'Okja' Membuktikan Manusia Akan Celaka Jika Tak Mau Saling Memahami

Karya terbaru sutradara legendaris Korsel, Bong Joon-ho, baru saja tayang di Netflix. Film ini menggambarkan kerumitan sekaligus pentingnya penerjemahan.

oleh Karen Han; Diterjemahkan oleh Syarafina Vidyadhana
|
Jul 4 2017, 7:23pagi

Awas jangan baca artikel ini kalau tak mau tahu spoilers cerita Okja.

Penerjemahan adalah salah satu pusat perhatian film Bong Joon-ho terbaru, Okja, yang baru saja dirilis kemarin ini. Persoalan penerjemahan muncul seiring tokoh-tokohnya berpergian ke benua lain, terutama Korea Selatan dan Amerika Serikat, dan hal tersebut digambarkan sebagai sesuatu yang sukar. Bahkan kalaupun makna umumnya bisa ditangkap, ungkapan sehari-hari tertentu dan struktur gramatika seringkali nyangkut dalam proses penerjemahan.
Klimaks film ini terletak pada penerjemahan keliru yang disengaja. Mija (Ahn Seo-hyun) dipertemukan kembali dengan babi super kesayangannya berkat ALF, yang dipimpin oleh Jay (Paul Dano).

K (Steven Yeun) berperan sebagai penerjemah mereka. Meski mereka berhasil menyelamatkan Okja dari cengkraman Mirando Corporation, langkah selanjutnya dalam rencana ALF adalah mengembalikan Okja kepada mereka demi menghancurkan perusahaan tersebut dari dalam. Ketika Jay menyampaikan hal ini kepada Mija, bahwa mereka tidak akan melanjutkan misi tanpa persetujuannya, jawabannya sederhana betul: Dia enggak mau ikut-ikutan dalam misi ini, dan hanya ingin membawa Okja kembali ke pegunungan. Tapi K terlalu bersemangat dengan rencana itu, jadi dia berbohong kepada rekan-rekannya bahwa misi dapat dilanjutkan.

Yang membuatnya menarik, selain implikasinya pada plot, adalah kesalahan si penerjemah segera diikuti dengan kesalahan penerjemahan filmnya. Anggota ALF minggat satu persatu, dan K yang terakhir pergi. Tepat sebelum meninggalkan truk, dia menghadap Miha dan, menurut subtitle-nya, berkata "How was my Korean?" ("Gimana Bahasa Koreaku?") dan "Try learning English. It opens new doors!" ("Coba deh belajar Bahasa Inggris. Itu bisa membuka banyak kesempatan!") Tapi dialog yang sebetulnya meluncur dari mulut K adalah, "My name is Gu Soon-bom" ("Namaku Gu Soon-bom").

Ini adalah kekeliruan penerjemahan yang mungkin terlewatkan oleh banyak orang. Kalau dicocokkan dengan narasinya, subtitle itu memang masuk akal. Hal tersebut berangkat dari perkenalan K, bahwa meskipun dia bisa bercakap-cakap dalam Bahasa Korea dengan cukup fasih, dia masih belum sepenuhnya nyaman; oleh sebab itu, subtitle itu bisa dianggap permohonan maaf K karena keliru menafsirkan. Tapi siapapun yang menangkap ketidaksesuaiannya, kemungkinan akan memandang film ini dengan cara yang berbeda sama sekali.

Cuplikan adegan via Netflix

Perbedaan bahasa dan komunikasi adalah tema yang mengiringi keseluruhan film. Mija berada dalam posisi merugi saat kali pertama berinteraksi dengan ALF, karena dia harus mengandalkan K untuk berbicara mewakilinya. Meski demikian, sepanjang film dia berlatih Inggris secara mandiri, dan mampu berkomunikasi langsung dengan kpala Mirando Corporation (diperankan oleh Tilda Swinton) pada kali terakhir. Persahabatan Mija dan Okja melampaui bahasa. Pada momen-momen penting, Mija dan Okja saling berbisik, dan tak ada keraguan bahwa mereka mampu memahami satu sama lain meski mereka berdua adalah spesies berbeda. Yang mereka ucapkan adalah rahasia, serupa adegan terakhir film Lost in Translation besutan Sofia Coppola.

Namun kebohongan K adalah contoh paling gamblang betapa pentingnya bahasa dan komunikasi dalam Okja. Ketika dia mengakui tindakannya, Jay mendepaknya dari ALF, berkata bahwa "translation is sacred." Ketika K muncul kembali dalam film, dia mentato "translations are sacred" di lengannya sebagai penebusan dosa. Perbedaan gramatika antara dua frasa tersebut bisa dibilang kecil namun tidak remeh. Yang pertama mengacu pada tindakan menerjemahkan; yang kedua mengacu pada hasil terjemahan. Keduanya sama-sama membahas perbuatan K terhadap Mija.

Cuplikan adegan via Netflix

Sifat ganda semacam itu cocok terutama untuk film dengan produksi hibrid. Okja adalah film Korea-Amerika, dan mendorong bakat Bong Joon Ho untuk membentangkan mood dan konvensi genre sampai ke ujung batas. Film ini menampilkan perpindahan cerdas khas sang sutradara, tapi juga memadukan imagery ala Barat (adegan di ruang rapat Mirando meniru citra ruang rapat Gedung Putih saat penangkapan bin Laden), musik ("Annie's Song" John Denver), dan rujukan budaya (kode nama yang digunakan oleh ALF mengingatkan penonton pada Reservoir Dogs, terutama adegan mengungkapkan nama asli antara Mija dan K, serta penyalahgunaan kepercayaan) dengan detail-detail spesifik Korea. Disebutkan singkat soal aplikasi perturakan pesan Kakaotalk (sayangnya tidak disertakan dalam subtitle), hanbok yang dikenakan Mija sebagai semacam promosi bagi Mirando, dan kesemak kesukaan Okaja, yang sering ditemui dalam legenda rakyat Korea.

Menerjemahkan dan terjemahan sama-sama sakral, dan ada detail dalam Okja—baik yang kontekstual maupun metatekstual—yang wajarnya hilang dalam proses penerjemahan. (Saya jadi penasaran, adakah subtitle Bahasa Inggris di suatu bagian yang diterjemahkan dengan keliru untuk penonton Korea?) Detail-detail ini tidak mengubah narasi; malahan, lebih seperti ungkapan sehari-hari yang nyasar di antara bahasa-bahasa, atau perbedaan antara bahasa dan komunikasi. Makna umumnya disampaikan dan ditangkap kurang lebih sama. Hubungan personalnya yang berubah.

Follow Karen Han di Twitter.

More VICE
VICE Channels