Iklan
teknologi

Cara Kerja Amazon Sudah Mirip Negara Daripada Sekadar Toko Online

Merasa undang-undang pajak digital Prancis diskriminatif, Amazon balas mengenakan pungutan pajak pada entitas bisnis Prancis. Startup milik orang terkaya di dunia ini mentalnya sudah setara negara-bangsa.

oleh Edward Ongweso Jr; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
31 Agustus 2019, 7:30am

Foto Jeff Bezos, pemilik Amazon sekaligus orang terkaya sedunia oleh Getty Images.

Politikus dunia seakan-akan tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan kekuatan pasar yang dimiliki marketplace online Amazon. Ambil contoh Prancis, yang baru saja mengenakan pajak sebesar 3 persen kepada perusahaan teknologi global bernilai 750 juta Euro (Rp11 triliun) dan raksasa teknologi Prancis senilai 25 juta Euro (Rp391 miliar). Amazon jelas masuk dalam target skema pajak itu.

Amazon kemudian membalasnya dengan memberlakukan pajak pada produk ataupun entitas bisnis asal Prancis yang titip jual di lapak mereka sebesar 3 persen. Negara-negara Uni Eropa tengah merencanakan pengadaan pajak sepihak atas monopoli raksasa teknologi, tetapi anehnya perusahaan lain tidak mencontoh Amazon.

Satu-satunya pihak yang berwenang memungut pajak adalah negara, tetapi sepertinya perusahaan sekelas Amazon tak takut, malah menantang dan merebut kedaulatan negara kebangsaan di manapun itu.

Amazon bukan hanya ingin mendominasi pasar, tetapi menjadi pasarnya.

Tak ada jalan keluar bagi pebisnis yang sudah terlanjur masuk ke perangkap pasar online Amazon. Mereka harus siap rugi besar kalau mau terbebas dari jeratan pajak pribadi perusahaan. Apabila mereka menaikkan harga untuk membuat perbedaan, konsumen tidak bisa melakukan apa-apa karena dominasi e-commerce Amazon memberikannya pengaruh melemahkan pesaing.

Layanan cloud computing Amazon— sumber keuntungan perusahaan—berperan penting dalam berfungsinya berbagai perusahaan, layanan intelijen, dan entitas pemerintahan. Amazon menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar (Microsoft hanya 13 persen) dan hampir setengah dari seluruh infrastruktur cloud publik. Ini menunjukkan tidak ada cara mudah menghindari pengaruh raksasa teknologi.

Perusahaan ini sedang berlomba merebut hati Pentagon untuk mengembangkan “war cloud”, yang dapat menciptakan sistem kecerdasan buatan yang mampu berperang. Amazon berhasil menciptakan jaringan pengawasan pribadi berkat Ring (perusahaan pengawasannya), yang bermitra dengan ratusan departemen kepolisian.

Selain itu, banyak kota yang memohon-mohon kepada Amazon untuk mendirikan kantor pusat kedua di tempatnya. Perusahaan besutan Jeff Bezos bahkan berencana membangun habitat luar angkasa setelah pertumbuhannya yang tak terkendali turut merusak ekologi planet kita.

Melihat semua ini, istilah “monopoli” belum cukup menggambarkan kekuasaan Amazon yang sangat besar.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard