Budaya

Seperti Ini Rasanya Menggelar Pemakaman Lewat Livestreaming di Masa Corona

Karena tidak boleh berkumpul, termasuk saat mengantar orang tersayang ke liang kubur, maka livestreaming solusi terbaik di masa pandemi. Malah, tren ini diyakini akan terus populer di masa depan.
16 April 2020, 3:47am
Livestreaming Pemakaman akan jadi bisnis dan tradisi yang populer di masa depan
Ilustrasi menyiarkan pemakaman lewat livestreaming. Arsip foto dari OneRoom 

Grace Druien menyebut dirinya sendiri "seorang penyelenggara pemakaman profesional."

Fotografer berumur 27 tahun dari Kota Holcomb, Negara Bagian Illionis, Amerika Serikat, tersebut telah membantu penyelenggaraan berbagai upacara pemakaman bagi teman, keluarga, dan anggota komunitas di kotanya. Namun baru-baru ini, dalam rangka upacara pemakaman ayahnya sendiri, untuk pertama kalinya dia menyelenggarakan tayangan livestream prosesi tersebut.

"Banyak hal yang harus kami atur untuk menyiarkan pemakaman," ujar Druien. Demi mendapatkan sudut kamera ponsel yang pas di atas ruangan, dia harus meletakkannya di salah satu tiang bunga. Selagi pastor berkhotbah, Druien dan adiknya menekan tombol ‘rekam’ di video Facebook Live, sebelum buru-buru kembali ke tempat duduk mereka. Di tempat parkir di luar gedung rumah duka, anggota keluarga dan teman-teman menonton upacara lewat ponsel masing-masing dari dalam mobil.

Druien bukan satu-satunya orang yang berimprovisasi dengan strategi-strategi pemakaman digital macam ini. Pasalnya virus corona terus menyebar luas di dunia, dan membunuh banyak orang, ironisnya, virus ini juga menyebabkan banyak upacara pemakaman terganggu. Untuk memperlambat penyebaran virus, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) mengimbau penyelenggara upacara pemakaman untuk melakukan livestream saja apabila memungkinkan.

Tidak ada yang tahu berapa lama patogen Covid-19 dapat bertahan dalam tubuh mayat, tapi yang jelas kita semua yang masih hidup justru adalah ancaman yang lebih nyata. Berbagai penyebaran virus corona di dunia bermula di pemakaman. Lihat saja contoh kasus di Spanyol, dan Albany, Georgia.

Masalahnya, imbauan CDC ini sulit diikuti. Baru 20 persen rumah duka menyelenggarakan livestreaming selama masa pandemi, menurut laporan Wired.



"Orang belum menganggap livestreaming pemakaman sebagai kebutuhan," ujar David Lutterman, CEO dari OneRoom, sebuah start-up layanan streaming pemakaman saat diwawancarai VICE. "Akibat pandemi corona, tiba-tiba livestreaming menjadi kebutuhan utama banyak orang hanya dalam hitungan beberapa hari."

OneRoom berusaha menjawab semua permintaan pasar, tapi kemampuan mereka untuk memasang kamera dalam sehari terbatas. Seiring makin banyak perusahaan berusaha memenuhi permintaan pasar, rumah duka dan pengiring jenazah seperti Druien akhirnya melakukan livestreaming pemakaman sendiri—dengan teknologi seadanya.

***

Ayah Druien meninggal akibat mesotelioma. Dia meninggal di malam terakhir sebelum rumah sakit tidak lagi memperbolehkan kedatangan pengunjung akibat meluasnya pandemi covid-19 di AS. Pemakaman sang ayah diadakan hari Sabtu itu juga, hanya beberapa jam sebelum aturan semi-lockdown negara bagian Illinois mulai berlaku. Mayoritas rumah duka sudah melarang perkumpulan lebih dari 10 orang, dan membatasi upacara pemakaman non-corona hanya untuk anggota keluarga inti. Maka dari itulah, Druien memutuskan bikin livestream sendiri.

Setelah menekan tombol rekam di video Facebook Live dan kembali duduk, Druien menyadari dia seharusnya memeriksa apakah video livestreamnya berjalan dengan mulus. Ketika mengecek ponselnya, videonya ternyata tidak memiliki suara.

"Saya langsung bereaksi, ‘aduh,’ ujar Druien. "Saya memberi kode ke adik saya dan diam-diam menunjukkan ponsel saya. Matanya terbelalak dan kami langsung berdiri dan berlari ke belakang."

Mereka akhirnya mengulang livestreamingnya. Dalam kolom komentar, Druien bertanya apabila sekarang suara sudah terdengar, dan orang-orang yang menonton langsung mengonfirmasinya, termasuk teman masa kecil sang ayah yang sudah tinggal di negara bagian lain.

1586179001392-image-16

Sumber foto: OneRoom

"Livestreaming pemakaman adalah momen yang luar biasa, karena saya baru menyadari bahwa orang-orang menonton videonya," ujarnya. "Ada banyak orang yang sungguh peduli. Mereka bisa lho nonton Netflix di rumah, tapi nyatanya mereka menghabiskan waktu mereka menonton proses pemakaman ayah saya."

Tapi tidak semua mengalami livestream yang mulus seperti Druien. Banyak isu teknis gangguan livestream lain yang tidak mudah diselesaikan. Seorang pengguna YouTube meminta teman-temannya mencarikan dia follower baru, agar bisa melewati angka 1.000 follower yang dibutuhkan untuk bisa melakukan livestream. Namun bahkan ketika kamu akhirnya bisa melakukan livestream, tidak ada jaminan akan ada yang menonton.

Sebuah akun Twitter mengunggah screenshot layar hitam dari acara livestream YouTube pemakaman temannya. Konten tersebut belakangan diblok oleh Warner Music Group karena menggunakan musik yang dilindungi hak cipta sebagai bagian dari upacara. Serta, masih banyak lagi kekurangan dari platform-platform seperti ini. Livestreaming pemakaman di YouTube menggunakan format yang sama dengan video pada umumnya, dengan kehadiran fitur like, dislike, dan angka penonton dipampangkan tepat di bawah video.

Laura, 23 tahun, baru-baru ini mencoba menonton livestream pemakaman salah satu sahabatnya. (Dia meminta nama keluarga dirahasiakan demi privasi keluarga.) "Ada beberapa detik videonya nyala, dan kami mendengar suara nyanyian, tapi cuman bertahan 3 atau 4 detik," ujarnya. Selama lebih dari dua jam, dia menunggu videonya bergerak, tapi sayangnya itu tidak terjadi.

"Saya pikir, ya kalau saya tidak bisa hadir langsung, paling tidak bisa pamit sama sahabat saya lewat layar ponsel, tapi bahkan itu tidak bisa saya lakukan," ujarnya. "Itu hari yang berat."

***

Ketika livestream pemakaman tayang secara mulus, hal ini bisa memberi rasa lega bagi keluarga yang ditinggalkan. Setidaknya itu yang diyakini Daniel Ownby, kepala rumah duka di Weaver Funeral Home, Bristol, Tennessee, AS. Livestream memberikan kesempatan bagi orang-orang yang jauh lokasinya atau berhalangan hadir untuk berpartisipasi. Dia pernah mencoba livestream atas permintaan sebuah keluarga, tapi menggunakan Facebook Live atau YouTube ternyata banyak tantangannya. "Setiap kali melakukannya selalu ada saja masalah teknis baru," ujarnya.

Sejak Januari lalu, Ownby mulai menggunakan jasa OneRoom, tanpa menyadari betapa krusialnya keputusan tersebut. "Ternyata _timing_-nya pas," ujarnya. Tim OneRoom datang dan memasang dua kamera di kapel rumah duka: satu di belakang ruangan, untuk menunjukkan pastur dan peti matinya, dan satu lagi di depan ruangan untuk menunjukkan orang-orang yang hadir di upacara. Kini, dia hanya tinggal mengatur jadwal upacara lewat sebuah aplikasi pembantu, dan kamera nyala secara otomatis.

"Kami tinggal atur jadwal, dan tidak perlu memantau lagi," ujar Ownby.

Orang dari seluruh dunia bisa menonton streamnya langsung, tapi keluarga juga bisa menonton ulang rekamannya di kemudian waktu. "Kamu mungkin tidak bisa mendengar semuanya saat upacara, jadi bagus apabila kamu bisa memutar ulang rekamannya."

1586179028189-live-stream-screen-2

Sumber foto: OneRoom

OneRoom menawarkan jasa livestream pemakaman sejak 2012. Tapi, perusahaan asal Selandia Baru, yang jasanya telah digunakan sekitar dua per tiga rumah duka di negara asalnya itu mengaku kesulitan masuk ke pasar negara lain. Karena bagi banyak budaya, pemakaman tetaplah harus didatangi banyak orang, bukan disiarkan lewat hape. Belakangan, mereka menemukan peluang bisnis dari komunitas tertentu.

"Biasanya jasa kami dicari oleh rumah duka yang menawarkan jasa untuk komunitas imigran di negara seperti AS," ujar Lutterman. Tapi mereka kesulitan meyakinkan banyak rumah duka, bahwa orang-orang yang sakit dan terisolasi pun sebetulnya ingin menghadiri pemakaman.

Virus corona membuktikan bila permintaan pasar untuk jasa livestreaming pemkaman ternyata lebih besar dari yang diperkirakan banyak rumah duka. "Kenaikan _demand_-nya vertikal," ujar Lutterman. "Sekarang prediksi bahwa pemakaman akan di-livestreaming sudah nyata," tambahnya. "Kami yakin kebutuhan livestreaming pemakaman sebenarnya selalu ada dari dulu dan akan selalu ada ke depannya."

Druien mengakui livestreaming pemakaman sebagai sebuah potensi bisnis tersendiri. "Hal kayak gini tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, tapi sejak kematian ayah, banyak orang dari komunitas saya juga meninggal dan saya tidak bisa hadir gara-gara self distancing. Itu perasaan yang tidak enak," tambahnya.

"Kita enggak bisa main meminta orang lain selalu setuju bikin livestream pemakaman seseorang buatmu. Tapi semoga mereka tahu, bahwa ada orang-orang yang dikira tidak peduli dan tidak bisa datang, sesungguhnya peduli dengan sosok yang meninggal tersebut."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US