Dari Everybody Needs a Good Neighbour, oleh Juan Arredondo. Angel, 12, dan Daniel, 16, anggota milisi ELN Che Guevara berpose di kamp mereka di Kolombia

Penyebab Fotografer Perang Kehilangan Minat Saat Angka Orang Tewas Akibat Konflik Menurun

Kami ngobrol dengan pendiri Aftermath Project, bertanya-tanya kenapa dia lebih tertarik merekam peristiwa sesudah perang ketimbang momen saat konflik terjadi?

|
28 Februari 2018, 12:40pm

Dari Everybody Needs a Good Neighbour, oleh Juan Arredondo. Angel, 12, dan Daniel, 16, anggota milisi ELN Che Guevara berpose di kamp mereka di Kolombia

Semua foto dari War Is Only Half the Story

Setelah melihat pers internasional memunggungi Bosnia tak lama setelah perang di sana usai, dan mencari tajuk-tajuk berita lebih heboh dari tempat lain, jurnalis Sara Terry memutuskan bahwa liputan pascakonflik berhak mendapatkan dukungan lebih. Dia membuat Aftermath Project, yang memberikan dana tahunan untuk para fotografer yang meliput dampak-dampak perang terhadap rakyat, alih-alih meliput perang itu sendiri.

Buku terbaru Sarah, War Is Only Half the Story, menampilkan kerja kerasnya selama lebih dari sepuluh tahun meliput pascaperang. Dia berharap buku ini dapat mengingatkan para pembaca bahwa bagian akhir perang bukan akhir dari trauma, bahaya, atau kesulitan.

dari Refugees of Georgian Villages, oleh Natela Grigalashvili. kakak beradik di Kaspi, Georgia, 2005.

VICE: Liputanmu di Bosnia yang membuatmu memulai Aftermath Project. Bisa diceritakan apa yang kamu lakukan di sana dan kelanjutannya?
Sara Terry: Saya memulai proyek saya di Bosnia karena saya geram dengan liputan yang saya baca, menyatakan bahwa karena warga Bosnia sudah mulai mencoba kembali pulang, komunitas internasional mengalami “Bosnia fatigue” dan beralih ke lokasi krisis selanjutnya, yaitu Timor Timur.

Saya pikir itu tidak bijak, dan hal itu mencerminkan budaya yang berkembang saat itu. Bahkan 18 tahun lalu, kita sudah menjadi budaya yang didorong media sosial, yang berpikir secara dangkal. Orang-orang mengira bahwa lima tahun adalah waktu yang cukup untuk melupakan perang dengan genosida terburuk di Eropa sejak PDII.

Selama saya di Bosnia, kisah-kisah besar berada di tangan fotografer konflik dan kisah-kisah konflik saat 9/11. Saya rasa sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia selama perang, tapi saya merasa bahwa yang lebih penting dari perang adalah kisah setelah perang.

Setelah perang adalah saat orang-orang mencoba mendefinisikan ulang kemanusiaan kita. Saya sangat terkesima dengan warga Bosnia Muslim yang saya temui, yang pernah mengalami “pembersihan etnis” dari rumah mereka dan ingin kembali ke tempat-tempat asal mereka. Saya rasa hal tersebut menunjukkan kualitas semangat manusia yang menakjubkan. Itulah yang saya ingin ketahui lebih lanjut.

Bagaimana Aftermath Project digagas?
Di tengah-tengah pekerjaan saya di Bosnia saya berpartisipasi dalam sebuah workshop dengan fotografer Sam Abell, dan dia bertanya pada kami dampak seperti apa yang kami ingin buat. Saya pernah mendapatkan penghargaan sebagai seorang jurnalis dan telah melihat dampak dari karya saya, tapi saya tidak merasa demikian sebagai seorang fotografer.

Saya ingat berkata, “Bagus banget kalau fotografer lain ingin menjadi fotografer aftermath—dan karya saya membantu menginspirasi itu.” Sehari kemudian, saya berpikir, “Serius? Enggak ada yang mengenalmu sebagai fotografer, sebagian besar orang enggak peduli soal Bosnia, dan kamu kira kamu bakal bisa memantik diskusi?” Ya, saya memutuskan untuk memulai program pendanaan bagi fotografer yang meliputi akibat konflik. Saya enggak tahu juga kenapa saya merasa bisa melakukannya—saya enggak punya uang, atau dukungan yayasan—tapi saya memutuskannya begitu. Itu tahun 2003. Saya butuh empat tahun untuk membangun proyek ini. Kami mendapatkan dana pertama pada 2007.

Dari Surviving Wounded Knee, oleh Danny Wilcox Frazier.

Setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di bidang ini, apakah kamu merasa bahwa karya setelah perang menarik bagi para jurnalis dan seniman yang ingin meliput lebih dalam ketimbang mereka yang meliput perang?
Saya berasal dari jurnalisme koran, jadi saya paham siklus berita. Tapi saya juga ingin menantangnya. Saya ingin berkata, “Kenapa cuma kematian, kehancuran, penyakit, dan famin yang patut diberitakan?”

Saya rasa bagian aftermath juga patut diwartakan, kalau bukan lebih patut. Ini adalah kisah yang sangat kuat soal kondisi manusia. Hal ini menuntut kita untuk bekerja lebih dalam. Pekerjaan saya di Bosnia membutuhkan empat tahun. Perang itu sendiri memang berbahaya secara fisik, dan saya punya respek besar untuk kolega-kolega saya yang meliput konflik dan yang memandangnya sebagai suatu cara untuk memulai karir, tapi kalau di perang jelas kan apa yang harus diliput? Ada bom, ada tank, orang-orang yang tewas…

Begini lho, di samping bahaya fisik, perang sangat mudah untuk diliput. Tapi untuk meliput kondisi setelah perang, bagaimana kamu meliput hal-hal yang mungkin tak bisa kamu lihat? Itulah mengapa saya suka sekali dengan puisi, dan mengapa puisi adalah benang merah narasi dalam buku ini. Puisi adalah soal hal-hal yang tak terlihat.

Salah satu hal baik yang pernah disampaikan pada saya soal karya Bosnia saya adalah: “Wow, kamu menghabiskan banyak sekali waktu untuk menunggu, ya?” Hal-hal seperti itu tidak terjadi begitu saja di hadapanmu. Dibutuhkan waktu untuk melihat apa yang terjadi dalam proses pembangunan kembali sebuah masyarakat sipil, bagaimana orang-orang mengatasi rasa kehilangan, dan bagaimana rasanya mengabaikan tanda-tanda yang dapat mengarah pada konflik di masa depan.

Musim dingin di Ukraina, 2007. Diambil dari Open See, oleh Jim Goldberg

Bagaimana kamu memandang Aftermath Project dalam berita yang lebih luas dan dunia liputan?Bagian dari pernyataan misi orisinal adalah untuk mengubah cara media meliput konflik. Untuk memperluas dialognya, untuk memahami isu-isu pascakonflik dan kepentingannya.

Saya rasa ada standar terendah umum dalam jurnalisme harian—bagaimana caranya menarik perhatian pembaca? Kini, secara historis, kami mengira bahwa cara terbaik untuk menarik perhatian orang adalah dengan mengejutkannya, tapi saya tertarik dengan percakapan jangka panjang; saya enggak tertarik soal itu. Kalau kejutan jadi berlebihan, kita jadi lelah.

Sebagai jurnalis dan fotografer, pandangan saya adalah kamu bisa membuat orang peduli terhadap sesuatu kalau kamu meraihnya. Dan kamu mulai di sini. Sebagian orang yang kamu tuju akan berpikir soal hal tersebut secara lebih mendalam, dan kalau mereka sudah peduli, mereka bisa berpikir secara intelijen soal isu tersebut, dan dari kelompok tersebut ada orang-orang yang akan melakukan sesuatu, yang akan bertindak.

Saya rasa media fokus pada klik. Ya enggak semuanya—ada jurnalisme bagus hari-hari gini—tapi pendekatannya masih sangat sempit. Saya juga menemukan bahwa orang-orang merespon pada kisah-kisah yang lebih panjang ini. The Aftermath Project adalah asing di dunia media, tapi saya rasa kami ada dampaknya. Saya telah melihat lebih banyak liputan aftermath sekarang, dan tidak selalu terkait pada hari peringatan sepuluh tahun atau yang lainnya, jadi saya merasa bahwa jarum kompasnya sudah bergerak sedikit.

Dalam dunia saturasi berita dan media sosial, penting untuk mengingatkan orang-orang soal makna menjadi manusia—dan itulah yang dilakukan karya pascakonflik.

Kuburan Luis Lopez, di Socorro County, New Mexico. Luis Lopez adalah kita dari empat negara bagian yang diteliti berkaitan dengan dampk radiasi akibt tes bom atom triniti 1945. Warga Luiz Lopez mengatakan puluhan orang meninggal karena kanker dan menduga itu ada kaitannya dengan tes bom atom itu. Warga yang tinggal di radius 150 mil dari Triniti berisiko tinggi terpapar kanker lebih-lebih dari warga di lokasi lain di New Mexico. Dari Acknowledgement of Danger, olej Nina Berman.

Saya enggak akan memintamu untuk memilih-milih konflik, tapi apakah ada yang menonjol dalam hal engagement pada audiens?
Saya rasa kita selalu memiliki referensi terhadap kejadian di dunia saat kita beranjak dewasa. Bagi saya, itu Vietnam, tapi saya rasa pada umumnya perang yang berlangsung dengan lama memiliki dampak langsung terhadap hidup kita; mereka menarik perhatian kita karena ketertarikan media yang bertahan, yang memberikan kesempatan bagi kita untuk engage. Bagi warga Amerika hari ini, hal tersebut mungkin Afghanistan, atau perang Irak, yang rasanya terjadi sudah selamanya.

Saat Monika Bulaj memenangkan dana untuk meliput dampak perang di Afghanistan, ada fotografer yang mengirim pesan dan bilang, “Itu aftermath? Serius? Perang tuh masih berlangsung!” Saya menulis balasan bilang bahwa aftermath terjadi secara konstan selama konflik. Aftermath yang mana dari Afghanistan yang ingin kamu bicarakan, aftermath Soviet, aftermath penjahat perang yang memorak-porandakan Kabul, aftermath invasi?

demonstrasi senjata di SOFEX weapons fair, expo senjata terpenting di dunia, yang secara eksklusif menawarkan senjata pada pasukan khusus dan pasukan pertahanan negara. Diadakan tiap dua tahun sekali di Amman, Jordania. 2012. Diambli dari United Colours of War, oleh Luca Locatelli.

Jadi apa yang kalian maksud “aftermath” dalam proyek kalian?
Kami memiliki posisi yang bernuansa soal aftermath—kami melihat aftermath di tempat-tempat di mana perang masih berlangsung. Kami juga memperluas spektrumnya untuk pekerjaan seperti Danny Wilcox Frazier di reservasi Pine Ridge, Surviving Wounded Knee. Itulah aftermath dari pembantaian pasukan AS selama lebih dari 150 tahun lalu.

Semua perang menarik perhatian kita pada aftermath, tapi say atidak merasa ada perang yang terjadi selama kita menjalankan Aftermath Project yang bikin saya bilang, “Ini dia nih.”

Lorenzo Cuxil dan Felicita Oligaria memperhatikan sebuah gambar tengkorak korban yang tewas di tangan tentara Guatemala di bekas markas militer di Comolapa, 80 kilometer di sebelah barat kota Guatemala. Diambil dari Reclaiming the Dead: Mass Graves in Guatemala, a Story Only Partially Told, oleh Rodrigo Abd.

Saya ingin tanya soal Rwanda, yang seringkali dianggap sebagai percontohan resolusi pascakonflik. Bagaimana konflik tersebut berpengaruh pada Aftermath Project?
Saya tahu Rwanda harus ada di proyek kami, karena orang sering bilang, “Wah, lihat coba orang-orang Rwanda! Lihat bagaimana mereka menyatukan kembali negara mereka. Mereka sudah memaafkan kejadian masa lalu.” lalu saya mikir, “Lah emang semuanya kayak gitu?”

Di Barat kami sangat menyukai Rwanda, karena Rwanda segera kembali ke bisnis. Mereka adalah tempat bisnis yang terkenal - Paul Kagame datang untuk mengembalikan ekonomi, sejajar dengan mencoba menyelesaikan satu juta kasus pengadilan yang harus menggunakan pengadilan internasional dan kemudian pengadilan Gacaca. Rwanda tampak seperti yang diinginkan oleh Rwanda dari Rwanda. Kami menggelontorkan uang, tidak ada cek atas kekuatan Kagame, dan sekarang dia tertawa.

Aku punya teman, ekspat Rwanda, yang memberitahuku hal-hal sangat aneh di sana... ada banyak tanda peringatan di bawah permukaan. Kagame telah menjadi diktator. Dia menjadi begitu sehingga orang tidak bisa berbicara tentang menjadi Hutu atau Tutsi - Kamu semua orang Rwanda. Pers pada dasarnya adalah corong untuk pemerintah, dan orang-orang ketakutan. Kami mendukung semua gagasan yang salah.

Di penghujung 2011, Kwinanika Nigerian, 45, Abiya Gil, 45, dan Nakambululo Torina, 30, diperkosa oleh beberapa tentara Democratic Forces for the Liberation of Rwanda ketika mereka hendak pergi meladang. Diambil dari Raped Lives, oleh Gwenn Dubourthoumieu.

Rwanda adalah tempat peringatan, dalam hal aftermath. Tito mempertahankan Yugoslavia setelah Perang Dunia Kedua dengan slogan "persatuan dan persaudaraan" - kamu tidak dapat lagi membicarakan latar belakang etnis kamu - lalu dia meninggal, dan semuanya berantakan. Seperti di Rwanda sekarang: secara harfiah melawan hukum untuk berbicara tentang seseorang yang menjadi Hutu atau Tutsi. Di bawah normalitas sehari-hari di sana, semua orang tahu siapa yang melakukan apa, dan ini berbahaya.

Kita perlu mencari tahu bagaimana memahami narasi non-barat, kita perlu belajar bagaimana mendengarkan, dan menyadari bahwa kita tidak memiliki semua jawabannya. Itulah yang harus dilaporkan pelaporan sesudahnya.