dihubungi VICE Indonesia, Erni memberi klarifikasi soal judul tersebut sekaligus meluruskan stigma yang berkembang. "Aslinya buku tersebut berjudul Religion of The Sasak, An Etnographic Study of the Impact of Islamization on the Wetu Telu of Lombok," kata Erni kepadaku. "Judulnya itu bukan saya yang memberi, tapi dari penerbit, dia ingin marketable sehingga memilih judul yang sensasional. Saya sebetulnya enggak suka, karena seolah-olah dibenturkan. Saya juga menyesalkan judulnya seperti itu, karena saya juga ditentang."

Iklan

Mobil yang kutumpangi akhirnya tiba di Karang Bajo. Sedikit bekal sudah kuperoleh dari beberapa buku dan penjelasan Erni. Saatnya menemui Raden Sutra Kusumah, warga lokal yang kini mengelola sebuah perpustakaan mini di depan rumahnya untuk anak-anak Bayan. Ia berjanji menjemput kami di depan Masjid Kuno Bayan, tidak jauh dari kediamannya. Malam itu, kami berencana menginap di rumahnya yang sering dialihfungsikan menjadi guesthouse bagi para peneliti dan wartawan dari luar kota.

Sayang, waktu kedatangan saya kurang tepat. Tidak ada eremoni adat apapun di Bayan dalam kunjungan singkat pekan lalu. Setidaknya, berkat bincang-bincang bersama Sutra, semua prasangka keliru mengenai wetu telu sirna sudah. Kami ngobrol di perpustakaan kecil yang dibangun di atas Bruga Agung—mirip pendopo di Jawa utnuk menyambut tamu—di depan rumahnya.

"Sebenarnya kami ini Islam yang melaksanakan rukun Islam dan rukun iman. Yang menjadi pandangan orang [negatif], karena kami juga melaksanakan adat istiadat. Sehingga apapun yang kami laksanakan ini selalu dikaitkan dengan agama. Padahal, di samping agama kami laksanakan, adat juga kami laksanakan," ujar Sutra.

Sutra selama menemaniku berkeliling Karang Bajo.

Rumah Sutra begitu asri, tidak besar dan mewah memang. Namun, bruga agung tersebut terletak persis di depan hamparan sawah dan ladang. Berjalan sekian langkah, kalian pasti langsung bertemu Hutan Adat Mandala yang asri di belakang hamparan sawah yang senantiasa menjaga pasokan air masyarakat Bayan. Sungguh, aku yakin berada di desa ini akan membuat siapapun tak tertarik lagi ke ke Ubud kalau tujuannya ingin merasakan 'namaste yang hakiki'. Hari itu, Sutra berjanji mengantarku menuju rumah penghulu adat Bayan yang dianggap sebagai tetua adat dan agama di Bayan serta berkeliling ke Hutan Adat Mandala yang tidak jauh dari rumahnya. Tidak lama, adzan dzuhur pun berkumandang, Sutra meninggalkan kami sejenak pamit ke kamar mandi. Selama di Karang Bajo, aku tidak pernah melihat mereka melaksanakan salat. Kupikir tak pantas juga meminta mereka salat di depanku, hanya untuk membuktikan mereka Islam atau bukan. Sebelum menghadap penghulu adat yang dianggap sebagai tetua dalam koridor adat dan juga agama, Sutra mengajak kami berkeliling hutan adat Mandala sumber dari air yang tak kunjung surut. Aku sedikit terkejut ketika mendapati anak-anak telanjang bulat berlarian, naik lompat saling siram, di kolam renang… ya, di tengah hutan. Sutra bilang bahwa kolam renang tersebut merupakan sumbangan program pemberdayaan nasional yang kini jadi fasilitas bagi masyarakat adat Bayan. Sutra mengajak kami berkeliling hutan seluas 0,13 ha mengikuti aliran air, melintasi beberapa sungai kecil dan memanjat batuan dan pohon yang sudah tumbang. "Adat Bayan menjaga hutan, tidak boleh ada satu batang pohon pun yang diambil meski sudah tumbang, biarkan Ia melapuk dengan sendirinya," kata Sutra. Kami pun terus mengikuti Sutra menyusuri saluran air di hutan. Aku berpakaian laiknya seorang yang hendak mendaki Rinjani. Sepatu trekking lengkap dengan jaket windbreaker, begitu pula dengan kawanku Tsering, tapi tidak bagi Sutra yang kala itu hanya memakai sandal, celana khaki dan kemeja batik. Sehabis dari hutan, Ia sudah siap mengantarku menuju rumah dinas penghulu adat, Amaq Riajim. Bantahan atas pandangan negatif terhadap wetu telu juga kuperoleh dari Amaq Riajim. "Hahaha… Itu yang bilang hanya puasa satu hari, salat hanya pemimpinnya saja, dan yang salatnya hanya tiga kali sehari itu, di mana mereka mengorek itu? Siapa yang bilang begitu datangkanlah kemari," kata penghulu adat Bayan di usia kepala tujuh, yang seketika tertawa mendengar pertanyaanku soal beragam stigma yang beredar terkait wetu telu. "Kita coba tegur mereka itu, di mana mereka dapat informasi seperti itu?"

Amaq Riajim menjelaskan perihal konsep 'waktu telu' yang kerap menjadi persoalan persepsi di tengah masyarakat luar Bayan. Wetu Telu menurutnya bukan agama dan bukan adat, melainkan konsep filosofis. Wetu telu ini memandang keberadaan manusia ada di dalam tiga alam. Pertama alam rahim atau kandungan, kedua alam dunia dan ketiga alam akhirat. Ketiga unsur inilah yang memenuhi dunia dan alam semesta ini, yang mengisi dunia ini. Hal ini bisa dilihat dari serangkaian ritual adat Bayan yang dijalankan bersamaan dengan agama Islam. Contohnya, pada Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha, peringatan Maulid nabi Muhammad SAW, dilaksanakan dalam dua prosesi berbeda yakni secara Islam dan Adat. "Pelaksanaan secara adat inilah yang membuat orang menganggap kami sebagai masyarakat wetu telu yang salatnya tiga kali ini," imbuh Amaq Riajim. Terkait stigma yang melekat pada masyarakat Bayan, kebanyakan dari mereka sudah bosan mendengar anggapan masyarakat luas. Kontra narasi ini sudah jadi makanan sehari-hari sejak masa penjajahan Belanda, bahkan persepsi keliru tersebut pada era 1960-an digunakan sebagai alat pemberantasan paham komunis oleh rezim Orde Baru. Narasinya sejenis seperti yang kuperoleh saat berkunjung ke rumah para Bissu di Sulawesi Selatan, atau dalam proses pembuatan dokumenter Lengger Lanang di Banyumas. Masyarakat adat kerap dipersalahkan oleh aparat negara dan dianggap menghambat pembangunan. Capnya serupa, apalagi kalau bukan 'komunis'? Sadar aku masih belum puas melihat-lihat, Sutra mengajakku berkeliling kampung mencari seorang tokoh Desa sekaligus saksi hidup pemberantasan komunis pada era 1960-an. Kami berkeliling mencari Raden Gedarif, salah satu tokoh adat yang paling dituakan. Kami menemukannya tak jauh dari rumah Amaq Riajim. Ia bercelana pendek dan telanjang dada, buru-buru Ia bergegas pulang memakai sarung dan kemeja ungunya.

"Dulu, zaman Orde Baru, ada pendapat ini dan itu karena dulu dicurigai ada militer… yang tidak mau melihat [budaya] ini berkembang," kata Raden Gedarif, salah satu tokoh masyarakat yang masih ingat betul pemberangusan kalangan yang dicurigai menyimpang dari agama oleh rezim yang berkuasa dan dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia. "Tidak semua orang adat masuk komunis [partai], banyak juga orang Islam yang alim itu juga masuk komunis [partai]. Karena partai, agama dan adat itu berbeda, harus dipisah. Tetapi ini dilibatkan supaya adat ini punah." Raden Gedarif yang saat ini berusia 70 tahun ingat betul bagaimana sebuah masjid adat yang kini beralihfungsi menjadi Kantor Camat Anyar dibakar pihak militer karena dianggap tak layak mirip tempat menyembah berhala. "Ada masjid kuno di Desa Anyar yang sekarang jadi kantor Camat. Sekarang sudah tidak ada cuma diganti dengan Masjid Jami. Dulu yang membakar itu Koramil, atau Babinsa." Menyaksikan sendiri proses Islamisasi yang berlanjut di Bayan, saya teringat penjelasan lain dari Erni. Dia menegaskan sebagian besar masyarakat adat Bayan kini telah melakukan konsep 'Waktu Lima' dalam koridor ibadah, tanpa meninggalkan adat istiadat. "Kalau yang di Bayan itu mereka kan minoritas, sebagian sudah ter-reislamisasi lagi, nah sekarang kebanyakan sudah waktu lima, sudah lima waktu [salatnya], tapi bukan berarti yang kepercayaan adat itu hilang sama sekali, tapi saya lihat sebagian masih abangan," kata Erni. Untuk mendobrak stigma masyarakat luar, kini penduduk Bayan aktif menuliskan sejarah versi mereka sendiri. Raden Sawinggih, salah satu tokoh pemuda Desa Bayan bercerita saat Ia mendapat undangan dari sebuah aliansi masyarakat mendorong agama local diakui negara ke Mahkamah Konstitusi. "Kami tidak tahu siapa yang memasukkan data bahwa Bayan ini adalah salah satu penghayat aliran kepercayaan di luar agama yang ada di Indonesia," kata Sawinggih padaku sambil
duduk santai ditemani kopi hitam dan serbuan suara jahil tokek di pekarangan rumah sutra. "Baru kami tahu setelah di MK [Mahkamah Konstitusi] bahwa Bayan dianggap bukan bagian dari agama [Islam]. Akhirnya kami klarifikasi bahwa Wetu Telu bukan agama melainkan filosofi masyarakat yang berkembang di Bayan."

Upaya yang dirintis Sawinggih seharusnya bisa menjadi awalan yang baik untuk membali persepsi negatif terhadap adat masyarakat Bayan. Namun, masih panjang jalan bagi komunitas Sasak di kaki Gunung Rinjani ini sepenuhnya diterima sebagai penganut Islam seperti warga lainnya. Sebab, terlalu lama Indonesia diceraiberaikan oleh perkara birokrasi berdasarkan pengelompokkan agama. Sistem yang membuat banyak sekali warga minoritas kehilangan haknya di negara ini. "Nilai-nilai [wetu telu] ini adalah nilai Islam juga cuma dipahami secara tradisional, lebih dekat dengan ilmu-ilmu tasawuf, lebih menyentuh kepada hati nurani," kata Sawinggih. "Kami memahami Islam ini sebagai nilai-nilai universal, rahmatan lil alamin yaitu rahmat bagi semesta alam."