Luar Angkasa

Jeff Bezos Adalah Jenis Kapitalis Baru yang Bermimpi Tak Lagi Hidup di Bumi

Bezos mengakui model pertumbuhan ekonomi tanpa batas yang membuatnya kaya raya tak bisa ditopang planet kita. Solusinya: kita diajak tinggal di luar angkasa.

oleh Caroline Haskins
08 Juni 2019, 7:23am

Sumber foto: Mark Wilson/Getty Images 

Pada acara eksklusif yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat, manusia terkaya Bumi Jeff Bezos—kekayaan bersihnya mencapai US$157 miliar (setara Rp 2.258 triliun)—memberi pidato menggegerkan. Dia menawarkan visi membangun "masyarakat masa depan" dalam wujud miliaran manusia terbiasa tinggal di luar angkasa.

Bezos menggelar acara ini sekaligus untuk memperkenalkan pesawat ulang alik menuju bulan yang dikelola anak perusahaannya, Blue Origin. Detail-detail terkait pesawat ini tidak sepenting visi Bezos yang terasa sangat utopis.

Bezos mempersembahkan versi masa depan yang tidak didasarkan pada kenyataan kapitalisme masa kini, perubahan iklim, dan hubungan antara dua hal tersebut. Bezos mengakui pertumbuhan ekonomi yang tak terkekang—model ekonomi yang menjadikannya orang terkaya di dunia—tidak sesuai dengan tingkat kelayakan huni Planet Bumi. Berbeda dari kapitalis "insyaf" lain yang biasanya mengumumkan investasi dalam bidang energi terbarukan atau infrastruktur publik ketika peduli sama lingkungan, Bezos justru mengusulkan ide radikal: sekalian saja kita pindah dari bumi.

Bezos bilang pembangunan “koloni” angkasa merupakan solusi untuk masalah mendasar kemanusiaan. Mulai dari ketersediaan energi, serta mengelola pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Koloni angkasa, kata Bezos, merupakan cara meningkatkan populasi manusia, sekaligus mengimbangi dampak industri dan pertanian pada Bumi. Strategi ini, kata Bezos, bisa mengubah Bumi menjadi firdaus: bukan lagi tempat tinggal kita, melainkan sekadar tempat untuk berlibur dan belajar. Jadi semacam taman safarinya kaum elit yang dikunjungi sebulan sekali.

"Kita masih bisa menikmati bumi kok, tapi caranya kita tinggal di koloni luar angkasa yang dekat dari Bumi," kata Bezos. "Dengan begitu, kita bisa melestarikan planet kita yang tak tergantikan. Kita harus menyelamatkan Bumi dan masa depan untuk cucu kita.”

Dia keliru.

Menurut Bezos, logika kapitalisme yang mendukung pertumbuhan tanpa batas tetap harus didukung, tapi lokasinya diubah ke luar angkasa. Dia bilang, kapitalisme tanpa batas tetap cara terbaik menyelamatkan bumi dari kemiskinan dan kekacauan lingkungan (Bezos tidak pernah menyebut “perubahan iklim” atau “pemanasan global,” hanya “polusi.”) Persoalannya, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang lahir beriringan dalam sejarah bersama kolonialisme, perbudakan manusia, eksploitasi buruh, dan ekstraksi sumber daya bumi sebanyak mungkin. Kapitalisme bukan solusi terbaik untuk masalah-masalah yang dijelaskan Bezos. Justru kapitalisme adalah masalahnya.

Lisa Lowe, Guru Besar Yale University yang berpengalaman di bidang kajian sejarah kolonial dan kapitalisme, menilai cara pandang Bezos soal kapitalisme amat naif. Ide turunan liberalisme seperti pro-kapitalisme, keadilan upah tenaga kerja, dan perdagangan bebas, selalu bergantung pada fakta akan ada kalangan tertentu yang tidak dapat mengakses semua hak secara mereta. Terutama kaum etnis minoritas.

Perubahan siste ekonomi dari merkantilisme menjadi kapitalisme pada abad ke-18, ditopang oleh pertumbuhan ekonomi bangsa-bangsa Barat setelah punya jajahan, terutama di Afrika dan Asia. Artinya, sejak dulu, hak-hak istimewa yang dibanggakan pendukung kapitalisme selalu bersyarat.

"Kaum liberal mendukung sistem yang memastikan selalu ada kelompok yang dirugikan atau diisap haknya. Pola pikir mereka mendukung pemberian hak istimewa kepada kalangan-kalangan tertentu," tulis Lowe, "dan memperlakukan yang lain sebagai kelas buruh yang layak dibuang dan dikorbankan."

Eksploitasi manusia itu diperparah lagi dengan maraknya eksploitasi Bumi selama satu abad terakhir. Dalam bukunya This Changes Everything, Naomi Klein menyebut logika kapitalisme masa kini sebagai “extraktivisme,” yaitu pola pikir pokoknya mendorong kapitalisme. Pendukungnya menganggap manusia sebagai penguasa bumi, dan sebab itu, manusia boleh mengeksploitasinya.

"Pandangan ekstrativisme bertolak belakang dengan peran riil manusia di bumi. Seharusnya kita tak sekadar memanfaatkan sumber daya bumi, tetapi juga memulihkannya agar manusia dapat terus bertahan hidup," tulis Klein. "Kerusakan Bumi ini sekaligus melibatkan eksploitasi brutal tenaga kerja manusia, semuanya memicu beban sosial yang menimbulkan segregasi dalam masyarakat."

Klein menjelaskan extraktivisme bergantung pada pembagian “zona korban” yang dianggap pemimpin kapitalis sebagai daerah layak dieksploitasi. Daerah-daerah ini “dihabiskan, diracuni, atau dihancurkan” demi melipatgandakan keuntungan korporat.

"Zona korban" ini adalah daerah-daerah yang pernah dijajah, dieksploitasi, dan paling rentan terhadap perubahan iklim. Contohnya Mozambique, yang sering terkena topan. Contoh lainnya Jakarta, yang perlahan tenggelam dan sering kebanjiran, sehingga warganya terlantar. Atau Myanmar, negara dengan riwayat genosida dan perang sipil, yang baru-baru ini mengalami tanah longsor menewaskan 54 orang.

Fenomena-fenomena ini bukan "bencana alam", melainkan bencana yang disebabkan perubahan iklim di bumi. Berbagai faktor itu membuat wilayah tersebut menurut pasar layak dikorbankan dan dihancurkan. Inilah contoh dampak perubahan iklim sekaligus kolonialisme.

Bezos bersikeras miliaran orang yang hidup di luar angkasa sebagai solusi terbaik. Dia membayangkan pesawat ulang alik itu akan dilengkapi transportasi umum, lahan pertanian, dan tempat hiburan. Dia tidak membahas sumber daya apa saja yang harus dieksploitasi untuk mencapai titik itu, atau tenaga kerja kelas buruh yang akan dibutuhkan demi menciptakan visi kemewahan versinya. Bezos hanya mengidamkan dunia ala fiksi ilmiah futuristik. Dia tidak mendambakan kesejahteraan umat manusia.

Bezos's version of a space utopia.
Sumber gambar: YouTube/Blue Origin

Bezos dan para "realis" yang ambigu mrespons perubahan iklim mempunyai logika yang sama. Menurut mereka, redistribusi ekonomi (seperti cita-cita kaum sosialis) pasti kalah realistis dibandingkan geo-engineering,

Lebih progresif memajaki orang superkaya dan menyediakan asuransi kesehatan universal, bagi manusia macam Bezos kalah keren dibanding menghabiskan miliaran dolar untuk membangun infrastruktur mengirim manusia dari bumi agar bisa tinggal di luar angkasa.

Tak heran, luar angkasa akan menjadi kawasan industri yang diincar perusahaan swasta dan para pengusaha kakap dunia.

"Pengelolaan luar angkasa akan jadi industri," kata Bezos. "Akan ada ribuan perusahaan yang akan melakukan bisnis macam ini di masa depan. Sebuah sistem kewirausahaan tanpa batas. Orang-orang kreatif penuh ide baru tentang cara memanfaatkan luar angkasa."

Entitas-entitas swasta seperti Amazon, dalam logika Bezos, harus kita percaya akan bisa bertanggung jawab mengelola angkasa dan memperlakukan karyawannya secara etis. Namun, bagaimana mungkin Bezos bisa memimpin masyarakat luar angkasa kelak, sementara dia belum becus memimpin perusahaannya secara etis?

Amazon sedang menghadapi gugatan hukum dari karyawan perempuan Muslim dan pekerja hamil. Amazon terbukti mengeksploitasi supirnya dan pekerja gudangnya. Tetap saja, Amazon menikmati subsidi federal senilai miliaran dolar untuk membangun fasilitas baru.

Membangun masa depan angkasa, menurut Bezos, mengubah tujuan bumi: menjadi destinasi liburan dan pendidikan. Tentu, itu hanya akan bisa dinikmati kaum elit.

"Lambat laun bumi akan dibagikan dan dijadikan tempat industri ringan," kata Bezos. "Bumi akan menjadi tempat indah dihuni, tempat indah untuk dikunjungi, tempat indah untuk berkuliah, dan tempat industri ringan."

Jujur saja, versi masa depan ini takkan pernah terealisasi. Bezos menggunakan strategi yang sering dimanfaatkan Elon Musk. Mereka adalah jenis kapitalis baru yang mengusulkan masa depan angkasa demi menarik perhatian kita dari masalah-masalah riil di bumi.

Bezos menampilkan diri sebagai jenius pembaharu, lengkap dengan semangat dan keberanian yang diperlukan untuk memajukan kemanusiaan. Tetapi visi masa depannya tidak realistis.

“Apakah kita ingin tetap statis atau pertumbuhan dan dinamisme?” tanya Bezos. “Keputusan ini mudah. Kita tahu apa yang kita inginkan.”

Masalahnya, Bezos mengusulkan masa depan yang dikendalikan kapitalis, tanpa masukan dari orang lain, tanpa memikirkan dampak negatif yang akan terjadi.

Proposal kebijakan redistributif jauh lebih masuk akal dibanding visi muluk-muluk Bezos. Sebaiknya manusia berjuang agar semua negara menyediakan subsidi yang mendukung energi terbarukan, berinvestasi dalam transportasi umum dan layanan sosial. Versi masa depan ini berfokus pada keadilan dan kemanusiaan. Kebijakan ini sesuai dengan kenyataan bumi, bukan fiksi ilmiah.

Jangan tertipu versi masa depan Jeff Bezos. Bumi kita dan penghuninya layak mendapatkan solusi yang lebih baik. Sosialisme demokratis jawabannya.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard