Iklan
pengungsi

Perang Terus Berkecamuk di Suriah, Teknologi Bantu Kita Tak Melupakan Pengungsi

Tagar #mewesyria menggunakan metode cerita inovatif supaya jutaan orang yang melarikan diri dari perang bisa membagi kisahnya pada penduduk dunia.

oleh Nick Chedli Carter
16 Agustus 2017, 6:58am

Foto via Mohsin Mohi-Ud-Din.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Impact.

Abad 21 menandai kegagalan manusia menghindari takdir buruk peperangan dan kematian jutaan orang tak berdosa yang pernah terjadi di abad-abad sebelumnya. Contoh terbaiknya adalah perang saudara yang terus berkecamuk selama tujuh tahun terakhir di Suriah. Peradaban modern saat ini ternyata gagal menghentikan pertempuran itu. Lebih dari 250 ribu orang tewas akibat konflik Suriah, lebih dari satu juta orang luka-luka, dan jutaan lainnya terpaksa kabur dari kampung halamannya menjadi pengungsi. Konflik Suriah memberi efek domino global, berupa krisis aliran pengungsi yang membanjiri negara-negara tetangga Suriah, misalnya Turki, Yordania, dan Libanon. Belum lagi ratusan ribu manusia yang terus ngotot berusaha menyeberang ke Eropa untuk mencari perlindungan dan penghidupan lebih baik.

Negara-negara di dunia tak bisa berbuat banyak untuk menghentikan drama tragis, yang dipicu oleh konflik geopolitik itu. Akibatnya, jutaan orang yang membutuhkan bantuan, yakni pengungsi, terlupakan dalam kondisi nestapa. Diamnya negara-negara besar juga membuat kawasan Timur Tengah di sekitar Suriah rentan menjadi sarang organisasi teror. Tentu saja, tidak semua orang berpangku tangan. Ribuan aktivis kini berusaha melakukan aksi nyata, supaya pengungsi konflik Suriah mendapat uluran tangan.

Sejak tiga bulan lalu, tim VICE Impact memperoleh akses mewawancarai aktivis dan mantan staf PBB Mohsin Mohi-Ud-Din. Dia menggagas platform #mewesyria, sebuah program yang didanai oleh Ashoka's Youth Venture. Platform ini menyediakan sarana agar penduduk dari belahan dunia manapun dapat langsung memberi bantuan kepada pengungsi, hingga level individu, yang benar-benar membutuhkan. Pengungsi diberi kesempatan bercerita pengalaman hidupnya lewat forum langsung serta streaming.

VICE Impact menemui Mohsin di Yordania, untuk membahas apa saja yang dia temukan setelah mengunjungi kamp pengungsi di negara itu, serta mencari tahu apa saja yang barangkali bisa diberikan para pembaca sekalian untuk menolong mereka.

VICE Impact: Apa saja perkembangan yang sudah berhasil dicapai dari platform #mewesyria?
Mohsin Mohi-Ud-Din: Saat ini kami sedang memetakan bantuan apa saja yang dibutuhkan saudara-saudara pengungsi di Yordania, Turki, dan Libanon. Program kami akan fokus lebih dulu di tiga lokasi kamp pengungsian tersebut. Sebagian dari bantuan yang berhasil kami kumpulkan juga dikirim ke para pengungsi yang terdampar di Eropa. Salah satu program utama kami adalah 'Bercerita untuk Mengubah Keadaan'. Kami meminta pengungsi secara langsung menggambarkan situasi mereka di kamp lewat layanan streaming, sehingga bisa disaksikan jutaan orang lain di seluruh dunia. Program ini juga bisa menjadi sarana membantu anak muda asal Suriah melakoni terapi kesehatan mental dan psikososial dengan cara bercerita.

Saya pikir sudah sulit untuk menarik simpati dari warga dunia tetang apa yang terjadi di Suriah. Semua kengerian itu telah digambarkan media.

Karena ada kebutuhan rehabilitasi kesehatan mental mereka, kami pun mengajak kolaborasi psikolog, psikiater, dan pakar neurosains untuk membantu menyediakan metode cerita yang bisa membantu korban menghadapi trauma.

Seperti apa sih narasi besar yang dipahami orang awam terhadap pengungsi?
Rata-rata tentu saja masih seperti gambaran media massa dan politikus saat membicarakan pengungsi. Kita tentu saja sudah paham bahwa situasi para pengungsi itu berbahaya, kita bicara perkara hidup dan mati. Pengungsi menanggung trauma terhadap kekerasan tiap hari.


Simak juga video VICE dari garis depan Suriah:

Padahal, kalau kita mau lebih jeli, ada banyak hal yang terlewatkan. Anak muda Suriah yang menjadi pengungsi itu sebetulnya tetap ingin berkontribusi terhadap masyarakat yang menampung mereka sekarang. Sayang, ruang yang tersedia agar talenta mereka terpakai semakin menyusut tiap hari. Supaya pengungsi berusia muda dapat memberi manfaat balik kepada negara penampung, idealnya mereka tetap memperoleh akses terhadap sekolah, izin tinggal permanen, izin kerja, dan izin untuk menyewa apartemen. Semua kesempatan itu belakangan menyusut di banyak negara.

Apakah penduduk internasional masih akan terkejut mendengar pengakuan para pengungsi?
Saya pikir tak ada lagi yang bisa mengejutkan orang tentang peristiwa yang mereka alami di Suriah. Semua yang buruk-buruk sudah harus mereka hadapi selama ini. Banyak keluarga pengungsi yang mati keracunan akibat bom gas dari pesawat. Dua tahun lalu semua orang berduka menyaksikan jasad balita bernama Aylan Kurdi terdampar di tepi pantai Turki. Kita semua berduka melihat balita berlumur darah setelah tertimpa reruntuhan apartemennya yang dihancurkan jet tempur. Semua orang bilang, "betapa menyedihkannya kondisi di sana."

Sekarang, semua simpati macam itu sulit didapat lagi. Sebagai penduduk global, kita harus mulai beranjak dari sekadar bersimpati. Kita harus bekerja sama dengan orang-orang lintas organisasi untuk mengubah simpati tadi menjadi aksi nyata. Kalau sekadar prihatin melihat kengerian Suriah, tak akan ada yang berubah.

Pengungsi mendapat kesempatan bercerita kepada sesamanya. (Foto via Mohsin Mohi-Ud-Din)

Apa saja misalnya pengalaman pengungsi muda yang bisa dipahami penduduk lintas negara?
Kalau kalian mendengar cerita-cerita mereka, ada banyak yang merasa bingung karena tak lagi punya tujuan hidup. Pengalaman macam itu mengerikan, mereka harus menghadapi perubahan konstan setiap hari. Secara fisik, dipaksa pergi dari kampung halaman juga akan membebani tubuhmu, karena hal itu berkaitan dengan kehilangan dan trauma yang nyata.

Dari bermacam tantangan yang dihadapi organisasi kalian membantu pengungsi Suriah, apa yang paling mendesak dan butuh bantuan orang banyak untuk mengatasinya?
Media sosial saat ini terlalu riuh. Banyak orang di berbagai negara yang tentu saja kebingungan memilah informasi prioritas. Tak heran bila isu Suriah ini terpinggirkan. Sebenarnya kuncinya adalah fokus pada hal yang bisa kita lakukan. Jika kalian benar-benar ingin membantu, tim kami sedang membutuhkan pendongeng, penerjemah. Jadi, siapapun kalian, asal punya latar belakang pekerjaan bidang komunikasi, kalian bisa membantu kami melakukan perubahan yang nyata. Kalian bisa bergabung dengan Youth Venture's #MeWeSyria karena kami butuh dukungan dan pengalaman kalian.

Komunitas pengungsi yang kini dilayani platform #mewesyria. (Foto via Mohsin Mohi-Ud-Din)

Persoalan lain adalah pendanaan. Kami tiap hari harus menghemat anggaran, padahal kebutuhan para pengungsi selalu bertambah tiap hari. Para aktivis dalam gerakan ini sudah banyak yang kurang tidur. Kami terus putar otak tiap saat untuk mencari sumber dana, supaya banyak orang tetap memperoleh bantuan.

Melihat semua ini, apakah kamu masih percaya masa depan akan lebih baik?
Satu-satunya hal yang terus membuat saya optimis adalah adanya pengungsi Suriah yang terlibat aktif dalam program young changemakers dalam jaringan kami. Mereka terus bersemangat membangun narasi bagi semua orang untuk serius membantu mereka mengubah keadaan di negaranya. Saya sangat beruntung bisa membantu anak-anak muda yang penuh semangat itu berbagi cerita yang menginspirasi.

Tentu saja, ada hal yang membuat saya frustrasi. Anak-anak muda itu butuh akses terhadap dunia riil. Sekolah, bantuan pemerintah, dukungan orang tua, serta pekerjaan. Ada satu titik, program kami tidak bisa memenuhi semua itu. Mereka butuh akses yang nyata.

Apa target kalian selanjutnya?
Sekarang kami sedang menjalin kerja sama dengan Yayasan Ashoka Youth Venture. Kami ingin mereplikasi program #mewesyria ke lebih banyak komunitas pengungsi Suriah di berbagai negara. Harapannya, program berbagi cerita ini bisa juga dipakai oleh saudara-saudara kita dari Amerika Latin atau Afrika yang menjadi pengungsi atau migran. Mereka juga butuh saranan bercerita seperti ini untuk memperoleh dukungan mental dan psikososial. Ke depan, kami juga akan semakin aktif membantu para pengungsi dari Timur Tengah. Kami ingin program ini dijalankan secara swakelola oleh komunitas anak mudanya.

Apabila kalian ingin membantu tim Mohsin, klik saja #mewesyria atau beri donasi ke Youth Venture. Pemutakhiran informasi para pengungsi selalu dikabarkan tim #MeWeSyria lewat instagram dan twitter.

Tagged:
Konflik Suriah
Suriah
Timur Tengah
perang
Turki
Pengungsi Suriah
Bencana Kemanusiaan
Bantuan
Bantuan Kemanusiaan
Krisis Pengungsi
Perang Saudara Suriah