serba-serbi kematian

Bagaimana Cara Mati Paling Baik dan Buruk Menurut Sains?

Kamu mungkin pernah memikirkannya, tetapi tetap tidak menyukai jawabannya.

oleh Alexandra Ossola
11 November 2018, 8:14am

Sebagian besar dari kita takut mati atau tidak suka membayangkannya. Kita akan segera mengenyahkan segala pikiran seputar kematian dari otak. Namun, kita juga perlu menyadari kalau kematian tidak bisa dihindarkan. Semua orang, bagaimana pun caranya, pasti akan meninggal suatu saat nanti. Dan tidak ada bukti ilmiah sama sekali yang menunjukkan cara mati yang harus kita hindari.

Mereka yang menyukai hal-hal berbau kematian mungkin sudah pernah memikirkan pertanyaan ini. Meninggal karena tenggelam atau terbakar hidup-hidup kedengarannya mengerikan. Kita sering memikirkan ini secara tidak langsung, ketika kita mengalami kejadian yang aneh, atau sebelum para dokter tahu mengetahui kuman. Apabila membahas kematian saat sedang nongkrong bareng teman, suasananya bisa berubah jadi canggung dan kalian segera mengalihkan pembicaraan.

Hanya saja, kematian yang menghantui kita selama ini memiliki beberapa karakteristik umum. Studi ilmiah hasilnya memang berbeda-beda, tetapi kita bisa mempelajarinya satu per satu untuk mengetahui “cara mati yang paling buruk.”

Saya sulit menerima jawabannya, dan saya rasa kamu juga tidak akan menyukainya.

1413390441290732

Eugène Delacroix. 1798-1863. Paris. La mort d'Ophélie. 1838. Munich Neue Pinakothek. Lukisan: Jean Louis Mazieres/Flickr

Sebelum membahas seluk-beluknya, ada baiknya kita mengetahui maksud “cara” mati sebenarnya. Kevin Henderson, koroner di Ontario County, New York, menjelaskan bahwa dokter atau paramedis akan menulis surat kematian ketika ada yang meninggal. Surat itu menerangkan tiga hal penting, seperti: penyebab, proses dan cara kematian. Setiap bagian ini ada unsur mengerikan, sehingga saya akan membahas penyebab kematiannya saja.

“Penyebab kematiannya bisa berupa penyakit atau cedera yang mengganggu fisiologis tubuh dan mengakibatkan kematian; misalnya, luka tembak di dada,” kata Henderson. Penyebab-penyebab inilah yang membuat kita jadi sangat ketakutan. Ini yang membedakan antara takut tenggelam dan kekurangan oksigen, kemasukan air, dan sirkulasi singkat yang bisa membunuhmu, atau kenyataan kamu tidak bisa berenang.

Memikirkan penyebab kematian sering membuat orang tertekan karena kita membayangkan rasa sakit yang mungkin kita alami saat meninggal nanti. Rasa sakit secara umum diartikan sebagai “perasaan tidak nyaman” dalam tubuh yang sifatnya subjektif, tetapi bisa diperburuk oleh keadaan.

1413390526144463

Penggal kepala dianggap sebagai cara yang baik mematikan orang karena prosesnya cepat. Gambar: Wikimedia

“Konteks sangat penting ketika memikirkan rasa sakit,” kata Randy Curtis, direktur University of Washington Palliative Care Center of Excellence di Seattle. “Contohnya melahirkan. Nyerinya parah, tapi kamu tahu sakitnya hanya sementara. Kamu tahu kenapa bisa kesakitan, dan melahirkan adalah momen paling ditunggu-tunggu. Perempuan dapat menoleransi rasa sakit yang berlebihan dalam konteks ini. Lain ceritanya kalau mereka merasakan sakit karena kanker yang bisa memperpendek usia dan memperburuk kondisi kesehatan.”

Rasa sakit memang subjektif, tapi masih bisa dikategorikan secara objektif. Hal ini bisa membantu dokter menentukan cara penanganannya. Mereka mempertimbangkan sudah berapa lama kamu mengalami rasa sakitnya: akut (jangka pendek) atau kronis (jangka panjang). Menurut Curtis, keduanya sama-sama buruk. Akan tetapi, nyeri juga berbeda rasanya tergantung penyebabnya. Nyeri nosiseptif atau somatik adalah sensasi saraf sebagai akibat langsung dari cedera, sedangkan nyeri neuropatik tidak jelas penyebabnya dan bisa termasuk nyeri dari hal-hal seperti alkoholisme, sindrom tungkai hantu, atau sklerosis ganda.

Tak banyak orang yang memahami kekuatan rasa sakit seperti jaksa pengadilan saat ini yang suka membuat hukuman layaknya kita hidup di “zaman jahiliah”. Hukuman yang mengerikan ini mulai menyebar sejak 1520, setelah Reformasi di Eropa Barat, menurut Larissa Tracy, dosen sastra abad pertengahan di Longwood University di Farmville, Virginia.

Metode hukuman penyiksaan tidak sering digunakan, ujar Tracy, dan hanya dilakukan pada kriminal-kriminal terburuk: pengkhianat, bidat, dan pembunuh. Kesamaan metode-metode tersebut adalah bahwa mereka sangat menyakitkan dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuannya.

Misalnya hukuman gantung, metode hukuman mati yang paling sering digunakan pada abad pertengahan. “Ini bukan cara menggantung yang canggih—mereka menarik kriminalnya ke atas sampai dia tercekik, yang memakan waktu enam sampai sepuluh menit,” kata Tracy.

Metode-metode sadis lainnya termasuk digantung, diseret, dan dibelah empat, yang dilakukan pada pengkhianat terburuk di Inggris modern awal. Seorang kriminal digantung hingga hampir mati, lalu talinya dipotong. Setelah itu, dia dikebiri dan ususnya ditarik dari badannya. Biasanya ini dilakukan dengan kail atau alat tajam. Pada tahap terakhir, dia dipenggal dan tubuhnya dibelah empat (beberapa versi metode penyiksaan ini menggunakan kuda untuk mencabik si pengkhianat, tapi menurut Tracy tidak ada banyak bukti bahwa metode ini efektif) dan sisa tubuh mereka dipamerkan.

Satu lagi metode yang cukup kejam adalah pemecahan di roda, yang dilakukan pada kriminal-kriminal terburuk di Eropa dan budak yang memberontak di AS. Kriminal tersebut diikat pada roda kayu besar, lalu dipukul hingga semua tulangnya patah. Ada penyaksi yang mengklaim bahwa korban hukuman ini bisa bertahan hidup selama tiga hari dalam keadaan ini.

Menurut Tracy, sekarang kita lebih sering menggunakan hukuman mati, dan metode-metode yang kita anggap “mengasihani” nyatanya tidak begitu. Penelitian menunjukkan bahwa ramuan kimia yang digunakan untuk suntikan mematikan tidak memiliki sifat anestetik yang seharusnya. Dan ini dianggap sebagai metode yang lebih baik daripada kursi elektrik.

“Ribuan volt dilepaskan ke tubuh manusia, otak mereka matang, api meletus pada sebagian kulitnya,” kata Tracy sembari merinding. “Dan mereka masih hidup sepanjang proses itu.”

Meskipun metode-metode ini sangat menyakitkan, mereka ( biasanya) hanya memakan waktu beberapa menit. Rata-rata, orang Amerika sekarang lebih mungkin mati karena penyakit yang membutuh jauh lebih banyak waktu untuk mematikanmu. Penyebab kematian utama di AS adalah penyakit jantung dan kanker, yang dua-duanya memperhitungkan 63 persen kematian di AS pada 2011. Orang yang menderita penyakit ini dan penyakit lain memang hidup lebih lama dibandingkan nenek moyang mereka, tetapi momen-momen terakhir cenderung lebih menyakitkan dan berlarut-larut.

“Banyak orang percaya bahwa mereka akan tahu ketika mereka menginjak hari-hari, minggu-minggu, atau bulan-bulan terakhir mereka, tapi nyatanya sebagian besar dari kita mendekati akhir kehidupan kita secara bertahap,” kata Joanne Lynn, dokter dan spesialis perawatan paliatif. Kita pura-pura setiap orang akan mati karena serangan jantung malam-malam, tapi realitanya tidak begitu.

Semakin dekat hari terakhir kita, banyak orang harus menghidupi ketakutan mati mereka. “Kemerosotan perlahan itu sulit, jadi orang menjadi lebih takut kehilangan lebih banyak,” kata Lynn. “Mereka takut akan penderitaan, menjadi miskin, tidak memiliki akses pada makanan. Dan tentunya ada ketakutan kematian.”

Mengalami ketakutan seperti ini tidak jarang. Bagi orang yang hidup sampai umur 85 atau 90, ketakutan mati mungkin tidak terlalu menyolok, karena sebagian banyak teman mereka kemungkinan juga sudah meninggal, jadi biasanya kematian itu “menggelisahkan tapi diharapkan,” ungkap Lynn.

Jadi kabar buruknya adalah kalau kamu hidup sekarang, kematianmu kemungkinan akan berlarut-larut dan mengerikan. Kabar baiknya adalah bahwa sekarang kita dapat mengatasi rasa sakit lebih efektif daripada abad pertengahan. Tergantung sumber rasa sakit tersebut, kamu bisa diberi non-steroid seperti Tylenol atau opioid seperti morfin. Penilaian rasa sakit pasien sangat penting.

“Tahap pertama sebelum merawat rasa sakit adalah melihat apa yang menyebabkannya untuk mencari tahu apakah ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyebabnya,” ucap Washington Curtis. Contohnya, kanker yang telah bermetastasis dan menyebar ke tulang bisa menimbulkan rasa sakit ekstrem.

“Beberapa jenis kanker sangat responsif terhadap radiasi, jadi rasa sakitnya bisa berkurang,” kata Curtis. “Tapi ada juga jenis kanker yang tidak sensitif terhadap radiasi. Jika dokter menganjurkan terlalu banyak radiasi, radiasi tersebut bisa menimbulkan masalah—kebakaran dan luka yang menimbulkan rasa sakit yang lebih banyak.”

1413390633157768

Kemungkinan besar kamu akan mati di tempat seperti ini. Gambar: Dan Cox/Flickr

Rasa sakit, menurut Curtis, merupakan salah satu dari banyak efek samping yang dapat menimbulkan kecemasan pada pasien pada akhir kehidupan mereka. “Rasa mual, muntah, kelelahan, depresi, kecemasan [dan] sesak nafas bisa sangat mengerikan dan melemahkan,” kata Curtis. Hal ini mengusulkan adanya sesuatu yang lebih dalam: ketakutan bahwa orang lain tidak akan memahami rasa sakit mereka hingga mereka terpaksa menderita sendirian.

Para dokter bisa menjelaskan konsep ini lebih baik karena sifat pekerjaan mereka. “Yang menakuti saya adalah rasa sakit parah dan tidak mempunyai akses pada dokter yang menanggapiku dengan serius dan merawatku secara efektif.” kata Curtis.

Lynn juga takut akan perawatan yang tidak memadai. “Aku menginginkan sebuah sistem yang bisa diandalkan, dan agar semua orang responsif terhadap preferensi saya dan jujur mengenai prospek saya,” ucapnya.

Setelah berbicara dengan para ahli, rupanya cara mati yang secara ilmiah paling buruk adalah cara kita semua kemungkinan akan mati: di sebuah kamar di rumah sakit setelah terjangkit penyakit. Mungkin kamu akan tahu itulah akhir kehidupanmu, mungkin tidak. Dan mungkin kamu akan mempunyai dokter baik yang bisa merawat rasa sakitmu dan anggota keluarga yang menghormati keinginanmu, mungkin tidak.

Tetapi tidak segitu eksistensial. Apakah seseorang merupakan narapidana yang dihukum mati dengan tusukan panas ataupun warga yang tubuhnya sedang diserang kanker, keadaan psikologisnya dapat mengubah arti “terburuk” baginya. Peneliti tentunya akan menemukan cara yang lebih canggih untuk merawat dan memahami kesakitan, dan bahkan mungkin kematian. Tetapi kondisi psikologis beraneka segi dan dikontrol oleh individu.

Update 10/20: Versi artikel ini yang sebelumnya menyatakan proses penarikan usus dilakukan dengan alat penusuk panas. Ini dianggap sebagai hukuman yang hanya dilakukan pada Raja Edward II. Artikel ini juga tidak menyebutkan bahwa bidat juga dihukum seperti pengkhianat dan pembunuh.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard