Olahraga Ekstrem

Lomba Tarik Tambang Kurang Greget, Lihat Serunya Kompetisi Tarik Lokomotif Kereta

Pesertanya pekerja KAI, porter stasiun, kuli bangunan, sampai anak sekolah. Lomba di Yogyakarta ini cocok banget jadi tambahan kompetisi manusia terkuat sedunia.

oleh Titah AW; foto oleh Alfian Widiantono
02 September 2019, 7:42am

Suasana lomba tarik lokomotif di Depo KAI Yogyakarta. Lomba ini diikuti pegawai hingga siswa magang. Semua foto oleh Alfian Widiantono.

"Tarik terus ndes, semangat! Kalau menang nanti kita tanggap dangdutan!"

Teriakan Achid membuat orang-orang yang mendengarnya tertawa. Sebagai komandan dan berdiri paling ujung, dia bertugas menarik tambang sekaligus menyemangati timnya. Mendengar janji menggoda tersebut, sembilan kawan Achid menahan pingkal sambil terus meringis meregang otot. Dengan tangan berbalut sarung tangan tebal, mereka tengah berusaha menarik sebuah lokomotif kereta api seberat 86 ton.

Beberapa orang sampai mencondongkan tubuh untuk menarik beban. Bersisian dengan mereka, tim lain berusaha melakukan hal yang sama. Sorakan penonton makin ramai buat kedua tim. Sementara si lokomotif awalnya bergeming, walau akhirnya bergerak pelan-pelan.

Mereka ini adalah peserta lomba tarik lokomotif yang diadakan oleh PT KAI Daerah Operasi VI Yogyakarta pada 21 Agustus 2019. Lomba diadakan di kantor Depo Lokomotif yang jadi tempat mangkal lokomotif sedang tidak beroperasi. Daop VI berpusat di Yogya, namun mencakup Klaten, Solo, hingga Wonogiri.

Hari itu, dua lokomotif jenis diesel electric dengan nomor seri CC 201 83 06 dan CC 201 77 18 disandingkan sejak pagi, untuk menguji kekuatan para peserta lomba. Menurut Eko Budiyanto, kepala humas PT KAI Daop 6, sudah kali ketiga kantornya mengadakan lomba tarik lokomotif.

Video lomba tahun lalu sempat viral di media sosial. Tahun ini, ada 14 kelompok yang berasal dari pekerja internal maupun pekerja non-formal di PT KAI Daop VI yang ikut. Termasuk juga komunitas railfans Yogyakarta.

1567408763666-persiapan-tim-sebelum-lomba
Persiapan salah satu tim sebelum lomba menarik lokomotif dimulai.

Achid dan timnya sendiri sehari-hari bekerja sebagai porter di Stasiun Tugu. Sejak awal, penonton telah menjagokan mereka memenangkan lomba karena dianggap sudah awam dengan urusan angkat beban berat.

"Sepertinya lebih berat narik uang di ATM sih daripada narik lokomotif. Kami sih optimis, tapi lawan kami berat, apalagi yang itu," tangan Achid menunjuk gerombolan laki-laki gempal yang mengenakan seragam biru tua, kelompok pekerja Depo Lokomotif.

Dibanding kelompok Achid yang mayoritas sudah bapak-bapak dan santun dengan seragam batik, tim Depo Lokomotif terlihat lebih sangar dengan badan berotot dan ujung kerah yang dinaikkan. Lomba siang itu diadakan di kantor depo, sehingga status mereka tuan rumah. Secara fisik pun para pekerja Depo Lokomotif nampak dominan dibanding yang lain.

Aturan lomba tarik lokomotif sebenarnya sederhana. Dua tim yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang adu cepat menarik lokomotif kereta api sampai ke garis akhir. Sebenarnya jarak antara garis start hingga finish hanya 10 meter. Namun beban seberat 86 ton menyulitkan mereka. Secara teori, strateginya adalah memusatkan tenaga tarikan di sentakan awal sehingga roda besi lokomotif bergerak.

Begitu menggelinding, rel yang sudah licin karena dilumasi oli akan memperingan beban mereka. Sepanjang lomba, rata-rata tiap tim tak butuh waktu sampai satu menit menyelesaikan satu ronde. Dua orang wasit garis menenteng bendera merah menjadi penentu lokomotif tim siapa yang berhasil melalui garis finish duluan. "Enggak ada strategi sih, yang penting sarapan aja biar ada tenaga," ujar Achid sumringah pada VICE.

Selain untuk memeringati kemerdekaan Indonesia, lomba ini juga ditujukan untuk mengedukasi masyarakat soal kereta api. "Body kereta api itu berat banget lho, bahaya kalau sampai kecelakaan. Apalagi yang selfie-selfie itu. Daripada selfie di rel atau jembatan, mending kesini aja jadi bisa kami awasi keamanannya," ujar Eko.

1567408843711-suasana-lomba-tarik-lokomotif-di-Depo-Lokomotif-Yogyakarta

Meski tampak agak mekso, namun keprihatinan Eko beralasan. Baik di Indonesia ataupun dunia, kasus kecelakaan akibat mengejar hasil foto selfie ekstrem di tempat atau situasi beresiko makin hari terus bertambah. Secara global, penelitian oleh the Journal of Family Medicine and Primary Care mencatat ada 259 kematian akibat selfie selama 2011-2017, tak terhitung yang belum dilaporkan. Saking maraknya, muncul istilah Selficide untuk menyebut kasus kematian seperti ini.

"Selfie itu jenis candu baru dan sangat menular," ujar Gilda Carle, psikoterapis dari New York. Menurutnya, saat ini orang rela mempertaruhkan nyawa demi berfoto dan mendapat like atau comment di sosial media. Di Indonesia, nampaknya berfoto di dekat kereta api yang sedang melaju masuk salah satu kategori selfie ekstrem yang digemari oleh anak muda.

Kasus remaja tersambar kereta saat sedang berburu foto kerap terjadi. Dua hari sebelum lomba ini diselenggarakan saja, di stasiun Solo yang masih termasuk Daop VI seorang siswa SMP meninggal tersambar kereta api saat selfie di rel. Ini membuat Eko Budiyanto geleng-geleng kepala.

"Kalau kecelakaan kereta apinya sih hampir zero accident ya, tapi kecelakaan di sekitar perlintasan makin banyak, mengkhawatirkan," ujarnya.

Hal itulah yang membuat lomba yang sebenarnya internal untuk PT KAI Daop VI ini akhirnya mulai terbuka untuk peserta umum. PihakKAI sendiri belum terlalu menyebarluaskan pengumuman. Hanya komunitas railfans seperti Semboyan Satoe di Yogya yang datang turut serta. Siang itu, 20-an anggota railfans yang umumnya berbadan ceking dan masih remaja ikut menjajal otot untuk menarik lokomotif yang mereka gandrungi.

1567409510680-ekspresi-para-peserta-menarik-beban-seberat-86-ton
Ekspresi para peserta lomba saat harus menarik lokomotif seberat 86 ton.

"Berat banget astaga, baru mencoba. Biasanya kan kegiatan di railfans cuma hunting-hunting foto," curhat Vino, siswa kelas 3 SMK Marsudi Luhur yang mengaku suka dengan kereta api sejak kecil. Vino dan komunitasnya diharap bisa jadi ujung tombak pertama untuk mengedukasi masyarakat soal kereta api ini.

Hadiah yang diperebutkan dalam lomba ini sebenarnya tak terlalu jelas, peserta lombapun bahkan tak terlalu peduli. "Halah yang penting ramai, katanya sih hadiahnya uang tapi nggak tahu berapa. Pokoknya cukup buat nyate bersama," ujar Surono, koordinator tim Depo Kereta Daop VI yang hari itu meraih juara tiga.

1567409329755-panitia-melumasi-rel-kereta-dengan-oli-agar-jadi-licin-dan-meringankan-beban-lokomotif
Panitia melumasi dengan oli agar peserta bisa lebih maksimal menarik lokomotif.

Bagaimana nasib Achid dan tim porter stasiun?

Mereka kalah di putaran kedua melawan tim Kuli Bangunan Stasiun Tugu, yang akhirnya juga kalah di ronde ketiga. Di babak final, laju lokomotif dua tim hanya terpaut beberapa detik. Tim Bangdis meraih juara 2, sementara juara 1 benar-benar diraih tim "mas-mas gempal" dari tim Depo Lokomotif Daop VI yang sejak awal dikhawatirkan Achid dan timnya sebagai saingan.

"Wah gagal ndangdutan ini," celetuk Achid sambil menepuk jidatnya dan tertawa. Dia mengaku angkat-angkat koper penumpang masih lebih mending daripada lokomotif.

Kalau boleh meminjam gombalan Dilan, tampaknya lokomotif itu memang jangan ditarik, berat. Kecuali sudah terlatih seperti para karyawan di KAI Daop VI Yogya ini, kamu memang enggak akan kuat. Dinaiki aja dik....