Budaya Barbar

Begini Rasanya Saat Saudara Perempuanmu Dibunuh Hanya Karena 'Bikin Malu' Keluarga

Banaz Mahmod dibunuh ayah dan pamannya, ketika berusaha cerai akibat KDRT suami. Membunuh 'demi kehormatan' masih jadi tradisi keluarga asal Asia Selatan dan Timur Tengah.

oleh Sophie Brown
30 April 2019, 11:46am

Ilustrasi oleh Calum Heath 

Sebelum Banaz Mahmod dibunuh keluarganya sendiri pada 2006 lalu, dia sudah lima kali meminta polisi menyelamatkannya. Di ruang interogasi, perempuan warga London yang masih 20 tahun itu menceritakan KDRT yang dilakukan sang suami, serta ancaman pembunuhan yang berulang kali dia terima. Mahmod dilarikan ke rumah sakit, setelah ayahnya sendiri mencoba membunuhnya. Di rumah sakit, dia merekam video dari ponsel pacarnya untuk menyebutkan nama-nama pelaku.

Dia tewas akibat tradisi honor killing beberapa minggu kemudian. Keluarganya tega melakukan itu karena menganggap Mahmod telah mencoreng nama baik mereka. Semuanya bermula dari perjodohan yang diatur orang tuanya. Dia dipaksa menikahi lelaki yang tidak dia sukai. Mahmod akhirnya meninggalkan pernikahan itu, demi berpacaran dengan teman dekatnya, Rahmat Sulemani.

Mirisnya, dia bukan orang terakhir yang meninggal dengan cara itu. Raneem Oudeh dan ibunya Khaola Saleem ditemukan tergeletak tak bernyawa pada Agustus 2018 di kediaman Saleem di Solihull, West Midlands. Dua jam sebelum serangan, Oudeh sudah lima kali menghubungi polisi. Dia ditikam sampai mati ketika sedang menelepon nomor layanan darurat 999.

Kedua perempuan tersebut dibunuh oleh Janbaz Tarin, mantan suami Oudeh. Tarin tidak terima dengan sikap sang istri yang berusaha meninggalkannya sejak empat bulan sebelumnya. Padahal, Oudeh melakukan itu karena mendapati suaminya sudah punya istri dan tiga anak di Afghanistan.

Dalam kedua kasus di atas, kita bisa melihat kalau pembunuhannya sudah direncanakan. Para korban sadar apa yang akan terjadi, dan polisi mengetahui masalahnya dari laporan mereka. Ketakutan mereka didokumentasikan dengan baik. Rekaman interogasi pertama Mahmod dan video di rumah sakit itu pun diunggah ke YouTube sebagai bagian dari film dokumenter Banaz: A Love Story.

Ketika jasad Mahmod ditemukan, video-video ini menjadi petunjuk bagi polisi menangkap ayah dan pamannya sebagai otak pembunuhan, serta lima laki-laki lain yang terlibat dalam kematian Mahmod.

"Saya tidak bisa berhenti memikirkan betapa paniknya dia setelah menonton video itu," kata Payzee, adik perempuan Mahmod. Dia tidak pernah berbicara secara terbuka tentang kasus tragis Mahmod sebelumnya pada media. Pada saat itu, Payzee dan keluarga tidak mau mengomentari kasus tersebut. Tapi sekarang, dia bersedia mengungkapkan sudut pandangnya.

"Banaz sangat yakin akan bahaya yang dia hadapi, tapi kenapa polisi tidak menyadarinya? Saya saja bisa melihat betapa ketakutannya dia di video itu," ujarnya saat diwawancarai Broadly. "Saya memang tidak terlatih dan bertugas melindungi orang lain, tapi saya takkan pernah membiarkan orang dalam bahaya seperti Banaz. Bagaimana ini bisa terjadi?"

Saat diinterogasi polisi, Banaz mengatakan ada orang yang mengikutinya. "Itulah alasan utama saya melapor ke polisi," tuturnya dalam rekaman yang kini bisa diakses publik. "Saya ingin mereka tahu siapa pelakunya jika seandainya hal buruk menimpaku."

"Setelah membuat laporan ini, apa yang akan kalian lakukan untukku?"

Pertanyaan terakhir Mahmod sangat menghantui siapapun. Bukan karena apa yang terjadi setelahnya saja, tetapi juga karena peristiwa serupa terjadi lagi pada Oudeh.

Banaz Mahmod
Mendiang Banaz Mahmod saat diinterogasi polisi. Cuplikan dari dokumenter Banaz: A Love Story

Butuh tiga bulan bagi polisi serius menindaklanjuti laporan Mahmod. Alhasil, dia keburu tewas, dua minggu setelah menandatangani laporannya ke aparat.

"Saya harap polisi menanggapinya dengan serius. Kasus ini tidak main-main dan terjadi setiap hari di Inggris. Praktik tersebut sangat bertentangan dengan kehidupan modern."

Kematian tragis Mahmod terjadi lebih dari sepuluh tahun lalu, tetapi kenapa perempuan masih sangat rentan dibunuh laki-laki—terutama ketika mereka sudah meminta bantuan pihak berwajib?

Statistik terbaru dari penyelidikan independen yang dilakukan Her Majesty’s Inspectorate of Constabulary and Fire & Rescue Services (HMICFRS) menemukan dari 225 tuntutan terkait kekerasan atas nama kehormatan keluarga dilaporkan ke polisi Inggris sepanjang kurun 2014-2015, hanya 129 kasus yang berujung pada peradilan.

Kebanyakan kasus macam itu gagal diproses lebih lanjut karena korban mencabut tuntutan mereka. Inilah alasan mengapa 26 dari 96 kasus yang ada tidak menghasilkan hukuman kepada tersangka. Pasalnya, para korban enggan memberikan bukti di pengadilan. Mereka juga tak jarang menolak atau menarik pengaduan. Pada kesempatan keempat belas, korban tidak menghadiri pengadilan.

Honor killing alias pembunuhan demi menjaga kehormatan keluarga, adalah topik tabu di dunia Barat. Karena itu, Payzee berpendapat kurangnya pemahaman tentang praktik ini menciptakan kesenjangan budaya antara komunitas Muslim Kurdi—dalam kasus saudara perempuannya—dengan polisi di Inggris. Akibatnya, perempuan jadi takut untuk melaporkan kejahatan atau menuntut pelaku.

"Pihak kepolisian tidak memahami dinamika keluarga [dalam budaya Islam]," katanya. "Mereka tak tahu sama sekali tentang hubungan yang rumit, dan seberapa penting ikatan komunitas. Saya tidak bermaksud mengatakan mereka tidak mau memahami. Hanya saja mereka tidak akan pernah bisa membantu korban apabila mereka tidak mempelajari tanda-tanda bahayanya."

"Mereka akan terus menyaksikan perempuan dibunuh laki-laki. Saya rasa ini sudah cukup. Sudah terlalu banyak perempuan yang tewas karenanya," lanjut Payzee.

Dr. Roxanne Kahn mengamini pendapat Payzee. Direktur Yayasan HARM (Honour Abuse Research Matrix) menganggap kesadaran adalah faktor utama dalam memastikan polisi memperlakukan perempuan dengan serius. HARM adalah jaringan internasional yang beranggotakan lebih dari 200 ahli dan peneliti yang bekerja sama dalam memerangi kekerasan berbasis kehormatan, pembunuhan, pernikahan paksa, dan praktik sunat perempuan.


Tonton dokumenter VICE tentang kelompok pembela hak lelaki di India yang gigih menolak feminisme:


Menurut Kahn, pemerintah Inggris telah "dibuat kewalahan oleh pernikahan paksa." Mereka secara khusus membuat undang-undang yang mengkriminalisasi jenis pernikahan ini. Sayangnya, masalah kekerasan atas nama kehormatan tidak juga diselesaikan. Pada akhirnya, LSM dan badan amal harus menggantikan peran pemerintah dalam meningkatkan kesadaran publik dan mendukung mereka yang berisiko atau sudah menjadi korban.

"Kebijakan dan strategi pencegahan di tingkat nasional masih kurang, dan ini berdampak negatif pada kesadaran badan publik dan pemahaman tentang kekerasan berbasis kehormatan,” kata Kahn kepada Broadly. "Situasi ini jelas membahayakan korban, terutama mereka yang jadi korban kejahatan terorganisir seperti dalam kasus Banaz."

"Kematian saudara perempuanku seharusnya jadi yang terakhir."

Jawabannya? “Pemerintah Inggris harus bertanggung jawab atas lambatnya perkembangan kebijakan tentang kekerasan berbasis kehormatan,” lanjutnya. “Mereka harus memprioritaskan pelatihan yang lebih baik bagi semua pekerja sektor publik dan instansi pemerintah agar dapat memahaminya. Sekolah juga wajib mendidik anak muridnya tentang kekerasan ini dan pernikahan paksa. Selain itu, lebih banyak dana yang harus dialokasikan kepada organisasi spesialis untuk mempromosikan jasanya dan melibatkan masyarakat lokal dalam kampanye yang memperkenalkan programnya.”

Payzee setuju pelatihan bagi aparat cukup penting, tetapi dia menambahkan bahwa reformasi dimulai dari sikap polisi dan sesama masyarakat. Dia ingin meningkatkan kesadaran dan mengajarkan publik tentang masih maraknya praktik kekerasan berbasis kehormatan. "Kita harus berbuat lebih baik," ujarnya. "Kita memerlukan pendidikan di sekolah, agar anak perempuan yang tumbuh dalam budaya mendukung kekerasan macam itu bisa terhindar dari nasib buruk."

"Kita tidak bisa hanya menunggu sampai ada kasus lain. Kita harus mendengarkan perempuan dan mendukung mereka setiap saat. Tak ada perempuan yang nekat berpura-pura minta bantuan polisi. Kematian saudara perempuanku seharusnya menjadi yang terakhir."

Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepolisian West Midlands, seorang juru bicara mengatakan bahwa Oudeh "sudah beberapa kali" melaporkan Tarin. Polisi West Midland saat ini sedang diselidiki oleh Independent Office for Police Conduct (IOPC) atas kontak sebelumnya dengan keluarga.

Kepolisian Metropolitan, saat dikonfirmasi Broadly, mengaku tidak bisa menanggapi kasus Mahmod secara khusus. Tetapi mereka berkomitmen akan lebih efektif menangani dan merespons kekerasan berbasis kehormatan sebagai masalah prioritas. Juru bicara kepolisian mengaku, "setiap insiden yang dilaporkan ditanggapi dengan serius, bahkan meskipun kasusnya hanya memiliki sedikit informasi atau korban tidak melaporkannya sendiri."

Payzee sedang nge-gym ketika dia menonton berita pembunuhan Oudeh dan Saleem di TV. "Ketika melihat kata pembunuhan dan dua perempuan berhijab di layar kaca, saya membatin 'ada lagi?' Semua kasusnya terlalu mirip," tuturnya.

Menurutnya polisi tidak mampu melindungi para perempuan yang berisiko, jika mengingat kegagalan mereka dalam memahami ketakutan Banaz dan Raneem. Dia bilang Mahmod sendiri lah yang menyelesaikan kasusnya dengan menulis catatan, merekam video dan membuat pernyataan resmi.

Payzee bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi jika seandainya saudara perempuannya tidak melapor ke polisi. Apakah jasadnya bisa ditemukan? Apakah kasusnya akan dibawa ke pengadilan?

Payzee mengatakan tak tahu bagaimana dia bisa bertahan selama itu tanpa Mahmod. "Kedengarannya mungkin klise," ujarnya. "Saya rasa semua orang akan ngomong ini jika kehilangan orang terdekat, tapi saya bersungguh-sungguh saat mengatakan ini. Banaz sangat baik. Dia selalu mengutamakan orang lain. Dia hanya ingin melihat orang-orang bahagia. Dia akan melakukan apapun untukmu, meskipun kamu baru mengenalnya."

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly