The VICE Guide to Right Now

Pelaku Penembakan Mal di Filipina Dibela Netizen, Dianggap Bernasib Mirip 'Joker'

Mantan satpam Mal Greenhills menjadi tersangka kasus penembakan dan penyanderaan di bekas tempatnya bekerja. Warganet malah bersimpati padanya. Ada juga yang bilang kasus ini mirip plot 'Parasite'.
06 Maret 2020, 8:51am
Pasukan SWAT tampak berlari memasuki salah satu pintu masuk Greenhills
Pasukan SWAT tampak berlari memasuki salah satu pintu masuk Greenhills setelah mendapat laporan penyanderaan pada 2 Maret 2020. Foto oleh Ted ALJIBE/AFP. 

Pelaku penembakan Pusat Perbelanjaan Greenhills, Alchie Paray, menyandera puluhan pengunjung pada 2 Maret 2020. Mantan satpam mal di Metro Manila tersebut melepaskan tembakan pada pukul 10 pagi. Seorang satpam terluka, dan aksi ini memicu percekcokan dengan aparat kepolisian selama sembilan jam.

Motif penembakannya bukan untuk merampok uang. Dia menolak uang damai senilai 1 juta Peso Filipina (Rp281 juta) yang ditawarkan atasannya. Alchie hanya menginginkan keadilan. Dia membocorkan kasus suap dan korupsi antara vendor mal dan pejabat keamanan. Mantan satpam itu diancam akan dipecat jika tidak ikutan.

Selama penyanderaan, dia menuntut atasannya mengundurkan diri. Mereka mengikuti kemauannya di depan media. Setelah itu, dia setuju meninggalkan senjata dan keluar dari mal bersama 30 tawanan.

Malnya telah ditutup, tapi warga yang penasaran mengerubungi TKP untuk melakukan siaran langsung. Alchie melakukan konferensi pers di depan penonton, pihak berwajib, dan media tanpa borgol, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Warga lainnya yang tidak menyaksikan langsung, mengikuti beritanya lewat TV dan media sosial.

Pelaku penembakan tidak bermaksud jahat, dan sebagian orang bertepuk tangan ketika dia berpidato.

Aksi teror sudah jelas perbuatan terkutuk, tapi warganet Filipina kini malah menunjukkan simpati kepada Alchie. Bahkan ada yang membandingkan insidennya dengan Parasite.

Film pemenang Best Picture Oscar ini mengisahkan tentang keluarga miskin yang menipu keluarga kaya agar bisa bekerja di rumah megah mereka. Pertemuan mereka digambarkan dalam ram-don, mi ramen yang dipadukan daging sirloin. Mereka bisa hidup bersama, tetapi masih ada perbedaan kelas yang memisahkan mereka.

Mereka yang bersimpati menghubungi kesamaan ini dengan sulitnya kehidupan kelas bawah di Filipina. Pasalnya, 20 persen keluarga Filipina hidup di bawah garis kemiskinan dan sekitar dua juta penduduk menganggur.

Pusat Perbelanjaan Greenhills menjual ponsel seken, dan chia bowls yang harga satu mangkuknya setara dengan upah minimum harian di Filipina. Malnya sering dikunjungi penggila barang murah, tetapi lokasinya terletak di wilayah metropolitan Manila.

Netizen kini menyalin pidato Alchie ke media sosial mereka, seakan itu adalah monolog paling memilukan.

"Saya harap kalian semua di manapun berada bisa belajar dari sini," ujarnya. "Kita semua penting. Bagi pihak manajemen, mulailah menghargai orang lain. Jangan rugikan orang yang bekerja untuk Anda."

Namun, banyak juga yang bersikeras tidak sepatutnya mereka meromantisasi aksi teror untuk alasan apapun. Menurut mereka, film Joker mengajarkan aksi kejahatan adalah pendekatan yang salah dan berbahaya.

Meski sukses berat, tak sedikit yang mengkritik filmnya problematik. Dalam film, Arthur Fleck yang psikologisnya terganggu membunuh orang karena hidup dalam kemiskinan dan diperlakukan tidak adil. Adegan kekerasannya disandingkan dengan musik pop bahagia.

Kritikus menyebut Joker bisa membuat penonton mengira tindakan kekerasan atas nama “kebaikan” bukan hal yang salah. Kesalahpahaman ini dapat memicu serangan teror, seperti aksi penembakan Colorado yang terjadi bertepatan dengan dirilisnya film Batman.

Banyak warga Filipina menyuarakan ketidaksukaan mereka atas popularitas dadakan yang diterima Alchie. Beberapa bahkan mengkritik polisi dan media yang membiarkan tersangka berbicara di depan kerumunan.

Akan tetapi, beberapa kritikus mengakui konsekuensi dari kapitalisme dan sadar masih banyak yang perlu dilakukan untuk mengakhiri ketidakadilan sosial.

Alchie didakwa pasal pembunuhan, penyanderaan, kepemilikan senjata api dan amunisi ilegal, dan kepemilikan alat peledak dan pembakar ilegal.

Setelah menyerahkan diri ke polisi, dia mengaku sadar penuh akan konsekuensi yang dihadapi.

"Saya sudah tahu ini akan terjadi kepadaku bahkan sebelum melakukannya," tutur Alchie. "Saya sudah mati dari awal saya merencanakannya."

Sementara itu, bekas tawanan Alchie masih dalam pemulihan kondisi fisik dan mental.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.