Iklan
Rahasia Bumi

Ilmuwan Temukan Gunung Lebih Besar dari Everest, Lokasinya di Bawah Permukaan Bumi

Gunung tidak harus selalu 'tinggi'. Kalau patokannya ukuran, catatan geologis menemukan struktur batuan raksasa 660 kilometer di bawah permukaan bumi.

oleh Becky Ferreira
18 Februari 2019, 5:40am

Ilustrasi berbagai lapisan perut bumi. Sumber gambar: NASA/JPL/Université Paris Diderot dan the Institut de Physique du Globe de Paris. 

Everest adalah puncak tertinggi di Planet Bumi. Tapi untuk menyebutnya gunung terbesar di planet ini? Nanti dulu. Berdasarkan kesimpulan penelitian terbaru, berjarak ratusan kilometer di bawah tanah ada pegunungan bawah tanah yang ukurannya melebihi Pegunungan Himalaya.

Para ilmuwan berhasil mengintip struktur geologis raksasa ini melalui data gelombang seismik dari gempa bumi di Bolivia pada 1994, menurut penelitian yang terbit pekan lalu di Jurnal Ilmiah Science.

Kok bisa ada gunung di bawah tanah? Kalau lokasinya di bawah permukaan, apa layak ilmuwan mengkategorikannya sebagai gunung? Ini yang orang awam sering salah kaprah. Gunung itu struktur batuan dengan formasi topografi tertentu, tak peduli di manapun lokasi keberadaannya.

Mantel Planet Bumi ini terbuat dari kombinasi bebatuan dan silika padat dari kerak (artinya permukaan yang kita pijak sekarang) hingga inti bumi, mencakup 84 persen elemen penyusun volume planet kita. Ternyata, tidak semua ruang tersebut terisi materi. Ada perbatasan lowong yang setelah dikaji menyerupai pegunungan. Lokasi pegunungan yang memisahkan mantel 'atas' dan 'bawah' Bumi itu berjarak 660 kilometer dari permukaan.

Para ilmuwan baru bisa menentukan kapan batuan di perbatasan dalam perut bumi tersebut menjadi lebih kasar dan padat. Sayangnya, melakukan kajian topografi secara mendetail seputar gunung dalam perut bumi bukan hal mudah. Ilmuwan berusaha mendapat informasi mendetail soal gunung di kawasan perbatasan mantel. Soalnya, informasi tersebut dapat memcahkan berbagai misteri tentang mantel, misalnya seberapa banyak bagian atas dan bagian bawahnya saling bercampur.

Terus, gimana caranya ilmuwan mengintip ke perut bumi? Piranti andalan mereka saat ini adalah gelombang seismik. Gelombang ini bisa memberi data riak energi yang bergerak melalui bumi ketika ada gempa atau benturan. Ketika gelombang berbenturan dengan tekstur, mineral, dan struktur yang berbeda, pemantulannya mirip gelombang cahaya. Proses ini memberi peneliti sebuah potret seismik jauh di dalam perut bumi.

"Kami butuh gempa besar agar gelombang seismik dapat bergerak melalui mantel dan inti bumi, terpental dari kawasan perbatasan 660-kilometer, dan kembali lagi ke kerak bumi untuk dideteksi,” kata Jessica Irving, pakar geofisika di Universitas Princeton yang terlibat dalam penelitian ini, saat diwawancarai Motherboard.


Tonton dokumenter VICE soal manusia sakti sanggup naik gunung salju tanpa pakai baju yang jadi subyek penelitian ilmuwan:


Maka gempa bumi dalam kedua terbesar pernah dicatat manusia—sebesar 8,2 skala Richter—yang terjadi pada 1994 di Bolivia memenuhi syarat-syarat ideal untuk jadi bahan penelitian. Tim riset memanfaatkan superkomputer di Princeton menganalisa berbagai data seismik dari gempa di Bolivia. Dengan begitu, mereka merekonstruksi struktur-struktur yang terdapat di kawasan perbatasan mantel planet kita.

Model statistik dari penelitian ini belum mampu menentukan berapa meter tinggi gunung bawah tanah itu secara akurat. Setidaknya para peneliti bisa menyimpulkan ada, "topografi pegunungan di bawah tanah yang skalanya bahkan lebih besar dibandingkan Pegunungan Rocky dan Appalachia." Kesimpulan terbut disampaikan ketua tim penelitian ini, Wenbo Wu.

"Ada kemungkinan gunung-gunung di perbatasan 660-kilometer yang memisahkan mantel bumi lebih besar dari Gunung Everest," kata Irving menambahkan.

Pegunungan ini diduga terdiri dari batuan jenis kasar. Bagaimana kawasan ini muncul? Sangat mungkin akibat akumulasi bongkahan dasar laut yang diserap ke dalam mantel Bumi dan jatuh hingga ke kawasan perbatasan tersebut. Di perbatasan lowong bawah tanah itu, sangat mungkin terdapat peninggalan kuno dari sejarah perkembangan Bumi selama ini.

Seiring makin berkembangnya teknik-teknik superkomputasi, para ilmuwan berharap akan ada kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang pegunungan di bawah tanah yang kita pijak.

"Pnelitian lebih lanjut dapat mengajarkan lebih banyak informasi tentang struktur gunung topografis di bawah tanah dan seperti apa pesebarannya di seluruh planet. Sekarang kami sudah bisa melihat beberapa bagian dari perbatasan 660-kilometer lebih detail dibandingkan kajian sebelumnya," kata Irving.

Riset ini tidak hanya mendorong pemahaman kita tentang evolusi bumi, tetapi juga memperdalam pengetahuan mengenai proses-proses dan struktur-struktur yang membentuk planet di alam semesta.

Artikel ini pertama kali tayang di Motheboard