Iklan
sensor

Militer AS Menghancurkan Sepihak Karya Seni Buatan Tahanan Guantanamo

Pentagon telah melakukan sensor terhadap kebebasan berekspresi tahanan terorisme itu, yang sebetulnya perlu dilihat oleh orang-orang lain.

oleh Kara Weisenstein
30 November 2017, 11:01am

Dua lukisan ini dibuat oleh Muhammad Ansi dan Sabry Mohammad Ibrahim Al Qurashi. Olah gambar Lia Kantrowitz. Sumber dari John Jay College.

Biarpun terkenal ke seluruh dunia, tak banyak orang tahu seperti apa kondisi Penjara di Teluk Guantanamo. Satu setengah dekade setelah Serangan 11 September atau biasa dikenal sebagai 9/11 di AS, Guantanamo masih penuh misteri—penjara terpencil di perairan yang berbatasan dengan Kuba. Penjara ini menjadi lokasi tujuan Amerika mengirim semua tersangka ataupun terduga kejahatan terorisme membusuk selamanya.

Sejak 2002, diperkirakan 779 tahanan ditahan tanpa kepastian bebas di sana—sembilan meninggal dalam penjara, 15 di antaranya masih di bawah umur, sementara hanya sembilan orang yang benar-benar dituntut melakukan kejahatan. Mantan Presiden AS Barack Obama sempat berjanji untuk menutup Guantanamo ketika dia sedang berkampanye menjadi presiden di 2008. Setelah ada janji dari Obama, 730 tahanan telah dipindahkan atau ditampung di negara lain. Namun 41 narapidana masih menetap di Guantanamo. Apabila pernyataan Presiden AS saat ini, Donald Trump, bisa dipercaya, dia justru berniat mengisi Guantanamo dengan “manusia jahat”. Artinya angka tadi sudah pasti akan bertambah.

Di bawah pemerintahan Obama, para sipir penjara Guatanamo sempat melunak. Beberapa aspek dari penjara masih tetap dirahasiakan, tapi lebih banyak jurnalis dipersilakan masuk. Pada 2008, sebagai pengalihan demi membuat tahanan sibuk, militer sebagai pengelola utama penjara itu berusaha mendorong tahanan menciptakan karya seni.

“Awalnya ada seorang instruktur seni,” kata Erin Thompson, profesor bidang pendidikan seni untuk narapidana dari John Jay College of Criminal Justice. Selama Terbelenggu di lantai sel, tahanan cenderung menghabiskan waktu meniru gambar alam dari materi yang tersedia di perpustakaan penjara. “Banyak fotonya diambil dari majalah, termasuk National Geographic,” imbuhnya.

Lukisan Djamel Ameziane, Building Reflected in a Lake, 2010.

Beberapa lukisan buatan penghuni Guantanamo nampak amatir, dengan warna yang kelewat terang dan komposisinya berantakan. Tapi banyak juga yang detil dan penuh nuansa. Hampir semuanya menunjukkan lokasi-lokasi yang belum pernah dikunjungi tahanan, seperti pantai New England atau jembatan Golden Gate ketika matahari terbenam.

Siapa sangka, banyak karya seni yang diciptakan tahanan Guantanamo dalam beberapa tahun ini dihancurkan sepihak oleh militer. Pada 2013, ketika nyaris 100 tahanan menggelar aksi mogok makan sebagai bentuk protes atas kebijakan lapas, pihak militer menggerebek semua sel. Aparat merampas semua karya seni dan dokumen resmi dari kamar para tahanan. Akibat penggerebekan tersebut, keluarga tahanan dan pengacara mulai diam-diam menyimpan karya seni bikinan para napi.

Lukisan Muhammad Ansi, Hand Holding Red Flowers, 2015. Bisa dilihat di sebelah kanan ada cap dari militer AS.

Sama seperti semua obyek yang diperbolehkan meninggalkan Guantanamo, begitu karya seni diizinkan lolos, mereka dicap dengan tulisan “APPROVED BY US FORCES” menggunakan tinta hitam. Setelah selamat dari semua sensor tadi, untuk pertama kalinya, beberapa karya seni tahanan di Penjara Guantanamo dipamerkan di John Jay College di New York dalam pameran berjudul Ode to the Sea.

Pameran ini memberikan kesempatan langka untuk melihat hasil karya seni Guantanamo—terutama karena pihak militer AS sudah tidak lagi membiarkan karya seni lolos keluar. Pada tanggal 15 November, Departemen Pertahanan AS mengeluarkan pernyataan bahwa karya seni tahanan adalah milik properti negara. Menurut laporan investigatif reporter veteran Pangkalan Laut Teluk Guantanamo, Carol Rosenberg dari Miami Herald, pemerintah AS berencana membakar semua yang tersisa di Guantanamo, menghapus jalur komunikasi antara tahanan dengan masyarakat publik. Tentunya ada banyak warga Amerika yang mungkin akan mendukung praktek ini. New York Post sempat mewawancarai beberapa keluarga yang terpengaruh tragedi 11 September: mereka melihat seniman yang terlibat dalam Ode to the Sea sebagai teroris. Mereka kemudian marah melihat karya seni para tahanan dipamerkan.

Aliya Hana Hussain, pengacara pendamping tahanan Guantanamo dari Center for Constitutional Rights, tidak setuju jika hak tahanan berekspresi diberangus. Termasuk dengan cara menghancurkan lukisan atau melarang mereka berpameran. “Penghancuran karya seni merupakan kebijakan yang sia-sia yang hanya semakin jauh melucuti kemanusiaan dan hak yang tahanan miliki, dan ini mengkhawatirkan.”

Kelas seni yang akhirnya menghasilkan beberapa karya yang dipajang di pameran awalnya ditawarkan ke tahanan dengan tingkat keamanan rendah—seperti Djamel Ameziane. Dia dikirim ke Guantanamo di 2002 ketika pihak militer Pakistani menjual namanya ke pemerintah AS, kabarnya untuk mendapat imbalan uang yang lumayan. Dia seharusnya dilepas pada 2008, tapi menunggu lima tahun sebelum akhirnya merasakan kebebasan pada 2013.

“Menciptakan seni merupakan bentuk ekspresi perasaan tentang masa depan yang tidak jelas—hal-hal yang tidak kami dapatkan, yang kami impikan,” kata Ameziane lewat Hussain yang merupakan bagian dari tim hukumnya. “Menciptakan seni jelas membantu. Meredakan stres, membuat orang lebih tidak agresif, dan memberikanmu kemampuan untuk melihat hal lewat lensa seniman, dan memberikan perasaan kabur dari penjara secara spiritual.”

Djamel Ameziane, Shipwreck, 2011

Ameziane adalah seorang pelukis berbakat. Lukisan cat airnya yang menampilkan kabin alpine dan sebuah kapal layar yang menghantam karam penuh dengan detil memukau. Kurator dari pameran Ode to the Sea mengatakan dia bangga menjadi salah satu seniman tahanan terbaik. Ameziane dipaksa pindah ke Algeria setelah dirilis dari Guantanamo, tapi menciptakan karya seni adalah kesempatan pertamanya untuk membangun kembali identitas selain sebagai tahanan.

Menyaksikan karya seni mereka membantu pengunjung merasakan siksaan yang dialami para tahanan di Guantanamo. Dalam esai yang diterbtikan New York Times, mantan tahanan Mansoor Adayfi menggambarkan rasanya mengetahui bahwa penjara tempat dia bermukim terletak tidak jauh dari laut, namun dia sendiri tidak pernah melihatnya sebelum badai menghantam pada 2014, menyebabkan pihak militer menurunkan terpal yang menghalangi pandangan ke Laut Karibia.

“Kami semua menghadap ke arah yang sama: ke laut… saya mendengar seorang tahanan Afganistan berteriak, ‘Allahu akbar!’ ketika melihat laut, berterima kasih kepada Tuhan atas keindahannya,” tulis Adayfi. “Terpalnya diturunkan selama beberapa hari, dan para tahanan mulai menciptakan seni tentang lautan. Beberapa menulis puisi. Dan mereka yang bisa menggambar, menggambar lautan… Lautan melambangkan kebebasan bagi semua orang.”

Tidak semua tahanan menggambar lautan atau bunga. Beberapa lukisan bernuansa politis, misalnya karya Muhammad Ansi yang menunjukkan sosok balita Aylan Kurdi tenggelam. Aylan adalah pengungsi Suriah berumur 3 tahun yang meninggal ketika menyeberangi Laut Mediterrania pada 2015. Tidak banyak dari lukisan ini yang akhirnya diperbolehkan keluar dari Guantanamo.


Baca juga laporan VICE soal praktik penyiksaan tahanan di Penjara Guantanamo:

“Apabila mereka menggambar hal-hal yang menimpa mereka, atau apa yang terjadi di Guantanamo, sudah pasti tidak akan diizinkan lolos,” kata Alka Pradhan, Pengacara HAM di Guantanamo Bay Military Commissions. Dia menambahkan banyak tahanan menyensor karya mereka sendiri. “Mungkin ada elemen eskapisme juga… Ketika menggambar, mereka ingin membayangkan hal-hal yang menyenangkan.”

Seni juga menjadi pengalihan bagi tahanan bertahan melewati siksaan. Klien Pradhan di Guantanamo adalah Ammar Al-Baluchi, satu dari lima lelaki yang dituduh bertanggung jawab atas peristiwa 9/11. Al-Baluchi ditahan hanya berdasar tuduhan memesan video pelatihan penerbangan dan mentransfer uang dalam jumlah besar ke para teroris di AS. Al-Baluchi sudah dipenjara di Guantanamo lebih dari satu dekade, setelah sebelumnya ditahan di situs CIA selama tiga setengah tahun. Dia tak pernah diadili secara layak.

“Ketika disana, dia disiksa secara sadis,” kata Pradhan. “Dia memperoleh cedera otak traumatis akibat sering dilempar ke tembok beton. Dia juga terus disiram air, mirip dengan waterboarding. Dia kekurangan tidur ketika ditahan CIA selama tiga tahun. Luar biasa bahwa dia tidak menjadi gila mengingat semua hal yang dia lalui.”

Lukisan Muhammad Ansi, Drowned Syrian Refugee Child (dibuat setelah dia menonton jasad bayi pengungsi Suriah lewat TV), 2016.

Tidak seperti seniman lain yang karyanya dipajang di Ode to the Sea, Al-Baluchi masih ditahan dalam sel pengasingan Camp 7, khusus tahanan “bernilai tinggi”, yang “sebetulnya hanyalah eufemisme untuk sosok yang sudah disiksa oleh CIA,” jelas Pradhan. Al-Baluchi tidak pernah diizinkan menghadiri kelas seni dan tidak memiliki peluang masuk ke pengadilan, tapi tetap saja dia seniman yang hebat. Karyanya, Vertigo at Guantanamo, menampilkan pusaran titik berwarna melambangkan dampak fisik akibat disiksa. Al-Baluchi mengatakan ke Pradhan titik-titik inilah yang dia lihat ketika menutup mata di tengah penyiksaan.

“Melukis ibarat obat baginya. Ini caranya mengeluarkan pikiran yang terombang-ambing di dalam kepalanya,” kata Pradhan. “Menghasilkan karya seni adalah bentuk katarsis dan pengobatan diri, karena pihak sipir tidak memberinya obat apapun.”

Memamerkan karya seni Al-Baluchi bukanlah usaha para pengacara menyalahkan pihak manapun—namun lebih sebagai pengingat bahwa kita semua itu manusia. Termasuk narapidana Guantanamo. “[Ammar] sadar bahwa semua orang, terutama masyarakat Amerika menganggap dia dan yang lainnya sebagai monster,” ungkap Pradhan. “Pemerintah AS telah berhasil membuat semua orang percaya bahwa para tahanan adalah orang jahat yang kejam. Biasanya, apabila kita mencurigai seseorang melakukan sesuatu, kita menuntut, dan dia bersih hingga terbukti bersalah, kemudian masuk ke tahap peradilan. Tapi ini tidak didapat para tahanan ini.”

Lukisan Ammar Al-Baluchi, Vertigo at Guantanamo

Enam belas tahun yang lalu, seiring AS bangkit dari dampak teror 9/11, pemerintah Negeri Paman Sam meluncurkan operasi besar membasmi akar teroris di Afghanistan secara terburu-buru. Guantanamo adalah produk sampingan dari upaya balas dendam AS. Tapi luka ini dibiarkan bernanah tanpa orang sadar. Rasa sakit rakyat AS atas aksi teror brutal dialihkan dalam bentuk fasilitas penahanan yang pada praktiknya sangat mungkin menahan manusia yang tidak bersalah sama sekali.

Rasio dari tahanan yang dipenjarakan dengan yang sebelumnya diadili secara layak semakin menguatkan teori betapa penjara Guantanamo hanyalah alat untuk menahan manusia begitu saja. Perang melawan teror yang tanpa arah. Karya seni dari Guantanamo adalah pengingat akan harga yang harus dibayar gara-gara upaya balas dendam secara membabibuta tanpa mengedepankan asas praduga tak bersalah.

“Saya berharap mereka yang tidak terlalu paham tentang Guantanamo akan meninggalkan pameran dengan pikiran tidak nyaman tentang berapa lama para tahanan berada di dalam sana,” ungkap Pradhan. “Bagi tahanan yang sudah bebas, saya berharap publik melihat sosok mereka dan mengatakan ‘Lah, gimana sih? Mereka tidak pernah dituntut, tapi kenapa mereka dulu tetap ditahan? Apa dasar hukumnya?"

Tagged:
Donald Trump
Pentagon
Politik
guantanamo
Budaya
Amerika Serikat
Pelanggaran HAM
Terorisme
Kebebasan Berekspresi
Seni Rupa
Narapidana
Penjara Guantanamo
Penyiksaan brutal