Game

Alasan Kode Cheat Tak Lagi Populer di Video Game

Dulu kala, ketika masih zaman purba, gamer terpaksa menggunakan kode khusus demi membuka rahasia untuk menuntaskan game-game sulit. Belakangan, tak ada lagi budaya itu. Kami menemukan jawabannya.

oleh David L. Craddock
25 Desember 2016, 7:22am

Artikel ini pertama kali tayang di Waypoint.

September 1993, Dan Amrich bergegas pulang dari Electronics Boutique. Setibanya di rumah, dia langsung mencari konsol game kesayangannya, Sega Genesis. Tanpa membuang-buang waktu, ditancapkannya catridge Mortal Kombat anyar yang baru dibelinya. Speaker yang terhubung ke konsol segera mengeluarkan bebunyian perkusif selang beberapa detik setelah logo SEGA muncul di layar TV. Layar yang sama kemudian memunculkan sekelumit penjelasan tentang kode yang terkandung dalam cerita Mortal Kombat—kode etis, rahasia, dan kode sangat rahasia. Larik terakhir penjelasan itu menarik perhatian Amrich: Mortal Kombat menjunjung tinggi banyak kode, tapi apakah Mortal Kombat memiliki kode tersendiri?

Sejatinya, Mortal Kombat punya "kode" tersendiri. Amrich adalah sedikit orang yang mengetahuinya.

Amrich sedang asik menjajal game barunya itu ketika Carl, temannya, mendadak menelepon, mengabarkan tentang sebuah "kode" yang dia temukan di Usanet, sebuah forum online. Malang bagi Carl, dia belum memiliki kopian Mortal Kombat terbaru. Alhasil, dia meminta Amrich untuk mencobanya.

Awalnya, Amrich menduga Carl tengah meracau tentang ABACABB, urutan tombol yang harus ditekan di versi dingdong Mortal Kombat untuk membuka semua fatality—gerakan pamungkas menghabisi lawan di game itu. Fatality sangat sadis, sampai-sampai politisi Amerika Serikat kalang kabut, menuntut game ini ditarik dari peredaran. Tak dinyana, apa yang ditemukan Carl jauh lebih manjur dari ABACABB.

"Down, Up, Left, Left, A, Right, Down," Amrich mengulang urutan kode yang diberikan Carl. "DULLARD bisa membuka menu debug developer Mortal Kombat. Setelah menekan kode ini, kamu tak hanya bisa mengutak-atik poin dan tingkat kesehatan. Kamu bahkan bisa memanfaatkan fitur-fitur developer game. Kamu bahkan bisa membuat reptil muncul di game ini."

Kode 'DULLARD' membongkar banyak opsi ajaib selain kemampuan mengatur darah karakter. Selain opsi-opsi kentara yang dilabeli Cheat and Blood, opsi-opsi lain dalam menu debug secara misterius dinamai Flag.  Ini yang bikin Amrich makin penasaran. Akhir pekan minggu itu, Amrich mendedikasikan dirinya untuk mengaktifkan satu persatu flag dan memeriksa apa yang berubah dalam game. Dia kemudian mencatat semua temuannya itu.

Setelah rampung menjajal semua opsi, Amrich rangsung merangkum semua temuannya, merapihkannya, dan menyusunnya dalam sebuah dokumen profesional. Amrich kemudian meminta bantuan ayahnya mengirim dokumen itu lewat fax ke redaksi majalah GamePro. "Beberapa hari kemudian, aku dihubungi salah satu editor GamePro, Lawrence [Neves]—'Scary Larry'—. Dia penasaran bagaimana kode itu sampai ke tanganku. Dia juga bertanya apakah aku main di versi Sega Mortal Kombat. GamePro punya EPROM, versi semi rampung, Mortal Kombat untuk direview. Aku menyakinkan mereka bahwa kode yang aku dapat asli dan membeberkan bagaimana aku bisa mengungkap semua flag dalam menu debug."

Nyaris empat tahun kemudian, tepatnya Juni 1997, Amrich mulai bekerja sebagai editor di GamePro, sebuah pekerjaan yang diidam-idamkan olehnya. Berkat posisinya sebagai seorang editor, Amrich akhirnya bisa melacak konteks penciptaan DULLARD.

"Aku sengaja memasukkan kode cheat untuk membantu proses pengembangan game," ujar Scott Miller, pendiri Apogee Software (kelaknya namanya diganti menjadi 3D Realms). Melalui cheat, Miller bisa dengan leluasa melakukan test pada bagian akhir game tanpa harus mengikuti seluruh storyline game. "aku ingat di Supernova, ada sebuah jalan di awal game. Kalau kamu berjalan sejauh 20 langkah dan mentik 'ENTER,' kamu bisa langsung loncat ke ending ketiga game ini. Plus, inventory kamu juga langsung penuh dengan item-item yang kamu perlukan untuk menamatkan game."

Orang awam bakal berpikir bahwa sebaiknya developer menghapus cheat-cheat sakti ini sebelum game dirilis, setidaknya agar tidak dimanfaatkan oleh pemain yang mujur menemukannya. Namun, bukan begitu logika developer game bekerja. Bagi mereka, game yang hampir rampung harus diperlakukan sangat hati-hati. "Kamu tak akan sudi menghapus cheat ketika game hampir rampung karena kamu masih memerlukannya," ungkap Miller. "Dan ketika kamu pikir gamenya sudah beres dan siap dirilis, kamu tak mau ambil resiko menghapus kode cheat di dalamnya karena bisa saja bikin gamenya berantakan."

"Proses pembuatan game sangat berbeda pada masa itu," imbuh David Brevik, salah satu pendiri Blizzard North. Sebelum menjadi salah satu nama besar di dunia game dengan merilis Diablo pada 1996, Blizzard North menyambung hidup dengan menerima kontrak mengembangkan game untuk Sega Genesis dan Game Boy. "Kamu tak bisa menyusun pacth game sendirian. Yang kamu lakukan adalah mengirim kode gamenya ke produsen game. Mereka bisa saja menyetujui atau menolaknya. Nah, di masa-masa akhir pengembangan game, developer kadang lupa begitu saja untuk menghapus kode cheat dalam game."

Level "sapi rahasia" dalam Diablo II . Cuplikan gambar dimuat seizin Blizzard

Yang awalnya bikin kerja developer mudah akhirnya jadi penyelamat bagi para para pemain game. Ketika Konami membuat versi NES dari game dingdong tembak-tembakan Gradius pada 1986, sang programmer Kazuhisa Hashimoto menganggap game itu terlalu susah dimainkan. Tak ayal, dia pun membuat program cheat sendiri untuk memberi "power up" pada karakternya. Urutannya seperti ini: Up, Up, Down, Down, Left, Right, Left, Right, B, A, dan tekan start di halaman menu.

Cheat yang diciptakan tetap tertinggal dalam versi akhir game itu, menciptakan keributan di kalangan pemain dan majalah game yang berhasil menemukannya. Ketika Konami sadar cheat yang mereka gunakan jadi buah bibir, programmer mereka justru kembali menggunakannya dalam game-game lainnya dengan efek yang berbeda-beda. Salah satu yang paling terkenal bisa ditemukan dalam game legendaris Contra, cheat ini memberikan 30 tambahan nyawa pada karakter yang kamu mainkan.

"Kebanyakan developer menambahkan cheat pada game mereka dan menggunakanya pada game-game mereka selanjutnya," ujar Tristan Donovan, penulis buku Replay: The History of Video Games.

"Kode cheat yang digunakan Konami tak pernah berubah dari satu game ke game lainnya. Setelah kamu hafal, kamu bisa terus menggunakannya di semua game Konami. Akibatnya, cheat Konami lebih dikenal daripada cheat yang bisa digunakan oleh pada satu game saja seperti cheat game umumnya."

"Cheat bisa bikin kamu jadi keren," ujar Dan Amrich. Salah satu tugas Amrich di GamePro adalah menjawab surat pembaca. Kebanyakaan berisi permintaan cheat. Kode cheat juga bisa jadi tangga kilat menuju popularitas. Sebagai contoh, pemain game pertama yang menemukan menu debug  di Sonic the Hedgehog 2 dan God Mode di Doom  langsung naik statusnya menjadi pemain papan atas dalam dunia game. "Karena GamePro adalah majalah yang menawarkan informasi termutakhir dan jadi andalan para gamer, cheat yang kami berikan sama pentingnya dengan review and preview game baru—bagi beberapa pembaca, cheat memang jauh lebih penting karena bisa "dipegang" dan digunakan untuk pamer kemampuan."

Beberapa editor majalah game kadang mujur saja bisa menemukan kode cheat. Kadang beberapa pembaca masih berburu cheat di Usenet dan mengirimkan apa yang mereka temukan ke Majalah, mirip seperti apa yang dilakukan oleh Amrich dan Carl  dengan Mortal Kombat.

Fatality dalam game Mortal Kombat.

Lazimnya, penngembang game memang sengaja "menyalurkan" kode cheat rahasia bersama kopian game-nya kepada para editor majalah. Harapannya, cheat ini bisa membantu editor majalah melewati bagian-bagian sulit dalam game saat mereka mereview game. "Kami sih selalu berpikir bahwa mereka tak akan mempublikasikan cheat bersama review game dalam satu edisi. Kami mikirnya mereka baru akan menerbitkan satu atau dua edisi kemudian, agar gamenya kembali dibahas," tutur Scott Miller.

Sebenarnya, banyak pengembang game tak keberatan ketika cheat yang mereka gunakan beredar di antara gamer. Cheat bisa membantu pemain melewati bagian-bagian yang bikin mereka suntuk. Cheat jadi sesuatu yang menarik untuk dipertukarkan (atau malah jadi barang buruan) antara pemain. Dan tentunya, cheat memungkinan pemain mengeksplor semua level dalam game.

"Kode Cheat memberi kita kesempatan melihat apa yang biasanya mustahil kita lihat. Cheat juga bisa membuatmu berhenti bermain sebuah game," ujar Donovan. "Aku jarang memainkan sebuah game kalau cheatnya sudah ramai beredar."

Nyawa dan amunisi yang tak habis-habis cuma salah satu daya tarik cheat—sebuah epilog bagi sebuah proses yang panjang. Kemunculan cheat biasanya diawali sebuah desas-desus. Bagi mereka yang besar di era 80-an dan 90-an, mendengar desas-desus tentang quest tambahan dalam The Legend of Zelda atau kemungkinan bermain menggunakan Akuma Super Street Fighter II Turbo adalah sebuah ancang-ancang munculnya cheat.

Jika cheatnya benar ada, akan ada salah satu gamer yang mujur menemukan dan kemudian mempublikasikannya. Yang menyusul berikutnya adalah serangkaian tes. Serombongan pemain akan menekan tombol-tombol pada kontroler konsol game sampai mereka mendapatkan tanda cheat benar berguna. Ada beragam tanda: suara kecil dari konsol, semburat warna pada motor atau Scorpion mengeram "GET OVER HERE."

Bagi sebagian pemain, cheat adalah jalan singkat. Yang lainnya mengganggap cheat sebagai misteri yang harus dipecahkan atau sebuah pertolongan ketika mereka mentok. Pengembang game sangat memahami psikologi macam-macam gamer, dan sengaja mengakomodasi keinginan para pemain. "Kami akhirnya paham bahwa gamer menggunakan game untuk mengeksplor permainan. Ini pada akhirnya menambah umur sebuah game. Namun, selebihnya, mereka masih berusaha menamatkan game tanpa harus menggunakan cheat," imbuh Miller.

Diablo II

"Ada juga yang sengaja memasukkan cheat agar gamenya banyak diberitakan," ujar Brevik.  Penyataan salah satu kreator Diablo bukan tanpa landasan. Setelah berkembang rumor di battle.net tentang sebuah level yang dipenuhi sapi setan di Diablo', Blizzard North mengubur dalam-dalam level itu dalam Diablo II. "Menemukan rahasia tersembunyi dalam sebuah game adalah pengalaman yang menyenangkan. Ini berlaku sampai saat ini di berbagai macam produk. Yang ditemukan tak harus cheat, bisa saja cuma sebuah referensi kehidupan sehari-hari dalam game, lelucon dan konten rahasia lainnya. Menemukan semua hal  ini dalam game masih menarik seperti dulu."

Code Genie, Sang Penyelamat

Cheat yang sengaja disisipkan dalam game bukan satu-satu cara untuk melangggar atau melanggar aturan-aturan dalam game. Piranti seperti Game Genie melangkah lebih jauh, menyediakan cheat yang sebenarnya tak terdapat dalam game. Simpelnya, Game Genie berfungsi sebagai sebuah jembatan. Caranya penggunaan sebagai berikut: gamer menempelkan cartridge ke Game Genie. Kemudian Game Genie di dilesakkan dalam konsol. Pada konsol seperti NES, Game Genie akan tampak seperti lidah plastik yang menjulur.

Setelah konsol dinyalakan, player akan menemukan menu tempat mereka memasukan tiga kode cheat—sama seperti jumlah permintaan yang dikabulkan Jin dalam dongeng-dogeng. Segera setelah player meninggalkan menu ini, Game Genie akan membiarkan konsol game yang memegang kendali. Piranti ini akan memindai memori konsol. Tujuannya: mencari perubahan yang terjadi karena tiga kode yang dimasukkan player di awal permainan, misalnya berkurangnya nyawa atau turunnya HP karakter.

Menentukan apa yang bisa dan tak bisa dilakukan Game Genie adalah salah satu tanggung jawab Allen Anderson dan Graham Rigby. "Dia biasanya mulai dengan yang gampang-gampang dulu seperti mencari nyawa. Baru kemudian mengulik hal-hal yang lebih ajaib seperti meloncat menembus dinding," ujar Aplin mengenai Rigby.

Saya menemui di sebuah ruangan yang penuh dengan ribuan cartridge. Mereka mulai bercerita tentang cara mereka menemukan cheat dalam sebuah game. Pertama, mereka mencolokkan prototip Game Genie pada sebuah cartridge dan dengan menggunakan scope—piranti buatan yang memiliki monitor dan indikator gelombang—untuk memindai memori game saat gama dimainkan. Gelombang indikator melamban dan mendadak bergetar cepat seiring perubahan pada memori game menyesuaikan dengan parameter yang ditentukan Aplin dan Rigby. Setelah keduanya berhasil menemukan momory address yang berubah saat pemain melakukan sesuatu dalam game, mereka mengkonversinya dalam serangkaian huruf yang nanti akan dimasukkan dalam menu awal Game Genie.

"Saat konsol meminta data dari memory address tertentu, chip Game Genie langsung menonaktifkan cartrigde untuk sementara dan memberikan value (nilai) yang dimilikinya pada data bus."," ujar Richard Aplin, salah satu perancang yang berada dibalik kemunculan beberapa Game Genie, termasuk Game Genie 2 khusus untuk NES yang tak pernah dirilis.

Game Genie untuk NES

Data bus adalah sekumpulan jarum dalam cartridge yang terhubung dengan gigi silikon Game Genie. Koneksi ini memungkian Game Genie menulis ulang proses game, yang instruksinya tersimpan dalam konsol. "Memory address yang mengatur nyawa dan HP karakter selalu sama," ujar Allen Anderson, seorang programer kontak yang disewa untuk merancang Game Genie untuk Super NES. "Sebenarnya yang dilakukan Game Genie hanyalah mengganti value-value itu dan mengulang proses ini terus menerus."

Misalnya, ketika player meminta fitur "anti mati" pada Game Genie, piranti ini akan menunggu sampai player menerima damage. Baru setelah itu, Game Genie mengembalikan HP karakter dengan menulis ulang value dalam memory dengan angka yang lebih besar. Proses ini berlangsung dalam sekejap hingga player merasa karakternya tak pernah menerima damage. Kode cheat yang bisa disediakan Game Genie beragam, dari yang standar—kebal damage, power up tanpa batas dan melompat langsung ke bos terakhir—hingga glitch-glitch konyol macam "moonwalking", melompat sampai karakter melewati batas layar monitor atau tambahan HP ketika karakter masuk parit alih-alih koit.

Dengan Game Genie, kita tak lagi memusingkan fakta bahwa Nintendo tak memasukkan cheat anti mati dalam gamenya. Dengan memanipulasi value langsung saat game dimainkan, mesin cheat seperti Game Genie punya kemampuan tanpa batas.

Namun, di awal dekade 2000-an, Game Genie kehilangan pamornya. Game mulai diproduksi dalam bentuk CD, bukan lagi cartridge. Game Genie—yang mengandalkan koneksi antara cartridge dan kontrol—mendadak ketinggalan zaman. Alhasil mesin cheat harus langsung dilekatkan pada sistem elektronik konsol, sesuatu yang hanya dilakukan mereka melek teknologi dan nyaman-nyaman saja membongkar konsol mereka.

Beberapa konsol malah mulai bisa terkoneksi ke internet. Alhasil, mesin cheat dalam sekejap bisa dilumpuhkan dengan mudah, semudah konsol mengupdate piranti lunaknya. "Kamu tak bisa seenaknya merilis produk yang memanfaatkan bug pada game karena toh software konsol kini bisa langsung di-update," ujar Aplin.

Semua yang Baik…Kini Ada di Internet

Murahnya sambungan internet membuat penyebaran kode cheat makin menjadi-jadi. Orang yang pertama menemukan cheat bisa langgung mempublikasikannya di beberapa website populer. Bahkan, anda cukup bermodal mesin pencari google untuk menemukan beragam kode cheat di internet. Di era internet ini, pelanggan majalah game turun tahta, dari yang pertama tahu tentang kode cheat jadi yang paling bontot menggunakannya.

Di sisi lain, cheat-cheat standar macam God Mode dan HP yang tak habis-habis jadi mainan bocah. Levelnya kalah jauh dengan cheat-cheat yang lebih unik—dan tentunya berguna. Contohnya, cheat kepala besar dan Bond mini dalam Goldeneye 007. Cheat ini membuat game lebih mudah atau malah lebih rumit untuk dimainkan. Di saat yang sama, tampilan senjata yang hasil download—dan harus dibayar—bisa mengubah penampakkan senjata dalam Call of Duty, sebuah usaha membuat player kerasan bermain.

Turunya penggunaan dan produksi cheat adalah akibat pergeseran dalam dunia gaming. "Sistem achievement kini menggantikan tempat cheat," jelas Amrich. Selepas bekerja di GamePro, dia pernah mengisi editor untuk senior GamesRadar.com serta majalah resmi Xbox. Microsoft meluncurkan sistem Achievement di Xbox 360 sebagai reward bagi gamer yang merampungkan beberapa tantangan dalam game. Achievement yang diperoleh akan ditotal dalam bentuk Gamerscore, skor yang bisa dipamerkan seorang player pada semua orang di jagat raya ini.

Trophy, semacam achievement dalam PlayStation, mengembangkan konsep ini lebih jauh lagi. Tiap trophy memiliki daftar pemain yang sudah mendapatkannya. Imbasnya, trophy-trophy jadi buruan karena tak banyak yang bisa mendapatkannya. Di sisi lain, Microsoft juga menambahkan fitur menarik dalam Gamescore. Untuk setiap pemain yang menggunakan piranti eksternal, Microsoft telah menyediakan label CHEATER. Label berwarna merah ini akan muncul pada Gamerscore. "Cheat bukan lagi suatu yang dipertukarkan oleh para gamer hardcore setelah sistem Achievement muncul," ujar Amrich. "Sistem ini jadi outlet kreatif tim pengembang Microsoft. Jadi, tenaga yang dulu digunakan untuk menciptakan cheat kini dikerahkan untuk membangun sistem Achievements ."

Mode Big Head GoldenEye 007

Dalam sekejap, pemain yang memiliki cheat tak lagi dianggap sebagai pemain keren, mereka tak lebih dari paria dalam dunia game. Yang kini dihormati adalah mereka yang berdarah-darah mengumpulkan trophy dan achievement. "Sebuah game yang sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang akhirnya dipasarkan, besoknya kami malah menerima email permintaan cheat untuk game itu," kenang Amrich tentang masa-masa dia bekerja di  GamePro. 

"Ironisnya,  saya tak pernah benar-benar menggunakanGame Genie," kata Anderson. "Aku ingat aku pernah merampungkan game Lemmings. Ketika game berakhir, ada empat larik kalimat yang mengatakan bahwa saya telah berusaha dengan baik. Kalimat itu biasa saja tapi setidaknya aku tahu aku sudah mati-matian menamatkan game itu. Dengan Game Genie, kamu bisa sih menamatkan game cuma ya itu, enggak ada usaha sama sekali."

Meski kini jadi ejekan, cheat tak akan pernah mati. Malah, cheat masih berharga pada game dengan gameplay yang bebas dan terbuka, Grand Theft Auto V misalnya. Jika kamu ingin membuat sebuah jalan raya di dalam game ini porak poranda, akan sangat mengasyikkan jika anda memiliki persenjataan yang tak habis-habis. Pada titik inilah, cheat masih sangat menarik.

Lebih dari itu, cheat tetap berfungsi sebagai penghubung antara pemain dan pengembang game, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh skin senjata hasil downlodan. "Gini deh, saya pikir ketika kamu menyukai sebuah game, bakal jadi hal yang menyenangkan jika kamu tahu game itu secara menyeluruh. Bersenang-bersenang dengan game dan menemukan segala rahasia di dalamnya, terasa seperti membuka pintu menuju pikiran pengembang game dan mengintip bagaimana proses penciptaan sebuah game," kata Brevik.

"Saya tidak kangen cheat sampai saya diwawancara saat ini," ujar Amrich. "Saya melihat cheat dengan cara yang berbeda sekarang. Saya kini paham peran cheat dalam membangun komunikasi antara pemain dan pengembang game. Kultur game telah memuliakan kembali game-game retro, saya tak menyangka hal ini akan terjadi. Saya berharap kode-kode cheat itu kembali muncul. Bagi pengembang game modern, penghargaan tertinggi adalah saat gamer menanggapi karya mereka dengan keusilan dan kegembiraan masa lalu."


Tagged:
Gaming
Internet
cheat
mortal kombat
Waypoint
Diablo II
Sejarah Game