Kriminalitas

Kelompok Pencuri Spesialis Rumah Lansia Beraksi dengan Pura-pura Jadi Petugas PLN

Modus ini marak di Jabodetabek. Pelaku bagi tugas. Ada yang ngukur meteran listrik, ada yang sok akrab sama penghuni, ada yang masuk ke kamar diam-diam dan menggasak apapun yang bisa dicuri.
14 Februari 2020, 8:30am
Kelompok Pencuri Spesialis Rumah Lansia Beraksi dengan Pura-pura Jadi Petugas PLN
Ilustrasi modus pencurian berkedok petugas PLN. Sumber ilustrasi pencuri via dan ilustrasi pekerja instalasi listrik via Pixabay

Komplotan pencuri yang udah beraksi empat tahun itu akhirnya dipaksa mengakhiri masa baktinya kepada kejahatan. Modus penyamaran menjadi petugas PLN oleh J, M, S, RA, dan I akhirnya terbongkar setelah korbannya di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, melapor ke polisi.

Seorang nenek berusia 92 tahun itu kehilangan uang Rp10 juta gara-gara ketipu gerombolan petugas PLN gadungan ini. Ternyata, para pencuri ini emang hanya mengincar rumah yang ditinggali orang lanjut usia biar kalau nanti ketahuan, lebih gampang menangnya. Busuk banget, beraninya sama orang tua!

Begini modus mereka menurut hasil interogasi polisi: setelah survei dan mengetahui rumah mana yang bisa satroni, mereka akan datang ke sana sembari mengaku utusan PLN yang mau ngukur meteran listrik. Meski tanpa seragam resmi, mereka tetap bisa meyakinkan orang rumah lewat bacotan doang. Peran sudah dibagi: satu orang ngukur listrik, dua lainnya ngajak ngobrol, ada yang jaga motor, dan satu orang dipercaya buat masuk ke rumah untuk mencuri.

Pada kasus di Kampung Bali, J (pimpinan komplotan yang punya peran mencuri) menggunakan obeng sambung untuk membongkar lemari di rumah sang nenek dan menemukan uang Rp10 juta. Kata polisi, komplotan ini bisa beraksi sampai empat tahun tanpa tertangkap karena tidak tamak. Dalam durasi lima menit, seberapa pun yang mereka temukan, itu yang mereka bawa pulang. Walau kalian disiplin, kalian tetap pencuri. Jangan bangga deh.

"Mereka sedapatnya saja, di dalam lemari dapatnya Rp8 juta diambil, ada jam tangan diambil jam tangan. Tapi, hitungannya dia hanya menit. Jadi, tidak mencari lebih daripada yang ada di situ, dapat, dia keluar. Mereka survei, dia melihat situasi apakah rumah ini ada penghuninya. Yang dicari memang yang ada penghuninya, tetapi usia lanjut. Jadi tidak akan melakukan perlawanan [kalau ketahuan]," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto kepada Kompas. Komplotan ini diancam hukuman tujuh tahun penjara.

Dari kasus ini, Heru mengimbau masyarakat untuk hati-hati sama penipu modus beginian. Kalau enggak ada surat tugas, seragam, atau laporan petugas tersebut ke RT terlebih dahulu, plis jangan sembarangan buka pintu rumah.

Nyamar jadi petugas PLN bisa dibilang udah modus lama. Oktober dua tahun lalu di Kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, pernah ada kasus serupa. Saat itu polisi meringkus empat orang pencuri yang berkomplot jadi tukang nyamar.

"Tersangka AA berboncengan dengan tersangka O yang kini menjadi DPO, kemudian mereka akan menghampiri rumah yang jadi sasaran dengan berpura-pura sebagai petugas PLN atau PDAM yang mau melakukan pengecekan," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada CNN Indonesia.

Beda dengan kelompok J di Kampung Bali yang menyasar lansia, kelompok pencuri di Duren Sawit menyasar rumah yang sedang ditinggal pemilik. Jadi, mereka keliling komplek dulu buat nanya-nanya ke para pembantu rumah apakah pemiliknya ada. Kalau enggak ada, maka AA dan O mengalihkan perhatian pembantu dan membukakan jalan kepada rekannya yang lain untuk beraksi. Dari aksinya di Duren Sawit, kelompok ini menggasak 57 gram emas dan uang Rp10 juta.

Pencuri dengan cosplay petugas PLN yang lebih niat hadir di Boyolali. Gimana enggak niat, mereka sampai bikin seragam dan ID card PLN palsu biar meyakinkan. Sebelum tertangkap, kelompok ini udah dua kali melakukan pencurian dengan hasil dua buah anting emas, satu liontin batu hijau, satu liontin batu putih, anting mutiara, dan uang tunai Rp10,9 juta.

"Setelah mendapat harta benda korban, mereka langsung pergi dan tidak melanjutkan pekerjaannya [memperbaiki instalasi listrik]," ujar Kasat Reskrim AKP Willy Budiayanto. Yaiyalah, namanya juga pura-pura.