Tiongkok

Perempuan di Cina Jadi Tajir Gara-Gara Livestraming Kehidupan Sehari-Hari

Rekan kami dari VICE News menuju Wuhan, memahami pola bisnis livestream mirip BIGO yang kini meledak di Negeri Tirai Bambu serta mencetak jutawan-jutawan baru.
01 November 2017, 3:51am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Di China, perempuan muda seperti Huan Huan, livestreaming berusia 23 tahun, bisa mengantongi $20.000 (setara Rp271 juta) per bulan dengan rajin melakukan livestreaming kegiatan sehari-hari mereka. Uang yang mereka dapatkan tidak sedikit. Jumlah itu 30 kali lebih besar dari gaji bulanan seorang lulusan perguruan tinggi di Cina.

Cuma dengan menonton Huan melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan dan olah raga di Gym, para penonton livestream Huan, kebanyakan laki-laki, tak segan-segan mengirimi pujaannya hadiah virtual yang bisa ditukar dengan uang tunai.

Di Cina, negara yang melarang peredaran materi porno di jagat internet, bisnis livestream PG-Rated memiliki nilai hingga $4 miliar (setara Rp54 triliun) dalam setahun dengan jumlah follower mencapai 350 miliar orang—jauh melebihi seluruh penduduk Indonesia.

Pemerintah Cina kewalahan menanggapi menjamurnya bisnis livestream. Pasalnya, sensor terhadap apa yang tengan di-stream secara live mustahil dilakukan. Pada gilirannya, platform dan livestreamerlah yang dibebani kewajiban untuk melakukan swa-sensor agar bisa mendapatakan semacam lisensi untuk beroperasi dari pemerintah. Livestreamer yang kedapatan nakal dan melanggar rambu-rambu konten pornografi bakal dilarang livestreaming selamanya.

VICE News melancong ke Wuhan, China, mengunjungi klab karaoke yang telah dirombak menjadi bangunan berisi 50 ruang livestreaming untuk membedah seluk beluk bisnis livestreaming yang unik ala Tiongkok. Simak hasil video dokumenter kami di tautan awal artikel ini.