Iklan
indonesia

Google Trends Beri Bukti Kalau Naksir Sepupu Pas Kumpul Lebaran Itu Enggak Aneh Kok

Google Trends merekam fakta unik selama momen silaturahmi Idul Fitri tempo hari: banyak orang Indonesia browsing info boleh tidaknya menikahi sepupu sendiri. Namun, secara medis emangnya aman?

oleh Ikhwan Hastanto
11 Juni 2019, 11:40am

Foto ilustrasi via Shutterstock.

Waktu masih SMP, saya pernah naksir sepupu jauh yang berprofesi model. Sumpah, dia cakep banget. Sejak suka sama dia, saya jadi sering main ke rumahnya. Hasrat itu kemudian hari bikin saya merasa "kotor". Tampaknya sejak kecil saya paham mencintai anak dari kakak atau adik orang tua kita cukup terlarang, sebelum ajaran budaya menegaskan kalau hasrat itu lumayan tabu seiring saya beranjak dewasa.

Statistik yang viral sejak akhir pekan lalu di medsos, menyadarkan betapa yang saya alami wajar belaka. Lima tahun terakhir Google Trends mendeteksi lonjakan pencarian kata kunci "menikah dengan sepupu" saban momen Lebaran. Persentasenya tidak main-main, di kisaran 100-200 persen dibanding hari-hari lain.

Sebagai mantan penyuka sepupu sendiri, menurut saya silaturahmi Lebaran yang jadi reuni keluarga setahun sekali memang membuat perubahan fisik seseorang bertambah ekstrem. Sepupu yang kayaknya beberapa tahun lalu masih suka lari-lari dan merengek minta es krim Wall’s pas diajak main om dan tante, mendadak berubah wujud pas halalbihalal jadi cowok/cewek bening dengan makeup on point.

Data yang diunggah akun IlmiBuni itu menyodorkan informasi menarik lainnya. Lonjakan pencarian kata kunci "menikah dengan sepupu" diikuti dengan meningkatnya pencarian kata kunci "hukum menikah dengan sepupu" dan "bolehkah menikah dengan sepupu." Rupanya, setelah sadar ada sepupu mereka yang rupawan, imajinasi lanjutannya adalah soal pernikahan.

Lalu apa kata hukum Islam soal menikahi sepupu?

Kalau merujuk ke Al Quran, selamat ya, sepupu tidak termasuk daftar mahram—istilah untuk saudara sedarah yang terlarang dinikahi. Justru ortunya sepupu, om dan tantemu, yang tidak boleh dinikahi.

Pernikahan dengan sepupu juga tidak termasuk inses. Dalam hukum positif Indonesia, yang dianggap inses adalah pernikahan antara garis keturunan lurus ke atas, ke bawah, serta menyamping. Artinya itu meliputi om, tante, orang tuanya om dan tante; adik atau kakak dari istri, bibi atau keponakan istri (kalau berniat menikah lebih dari satu kali); dan dengan saudara sepersusuan.

Melanggar larangan menikah dengan orang-orang yang disebut tadi, di Indonesia konsekuensinya enggak sampai dipenjara sih. Namun pernikahan tersebut bisa dibatalkan oleh negara.

Sementara dari sudut pandang kesehatan, Teguh Haryo Sasongko—ahli genetika molekuler—pernah menulis opini di Detik. Dia bilang pernikahan antarsepupu aman-aman saja, selama DNA yang dibawa pasangan tidak rusak. Contohnya bisa kita lihat dari pemilik akun ini yang sehat walafiat walaupun orangtuanya masih sepupuan.

Begini, DNA rusak yang diturunkan orang tua tidak serta-merta membuat seorang manusia sakit-sakitan. DNA rusak turunan ini hanya membuat sang anak menjadi pembawa kerusakan gen dan tidak akan berdampak apapun ketika menikahi seseorang dengan DNA yang berbeda dan sehat.

Hanya saja, ketika sepasang suami istri memiliki darah keturunan yang sama (dalam konteks pernikahan sepupu, mereka memiliki satu kakek), apabila sang kakek adalah carrier maka bisa jadi suami istri ini memiliki DNA yang rusak pula. Reproduksi antara keduanya akan membuat kemungkinan kelahiran anak cacat sangat besar.

Charles Darwin adalah contoh terkenal. Sang pencetus teori evolusi itu harus menerima kenyataan pahit usai menikahi sepupunya sendiri, Emma Wedgewood. Dari 10 anak yang dilahirkan, tiga anak meninggal sebelum umur 10 tahun akibat TBC dan demam berdarah, satu anak meninggal di umur 23 tahun karena penyakit tidak diketahui, serta tiga dari enam anaknya yang bertahan hidup tidak bisa menghasilkan keturunan. Peneliti menyebut kasus Darwin sebagai awal mula pembuktian bahaya kesehatan menikah dengan keluarga dekat.

Intinya, naksir sepupu yang lama tidak kita temui merupakan hal lumrah, seperti yang juga saya rasakan saat SMP dulu. Namun, apabila memang kamu sudah mantab banget menikahi sepupu (dan doi juga mau ya), tentu beberapa langkah medis baiknya ditempuh untuk kebahagiaan bersama.

Teguh mengimbau agar kalian memastikan dulu, di keturunan keluarga besar ada atau tidak yang punya DNA rusak/penyakit turunan. Apabila ada, lakukan tes yang sama terhadap diri sendiri, sebelum mencari tahu apakah Anda dan pasangan adalah carrier. Tes bisa dilakukan dengan ongkos Rp8 juta sampai Rp45 juta.

Kalau enggak punya uang, cara Albert Einstein bisa dicontoh. Fisikawan legendaris itu menikahi sepupunya sendiri, Elsa Löwenthal. Albert dan Elsa memutuskan main aman, dengan tidak memiliki anak. Kalau kamu tetap ingin punya anak, adopsi bisa jadi solusi, hitung-hitung membantu dunia menekan angka pertumbuhan penduduk.

Pokoknya, segala sesuatu harus dicek dulu sebelum menikahi sepupu. Jangan kayak pasangan di Inggris ini. Sudah terlanjur menikah, mereka baru sadar kalau sebenarnya saudara kembar. Berabe jadinya kan...