Iklan
Energi Panas Bumi

Siapa Sangka, Tindakan Manusia Jadi Penyebab Gempa Besar di Korsel Pada 2017

Penelitian pemerintah memastikan injeksi sebuah pembangkit listrik panas bumi memicu lindu di Pohang, gempa terparah kedua sepanjang sejarah Negeri Ginseng itu.

oleh Sarah Emerson
23 Maret 2019, 2:00am

Kerusakan akibat Gempa di Kota Pohang, Korsel, pada 2017.  Gempa itu dipastikan akibat ulah manusia. Sumber foto: Wikimedia Commons 

Getaran dari aktivitas bawah tanah yang ditimbulkan pembangkit listrik panas bumi, diduga kuat sebagai penyebab gempa bumi terburuk kedua sepanjang sejarah Korea Selatan. Penelitian ini mengejutkan, karena gempa ternyata tak selalu diakibatkan aktivitas alami jerohan planet kita.

Kesimpulan tersebut muncul dalam penelitian pemerintah Korsel dari bencana di Kota Pohang pada November 2017. Kala itu, gempa bumi bemagnitudo 5,4 mengguncang seisi kota, melukai puluhan orang. Penelitian tersebut menyimpulkan jika aktivitas perusahaan pembangkit panas bumi, yang menginjeksi air dalam jumlah besar ke bawah tanah demi menstimulasi produksi energi termal, ternyata memicu efek serius.

"Rangkaian gempa berskala mikro terjadi ketika cairan diinjeksi penggalian sumur panas bumi di kawasan pembangkit listrik, akhirnya memicu gempa Pohang,” kata Lee Kang-keun dari Seoul National University, kepala tim peneliti ini, saat diwawancarai The Korea Times.

"Maksud kata ‘memicu’ adalah gempanya terjadi di luar cakupan daerah yang distimulasi air tersebut,” imbuh Lee. "Ini bukan gempa alami."

Dua penelitian lain yang terbit di Jurnal Nature pada 2018 sempat menghasilkan kesimpulan serupa. Pabrik panas bumi dianggap bertanggung jawab atas gempa yang menghancurkan kota besar di Negeri Ginseng tersebut.

Salah satu penelitian lain, dilaksanakan peneliti independen Korea Selatan, menemukan data konsisten bila "gempa Pohang dipicu cairan dari situs sistem panas bumi (EGS)". Magnitudo dari aktivitas injeksi air itu membuat "gempa terpicu jadi lebih besar di luar situs EGS."

Studi lainnya oleh tim ilmuwan internasional menyimpulkan hal serupa. Berdasarkan data "jaringan seismometer lokal, catatan sumur, pengamatan satelit, analisa teleseismik gelombang, dan pemodelan" gempa Pohang hampir pasti akibat ulah manusia.

"Bila gempa bumi Pohang dipicu tindakan manusia, maka kesimpulan ilmuwan akan mengubah praktik industri listrik panas bumi di seluruh dunia," kata Jin-Han Ree, ahli geologi struktural di Korea University di Seoul dan penulis utama salah satu studi tersebut, saat diwawancarai Nature News.

Seperti yang dijelaskan Nature News, jenis pembangkit energi geotermal di Pohang cenderung menyadap daya termal dari lokasi yang “kurang ideal." Pengelola pembangkit listrik di Korsel itu seharusnya sadar aktivitas mereka akan memicu getaran seismik.

Sebenarnya gimana sih cara kerja pembangkit listrik geotermal itu? Ternyata, metode yang lazim adalah membuat retakan bawah tanah yang akan ditembus air melalui sumur injeksi. Kerak bumi memanaskan air tersebut. Uapnya kembali ke permukaan, menggerakkan turbin, dan menghasilkan listrik. Padahal jika merujuk lembar fakta EGS yang diterbitkan Kementerian Energi AS, semua aktivitas seismik yang ditimbulkan pembangkit geotermal diklaim akan "sangat rendah magnitudonya, sehingga tidak terasa di permukaan bumi."

Praktik injeksi cairan ini dipakai di banyak negara, termasuk proyek geotermal di Indonesia. Kini, setelah ilmuwan menyimpulkan jika pendekatan tersebut bisa menimbulkan gempa, termasuk seperti yang terjadi saat gempa bermagnitudo 3,4 di Basel, Swiss pada 2006 menghancurkan bangunan dan infrastruktur, maka industri panas bumi dipastikan segera berbenah.

Pemerintah Korea Selatan dilaporkan menutup pembangkit listrik geotermal tersebut secara permanen, seperti dilaporkan KBS World Radio News. Pemerintah setempat juga telah menganggarkan 226 miliar won (setara Rp 2,8 triliun) selama lima tahun ke depan, demi memperbaiki kerusakan di wilayah Pohang terkena dampak gempa paling parah.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard