Film

'Face/Off' Adalah Film Laga 90-an Terbaik

Mahakarya sutradara John Woo itu dirilis 20 tahun lalu. Dengan semua detail cerita yang klise, film dibintangi Nicholas Cage ini justru sangat menghibur.

oleh Frederick Blichert
10 Juli 2017, 1:08pm

Dekade 1990-an adalah era emas dari film action dengan konsep tinggi yang menawarkan plot sederhana yang gampang dipasarkan dan ditulis sedemikian rupa sebagai alasan adegan baku hantam atau kejar-kejaran di dalamnya. Memang, masa itu film action yang laris di bioskop dipenuhi dengan plot seperti ini: sekelompok narapidana yang naik pesawat, bom dalam bus yang harus terus ngebut di atas 50km/jam, buronan yang ternyata tak punya salah serta taman hiburan yang berisi dinosaurus…..yang sudah kabur dan memburu pengunjung taman.

Saya serius. Film action yang bagus biasanya punya jalan cerita yang sederhana dan sayangnya, film-film seperti ini justru makin langka akhir-akhir. Jadi logis, ketika John Wick—film laga tanpa tedeng aling-aling dan berpretensi jadi film pintar—beredar, kita langsung kesengsem.

Menurut saya, film action terbaik dari dekade 90an adalah mahakarya John Woo yang keluar pada tahun 1997, Face/Off—Film sepanjang 138 menit yang beraksi aksi laga tak masuk akal dan diikat dengan sebuah plot sederhana. Jalan cerita Face/Off sangatlah sederhana: seorang polisi harus menyawar menjadi seorang gembong kriminal untuk mendapatkan informasi penting supaya bisa mencegah sebuah serangan teroris. Twist-nya adalah informasi superpenting itu hanya bisa didapatka dari saudara laki-laki sang penjahat. Akibatnya, mau tak mau, sang jagoan harus bertukar wajah dengan sang bandit lewat sebuah prosedur operasi eksperimental. Oh, sebentar, apa saya sudah bilang kalau film ini dibintangi aktor kelas laga kelas atas pada masanya, John Travolta dan Nicholas Cage?

Dengan Menambahkan elemen sci-fi (pertukaran wajah dengan operasi ekperimental) dan mempertahankan kesederhanaan ala film laga (polisi yang nyamar jadi penjahat), Face/Off terasa segar pada masanya. Memang, kita harus akui bahwa mencampurkan aksi dan sci-fi tak selalu berhasil, terutama belakangan ini. Namun, di dekade 90an, oplosan genre seperti cukup populer (masih ingat Timecop dan Demolition Man?).

Kalau kamu kembali memikirkan premis dalam film ini, jangan kaget kalau kedengerannya sangat konyol. Tapi justru premis macam inilah yang bikin film ini begitu keren. Plot sesederhana itu justu menghasilkan metafora visual yang keren lagi kocak—cermin dua arah memisahkan Travolta dan Cage, ketika direkam, membuat kedua aktor saling mencerca satu sama lain dan diri mereka sendiri (enggak dalem sih, tapi kan yang penting bisa bekerja dengan baik.).

Casting Face/Off juga kadang terasa seperti kapsul waktu yang mengabadikan puncak kejayaan Cage dan Travolta—Cage berakting sebagai Castor Troy, sementara Travolta menjadi agen spesial FB, Sean Archer—tapi, kita tahu, selama hampir 95% durasi movie, kedua peran ini ditukar.

Inilah salah satu bagian paling menyenangkan dari film ini: kita bisa menonton Travolta dan Cage menirukan satu sama lain. Di dalam film itu, Travolta melontarkan beberapa kalimat yang kedengeran menggelikan ("we're gonna blow up LA, bro. Ain't it cool?"). Namun, kalimat maksa seperti jadi keren ketika kita membayangkan Nicholas Cage mengucapkan dengan nada yang nyaris sama. Lagipula, tak banyak aktor yang bisa mengucapkan kalimat seperti "I'm about to unleash the Biblical plague Hell-A deserves," namun entah bagaimana Cage berhasil melakuannya—dan Travolta pun bisa menirukan kalimat serupa dengan lumayan baik. Di film ini, kita bisa menemukan segala macam karakter yang pernah diperankan Travolta dari kepala keluarga yang keras, hingga pria yang halus sampai bajingan hiperaktif. Pendek kata, menonton Face/Off sama dengan menyaksikan rangkuman semua peran Travolta dari Pulp Fiction sampai Look Who's Talking.


Cage sedang keren-kerennya di Face/Off. Mengingat film-film Cage yang makin kacrut belakangan, rasanya agak ganjil menemukan Cage benar-benar berakting dengan serius dalam Face/Off. Pada tahun 1997, Cage masih berada di atas angin pasca memenangi oscar untuk perannya dalam Leaving Las Vegas dua tahun sebelumnya. Di samping itu, dia baru saja berperan dalam film laga 90an ikonik besutan Michael Bay, Con Air (dirilis di bulan yang sama bersama Face/Off). Jadi sekali lagi, Cage tengah di masa keemasannya saat itu.

Dan di Face/Off lah, bukan di film lainnya, Cage benar-benar menunjukkan range kemampuan aktingnya. Cage memerankan jagoan super baik, sembari sedikit melakukan impersonasi John Travolta. Dia juga memerankan penjahat yang kejamnya tak ketulungan beberapa saat kemudian. Namun di saah satu titik di film ini, Cage menunjukkan kemampuan terbaiknya. Cage menunjukkan bahwa sepanjang film dia sadar sepenuhnya bahwa dirinya tengah ditonton ribuan mata, utamanya ketika memerankan Travolta yang berusaha mati-matian meniru Cage. untuk bisa memainkan adegan ini, ada sejenis swa-analisis yang berujung pada Caga menjadi dirinya sendiri dengan penampilan yang paling mengenakan untuk ditonton. Dalam suatu adegan, Cage memandangi cermin, perlahan-lahan menyunggingkan senyum, dan mengubahnya menjadi seringai mirip joker. Cage kemudian membuka matanya lebar-lebar, dan mengubah dirinya menjadi meme dirinya sendiri. Benar-benar impersonasi Nicholas Cage paling sempurna, yang dilakukan oleh Nicholas Cage sendiri.

Adegan operasi tukar wajah dalam film ini juga kental dengan detail yang gory. Wajah Archer benar-benar dipotong dan diganti di depan mata kita. Di saat yang sama, Troy masih dalam keadaan koma. Namun, dengan sangat mengejutnya, penjhat kelas kakap ini bangun, berubah menjadi Archer, menculik dokter bedah dan kabur. Eksekusi adegan ini mengingatkan kita pada scene dari film horror yang bikin merinding. Seketika, ruangan yang dipenuhi peralatan operasi paling maju berubah menjadi sebuah asylum yang temaram. Troy terbangun dan segera gentayangan dengan perban menutupi bekas luka di wajahnya—yang sudah diangkat. Kedua adegan ini sepertinya terinspirasi dari film horor klasik Perancis karya Georges Fanju Eyes Without a Face. Tapi, kalau kita melewatkan referensi ini, kedua adegan itu masih tetap bikin merinding.

Yang mengherankan adalah bagaimana adegan operasi bedah ini bisa bekeja dengan baik meski enggak nyambung dengan sisa film lainnya—lalu ada juga adegan tentang penjara rahasia di sebuah kilang minyak lepas pantai di mana semua narapidana menggunakan sepatu logam dan lantainya diberi magnet, tak ada yang tahu! Lagipula, dekade 90-an adalah masa ketika Hollywood membuat film blockbuster tentang seregu kru kilang minyak diterbangkan ke luar angkasa, meski cuma dalam film, untuk meledakkan asteroid sebesar Texas dan menyelamatkan dunia. Jadi, ada baiknya beberapa pertanyaan dibiarkan tak terjawab.

Tentu saja, perlu tangan dingin John Woo untuk meramu semua ini menjadi sebuah film action jempulan. Dia menyuntikan sentuhan khasnya dalam The Killer, Hard-Boiled, dan Hard Target pada Face/Off. Kita banyak menemukan merpati yang terbang dengan slow-motion yang sangat Woo banget. Seharusnya, adegan seperti ini harus diirit-irit (misalnya Blade Runner). Tapi, Woo tak ambil pusing. Baginya, makin banyak merpati makin bagus, mungkin begitu pikirnya.

Kita juga disuguhi adegan khas Woo lainnya, dua pria yang saling menghunuskan pistol. Patut diakui, banyak aspek Face/Off terasa seperti dicatut langsung dari film aksi Hong Kong yang memang yang berpengaruh di Hollywood saat itu. Namun, pilihan Woo tak salah dan terbukti ideal untuk Face/Off.

Puncaknya adalah kejar-kejaran speedboat yang sebenarnya tak begitu beralasan. Saat Face/Off dirilis, ada tren di Hollywood tengah getol mengganti adegan kejar-kejaran mobil dengan laga yang lebih wah. Bentuknya bisa macam-macam: aksi baku hantam pesawat tempur jet dalam True Lies, ketegangan di bus kota dan Subway ala Speed, ada gebuk-gebuk di atas gerbong kereta dalam Mission: Impossible. Namun, Face/Off dapat point ekstra lantaran memunculkan adegan klimaks yang muncul tanpa juntrungan yang jelas. Cage mengejar Travolta dengan berlari. Keduanya tiba-tiba sampai di sebuah marina, naik dua speedboat berbeda dan kejar-kejaran berlanjut di atas air.

Face/Off adalah film kelas B yang harusnya jadi film straight-to-video kacangan pada masanya. Namun, keberhasilannya melewati jebakan batman ini adalah capaian tersendiri bagi salah satu karya terbesar John Woo ini. Semua bagian aneh dan acak ini ketika ditonton kembali ternyata saling melengkapi. Nyata belaka, kalau Woo telah mencangkokan hati dalam film action ini. Kita yang awalnya tak peduli-peduli amat kalau anak Archer terbunuh 10 tahun sebelum, kini percaya bahwa dendamnya pada Troy memang benar-benar "tulus." lalu, semua informasi yang dijembreng di awal film dan di sekujur film kini terasa efesien. Setidaknya, beragam informasi ini memandu kita melewati rangkain adegan laga dan melodrama lebay. Film action 90an sepertinya selalu punya tempat untuk karakter anak yang mati, istri yang ditelantarkan dan anak perempuan yang bengal—pokoknya apapun yang bikin jagoan kita lebih manusiawi dan bikin plotnya jalan secukupnya.

Saat ini, barangkali tak ada satupun dari kita yang ragu dalam menilai Face/Off. Pilihannya cuma dua: membenci film ini atau menyanjung dan mencintainya. Selama kamu bisa bertahan selama 15 menit pertama film ini, kalian akan dengan mudah menyayangi Face/Off. Perlu kerja keras untuk sedikit akal sehat untuk bisa menikmati film ini sepenihnya. Dan jika hal ini bisa kamu lakukan, Face/Off akan sangat menghibur.

Sebagai sebuah produk dekade 90an, Face/Off adalah mahakarya film action dalam segala kekliseannya.

Follow Frederick Blichert di Twitter.