Iklan
20 Tahun Reformasi

'Psycho ID' Adalah Album Paling Sukses Menangkap Kekacauan Momen Reformasi 98

LP ketiga PAS ini jeli merespons semangat zaman yang penuh kekacauan jelang lengsernya kediktatoran Suharto. Kami mewawancarai tiga personelnya untuk memahami proses kelahiran 'Psycho ID'.

oleh Abdul Manan Rasudi
22 Mei 2018, 10:37am

Kolase foto oleh Dicho Rivan.

Saya punya jawaban jika ada yang tanya album apa yang paling lantang merespons momentum reformasi 20 tahun lalu. Kebanyakan peminat musik barangkali mengambil langkah gampang—setelah mengobrak-abrik wikipedia barang beberapa saat—dengan menjawab Kantata Samsara. Itu album kedua supergrup Kantata Takwa yang diawaki Donny Fattah, Setiawan Jody, Iwan Fals, sampai mendiang penyair besar W.S Rendra.

Pilihan ini tak sepenuhnya salah. Lirik lagu-lagu di Kantata Samsara tajam, merespons reformasi (ya iyalah, ada Rendra dan Iwan Fals di dalamnya). Hanya saja, di tahun 1998, album ini secara musikalitas terlalu "tua". Musiknya terdengar kolot, mirip aransemen ala ballad glam rock 80’an. Iwan menulis lirik-lirik yang tajam dari akhir ‘80an hingga awal ‘90an. Kala reformasi akhirnya meletus, Iwan terlanjur menua. Alhasil, mendengarkan album Kantata Takwa pada 1998 terasa seperti didongengi om-om tentang kebengalan mereka di masa muda.

Saya boleh saja bias. Umur saya masih 15 tahun ketika reformasi meletus. Tak ayal saya lebih suka Green Day daripada Bruce Springsteen, apalagi Neil Young. Lagipula reformasi kan gerakan anak muda, sudah sepatutnya album yang menanggapinya juga terdengar muda, atau gampangnya terdengar benar-benar berasal tahun 1998. Bukan dari wakil semangat musik satu dekade sebelumnya.

Beruntung, selang dua bulan setelah reformasi meletus, PAS Band menelurkan album keempat sekaligus karya paling politis mereka, Psycho ID. Nah, bila reformasi itu perkara dongkel mendongkel tatanan lama, maka Psycho ID juga melakukan pendongkelan dalam berbagai aspek.

Di album keempatnya (atau ketiga jika debut EP mereka dihitung terpisah), PAS menulis sekumpulan protest song yang puitis, tentang segala yang dirasakan anak muda pada masa reformasi. Mulai dari kegamangan menjelang reformasi, kebencian pada tirani, hingga eskapisme dari morat-maritnya suasana selama bulan-bulan kelabu tersebut.

Simak saja nuansa chaos reformasi yang terekam dari lirik "Di Mana Para Bestari?!!", yang menggambarkan fase transisi politik. Di masa kacau 98m kalangan intelektual dan massa tak pernah bersatu. Banyak ilmuwan kampus memilih berdiam di menara gading, sehingga mahasiswa nekat bergerak sendiri. "Lihat pegunungan di atas hutan begawan lari tidak peduli...Bisakah kau lihat, arakan tak terkendali."

Atau simak "Simala-Karma", yang menunjukkan PAS Band seakan memiliki insting bahwa melengserkan Suharto bukan satu-satunya jalan keluar, selama anasir Orde Baru tidak ditumpas sampai ke akar-akarnya: "Tak Ada Pilihan Yang Bisa Kupilih/Tak Ada Pilihan Yang Layak Dipilih."

Dari segi musik, PAS Band juga lepas dari lanskap musik rock mainstream Indonesia zaman itu, yang sebagian besar masih mengacu ke era glam dan hard rock ‘80an. Psycho ID terdengar lebih kekinian, dan pantas diputar bersama band-band macam Red Hot Chilli Peppers, Faith No More, atau Rage Against The Machine.

Pernyataan politik paling menohok Psycho ID terwujud sepenuhnya di sampul album itu, yang menggambarkan empat personel awal PAS Band—Yukie Arifin, Bambang Sutrisno (Trisno), Bambang Sutejo (Bengbeng), dan Richard Mutter—akhirnya bisa bernapas setelah keluar dari mulut Presiden Suharto. Ini jelas pernyataan sikap yang kelewat berani. Sebagai bandingan, sampul Kantata Samsara hanya menampilkan foto semua personelnya yang sekilas mirip potret keluarga ningrat.

Album solo Ahmad Dhani yang dirilis hampir bersamaan dengan Psycho ID dan kerap diingat sebagai albumnya yang paling politis, Ideologi Sikap dan Otak, cuma memajang foto Dhani yang bergaya bak Ir. Sukarno. Pendeknya, kalau ada karya musik yang secara holistik merespons momentum Reformasi, maka Psycho ID-lah album itu (terutama di kancah musik arus utama, yang bisa menjangkau sebanyak-banyaknya pendengar dibanding rilisan musisi independen).

1526985566736-Pas
Cover 'Psycho ID' yang ikonik, menggambarkan para personel band Bandung itu keluar dari impitan mulut Suharto. Foto dari arsip band.

Juli 2018, album ini akan sama tuanya dengan momen reformasi yang genap berusia dua dekade. Guna merayakan album penting tersebut, saya menemui Trisno, Bengbeng dan Richard di sela-sela manggung beberapa waktu lalu. Dalam sebuah percakapan tengah malam pada sebuah hotel bilangan Jakarta Selatan, kami ngobrol tentang reformasi, proses produksi Psycho ID, hingga penggarapan artwork sampul album legendaris itu.

VICE: Jadi Psycho ID memang dibuat merespons masa-masa Reformasi?
Bengbeng: Setiap album PAS memang dibuat sesuai semangat zaman kok.
Trisno: Waktu album ini dibuat, kami memang baru lulus kuliah. Dan yang di luar perkiraan, artworknya meramalkan turunnya Suharto. Terus, kami enggak kepikiran bakal terjadi kerusuhan pada tahun 1998. Insting pembuat artwork juga enggak kepikiran, “Ntar tahun depan, abis lo beres jadi mahasiswa, bakal terjadi kerusuhan.” Enggak pernah.
Richard: Kami memang merespons situasi, tapi enggak meramalkan bakal terjadi reformasi. Kalau ngomongin respons secara riil dan langsung kerasa banget, aku bilang sih covernya.

Jadi tokoh yang di sampul album itu betulan Suharto? Plus dengan boncel-boncelnya itu?
Richard: Bener. Kalau itu mah bener.

Terus artwork itu siapa yang bikin?
Richard: Gambarnya sendiri dikerjain Arin Sunaryo—anak seniman Sunaryo Soetono. Colouring-nya dikerjain oleh kakaknya, Ardi Sunaryo. Tapi, yang nge-direct penginnya gimana itu Didit Aditya [FFWD Records]. Dia art director-nya.

1526985072748-PAS-BAND
Richard, Trisno, dan Bengbeng saat diwawancarai VICE. Foto oleh Dicho Rivan.

Rancangan artwork-nya dari awal kayak gitu?
Richard: Iya, kebetulan untuk desain sampul Psycho ID, kami ngomong ke Didit, “Gimana elo aja deh.” Kami cuma memberi beberapa lagu referensi. Abis itu ya kerja, kerja, kerja. Terus beberapa waktu kemudian kami terima gambar utamanya (sampul depan CD-red) dalam bentuk sudah jadi, tapi belum diwarnain.

Kok nekat masang gambar Suharto? Apa karena Suharto udah hampir tumbang?
Richard: Kalau masalah konsep artworknya kami mah enggak peduli (konsekuensinya). Langsung lepas saja (ke pasaran). Feedback yang kami kasih dulu ke Didit cuma, “kok gambar karakter gue jelek banget!”
Trisno: Kami enggak kepikiran, “Wah ini nanti kita bakal dikerjain pemerintah.” Kami mah dari zaman mahasiswa juga sudah nekat.
Bengbeng: Tokoh dalam artwork itu sebenarnya sudah ada dari lagu “Si Berat” dari album In (No) Sensation.

Balik ke masalah Suharto. Kalau pembacaan kami tak salah, lirik-lirik kalian tajam menukik ke tokoh Suharto, seperti “Aku tak bisa marah pada dirimu Tuan” di lagu Regulasi atau di lagu Simala-karma, “gayamu yang simpatik, bicaramu manis tapi busuk dari hati” benar begitu?
Trisno: Bisa jadi itu penokohan yang waktu itu saja. Enggak cuma ngacu ke Pak Harto saja sih. Pokoknya semua yang berbau tirani.
Richard: Pada akhirnya ke lingkaran dekat Suharto sih. Lagian, pada waktu itu, banyak sekali Suharto KW yang sifat-sifatnya sama saja. Cuma beda pangkat dan jabatan. Lagipula, kalau ngomongin lirik Yukie, lirik-lirik Psycho ID ditulis di masa-masa ketika dia berat menjalani kehidupan sosialnya setelah lulus kuliah dan tiba-tiba—entah ide siapa—jadi asisten dosen [di jurusan Sastra Jepang Universitas Padjajaran]. Pada saat dia menjalaninya, dia bentrok dengan birokrasi kampusnya. Padahal Yukie mengidolakan bapaknya yang juga dosen. Dia akhirnya berhenti jadi asisten dosen karena, salah satunya, ketemu Suharto kecil di kampus. Zaman sekarang, kalau ada mahasiswa atau dosen muda teriak-teriak, pasti bakal ada yang denger. Zaman segitu? Paling dibilang “Siapa elo?” Jadi, kami memang merasakan fase reformasi banget. Tapi PAS Band sendiri sih enggak nyangka kalau Pak Harto bakal turun. Suharto begitu kuatnya pada saat itu.

Aquarius Musikindo selaku label, pernah keberatan sama konten album kalian?
Richard: Justru salah satu yang bikin anak-anak bebas bikin ya karena label men-support kami sepenuhnya.
Bengbeng: Album ketiga kami diberi judul IndieVduality. Itu banyak artinya. Salah satunya, kami punya duality. PAS Band ada di major label yang notabene semua orang bakal nyangka musiknya disetir sama mereka. Kami tuh enggak. Kami ada di major label tapi proses kerjanya seperti band indie. Jadi kalau mau produksi, kami cuma bilang “Kita mau produksi, mau pake studio ini,” dan mereka bilang “Okay butuh uang berapa?” Mereka cuma nyediain budget saja. Mereka enggak pernah tahu soal proses rekaman. Makanya, ketika Richard keluar (sesudah album Pyscho ID) dan kami kasih (single) “Kesepian Kita”, Aquarius terkejut. Mereka bilang “ini PAS Band?”
Trisno: Kami mah bebas. Malah kalau ada masukan dari label paling (isinya) “kurangin dong lirik bahasa Inggrisnya.” Siap! Gue bikin lirik bahasa Jerman! [Tertawa]

Selepas Psycho ID lirik kalian lebih ngepop, apakah PAS melihat Psycho ID sebagai album paling politis dalam karir band ini?
Bengbeng: Bisa dibilang begitu. Psycho ID-lah puncak penulisan lirik Yukie. [Lagu-lagu kami politis banget] karena waktu itu enggak ada yang berani ngomong. Setelah itu, karena Richard keluar, Trisno lulus kuliah, Yukie punya anak, cara berpikir kami jadi beda. Terus kami jadinya lihat juga kalau dulu pas kami bikin album 4 Through The Sap sampai Psycho ID, enggak ada orang yang berani ngomong loh. Tapi, begitu reformasi [terjadi], Ahmad Dhani bahkan bisa ngomong [bikin lagu politis-red]. Padahal, kami pernah lho ngobrol bareng Pak Iin Aquarius (almarhum) dan ada Dhani waktu itu. Dia bilang “Gue gak mau bikin lagu-lagu yang sosial-sosial gitu. Ngapain. Bikin lagu tuh yang cinta-cinta gini aja.” Setelah reformasi, dia bikin Ahmad Band dan kesannya paling reformatif. Akhinya Yukie mikir, “Gila! Ini semua orang sekarang ngomongin yang sudah PAS Band buat sejak 1994, ke mana ya mereka dulu?” Ya sudah, akhirnya kami milih ngomongin yang lain saja.

Ide judul Psycho ID datang dari siapa?
Richard: Trisno tuh. Sebelumnya album ini sempet mau dikasih judul Demagnetizer. Waktu itu gue punya kaset demagnetizer, fungsinya buat ngilangin magnet di kaset tape rumah. Gue pikir bagus nih buat jadi judul album. Kaset demagnetizer itu sempet gue scan karena dalamnya isinya mekanik, enggak ada pitanya. (hasilnya) sempet jadi cover buat demo. Tapi, lama-lama terlalu garing, terlalu metal pada waktu itu. Akhirnya, ngobrol sama didit dan dia menganjurkan Psycho ID saja.
Trisno: Pscyho ID itu mengacu ke chaos yang terjadi waktu itu. Zaman segitu lagi banyak orang yang karakternya seperti (tokoh utama film) Silence of The Lambs. Kelihatannya tenang, tapi tahu-tahu membantai. Terus, PAS Band sendiri band yang psycho, bukan band standar. Kami kompak untuk tampil beda jika dibandingkan band-band Indonesia waktu itu yang sama-sama saja. Kami mikirnya sih, “kami mah bego aja. (Kalau) enggak sukses jadi rockstar masih ada banderol mahasiswa kok, buat di struk gaji.”

Psycho ID sering disebut membuka jalan untuk band-band indie seperti Puppen atau Pure Saturday. Katanya dua band ini pakai jatah shift studio kalian yang nyisa, benar begitu?
Richard: Iya, tapi itu sebenarnya kejadiannya di album In (No) Sensation. Kebetulan waktu itu iklim di studio rekaman Triple M begini: semua jadwal penuh. Padahal sebenarnya enggak. Nah ada momen saat anak-anak Puppen bilang “Gue mau ngebooking [Triple M] tapi udah penuh. Ga bisa masuk, gimana ya?” karena memang sudah diblok. Lagian kalau anak-anak indie berhasil masuk, mereka bakal ditanya “elo siapa?” Ada masa-masa seperti itu kok. Akhirnya kami punya shift sisa—dua atau empat gue lupa. Kebetulan waktu yang ngurusin PAS namanya Ambar. Dia ngehubungin Helvi Syarifudin (FFWD Records) yang ngurus Puppen. Ya udah tuh ada dua shift tuh, pakai saja. Jadi, sebenarnya berbagi shiftnya bukan basicnya karena mereka enggak punya uang buat bayar, tapi lebih karena enggak bisa masuk.
Trisno: Di lagu Kucing gue memang ngajak Robin Malau [ex-Puppen]. Orang suka mikir kami featuring mereka karena ada asas manfaat. Kami jadi bingung. Sebenarnya itu terjadi karena kami tinggal di Bandung jadi kami berteman dan nongkrong bareng di tempatnya Richard. Kami juga pengen lihat teman maju, minimal ngerasain aura studio. Suasana gitu memang sudah ada di kancah musik bandung.

Waktu itu memang susah tembus Triple M?
Richard: Ada masanya semua band rock pengin rekaman di Triple M. The best studio lah. Kesannya operatornya udah tahu gimana bikin rekaman album bagus. Salah satu masterpiece-nya album perdana Edane. Semua anak metal pasti pengin bikin album kayak gitu di situ.
Bengbeng: Itu studio emang atmosfernya anak band banget. Di ruang tunggu bisa nyetel bokep. Ngerokok bebas di studio di mana saja. Kalau dengar ceritanya itu studio emang parah banget. Si anu pernah make love sama artis itu di kamar mandi. Parahlah emang tuh studio.

Kualitas rekaman Psycho ID mengalami peningkatan pesat dibanding album-album sebelumnya. Kalian memang ingin pol-polan di sound ya waktu itu?
Richard: Kualitas rekaman Psycho ID membaik karena kebetulan waktu garap album-album sebelumnya kita belum dapat ilmunya. Kita kan banyak learning by doing. Kita banyak salah dan kita nemuin kesalahan yang bikin kita jadi eksplor. Ada juga beberapa kesalahan yang kita biarin karena kedengarannya enak.
Bengbeng: Ada kejadian asik di sesi rekaman Psycho ID. Kami kan sudah sewa studio dua shift. Pas datang, operatornya belum datang. Akhirnya kami setting sendiri, karena saya mau take gitar. Ternyata bisa nyala. Ya udah kita rekam. Ternyata begitu selesai dua lagu, "Kembali" dan "Regulasi", datang deh operatornya. Ternyata ketahuan overload semua. Untungnya masih analog jadi enggak pecah. Jadi, lagu Kembali itu sound gitar ritemnya overload jadi kasar banget bukan karena settingan tapi karena overload.

Psycho ID direkam di masa-masa krisis moneter, ada pengaruhnya ke budget rekaman enggak?
Bengbeng: Enggak sih. Ada standar budget (dari label). Malah selalu ada peningkatan budget dari album ke album. Lagian, bahan rekamannya naik juga. Pita 2 inchi awal pas kami bikin EP pertama harganya Rp400 ribu, naik jadi Rp1,7 juta pas rekaman Psycho ID. Satu pita bisa untuk 3-4 lagu. Jadi, satu album kami butuh 3-4 pita.
Trisno: yang kami takutkan justru tahun 1998. Pas kerusuhan kami malah tur.

Seberpengaruh apa kerusuhan terhadap animo orang menonton konser PAS?
Bengbeng: Enggak ada. Pokoknya yang kami rasakan di dunia hiburan, mau kondisinya bagaimana pun, semua orang butuh hiburan. Makanya, ketika dulu orang dilanda krismon, kami enggak ngerasain tuh. Tahun ‘98 kami tur 42 kota loh. Gue masih inget tuh, kami sedang jalan ke Cilacap lewat kota Solo. Sebelum masuk Solo, bus kami berhenti. Asli! “Ada kerusuhan itu ini,” katanya. kami sampai nego dengan polisi. Akhirnya cuma bus dan truk produksi kami yang boleh lewat dan dikawal polisi, kayak di film lah. kami jalan lewat daerah yang dibarikade dan masih terbakar. Show kami masih laku waktu itu. Alhamdulillah. Hebatnya waktu itu, (dalam kerusuhan), izin manggung masih dapat. Sekarang mah, bikin acara mayday saja susah.

Ada rencana merayakan 20 tahun Pyscho ID?
Richard: Nah itu belum kepikiran. Kami aja baru tahu Psycho ID ulang tahun ke-20 pas gue baca WhatsApp dari elo. Gue mikir “iya juga ya. Nih orang kok ngitung amat.” [tertawa]

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dibaca.

*Ralat: Label FFWD Records semula kami tulis "Fast Forward". Kami meralat kesalahan itu pada 24 Mei pukul 12.20

Tagged:
indie
Musik
Alternative Rock
Suharto
Politik
Musik Independen
Sejarah Indonesia
Konser
Reformasi
Musik Politis
Aquarius Musikindo
Reformasi Ekonomi
independen
Presiden Suharto
bengbeng
Trsino